Potret Para Muballigh di Bulan Ramadhan

Dilihat 243 kali | Kirim Ke Teman

Di bulan Ramadhan lalu kita “dihibur” oleh para muballigh (da’i) dengan berbagai macam penampilannya, mulai dari melawak sampai menangis(?). Sebagian muballigh tersebut meninggalkan potret dan kenangan yang amat menyedihkan kita. Bagaimana kita tak bersedih, sementara mereka telah melakukan beberapa pelanggaran besar di sisi Allah.

Para pembaca yang budiman, sebagian muballigh dan ustadz tersebut telah terjatuh dalam pelanggaran-pelanggaran besar. Kali ini kami akan menyebutkan sebagian diantara pelanggaran-pelanggaran tersebut, seperti:

¾  Tidak Memahami Ilmu Agama dengan Baik

Di bulan Ramadhan ini, banyak bermunculan da’i-dai dengan berbagai macam tipe dan karakternya, bagaikan cendawan di musim hujan; mulai dari yang karbitan sampai kepada yang berilmu. Hanya saja yang berilmu ini sedikit jumlahnya.

Mayoritas muballigh kita memiliki pemahaman agama yang minim, karena sebagian besar adalah orang-orang yang tak pernah mengecap pendidikan di pondok pesantren. Ada yang berstatus sarjana agama jebolan universitas agama, tapi tetap saja ia memiliki ilmu agama yang minim. Parahnya lagi, sebagian da’i berasal dari kalangan pelawak dan artis yang kerjanya cuma pandai menghibur orang dengan banyolan dan gayanya di atas mimbar. Tak ada hikmah ceramah yang kita petik, kecuali canda dan tawa saja. Kebanyakan mereka tidak memiliki dasar-dasar agama yang kuat. Karena sekedar modal semangat yang mendorong mereka berdakwah, akhirnya merekapun mengerjakan sesuatu yang mereka tak kuasai. Mereka ibarat seorang yang melantik dirinya sebagai dokter, padahal ia bukan dokter!! Akibatnya bukan menyembuhkan, tapi malah membuat orang semakin sakit.

Banyak muballigh yang minim ilmunya telah mewarnai kancah dakwah islamiyyah di negeri kita dengan berbagai macam tendensi yang melatari mereka. Lalu mereka menjadi pemimpin yang memberi “nasihat”. Tragisnya lagi, mereka memasang sorban lalu diletakkan di leher, dan melantik dirinya sebagai ulama, padahal bukan. Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi-shollallahu alaihi wasallam- dalam sabdanya,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُسًا جُهَّالاً فُسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’ sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’pun, maka manusiapun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tsb) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya  mereka sesat dan menyesatkan (manusia)”.[HR.Al-Bukhory dalam Kitab Al-Ilm (100), dan Muslim  dalam Kitab Al-Ilm (2673)]

Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, “Hadits ini menjelaskan maksud tercabutnya ilmu dalam hadits-hadits lalu yang muthlak (umum), bukan menghapusnya dari dada para penghafal (pemilik) ilmu itu. Akan tetapi maknanya, para pembawa ilmu itu (yakni para ulama) akan mati. Lalu manusia mengangkat orang-orang jahil (sebagai pemimpin dalam agama). Orang-orang jahil itu memutuskan perkara berdasarkan kejahilan-kejahilannya. Lantaran itu ia sesat, dan menyesatkan orang”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim ibn Al-Hajjaj (16/224), cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arabiy]

Alangkah banyaknya pemimpin dan ustadz-ustadz seperti ini. Mereka diangkat oleh manusia sebagai seorang ulama’ dan ustadz. Padahal ia tidaklah pantas dijadikan panutan, karena ia jahil. Kalaupun ia berilmu, tapi ilmunya di buang ke belakang punggungnya. Manusia jenis ini banyak bermunculan di bulan suci Ramadhan.

  • Mengada-ada atas Nama Allah

Di bulan Ramadhan yang lalu, mungkin ada diantara kita yang pernah mendengar seorang dai yang tampil dengan “gagah” dan tegas menyatakan bahwa musik itu halal!! Ini tentunya adalah sikap mengada-ada atas nama Allah.

Padahal telah nyata dalam sebuah hadits bahwa musik itu adalah haram didengarkan dan dilakukan. Dengarkan Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda mengharamkan musik,

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنِ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akan menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Asyribah (5590)]

Al-Albaniy–rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya para ulama dan fuqoha –diantaranya empat imam madzhab- sepakat mengharamkan alat-alat musik karena berteladan dengan hadits-hadits Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar Salaf ”.[Lihat Tahrim Alat Ath-Thorb (hal 105)]

Jadi, orang yang menghalalkan musik adalah orang yang mengada-ada atas nama Allah. Seorang ketika menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, harus berdasarkan dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Oleh karena itu, seseorang tak boleh mengada-ada atas nama Allah, “Ini halal, dan itu haram”, lalu tak didasari dengan dalil, hanya dilandasi dengan perasaan. Sebab ini adalah langkah-langkah setan. Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

“Sesungguhnya syaitan itu Hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah : 169)

Contoh lain, seorang dai yang menyangka dirinya ulama (padahal bukan) telah menyatakan dengan “yakin” bahwa Lailatul Qodar itu tidak memiliki tanda-tanda alam, dengan dalih bahwa tanda-tanda itu tak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Ini tak benar, ini tentunya mengada-ada, sebab Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– telah menyebutkan tanda-tanda Lailatul Qodar dalam beberapa hadits berikut:

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

صُبْحَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لَا شُعَاعَ لَهَا كَأَنَّهَا طَسْتٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ

“Pada pagi hari Lailatul Qodar, matahari muncul tanpa cahaya, seakan ia adalah kobokan (tempat cuci tangan) sampai ia tinggi”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 20253). Syaikh Al-Albaniy men-shohih-kan hadits ini dalam Shohih Al-Jami’ (no. 3754)]

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

ليلةٌ سمْحةٌ طلِقةٌ ، لا حارةٌ ، ولا باردةٌ ، تصبح شمسُها صبيحتُها ضعيفةٌ حمراءُ

“Lailatul Qodar adalah malam yang mudah lagi baik (nyaman), tidak panas dan tidak pula dingin. Di pagi harinya, cahaya matahari lemah lagi merah”. [HR. Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (no. 349). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 5475)]

Dikatakan malam yang mudah lagi baik, jika malam itu tak ada rasa panas dan tidak pula dingin yang mengganggu. Demikian yang dinyatakan oleh Al-Imam Ibnul Atsir –rahimahullah– dalam An-Nihayah fi Ghorib Al-Hadits (3/299).

  • Senang Membawakan Hadits-hadits Lemah dan Palsu

Seorang yang jahil ibarat pemungut kayu bakar di malam gulita; ia tidak bisa membedakan antara ular dengan kayu bakar. Sehingga terkadang ia memungut ular, sedang ia menyangkanya adalah kayu bakar. Demikianlah sebagian muballigh kita, terkadang ia menyangka itu adalah hadits Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, padahal bukan!! Mereka memungut hadits-hadits dho’if (lemah), bahkan palsu!!! Sementara hadits lemah dan palsu tak boleh kita sandarkan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebab bukan sabda beliau.

Al-Allamah Ibnul Arabiy Al-Malikiy -rahimahullah- berkata, “Hadits dho’if tidak boleh diamalkan secara mutlak”.[Lihat Al-Muqni’ fi Ulum Al-Hadits (hal. 104)]

Diantara hadits-hadits lemah dan palsu yang disebarkan oleh para muballigh kita di bulan Ramadhan adalah hadits-hadits berikut ini:

Pertama, konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا إِنَّ الْجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ

“Andaikan para hamba mengetahui apa yang terdapat dalam Romadhon, niscaya ummatku akan mengharapkan Romadhon adalah setahun penuh. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Romadhon dari awal tahun ke tahun berikutnya”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya(1886), Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (5273), Ibnul Jauziy dalam Al-Maudhu’at (2/188-189)]

Hadits ini palsu, karena terdapat rowi yang bernama Jarir bin Ayyub Al-Bajaliy Al-Kufiy (pemalsu hadits). Syaikh Al-Albaniy menyatakannya palsu dalam Adh-Dho’ifah (871)

Kedua, konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

يَا أَيُّهَا النّاَسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ… وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Wahai manusia, sungguh kalian telah dinaungi oleh bulan yang agung; bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban, dan sholat malamnya sebagai tathowwu’ (sunnah). Barang siapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan satu bentuk kebaikan, maka ia ibaratnya orang yang menunaikan kewajiban pada selain Romadhon…Awalnya adalah rahmat, tengahnya adalah pengampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka“.[HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya(1887), Al-Mahamiliy dalam Al-Amaliy (293)]

Hadits ini dho’if (lemah), karena ada rawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jad’an (jelek hafalannya. Syaikh Al-Albaniy melemahkan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (871 & 1569)

Ketiga, konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8312), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/357/488 & 7/57/1986)]

Dalam sanad Ath-Thobroniy ada rawi yang bernama Zuhair bin Muhammad. Haditsnya dho’if jika diriwayatkan oleh orang-orang Syam dari Zuhair, sedang hadits ini termasuk diantaranya. Adapun riwayat Ibnu Adi, dalam sanadnya terdapat Husain bin Abdullah bin Dhumairoh Al-Himyariy (orangnya tertuduh dusta), dan Nahsyal bin Sa’id Al-Wardaniy (orangnya matruk/ditinggalkan). Jadi, riwayat-riwayat ini tak bisa saling menguatkan. Syaikh Al-Albaniy men-dho’if-kan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (253)

Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Apabila Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berbuka, maka beliau berdo’a :

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

, “Ya Allah, karena Engkau aku berpuasa, dengan rezqi-Mu aku berbuka. Ya Allah, terimalah (amal sholeh) dariku; Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.”. [HR. Ad-Daruquthniy dalam Sunan-nya (26), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (12720)]

Hadits ini dho’if jiddan (lemah sekali), karena dalam sanadnya terdapat Abdul Malik bin Harun bin Antaroh (orangnya tertuduh dusta). Sebab itu, Syaikh Al-Albaniy menyatakan hadits ini dho’if jiddan (lemah sekali) dalam Irwa’ Al-Gholil (919)

Wahai para muballigh, jika kalian memberikan nasihat kepada para jama’ah, janganlah menghiasi ceramah kalian dengan hadits-hadits dho’if, dan palsu. Sayangilah diri kalian sebelum kalian terkena sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

وَمَنْ كَذِبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR. Al-Bukhoriy di Shohih-nya(110), dan Muslim di Shohih-nya (3)]

Periksalah hadits-hadits yang kalian sampaikan dalam ceramah-ceramah kalian. Jika tidak tahu, maka belajarlah, dan tanya kepada orang-orang yang berilmu. Janganlah perasaan malu dan sombong membuat dirimu malu bertanya dan belajar sehingga engkau sendiri yang menggelincirkan dirimu dalam neraka, wal’iyadzu billah !!

  • Banyak Bercanda dan Tertawa

Dakwah (ceramah) merupakan salah satu ibadah yang memiliki kedudukan yang agung dan terhormat di sisi Allah. Oleh karena itu, para dai harus menjaga kehormatan ceramah dan dakwah yang ia sampaikan, jangan dinodai dengan kata-kata jorok, dusta, dan ghibah; jangan dipolesi dengan lawak, sebab itu bukanlah kebiasaan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam berceramah.

Ceramah yang beliau sampaikan penuh dengan ilmu, hikmah, dan menyentuh hati serta membuat hati luluh. Dengarkan Irbadh bin Sariyah –radhiyallahu anhu– berkata,

وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ , وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ

“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menasihati kami dengan suatu nasihat yang membuat mata bercucuran, dan hati bergetar”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4607), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2676), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (42 & 44). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (2455)]

Jabir bin Abdillah –radhiyallahu anhu– berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

“Dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- jika berkhutbah, maka kedua mata beliau memerah, suara beliau tinggi, dan marahnya memuncak sampai beliau seakan-akan adalah pemberi peringatan bagi pasukan”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Jum’ah (2002)]

Perhatikanlah Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam berceramah; beliau tidak bercanda dan bermain-main dalam berdakwah. Lain halnya kondisi para muballigh kita pada hari ini; mereka senang tertawa, dan membuat orang terbahak-bahak, karena hanya sekedar ingin membuat orang senang. Ini jelas menyelisihi jalan para nabi dalam berdakwah.

Inilah beberapa –bukan semuanya- diantara gambaran dan kondisi sebagian dai dan muballigh kita yang terjun dalam kancah dakwah. Semoga tulisan ringkas ini merupakan sumbangsih dalam memberikan nasihat  dan teguran bagi para dai dan muballigh.

Terakhir kami nasihatkan kepada seluruh kaum muslimin –khususnya para muballigh- agar mereka semakin memperdalam mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab alangkah anehnya jika seorang muballigh tidak memahami ilmu Al-Qur’an dan Sunnah, baik itu berupa ilmu Ushul Tafsir, Ushul Fiqih ataupun Mushtholah Hadits. Padahal ketiga ilmu inilah yang akan membantu kita memahami Al-Qur’an dan Sunnah.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. [Transkrip Khutbah Jum’at] Kenaikan Harga: Suatu Renungan dan Solusi
  2. Tangis Sedih atas Kepergian Seorang Ahlus Sunnah (Belasungkawa atas Berpulangnya Ustadz Bashiron – rahimahullah)
  3. Hanya Tiga Hari
  4. Dua Janji Utama bagi Mereka yang Berpuasa
  5. Pentingnya Seorang Guru (Syaikh) Memperbaiki Niat Muridnya
  6. Merenungi Bahasa Musibah
  7. Ibroh dan Pelajaran Emas yang Terpetik dari Bulan Romadhon
  8. Seuntai Kalimat Indah Seputar Kumpulan Dzikir Pagi dan Sore
  9. Hiburan bagi yang Dilanda Kemiskinan
  10. Iringan Doa dan Tangisan buat Roihanatul Yaman, Al-Faqih Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy -rahimahullah-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *