Mengapa Harus Duduk Iftirasy ketika Shalat 2 Rakaat ?

Dilihat 3,085 kali | Kirim Ke Teman

Pertanyaan : Ass. Mhn penjelasan dalil duduk iftirasy pd rakaat trakhir shalat 2 rakaat? Mengapa tdk tawarruk mnurut hadist Bukhary – Abu Humaid? Jazakumullah (Arjuna S, ST. AAAIK )

Jawaban :Ada dua hadits yang menunjukkan disyari’atkannya duduk iftirosy pada raka’at terakhir dari sholat-sholat dua raka’at, yaitu:
Hadits Pertama: Hadits ‘Abdullah bin Zubair -radhiyallahu ‘anhu-,
Beliau berkata:
كَانَ رَسُوُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ, اِفْتَرَشَ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى, وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى الْوُسْطَى وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ, وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى, وَأَلْقَمَ كَفُّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَيْهِ
“Adalah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- apabila beliau duduk dalam dua raka’at, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan yang kanan, beliau meletakkan ibu jarinya di atas jari tengah dan beliau berisyarat dengan telunjuknya, beliau meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya, sedang telapak tangan kanannya menggenggam lututnya”. (HR. Ibnu Hibban (5/370/1943) dengan sanad yang hasan).

Hadits Kedua: Hadits Wa`il bin Hujur -radhiyallahu ‘anhu-.
Beliau berkata, menceritakan sifat sholat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
… وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ, أَضْجَعَ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى, وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَنَصَبَ أُصْبُعَهُ لِلدُّعَاءِ, وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى …
“Dan apabila beliau duduk dalam dua rakaat, beliau membaringkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya seraya menegakkan jarinya untuk berdoa, dan beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya …”. (HR. An-Nasa`i (2/236/1159) dengan sanad yang shohih).

Adapun hadits Abu Humaid riwayat Imam Al-Bukhary, maka justru dia mendukung makna kedua hadits di atas, yakni Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- duduk iftirosy pada raka’at kedua. Beliau bercerita tentang sifat sholat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى, وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
“Dan apabila beliau duduk pada dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan yang kanan. Kemudian apabila beliau duduk di rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lainnya dan beliau duduk di atas tempat duduknya”. (HR. Al-Bukhari no. 794)
Dan ada beberapa dalil lain yang menguatkan makna di atas, bisa dilihat dalam Sunan Abi Daud (734, 858) dari hadits ‘Abdullah bin Maslamah dan ‘A`isyah -radhiyallahu ‘anhuma-, dan keduanya dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shohih Sunan Abi Daud (1/213, 243)

Berlandaskan semua hadits-hadits di atas, maka Al-Lajnah Ad-Da`imah menguatkan bahwa yang sunnah dalam sholat yang dua raka’at, baik yang wajib maupun yang sunnah adalah duduk iftirosy. Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah (7/15-18)

(Dijawab oleh Ust. ‘Abdul Qodir dan Ust. Hammad)

Artikel di Kategori ini :

  1. Do’a Khatam Al-Qur`an
  2. Hukum Membeli Kartu Kredit Prabayar
  3. Larangan tentang Berpuasa pada Jum’at
  4. Hukum Sholat Jum’at yang Bersamaan dengan Hari Idul Fitri/Idul Adha
  5. Hukum Vetsin
  6. Hukum Donor Darah
  7. Menyentuh Kemaluan Membatalkan Wudhu?
  8. Beberapa Persoalan Seputar Gadai
  9. Antara Nyontek dan Ikhtilat
  10. Memakai Cincin Saat Wudhu

7 Responses to Mengapa Harus Duduk Iftirasy ketika Shalat 2 Rakaat ?

  1. Abdul Wachid Rosjidin

    Alhamdulillah… semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita semua…

  2. Subhanallah, Jazzakumullahu Khairan Katsira

  3. Bismillah,
    Di darussalaf.or.id telah ada pembahasan ilmiah dari ustadz Askary tentang masalah ini, mungkin ada tanggapan ilmiah dari ustadz disini yang berpendapat berbeda dari ustadz Askary.

    Dan kami ingin sedikit berdiskusi.

    Mengenai hadits Abu Humaid riwayat Imam Al-Bukhary tersebut, yang kami pernah pahami adalah justru itu menjadi dalil duduk tawaruk untuk setiap duduk di rakaat terakhir menurut Imam Syafii dan yang sependapat, sesuai dhohir haditsnya “Kemudian apabila beliau duduk di rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lainnya dan beliau duduk di atas tempat duduknya”.

    Al Ustadz Abdul Mu’thi pernah membahas tentang ini ketika pelajaran sifat sholat, beliau mengambil penjelasan Imam Ibnul Qoyyim pada Zaadul Maad. Bahwa hadits ini sebagai hadits yang menunjukkan sifat sholat Nabi ketika sholat yang padanya ada 2 tasyahud, karena secara keseluruhan hadits ini khusus menjelaskan sholat 4 rakaat dengan 2 tasyahud, yaitu karena bagian kalimat pada hadits (penggalan pertama) “Dan apabila beliau duduk pada dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan yang kanan”, ini tidak bisa dipisahkan dari kalimat selanjutnya (penggalan kedua) “Kemudian apabila beliau duduk di rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lainnya dan beliau duduk di atas tempat duduknya”. Jika (penggalan kedua) hadits ini dijadikan dalil untuk duduk tawaruk di rakaat terakhir setiap sholat misalnya sholat 2 rakaat, maka berarti kita memahaminya terpisah/tersendiri, dan memahami kalimat penggalan pertama tersendiri pula, dan disaat itulah justru akan bertabrakan makna dengan (penggalan pertama) hadits itu sendiri dimana dikatakan di situ duduknya iftirosy.

    Atau dengan pemahaman lain, jika kita memahami kalimat “Kemudian apabila beliau duduk di rakaat terakhir” juga untuk sholat yang padanya hanya satu tasyahud, maka tidak terpakailah kalimat pada penggalan pertama karena kita menganggap hadits ini menjelaskan sholat dengan 1 tasyahud, atau setidaknya kalimat penggalan pertama dianggap terpisah dari penggalan kedua (nanti akan kembali jadi tidak sesuai maknanya sebagaimana penjelasan paragraf sebelum ini). Padahal hadits ini secara keseluruhan dan bersambung hanya menjelaskan sholat yang padanya 2 tasyahud.

    Jadi hadits ini khusus hanya bisa dijadikan sebagai dalil untuk sholat yang padanya ada 2 duduk tasyahud, yaitu tasyahud di rakaat kedua dengan iftirosy kemudian tasyahud di rakaat terakhir dengan tawaruk. Oleh karena itu pula hadits Abu Humaid ini kurang tepat untuk sebagai penguat dalil duduk iftirosy pada akhir sholat 2 rakaat, karena pada hadits ini Abu Humaid bukan dalam rangka menjelaskan sholat Rasulullah yang 2 rakaat satu tasyahud melainkan sholat 4 rakaat dengan 2 tasyahud. Kita tetap memakai dalil hadits sebelumnya yang sudah disebut pada artikel di atas untuk duduk sholat yang 2 rakaat.

    Penjelasan sebagaimana pendapat Ibnul Qoyyim inilah yang lebih menenangkan kami dalam memahami hadits ini, wallahu a’lam. Bahwa kekhususan hadits ini sebagai hadits yang khusus menjelaskan sholat dengan 2 tasyahud saja, dengan demikian hadits ini dimaknai secara utuh sebagaimana datangnya dan tidak ada kerancuan makna sebegaimana kalau memahaminya terpisah antara penggalan pertama dan kedua.

    Selanjutnya, yang jadi pertanyaan kami apakah bisa kekhususan hadits ini yang seperti tersebut diatas untuk membawa dalil umum tentang duduk iftirosy dalam sholat serta dalil umum duduk iftirosy dalam sholat 2 rakaat kepadanya? Wallahu a’lam, yang kami pahami bahwa tidak bisa, karena dalil-dalil yang datang (jika memahami hadits Abu Humaid seperti penjelasan Ibnul Qoyyim) tidak bisa diterapkan kaidah Hamlul-Muthlaq ‘alal-Muqayyad. Hal ini karena kaidah tersebut hanya boleh digunakan jika sama hukum dan sebabnya. Sedangkan pada dalil-dalil ini, hadits Abu Humaid berbeda dibanding hadits Abdullah bin Zubair, hadits Wa’il bin Hujur, dan hadits ‘Aisyah. Hadits Abu Humaid khusus menjelaskan sholat yang padanya ada 2 tasyahud, sedangkan yang lain menjelaskan duduk pada sholat 2 rakaat, atau sholat secara umum (tanpa menyebutkan berapa rakaatnya atau duduk pada rakaat ke berapa). Jenis sholatnya berbeda.

    Dan insya Allah kami akan minta penjelasan lebih rinci tentang ini sekali lagi ke ustadz Abdul Mu’thi karena kami memahami dalil-dalil ini demikian dari pelajaran beliau dahulu. Wallahu ta’ala a’lam.

  4. zubair assumambiri

    terima kasih atas ilmunyaya

    wassalamualaikum …..

    Wa’alaykumussalam warohmatullah

  5. Ass. Sebagai pembanding, saya punya tulisan Al Ustadz Abu Karimah Askari (darussalaf.or.id tgl 16 Sept 2007, di download tgl 18 Sept 07) berjudul “Cara duduk tasyahhud akhir dalam setiap sholat”, menuliskan panjang lebar pendapat2 yang ada (termasuk hadits Al-Bukhari di atas). Beliau menyimpulkan bahwa pendapat yang KUAT adalah duduk TAWARRUK. Pertimbangannya pada kalimat DUDUK DI RAKAAT TERAKHIR (seperti hadis di atas)atau PADA RAKA’AT YANG TERDAPAT SALAM. Jadi setiap duduk pada raka’at terakhir yang diikuti salam, baik itu shalat 2 raka’at atau lebih maka cara duduknya TAWARRUK, sedangkan duduk iftirasy hanya pada rakaat kedua (pada shalat 3 raka’at atau lebih), BUKAN pada raka’at terakhir. Beliau menulis “penyebutan “dua raka’at” yang tersebut dalam hadits ini bukanlah maksud, namun maknanya adalah “duduk yang bukan raka’at terakhir”. Dan semakin dikuatkan dengan hadits Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bahwa beliau bersabda:

    (( فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ)).

    “Maka jika engkau duduk di pertengahan shalat, maka lakukanlah thuma’ninah, dan hamparkan paha kirimu – agar engkau duduk diatasnya – (duduk iftirasy), lalu lakukanlah tasyahhud”
    (HR. Abu Dawud dari Rifa’ah bin Rafi’, dan Al-Albani berkata: sanadnya hasan. Lihat kitab: Aslu Shifatis Shalaah, Al-Albani: 3/831-832). Untuk jelasnya silahkan baca artikelnya di website di atas. Wassalam.

  6. saya semakin yakin dengan shalatku

    Alhamdulillah. Barokallahu fiikum

  7. bagus sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *