Menebar Senyum di Tengah Panasnya Musibah

Dilihat 174 kali | Kirim Ke Teman

Senyum adalah sesuatu yang aneh tapi nyata. Walaupun semua orang memiliki bibir tapi belum tentu bisa melakukannya. Terlebih lagi jika sedang marah atau terkena musibah, sehingga wajah yang cantik dan tampan bisa berubah menjadi sangar dan seram. Namun, disana ada tuntunan ilahi yang dapat membuat kita tersenyum walaupun musibah datang melanda. Di saat itulah kita akan merasakan betapa manisnya iman. Di edisi kali ini, kami akan membawakan tips-tips tentang bagaimana seorang muslim dapat bersabar dalam menghadapi musibah agar ia bisa tetap tersenyum, tegar dan senantiasa berada dalam keridhaan Allah -Azza wa Jalla-.

  • Mengetahui Besarnya Pahala dan Ganjaran di Balik Musibah itu.

Jika kita menyadari bahwa bagi orang-orang yang bersabar telah disediakan bagi mereka balasan yang baik dan pahala yang besar, niscaya ia akan lebih mudah bersabar dan ridha dalam menghadapi takdir ilahi. Sebab Allah -Azza wa Jalla- telah menjelaskan dengan gamblang akan besarnya pahala orang yang bersabar di dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”. (QS. Az-Zumar: 10)

Bahkan bagi orang yang bersabar, dia berhak untuk mendapatkan janji surga berdasarkan firman Allah -Subhana Wa Ta’ala- ,

“Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya,”. (QS. Al-Furqon: 75)

  • Mengetahui bahwa Musibah itu adalah Penghapus D,osa-dosanya.

Sesungguhnya dalam kehidupan kita sehari-hari, begitu banyak pelanggaran-pelanggaran yang kita lakukan. Noda-noda maksiat telah mengotori hati kita sehingga terkadang kita lupa kepada Allah dan hari akhir, bahkan merasa bangga dengan perbuatan maksiat tersebut. Maka hari ini kita melihat pemuda-pemuda muslim yang begitu bangga mengikuti gaya hidup orang kafir, kaum muslimin yang begitu bangga dapat duduk bekerja di instansi-instansi ribawiyyah dan makan dari hasilnya. Mereka tidak mempedulikan peringatan Allah di dalam kitab-Nya yang mulia,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”. (QS. Al-Baqarah: 278)

Mereka mengetahui akan haramnya riba itu, namun hanya karena dunia dan hawa nafsu membuat mereka menutup mata akan hal itu. Mereka tidak takut dengan ancaman Allah –Azza wa Jalla-,

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. (QS. Al-Hijr: 3).

Itulah secuil potret kehidupan kaum muslimin pada hari ini. Mereka bergaul dengan kesalahan dan kekhilafan dalam setiap hari-harinya. Namun, Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap anak cucu Adam adalah orang yang berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat.” [HR. At-Tirmidziy dalam Shifah Al-Qiyamah (2499), dan Ibnu Majah dalam Az-Zuhd (4251). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (2341)]

Karenanya, atas rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, maka Allah memberikan musibah-musibah kepada mereka untuk menyucikan diri mereka dari dosa dan menyadarkan mereka dari kelalaian agar mau kembali ke jalan Allah. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

مَا يُصِيْبُ اْلمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ ولاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذَى وَلاَ غَمٍّ حَتىَّ الْشَوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطاَياَهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim dari rasa sakit, letih, kesedihan, kegundahan, dan kegelisahan sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan menghapus dengan semua itu kesalahan-kesalahannya.” [HR. Bukhari (no. 5641 & 5642) dan Muslim (6513)].

  • Beriman kepada taqdir Allah

Seluruh peristiwa yang terjadi di alam semesta ini, baik yang besar maupun yang kecil, senang maupun susah, semua itu telah ditakdirkan Allah sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Hal itu jelas tidak mampu di jangkau oleh akal manusia yang sempit, kecuali dengan keimanan yang benar terhadap Allah -Subhana Wa Ta’ala-. Allah menetapkan seorang hamba mendapat kecelakaan dan musibah  melainkan ada hikmah yang besar di dalamnya. Allah -Azza wa Jalla- menyatakan di dalam Al-Qur’an,

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al-Hadid: 22-23).

Sesungguhnya Allah tidak akan menzholimi hamba-hamba-Nya. Allah -Subhana Wa Ta’ala- maha penyayang lagi cinta kepada hamba-hamba-Nya melebihi cintanya seorang hamba kepada dirinya sendiri. Namun, Allah –Subhana Wa Ta’ala- menetapkan musibah bagi hambanya untuk suatu kemaslahatan yang agung yaitu untuk melahirkan kesabaran dan ketundukkan sehingga ia dicintai Allah. Jika ia tidak mau bersabar, malah berputus asa, berkeluh kesah dan menghibur dirinya dengan hiburan yang dibenci oleh Allah padahal takdir Allah pasti terjadi, maka ia akan berdosa. Hal itu tidak akan merubah takdir Allah sedikitpun, dan tidak bisa mengganti sunnah-sunnah Allah yang ada di alam semesta ini. Yang demikian itu hanyalah menambah kesedihan, kegelapan dan penyesalan pada dirinya sendiri. Inilah nasehat Luqman kepada anaknya,

“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

  • Mengetahui bahwa Musibah itu Berasal dari Dosa-dosa Kita.

Telah kami kemukakan bahwa Allah sangat mencintai hamba-hambanya. Hanya manusia itulah yang selalu melampaui batas dan mendzholimi diri mereka sendiri. Mereka tidak menghiraukan perintah dan larangan Allah, sehingga membuat kerusakan di muka bumi. Allah -Azza wa Jalla– berfirman,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)

Ayat di atas menunjukkan bahwa musibah-musibah yang terjadi itu, akibat ulah dan dosa kita sendiri. Oleh karenanya, ketika musibah itu datang ,maka tidak pantas bagi kita untuk sibuk menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Bijaksana. Seharusnya kita pintar-pintar mengoreksi diri kita sendiri yang telah banyak melakukan pelanggaran dan maksiat setiap saatnya sehingga dosa-dosa menumpuk. Oleh sebab itu, Allah memberi musibah demi musibah agar tersadar dari kelalaian kita dan menghapus dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Rasulullah –Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَا يَزَالُ اْلبَلاَءُ بِاْلمُؤْمِنِ وَ اْلمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَ مَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa musibah itu akan menimpa orang mukmin laki-laki dan perempuan, pada jiwanya, hartanya dan anaknya sehingga ia berjumpa dengan Allah sedangkan padanya sudah tidak ada kesalahan lagi.” [HR. At-Tirmidzi (2399) dan di-hasan-kan syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2280)].

  • Menganggap ringan musibah itu.

Sebesar apapun musibah yang menimpa seorang muslim maka tidak akan bisa  melampaui musibah yang pernah dialami oleh para nabi dan rasul. Sebab, Allah memberi musibah kepada para hambanya sesuai dengan kadar keimanan mereka. Allah tidak akan membebani seorangpun di luar kesanggupannya. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).  

Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- telah bersabda,

إِنَّ عِظَمَ اْلجَزَاءِ مَعَ عِظَمَ اْلبَلاَءِ وَ إِنَّ اللهَ  إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ اْلرِضَا وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ اْلسَخْطُ وَأَعْظَمُ اْلنَّاسِ بَلاَءً : اْلأَنْبِياَءُ , ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ.

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum maka dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha padanya, dan barangsiapa yang murka maka Allah pun murka padanya. Manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisalnya, setelah itu orang yang semisalnya”.[HR. At-Tirmidzi (2396). Lihat As-Shohihah (146)]

Oleh karenanya, ketika musibah datang melanda maka camkanlah dalam hati bahwa musibah itu masih jauh lebih ringan daripada musibah yang ditimpakan kepada para nabi dan rasul serta orang-orang soleh dari kalangan umat ini. Mereka telah melewati masa- masa yang kritis dan sangat genting, yang kalau musibah itu ditimpakan kepada kita niscaya kita tidak akan mampu bersabar.

Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt -radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka’bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat] seraya kami berkata, “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo’akan (kemenangan) bagi kami?” Beliau bersabda,

قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ

“Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ada pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini hingga seseorang yang berjalan dari Shan’a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa“. [HR. Al-Bukhariy (3612, & 6943)]

  • Mengetahui bahwa Dunia itu Fana dan Tempat Menerima Ujian.

Sesungguhnya segala yang ada di bumi tak ada yang abadi. Tidak ada kebahagian yang abadi di dalamnya dan tidak ada pula kesedihan yang abadi. Dunia bukanlah surga yang penuh kenikmatan dan negri kekekalan, melainkan tempat yang penuh dengan ujian dan cobaan. Oleh karenanya, orang yang cerdas tidak akan terkejut dan terlalu bersedih dengan adanya musibah-musibah yang melanda. Ia menyadari hakekat dunia yang tidak akan pernah lurus dan tetap dalam satu keadaan. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan namun hari lain adalah hari yang tidak menguntungkan. Mungkin hari ini kita dicintai namun besok kita kan dibenci dan dicaci. Allah Yang Maha Bijaksana berfirman,

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan hari-hari (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (QS. Al-Imron: 140)    

Allah -Azza wa Jalla- telah memberitakan tentang hakekat dunia dalam firman-Nya,

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-Araf: 32)

Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-  menerangkan pula tentang hakekat rendahnya dunia dalam sabdanya,

وَلَوْ كاَنَتِ اْلدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاءٍ

“Sekiranya dunia itu bernilai di sisi Allah senilai dengan sebelah sayap nyamuk maka tentulah Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meskipun hanya seteguk.” [HR. At-Tirmidziy (2320), Ibnu Majah(4110).Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (943)]

Demikianlah tips-tips untuk meraih kesabaran yang indah. Sehingga ketika musibah datang, maka kita pun bisa tersenyum dan ikhlas menerima takdir Allah. Ketahuilah, ketika Allah memberi musibah kepada seorang mukmin, maka itu adalah tanda Allah mencintainya dan menginginkan kebaikan baginya. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ يُرِْدِ اللهُ بِِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan kepadanya, maka Allah akan memberinya bala’(musibah). ” [HR. Al-Bukhari Kitab Al-Mardho (no. 5645)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Dua Janji Utama bagi Mereka yang Berpuasa
  2. Merenungi Bahasa Musibah
  3. Pentingnya Seorang Guru (Syaikh) Memperbaiki Niat Muridnya
  4. [Transkrip Khutbah Jum’at] Kenaikan Harga: Suatu Renungan dan Solusi
  5. Iringan Doa dan Tangisan buat Roihanatul Yaman, Al-Faqih Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy -rahimahullah-
  6. Tangis Sedih atas Kepergian Seorang Ahlus Sunnah (Belasungkawa atas Berpulangnya Ustadz Bashiron – rahimahullah)
  7. Hanya Tiga Hari
  8. Seuntai Kalimat Indah Seputar Kumpulan Dzikir Pagi dan Sore
  9. Ibroh dan Pelajaran Emas yang Terpetik dari Bulan Romadhon
  10. Potret Para Muballigh di Bulan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *