Nukilan-nukilan Atsar dari Para Salaf Sholih tentang Kebahagiaan dan Gelora Kerinduan Mereka kepada Bulan Romadhon

Dilihat 126 kali | Kirim Ke Teman

oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

Nukilan-nukilan Atsar dari Para Salaf Sholih tentang Kebahagiaan dan Gelora Kerinduan Mereka kepada Bulan RomadhonKerinduan kepada Bulan Romadhon di sisi para salaf (Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, para sahabat, tabi’in dan pengikut setia mereka), bagaikan api yang membara, tak akan padam oleh badai sekencang apapun.

Diantara mereka, ada yang menangis saat mengenang Bulan Romadhon yang baru saja berlalu. Mereka menangis disebabkan karena khawatir apa yang mereka kerjakan di Bulan Romadhon yang baru saja berlalu, tidak diterima di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Mereka juga khawatir jangan sampai ajal menjemput sebelum ia berjumpa dengan Bulan Romadhon.

Jauh hari sebelum datangnya Bulan Romadhon, mereka senantiasa berdoa kepada Allah -Tabaroka wa Ta’ala- agar dipertemukan lagi dengan Bulan Romadhon.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy –rahimahullah– berkata,

قَالَ بَعْضُ السَّلَفُ : كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

“Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan kepada Bulan Romadhon. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amal-amal sholih di bulan suci itu) dari mereka.” [Lihat Latho’if Al-Ma’arif (hal. 232)]

Penghulu orang-orang bertaqwa (Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-) pernah memberi kabar gembira kepada para sahabat –radhiyallahu anhum-. Kegembiraan ini beliau sampaikan kepada mereka, sebab mereka kedatangan tamu istimewa ‘Bulan Berkah’. Itulah Romadhon, momen dalam meninggikan derajat taqwa, memperbanyak bekal amal sholih, dan kesempatan bersimpuh di hadapan Allah, Sang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

  • Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ: ” قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda demi memberi kabar gembira kepada para sahabatnya,

“Telah datang kepada kalian Romadhon, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup padanya. Setan-setan dibelenggu padanya. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shohih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991) sebagai hadits yang shohih]

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliyrahimahullah– berkata saat memetik faedah indah dari hadits ini,

قال بعضُ العلماءِ : هذا الحديثُ أَصْلٌ فِيْ تَهْنِئَةِ الناس بعضهم بعضا بشهر رمضان كيف لا يبشر المؤمن بفتح أبواب الجنان كيف لا يبشر المذنب بغلق أبواب النيران كيف لا يبشر العاقل بوقت يغل فيه الشياطين من أين يشبه هذا الزمان زمان.

“Sebagian ulama berkata, ‘Hadits ini adalah dasar (dalil) tentang (bolehnya) ucapan selamat sebagian mereka kepada yang lain dengan (kedatangan) Bulan Romadhon. Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak diberi kabar gembira tentang terbukanya pintu-pintu surga?! Bagaimana mungkin seorang yang berdosa tidak diberi kabar gembira tentang tertutupnya pintu-pintu neraka?! Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak diberi kabar gembira tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari (sisi) manakah ada suatu waktu menyamai waktu (Romadhon) ini?! [Lihat Latho’if Al-Ma’arif (hlm. 148)

Kebahagiaan menyambut Romadhon, terpancar dari wajah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- saat beliau melihat hilal (bulan sabit). Di saat itu, beliau memanjatkan doa kepada Allah -Azza wa Jalla- agar dibukakan pintu-pintu rahmat-Nya berupa keberkahan, keimanan, keselamatan dan keislaman.

  • Tholhah bin Ubaidillahradhiyallahu anhu– berkata dalam menuturkan hal itu,

“Jika Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– melihat hilal (bulan sabit), beliau berdoa,

اللهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالْإِسْلامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ

“Ya Allah tampakkanlah hilal (bulan sabit) kepada kami dengan membawa berkah, keimanan, keselamatan dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3451). Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1816)]

Para salaf amat menyadari dari lubuk hati mereka yang paling dalam bahwa Romadhon adalah bulan yang Allah siapkan bagi mereka untuk berbenah diri, menata hidup dan memperbaiki sesuatu yang luput di hari-hari yang telah berlalu dari perjalanan hidup mereka.

Mereka amat khawatir terkena sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- yang menjelaskan alangkah celakanya seorang yang ditaqdirkan berjumpa dengan ROMADHON, namun ia sendiri tidak memetik manfaat dan faedah darinya, disebabkan kelalaian jiwanya dari menghidupkan Romadhon dengan amal-amal sholih, atau bahkan mengisi Romadhon dengan dosa-dosa dan maksiat yang menodai kesucian Bulan Romadhon. Na’udzu billahi min dzalik…

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Alangkah hinanya seseorang yang Bulan Romadhon masuk padanya, lalu Romadhon itu pergi sebelum ia (orang itu) diberi ampunan.” [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3545). Syaikh Al-Albaniy menilai hadits ini “shohih” dalam Shohih Al-Jami’ (no. 3510)]

Kekhawatiran akan luputnya kebaikan dan keberkahan di Bulan Romadhon melanda lubuk hati para salaf, menyebabkan mereka berdoa selama enam bulan sebelum Romadhon.

Ketika Romadhon masuk, mereka tetap berdoa agar diberi kebaikan pada bulan itu. Karena, mereka telah menyaksikan banyaknya manusia yang lalai dari memetik buah demi buah manis berupa pahala-pahala melimpah dari amal-amal sholih pada bulan itu.

  • Kita Lihat Makhul Asy-Syamiyrahimahullah-, ia berdoa bila Romadhon telah masuk,

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sampaikanlah aku ke Bulan Romadhon dan cerahkanlah Romadhon untukku, dan terimalah amalan Romadhon itu dariku dengan sepenuhnya.” [HR. Ath-Thobroniy dalam Ad-Du’a’ (913) dengan sanad yang hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Al-Bukhoriy dalam tahqiq-nya terhadap Kitabud Du’a’ (hlm. 1227), cet. Darul Basya’ir Al-Islamiyyah, 1407 H]

Seorang pembesar tabi’ut tabi’in, Abdul Aziz bin Abir Rowwad Al-Azdiy Al-Makkiy (wafat 159 H) -rahimahullah- berkata,

كان المسلمون يدعون عند حضرة شهر رمضان:

اللَّهُمَّ أَظَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي،

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحتِسَابًا،

وَارْزُقْنِي فِيهِ الْجدّ والاجتِهَادَ وَالْقُوَّةَ وَالنَّشَاطَ،

وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السآمَةِ وَالفَتْرة وَالْكِسَلِ وَالنُّعَاسِ،

وَوَفِّقْنِي فيهِ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْهَا خَيْرًا لِي مِنْ أَلْفِ شَهْرِ

“Dahulu kaum muslimin berdoa di saat Bulan Romadhon tiba,

‘Ya Allah, Romadhon telah menghadap dan hadir. Karenanya, cerahkanlah Romadhon untukku, dan sampaikanlah aku kepadanya, dan selamatkanlah aku (dari segala penghalang darinya) di Bulan Romadhon, serta terimalah amal-amal Romadhon dariku.

Ya Allah, anugerahilah aku berpuasa padanya, dan sholat malam padanya, karena sabar dan mencari pahala. Anugerahilah aku padanya kegigihan, kesungguhan, kekuatan, dan semangat.

Lindungilah aku padanya dari rasa bosan, lemah semangat, malas, dan mengantuk.

Berilah aku taufik pada bulan itu untuk mendapatkan Lailatul Qodar, dan jadikanlah malam itu lebih baik bagiku dibandingkan 1000 bulan.”

[HR. Ath-Thobroniy dalam Ad-Du’a’ (no. 914), Abul Qosim Al-Ashbahaniy dalam At-Targhib wa At-Tarhib (no. 1784), dan Abdul Ghoni Al-Maqdisiy dalam Akhbar Ash-Sholah (no. 129), dengan sanad yang hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Al-Bukhoriy dalam tahqiq-nya terhadap Kitabud Du’a’ (hlm. 1227), cet. Darul Basya’ir Al-Islamiyyah, 1407 H]

Dari Abu Amer Al-Auza’iyrahimahullah– berkata dalam menceritakan bagaimana kegembiraan gurunya menyambut Bulan Romadhon,

كَانَ يَحْيَى بْنُ أَبِيْ كَثِيْرٍ يَدْعُوْ حَضْرَةَ شَهْرِ رَمَضَانَ :

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلاً

“Dahulu Yahya bin Abi Katsir berdoa saat Bulan Romadhon tiba,

“Ya Allah, sampaikanlah aku kepada Bulan Romadhon, dan cerahkanlah Bulan Romadhon untukku, serta terimalah amal-amal Romadhon dariku.” [Atsar Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (3/69)]

Kegembiraan dan kebahagiaan menyambut Romadhon menggelora di hati para salaf “Generasi Terbaik Umat ini”, sampai dahulu mereka amat mendambakan kehadiran Bulan Romadhon dalam lembaran-lembaran hidup mereka, agar menjadi catatan dan memori abadi yang akan menjadi saksi bagi mereka di Hari Hisab.

  • Ma’laa bin Al-Fadhl Al-Azdiy Al-Bashriy –rahimahullah– berkata,

((كانوا يدعون الله -عز وجل- ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان ويدعون الله ستة أشهر أن يتقبل منهم)).

“Dahulu mereka berdoa kepada Allah -Azza wa Jalla- selama 6 bulan agar mereka disampaikan (dipertemukan) dengan Bulan Romadhon, dan mereka berdoa kepada Allah -Azza wa Jalla- selama 6 bulan agar Allah menerima (amal-amal sholih) dari mereka.” [Atsar Riwayat Abul Qosim Al-Ashbahaniy dalam At-Targhib wa At-Targhib (no. 1761)1

Cobalah kalian bayangkan tentang perasaan mereka yang berbahagia di Bulan Romadhon. Sebulan terasa sehari di sisi mereka. Coba renungkan tentang kesedihan para salaf; pertemuan singkat lagi berbunga-bunga itu membawa kesan kenangan tersendiri.

Seorang pria berpisah dengan istri yang selama ini ia cintai. Sang istri bersafar ke suatu negeri yang jauh. Jadilah hari-harinya hampa tanpa canda ria dari seorang kekasih yang selama ini ia amat cintai. Hatinya amat gundah saat terbetik dalam benaknya, “Akankah si kekasih kembali ke pangkuannya, ataukah ia akan pergi selamanya, dan tidak lagi akan ada pertemuan setelah itu?”

Begitulah perumpamaan seorang hamba yang mencintai dan merindukan Bulan Romadhon.Tak heran bila mereka amat bersedih ketika berpisah dengan kekasih mereka yang bernama ‘Romadhon’. [Lihat Bughyah Al-Insan fi Wazho’if (hal. 91), karya Ibnu Rajab, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1405 H]

Seorang yang mencintai Romadhon akan menjaga pesan-pesan yang dititipkan kepadanya. Romadhon telah menitipkan sebuah pesan kepada para pencintanya agar selalu menjaga dua :

  1. menghiasi diri dengan ketaatan.
  2. membersihkan diri dari kotoran-kotoran maksiat.

Seorang yang mencintai Romadhon akan berusaha memelihara dua pesan ini pada dirinya. Ia akan menghiasi dirinya dengan berbagai ketaatan dan kebaikan yang menjadi perhiasan indah bagi dirinya dalam menyambut sang kekasih yang bernama “Romadhon”, sebagaimana halnya ia akan membersihkan dirinya dari berbagai noda dan kotoran maksiat-maksiat dibenci oleh sang kekasih ‘Romadhon’.

Itulah hakikat PUASA, seorang hamba “berpuasa” (menahan diri) dari syahwat duniawi yang haram, karena ia berharap akan adanya hari bahagia di negeri akhirat.

Sebagian salaf pernah berkata,

صُمِ الدُّنْيَا وَاجْعَلْ فِطْرَكَ الْمَوْتَ، الدُّنْيَا كُلُّهَا شَهْرُ صِيَامُ الْمُتَّقِيْنَ، يَصُوْمُوْنَ فِيْهِ عَنِ الشَّهَوَاتِ الْمُحَرَّمَاتِ، فَإِذَا جَاءَهُمُ الْمَوْتُ، فَقَدِ انْقَضَى شَهْرُ صِيَامِهِمْ وَاسْتَهَلُّوْا عِيْد فطرهم.

“Berpuasalah (tahan dirilah) dari dunia dan jadikanlah berbukamu (kebahagiaanmu) dengan kematian. Dunia seluruhnya adalah bulan berpuasa bagi orang-orang bertaqwa; mereka berpuasa (menahan diri) padanya dari syahwat-syahwat yang diharamkan. Jika kematian telah datang kepada mereka, maka sungguh bulan puasa mereka telah selesai dan mereka berseri-seri pada hari berbuka (yakni, hari raya) mereka.” [Latho’if Al-Ma’rif (hal. 147)]

Menahan diri dari sesuatu yang ia senangi berupa perkara-perkara yang haram adalah sesuatu yang pahit rasanya, namun ia akan berbuah manis; buah yang akan terpetik di negeri akhirat.

Seorang yang memperturutkan hawa nafsunya dalam melakukan perkara-perkara maksiat, walaupun manis rasanya bagi si pelaku, namun hakikatnya pahit. Sebab, ia akan memetik buahnya yang pahit di Hari Perhitungan!!   

Thowus bin Kaisan Al-Yamaniyrahimahullah– berkata,

حُلْوُ الدُّنْيَا مُرُّ الْآخِرَةِ، وَمُرُّ الدُّنْيَا حُلْوُ الْآخِرَةِ

“Manisnya dunia adalah pahitnya akhirat, sedang pahitnya dunia adalah manisnya akhirat.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (35337) dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (4/12) dengan sanad yang shohih]2

Di Bulan Romadhon, seorang hamba hendaknya berusaha mendidik dan melatih jiwanya meninggalkan sesuatu yang disenanginya berupa perkara-perkara yang tidak membuahkan pahala di negeri abadi. Jika mudah baginya meninggalkan perkara-perkara itu, maka Allah -Tabaroka wa Ta’ala- akan berikan taufik baginya untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram!

Ketahuilah, siapa yang meninggalkan maksiat dan perkara yang melalaikan dari negeri akhirat, maka Allah akan berikan kepadanya sebuah anugerah yang amat berharga di kampung akhirat.

Seorang sahabat yang mulia, Abul Mundzir Ubay bin Ka’ab Al-Khozrojiyradhiyallahu anhu– berkata,

مَا مِنْ عَبْدٍ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلاَّ أَبْدَلَهُ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Tidak ada seorang pun yang meninggalkan sesuatu karena Allah -Azza wa Jalla-, kecuali Allah akan gantikan baginya dengan sesuatu yang lebih baik dari hal itu, dari arah yang tiada ia sangka-sangka.” [Atsar shohih riwayat Ibnul Mubarok dalam Az-Zuhd (no. 36), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/253), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (7/344), serta yang lainnya]

Jadi, siapa yang meninggalkan syahwatnya yang haram, maka ia akan diberi sesuatu yang lebih baik dibandingkan sesuatu yang tinggalkan.

Terakhir, kita memohon kepada Allah agar kita dipertemukan dengan Bulan Romadhon, dan memberikan taufik bagi kita agar menjadikannya sebagai bulan amal demi mencari keridhoan Allah -Tabaroka wa Ta’ala- , serta menerima segala amal ketaatan yang kita kerjakan di dalamnya.

…………………………………….

Selesai, Sabtu, 08 Sya’ban 1437 H – 14 Mei 2016 M, Markaz Dakwah, Jalan Baji Rupa, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

1 Kisah ini juga dinukilkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambaliy –rahimahullah– dalam Latho’if Al-Ma’arif (hlm. 148), cet. Dar Ibni Hazm, 1424 H.

2 Adapun hadits yang marfu’ yang semakna dengan hadits di atas, maka ia adalah hadits yang lemah, karena adanya inqitho’ pada sanadnya. Dahulu Syaikh Al-Albaniy menilai hadits tersebut adalah shohih di dalam Ash-Shohihah (1817). Namun belakangan beliau rujuk dari penilaian itu, sebagaimana yang beliau jelaskan di bawah nomor hadits (5606) dari kitabnya Adh-Dho’ifah (13/235-239). [Lihat Mukhtashor Taroju’at Al-Allamah Al-Albaniy (no. 69) oleh Muhammad bu Umar]

Tags:

Artikel di Kategori ini :

  1. Kajian Aqidah Intensif “Membangun Aqidah di Atas Jalan Salaf” – Makassar
  2. Tabligh Bingung, Salafi Menjawab (3)
  3. Ulama yang Menyamar sebagai Pengemis
  4. Tabligh Akbar “Semua tentang Muslimah”
  5. Bolehkah Mengangkat Pemimpin dari Kalangan Kafir? (Tanggapan atas Pernyataan Ustadz. M. Nur Maulana)
  6. (LIVE) Kajian Islam Intensif Tiga Hari – Makassar
  7. Ibroh dan Pelajaran Emas yang Terpetik dari Bulan Romadhon
  8. Meluruskan Pemikiran Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’
  9. Kajian Umum Panduan Praktis Haji dan Umrah (Masjid Al-Markaz Makassar)
  10. Polemik Qunut Subuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *