Dua Janji Utama bagi Mereka yang Berpuasa

Dilihat 150 kali | Kirim Ke Teman

Dua Janji Utama bagi Mereka yang Berpuasa

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Dua Janji Utama bagi Mereka yang BerpuasaPuasa (الصيام) adalah salah satu ibadah yang utama dalam syariat agama kita. Ia termasuk ibadah yang tertua di dunia. Puasa ini telah ada dalam syariat umat-umat terdahulu. Allah jadikan puasa itu sebagai latihan bagi mereka yang ingin mengharapkan ridho Tuhan-nya.

Seorang Nabi dan Rasul yang pernah diutus oleh Allah, itulah Nabi Dawud –alaihis sholatu was salam- diceritakan dalam sebagian riwayat bahwa beliau orang yang rajin berpuasa dan rajin sholat malam.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا.

“Sholat yang paling dicintai oleh Allah adalah sholatnya Dawud –alaihis salam-. Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasanya Dawud. Dahulu ia tidur pada pertengahan malam, sholat pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 1131) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1159)]

Ini adalah bukti kuat bahwa puasa telah ada di zaman dahulu kala, sebelum diutusnya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Lebih dipertegas lagi oleh Allah di dalam Suroh Al-Baqoroh : 183.

Adanya syariat puasa dalam agama Islam yang dibawa oleh para nabi dan rosul, tanpa diiringi dengan naskh (penghapusan), menjadi qorinah (indikasi) bahwa puasa merupakan amalan utama yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Ar-Rahman.

Saking utamanya syariat shiyam ‘puasa’, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- siapkan dua janji utama bagi mereka yang melazimi dan menjaga puasa, baik yang nafilah (sunnah), maupun yang faridhoh (wajib).

Janji utama bagi mereka yang berpuasa telah dituangkan oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا  [الأحزاب : 35]

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar“. (QS. Al-Ahzab : 35)

Renungkanlah dua janji yang utama bagi mereka yang berpuasa : meraih ampunan dan mendapatkan balasan pahala yang amat besar.

Ahli Tafsir Semenanjung Arab, Syaikh Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata saat menerangkan dua janji tersebut dalam ayat itu,

فجازاهم على عملهم ” بِالْمَغْفِرَةِ ” لذنوبهم، لأن الحسنات يذهبن السيئات. { وَأَجْرًا عَظِيمًا } لا يقدر قدره، إلا الذي أعطاه، مما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر، نسأل اللّه أن يجعلنا منهم.

“Dia (Allah) balasi mereka atas amalan mereka dengan maghfiroh ‘ampuan’ bagi dosa-dosa mereka, karena kebaikan-kebaikan menghilangkan (menghapus) keburukan-keburukan; (Dia juga membalasi mereka) dengan balasan yang besar, yang tak dapat diukur kadarnya, kecuali (Allah) Yang telah memberinya, berupa (nikmat-nikmat dalam surga) yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga dan tak pernah terbetik dalam hati seorang manusia. Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita termasuk dari (golongan) mereka”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rohman (hal. 664), cet. Ar-Risalah, 1420 H]

Pernahkah anda membayangkan bahwa amalan puasa yang tidak begitu berat, seorang hanya menahan lapar, haus dan lainnya dalam waktu yang amat singkat. Syariat shiyam ‘puasa’ begitu mudahnya bagi seorang yang mukallaf. Ia hanya diperintah bersabar selama separuh waktu dari 24 jam. Ia pun dibekali dengan syariat sahur yang dapat menguatkan jasad orang yang berpuasa, lalu diiringi dengan ifthor ‘buka puasa’ sesegera mungkin bila matahari telah tenggelam di ufuk barat.

Alangkah indah dan ringannya orang yang berpuasa dalam syariat agama akhir zaman, sedikit pengorbanan, namun balasan segunung, bahkan lebih dari itu lagi; hanya Allah -Azza wa Jalla- yang mengetahuinya.

Semakin indah lagi, pelakunya diberi maghfiroh ‘ampunan’ dari Allah Yang Maha Pengampun. Tidakkah anda menyadari bahwa anda diliputi oleh dosa-dosa yang sedikit demi sedikit berkumpul di sekitarmu, bagaikan kayu bakar yang dikumpulkan oleh Raja Namrud untuk membakar Ibrahim –alaihis salam-?!

Begitulah perumpamaan bagi dosa-dosa kita, laksana kayu bakar yang siap membakar pemiliknya. Dosa-dosa yang menyala dan siap membakar pemiliknya, sesegera mungkin dipadamkan dengan amal-amal sholih, shiyam ‘puasa’ dalam hal ini.

Begitu kuatnya kasih sayang Allah -Azza wa Jalla-, Dia menyiapkan ajron azhiman ‘balasan yang besar’. Lantas berapakah besarnya pahala bagi mereka yang berpuasa? Wallahu A’lam ‘hanya Allah Yang tahu’ tentang kadarnya. Saking besarnya pahala puasa ini, dengannyalah kita masuk surga. Karena itu, sebagian mufassirin ‘ahli tafsir’ menerangkan bahwa makna “pahala yang besar” adalah nikmat-nikmat yang akan dipetik oleh seorang hamba di dalam surga saat ia telah masuk surga dengan berkat puasanya. Bahkan anda diantara mereka menyatakan bahwa “balasan yang besar” adalah jannah ‘surga’ itu sendiri. Subhanallah, alangkah nikmatnya orang-orang yang berpuasa. [Lihat Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Ayil Qur’an (20/269) karya Abu Ja’far Ath-Thobariy]

Puasa dengan dua janji yang utama di dalamnya (maghfiroh dan balasan yang besar), semua itu lahir berkat keimanan dan amal sholih yang maqbul ‘diterima’ di sisi Allah -Azza wa Jalla-.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح : 29]

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Fath : 29)

Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata saat menyebutkan salah kalam mufassirin,

أن يكون [ هذا ] الوعْدُ لِمن أقام منهم على الإيمان والعمل الصالح .

Janji ini bagi orang yang terus berada di atas keimanan dan amal sholih diantara mereka”. [Lihat Zadul Masir (5/395)]

ini menunjukkan bahwa konsistennya seseorang dalam menjaga amal sholihnya –seperti puasa-, demikian pula keimanannya, maka ia diberikan dua janji utama tersebut. Demikianlah sebagian dari keutamaan shiyam ‘puasa’ bagi orang-orang beriman yang ikhlash dan mengikuti sunnah dalam melakukannya. Semoga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menjadikan kita termasuk dari mereka, amin.[1]

 


[1] Artikel ini rampung pada hari Kamis, 24 Sya’ban 1436 H yang bertepatan dengan 11 Juni 2015 M, di Pesantren As-Sunnah, Jln. Baji Rupa, semoga Allah memberkahi pengurus dan para pengajarnya serta para muhsininnya.

Artikel di Kategori ini :

  1. Seuntai Kalimat Indah Seputar Kumpulan Dzikir Pagi dan Sore
  2. Ibroh dan Pelajaran Emas yang Terpetik dari Bulan Romadhon
  3. Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah
  4. Hiburan bagi yang Dilanda Kemiskinan
  5. [Transkrip Khutbah Jum’at] Kenaikan Harga: Suatu Renungan dan Solusi
  6. Iringan Doa dan Tangisan buat Roihanatul Yaman, Al-Faqih Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy -rahimahullah-
  7. Pentingnya Seorang Guru (Syaikh) Memperbaiki Niat Muridnya
  8. Potret Para Muballigh di Bulan Ramadhan
  9. Hanya Tiga Hari
  10. Merenungi Bahasa Musibah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *