Menanti Momen Mustajab ‘Ramadhan Karim’

Dilihat 163 kali | Kirim Ke Teman

Menanti Momen Mustajab ‘Ramadhan Karim’

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

[Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa]

Menanti Momen Mustajab 'Ramadhan Karim'Sebuah sisi yang indah seringkali terlupakan di Bulan Ramadhan. Ramadhan Karim adalah bulan mulia yang disiapkan oleh Allah –Azza wa Jalla– bagi mereka yang diberi taufiq dalam mengisi dan memakmurkannya dengan berbagai warna amal sholih. Banyak orang yang sangat bergembira saat menyambut Ramadhan dengan kembalinya semangat berpacu dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala-. Dengan datangnya bulan suci ini, kini semangat yang seakan pudar kembali membara dan membakar jiwa orang-orang yang menginginkan kebaikan dirinya di kampung akhirat.

Sisi yang terlupakan itu adalah Ramadhan sebagai bulan ibadah merupakan momen mustajab (pengabulan doa), dimana doa seorang hamba akan dikabulkan oleh Allah -Ta’ala- jika seorang membina dirinya di atas ketaatan dengan dibarengi istighfar dan tobat dari segala dosa yang bisa membendung istijabatud du’a ‘pengabulan doa’.

Bulan Ramadhan bila disadari keberadaannya dan kedudukannya yang tinggi, maka pasti semua orang akan menanam sebanyak-banyaknya keshalihan dan akan memanjatkan doa ke hadirat Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.

إِنَّ للَّهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ، وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُو بِهَا فَيُسْتَجَابُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah memiliki utaqo’ (orang-orang yang akan dibebaskan) dari neraka pada setiap hari dan malam pada Bulan Ramadhan dan sesungguhnya setiap muslim memiliki doa yang ia panjatkan, lalu dikabulkanlah doanya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/254) dan Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhor (no. 3142). Dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir (no. 2169)]

Al-Munawiy –rahimahullah– berkata,

وهذه منقبة عظيمة لرمضان وصوامه وللدعاء والداعي

“Ini adalah keutamaan agung bagi Ramadhan, orang-orang yang berpuasa padanya, dan (keutamaan) bagi doa dan orang yang berdoa”. [Lihat Faidhul Qodir (2/476)]

Detik-detik dari momen Ramadhan adalah waktu-waktu emas nan berharga bagi insan cerdik yang ingin meraih kebahagiaan dan laba yang banyak untuk akhiratnya. Seyogianya detik-detik berharga dari Ramadhan ini, kita manfaatkan untuk memperbanyak doa di dalamnya, karena ia merupakan momen mustajab (pengabulan doa). Jadikanlah hari-hari Ramadhan sebagai waktu yang melezatkan hati dalam bermunajat kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.

Memperbanyak munajat dan panjatan doa di Bulan Ramadhan merupakan kelezatan di atas kelezatan, sebab doa dan munajat itu sendiri adalah kelezatan, ditambah lagi keutamaan besar Bulan Ramadhan semakin menambah kelezatan dalam hati orang-orang yang asyik beribadah.

Muslim bin Yasar -rahimahullah- berkata,

ما تلذذ المتلذذون بمثل الخلوة بمناجاة الله عز و جل

“Orang-orang yang merasakan kelezatan (dalam ibadah) tidak merasakan kelezatan dibandingkan bersedirian dalam bermunajat kepada Allah -Azza wa Jalla-“. [Atsar Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (2/294)]

Kesibukan dalam doa dan amal sholih merupakan kesibukan yang amat menyenangkan bagi para salaf. Hendaknya hal itu menjadi corak hidup dan kebiasaan kita dalam menjalani kehidupan dunia ini. Cukuplah sebuah kenyataan miris, banyak manusia yang lalai di zaman ini dari memanfaatkan momen berharga dari Bulan Ramadhan untuk memperbanyak doa, sebab ia waktu yang mustajab (terkabulkannya doa). Hindarilah banyak hal yang memalingkan kita dari hal itu, seperti permainan-permainan yang cukup melalaikan, semisal : domino, halma, ular tangga, catur dan poker. Semua ini adalah perkara yang terlarang dan haram dalam agama.

Demikian pula hindarilah bermain internet secara berlebihan. Gunakanlah secukupnya untuk kepentingan dan kemaslahatan dunia kita, ataukah untuk kemaslahatan agama dan akhirat kita. Hanya saja jangan berlebihan, sebab ia laksana makanan, bila berlebihan dari kadarnya, maka ia bukan bermanfaat, bahkan ia akan merusak dan boleh jadi terlarang dan diharamkan.

Gunakanlah momen mustajab ‘Ramadhan Karim’ untuk memperbanyak doa dan amal sholih, seperti : membersihkan masjid, menulis artikel ilmiah yang bermanfaat, tilawatul Qur’an, bermajelis ilmu, berdzikir, bersholawat, mempelajari tajwid, mendengarkan ceramah dan murottal melalui kaset atau rekaman audio, dan lainnya; atau minimal kita sibukkan diri mencari nafkah dan membantu orang tua dan saudara-saudara kita.

Tags:

Artikel di Kategori ini :

  1. Daurah Salafiyah 9 Hari : “Hidup Bahagia dengan Tafaquh Fiddin (Menuntut Ilmu Agama)”
  2. Meluruskan Pemikiran Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’
  3. [Transkrip Khutbah Jum’at] Kenaikan Harga: Suatu Renungan dan Solusi
  4. Tabligh Akbar Kab. Gowa “Semua tentang Ukhuwah”
  5. Buah Delima yang Kecut
  6. Masjid vs Kuburan
  7. Agar Safar Bernilai Ibadah
  8. Puasa Arafah dan Lebaran, Ikut Indonesia atau Arab Saudi?
  9. Judi Gelap
  10. (LIVE) Tabligh Akbar : Pentingnya Tauhid dalam Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *