Antara Nyontek dan Ikhtilat

Dilihat 1,204 kali | Kirim Ke Teman

Tanya : Baarakallaahufiik, artikel yang bermanfaat insya’ Allaah (lihat artikel “Bolehkah Curang dalam Ujian ???” – ed). Namun ada yang menyatakan bahwa kalau tiba-tiba ada ujian(ato sulit soalnya) maka hal itu (menyontek) tidak apa-apa katanya karena daripada tidak lulus yang akan memperlama kuliah sehingga memperlama ikhtilat sedangkan keluar kuliah belum bisa, apakah bisa diterima pendapat seperti itu? Atas jawabannya, jazaakumullaahu khairan. (chon54_xxx@yahoo.co.id)

Jawab : Ini sama halnya dengan orang yang membolehkan ikut pemilu dengan dalih agar bukan orang non-muslim yang berkuasa. Mereka sama-sama berdalil dengan sebuah kaidah yang berbunyi “Irtikab akhoffud dororain” (arti: menjalani mudorot yang paling ringan dari dua mudorot yang ada). Menyontek adalah mudorot (baca: dosa) sedang tidak lulus/ikhtilat juga mudorot (baca: dosa) maka kita ambil dosa yang paling ringan yaitu nyontek, demikianlah kira-kira dalih mereka.

Maka jawabannya: Kaidah ini tidak bisa diterapkan secara mutlak, akan tetapi para ulama meletakkan syarat-syarat dalam penerapannya, yaitu:
1. Tidak ada cara lain atau dengan kata lain, kita harus menjalani salah satu dari kedua dosa tersebut.
Syarat ini tidak terpenuhi, karena asalnya kita bisa terlepas dari dosa yang kedua (ikhtilat) yaitu dengan cara tidak masuk (meninggalkan) kuliah. Artinya, masa ada jalan lain untuk lepas dari kedua dosa ini.
2. Ketika menempuh salah satu dosa, maka dipastikan maslahat akan didapatkan.
Ini pun tidak terpenuhi, karena kenyataannya berapa banyak orang yang nyontek tapi tidak lulus. Demikian pula berapa banyak orang yang tidak nyontek tapi bisa lulus.
3. Dosa yang ditempuh lebih ringan daripada dosa atau mudorot yang akan timbul jika tidak melakukan dosa tersebut.

Syarat ini juga tidak terpenuhi, karena perbuatan menyontek adalah kecurangan, penipuan, bahkan merupakan dua kedustaan (sebagaimana dalam hadits yang tertera di fatwa). Dan semuanya mengetahui bahwa dusta adalah dosa besar ketiga setelah kesyirikan dan durhaka kepada kedua orang tua, sebagaimana dalam hadits Abu Bakrah riwayat Al-Bukhary (3/25) dan (8/4) dan Muslim (Kitabul Iman: 143, 144).

Maka tidak bisa dikatakan bahwa ikhtilat lebih besar dosanya daripada dusta, sehingga mengatakan boleh berdusta asal tidak ikhtilat.

Wallahu A’lam bis Showab

Dijawab oleh Ust. Hammad Abu Mu’awiyah

Artikel di Kategori ini :

  1. Beberapa Persoalan Seputar Gadai
  2. Do’a Khatam Al-Qur`an
  3. Larangan tentang Berpuasa pada Jum’at
  4. Hukum Membeli Kartu Kredit Prabayar
  5. Hukum Makan Kepiting dan yang Hidup di 2 Alam
  6. Mengapa Harus Duduk Iftirasy ketika Shalat 2 Rakaat ?
  7. Berbicara saat dikumandangkan adzan
  8. Hukum Donor Darah
  9. Hukum Sholat Jum’at yang Bersamaan dengan Hari Idul Fitri/Idul Adha
  10. Memakai Cincin Saat Wudhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>