Iringan Doa dan Tangisan buat Roihanatul Yaman, Al-Faqih Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy -rahimahullah-

Dilihat 349 kali | Kirim Ke Teman

Iringan Doa dan Tangisan buat Roihanatul Yaman, Al-Faqih Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy –rahimahullah
(Penulis : Al-Ustadz Abdul Qodirhafidzhahullah-)Iringan Doa dan Tangisan buat Roihanatul Yaman,  Al-Faqih Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar'iy Al-Adniy -rahimahullah-

Kematian Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy bagaikan petir yang menyambar hati setiap ahlussunnah. Tiada kata yang lebih pantas kita ucapkan untuk beliau, selain doa kebaikan bagi beliau dan istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un,” (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali).

Kepada mereka yang bersabar dalam menghadapi musibah kematian Syaikh Abdur Rohman Al-Mar’iy, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157) [البقرة : 155 – 157]

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqoroh : 155-157)

Kesabaran adalah bekal terbaik di kala musibah dan kematian seorang alim sunnah mendera jiwa. Yakinlah, insya Allah, kepergian beliau adalah ujian bagi pencinta beliau. Bagi mereka yang selama ini mencintai dan mengambil ilmu beliau, maka bersyukurlah kepada beliau dengan iringan doamu bagi Guru kita yang mulia, Syaikh Abdur Rohman Al-Mar’iy –rahimahullah-.

Terkhusus bagi mereka selaku murid-murid beliau, selain mendoakan beliau, ada tugas lain atas kalian; teruskan dan sebarkanlah ilmu beliau agar buah pahala beliau terus mengalir kepada beliau, sebagaimana buah ilmu dan kebaikan beliau terus mengalir atas kalian, selama kalian berguru kepada beliau. Beliau mengajar dan membimbing kalian penuh kesabaran, kekuatan, kecintaan, dan perhatian kepada kalian, dari ilmu yang sedikit sampai menjadi segudang ilmu yang sulit dihitung. Beliau tanam dalam jiwa kalian dengan sekuat-kuatnya, tanpa pamrih, walaupun dalam keadaan sakit mengiringi beliau. Tapi keikhlasan dan kasih sayang beliau meringankan langkah dan jiwanya menuju majelis, semata ingin melihat kalian baik dan berguna di masa depan untuk diri kalian, dan bangsa kalian.

Seringkali beliau mengorbankan kesenangan dan kepentingan pribadi beliau untuk menemui kalian dan menyapa kalian dengan kemurahan dan kelembutannya. Tangis dan tetesan air mata kesedihan kalian tidaklah berguna bagi beliau, bila kalian selaku murid dan pencinta Syaikh tidak mengiringi kepergian beliau dengan doa, istighfar dan usaha menghidupkan ilmu yang beliau ajarkan kepada kalian.

“Susu jangan dibalas dengan tuba”. Tapi balaslah dengan sesuatu yang terbaik. Air Susu ibu tidaklah sebanding dengan kasih sayang, perhatian, ilmu, dan kebaikan Syaikh atas kalian. Aliran susu ibumu hanyalah bermanfaat bagi jasadmu selama di dunia. Namun aliran ilmu dan kebaikan Sang Guru, Syaikh Abdur Rohman -rahimahullah- kepada para thullab (santri-santri) beliau, manfaatnya bukan hanya sebatas dunia, tapi akan mengantarkanmu kepada jalan lurus yang menghubungkanmu dengan Allah Robbul Izzah, dengan selamat sampai kalian masuk ke dalam Jannatul Firdaus, insya Allah.

Kepada thullab beliau, kami nasihatkan agar kebaikan beliau dibalas dengan kebaikan. Tulis dan transkriplah semua atau beberapa ceramah dan durus (pelajaran-pelajaran) yang beliau pernah sampaikan, agar beliau mendapatkan amal jariyah dari tulisan-tulisan itu. Nisbahkanlah kepada beliau ilmu yang pernah kalian dengar dari beliau secara langsung atau melalui perantara. Pesan kami kepada para thullab beliau -rahimahullah- agar senantiasa mengiringi beliau dengan doa. Janganlah kalian melewati menyebut, menulis, atau mendengar nama beliau, melainkan kalian ucapkan at-tarohhum (doa rahmat) bagi beliau, dengan menulis atau mengucapkan “rahimahullah” (semoga Allah merahmati beliau) di belakang nama beliau. Jazakumullahu khoiron atas hal itu.

Kematian Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy pada Hari Ahad sampai kepada kami, ba’da Maghrib, malam Senin, 20 Jumadal Ula 1437 H, usai menghadiri “Simposium Bela Negara” di Gedung Auditorium RRI, Makassar, Jln. Riburane.

Sungguh di luar dugaan, kami membaca status facebook Akh Muhammad Abu Muhammad Al-Indunisiyhafizhahullah-. Rasa tak yakin ini, mendorong kami untuk tabayyun dan bertanya kepada Akhuna Muhammad Rivaldi di Yaman bahwa yang wafat adalah Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy, via WhatsApp.

Dalam hitungan 3 detik, Akhuna memberikan balasan berikut :

“Bismillah. . Iy.. syaikh abdurrahman al-adany rahimahullah. ..”

Semakin berderai air mata ini, saat aku pastikan lagi melalui media-media sosial Arab. Ternyata media Yaman bersepakat meliput berita yang sama tentang terbunuhnya Syaikh Abdur Rohman.[1]

Ya Allah, sekujur tubuh ini terasa lemas dan hati tak bisa menahan deraian air mata. Begitu cepatkah Syaikh Abdur Rohman dipanggil ke hadirat Allah.

Kejadian ini mengingatkan aku dengan kalam seorang salaf yang bernama Ayyub As-Sikhtiyaniy -rahimahullah-.

Ayyub bin Abi Tamimah As-Sikhtiyaniy -rahimahullah- berkata,

إِنِّيْ أُخْبَرُ بِمَوْتِ الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَكَأَنِّيْ أَفْقِدُ بَعْضَ أَعْضَائِيْ

“Sesungguhnya aku dikabari tentang kematian seorang Ahlus Sunnah, seakan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku.” [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 29) dan Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (3/9)]

Kehilangan dunia tidaklah sepadan dengan kepergian seorang ulama ke alam baqa dengan membawa segala ilmunya. Tahukah kalian bahwa hilangnya ilmu dan ulama adalah kerugian besar, sampai ada yang berkata,

مَوْتُ الْعَالِمِ مَوْتُ الْعَالَمِ

“Kematian ulama adalah kematian alam.”

Tahukah kalian bahwa siraman ilmu mereka bagaikan siraman hujan yang sejuk dan menumbuhkan banyak kebaikan bagi manusia. Jadi, kematian seorang ulama, laksana mati dan kerontangnya sebagian alam ini.

Di dalam sebuah ayat, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (41) [الرعد : 41 ، 42]

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah yang Maha cepat hisab-Nya.” (QS. Ar-Ro’du : 41)

Ketika menjelaskan kalimat yang bergaris dalam ayat ini, Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,

خَرَابُهَا بِمَوْتِ فُقَهَائِهَا وَعُلَمَائِهَا وَأَهْلِ الْخَيْرِ مِنْهَا

“(Kurangnya daerah-daerah itu) adalah hancurnya dengan kematian para ahli fiqih dan ulamanya, serta orang-orang baiknya.” [Lihat Jami’ Al-Bayan (16/497), Zadul Masir (4/14), dan Tafsir Ibni Katsir (4/472)]

Sebuah kerugian besar dengan hilangnya para ulama. Sebab, dengan kematian dan kepergiannya akan membuka cela bagi kerusakan, kemungkaran dan kesesatan. Dengan kepergian beliau, tidaklah begitu saja semua kebaikan, tugas, tanggung jawab selaku ulama dapat ditutupi dengan sempurna oleh muridnya atau orang lain.

Tidak heran bila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ؛ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ulama pun, maka manusia akan menjadikan (mengangkat) pimpinan-pimpinan (dalam urusan agama) orang yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [HR. Al-Bukhari (100 & 7307) dan Muslim (2673)]

Seorang ulama adalah seorang murobith (penjaga) dan mujahid pada tapal batas agama. Mereka menjadi penjaga bagi umat agar tidak terjatuh dalam jurang kesesatan, sekaligus sebagai pembimbing menuju jalan lurus. Manfaat mereka, bukan hanya kembali kepada diri mereka saja, bahkan mereka mengajarkan ilmu agar manusia mendapatkan manfaat hidayah yang membimbing mereka kepada jalan-jalan kebaikan.

Tak pelak bila Amirul Mukminin, Umar bin Khoththob Al-Adawiy -radhiyallahu anhu- berkata,

«مَوْتُ أَلْفِ عَابِدٍ صَائِمِ النَّهَارِ قَائِمِ اللَّيْلِ أَهْوَنُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ بَصِيْرٍ بِحَلاَلِ اللهِ وَحَرَامِهِ»

“Kematian seribu ahli ibadah yang berpuasa di siang hari, sholat tahajjud di waktu malam adalah lebih ringan dibandingkan kematian seorang ulama yang mengerti perkara yang Allah halalkan dan haramkan.” [HR. Al-Harits Abu Usamah sebagaimana dalam Bughyah Al-Bahits (no. 842)]

Jasa besar yang mustahil diingkari pada diri ulama bahwa mereka telah berjasa mengajarkan kebaikan kepada manusia dan mencegah mereka dari segala hal yang mengantarkan mereka dalam keburukan dan siksa neraka.

Suatu hari Said bin Jubair –rahimahullah– ditanya oleh seseorang,

وَقِيْلَ لِسَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ : مَا عَلاَمَةُ هَلاَكِ النَّاسِ؟

“Apa tanda kehancuran manusia?”

Maka beliau jawab,

قال: «هلاك علمائهم»

“(Tanda kehancuran mereka) adalah kematian ulama-ulama mereka.”

[HR. Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (241), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 37206), Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (4/276) dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (1662)]

Kedudukan para ulama amat tinggi di sisi Allah. Mereka adalah pelanjut dakwah para nabi dan rasul. Mereka bagaikan bintang-bintang di langit yang dijadikan sebagai pelita dan obor di kegelapan malam; laksana rambu-rambu di tengah padang pasir tak bertepi. Mereka dipilih oleh Allah -Azza wa Jalla- sebagai penjaga dan pembela agama ini. Mereka menepis penyimpangan orang yang ekstrim, membantah ajaran para pelaku kebatilan, dan meluruskan persepsi keliru orang-orang jahil. Mereka adalah wujud rahmatan lil alamin yang menebar kasih dan cinta di atas minhajun nubuwwah.

Andaikan Allah menakdirkan tidak adanya para ulama, maka rambu-rambu agama akan luntur dan pedoman-pedoman agama akan kabur dan rancu, akibat tipu daya pelaku kesesatan dan pengaruh orang-orang yang menyimpang dari kalangan kaum jahil, kafir, munafik, ahli bid’ah dan fasiq.

Lantaran itu, diantara musibah dan bencana terbesar yang menimpa manusia, matinya para ulama. Karena, hal itu akan menyebabkan terangkatnya ilmu wahyu yang bermanfaat, lalu digantikan oleh kejahilan yang membahayakan.

Abul Hasan Ali bin Musa Ar-Ridho Al-Hasyimiyrahimahullah– berkata,

«أَعْظَمُ الرَّزَايَا مَوْتُ الْعُلَمَاءِ»

“Bencana terbesar adalah kematian para ulama.” [Lihat Al-Majalis Al-Wa’zhiyyah (34/17)]

Tidak ada yang bergembira dengan kematian ulama –diantaranya Syaikh Abdur Rohman-, melainkan orang-orang bernasib sial yang ingin memadamkan cahaya agama Allah.

Hammad bin Zaid -rahimahullah- berkata saat kematian seorang Ahlus Sunnah yang bernama Syu’aib bin Al-Habhab Abu Sholih Al-Bashriy –rahimahullah-.

Kata Hammad bin Zaid -rahimahullah-,

حضرت أيوب السختياني وهو يغسل شعيب بن الحبحاب ، وهو يقول :
إن الذين يتمنون موت أهل السنة يريدون أن يطفئوا نور الله بأفواههم ، والله متم نوره ولو كره الكافرون

“Aku menyaksikan Ayyub As-Sikhtiyaniy sedang memandikan (jenazah) Syu’aib bin Al-Habhab seraya berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengharap-harapkan kematian Ahlus Sunnah, mereka ini ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Sedangkan Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.” [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (no. 35)]

Mengharapkan kematian seorang ahlus sunnah –apalagi ia adalah ulama sunnah- merupakan niat jahat dan misi busuk yang ingin memadamkan ajaran-ajaran dan sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Terakhir, kami ingin menyinggung sedikit perkara yang selama ini dilakukan oleh sebagian orang jahat yang ingin memadamkan cahaya ilmu yang selama ini disebar oleh Syaikh Abdur Rohman bin Umar Al-Mar’iy Al-Adniy –rahimahullah-, dengan jalan menghina dan memberinya gelar-gelar hina, men-tahdzir beliau tanpa hujjah yang mu’tabaroh di sisi Ahlus Sunnah.

Sialnya lagi jika yang melakukan hal itu adalah murid-murid durhaka yang dahulu datang mengemis ilmu kepada beliau. Kini dengan segala kecongkakan para murid durhaka ini, mereka menghalangi manusia dari majelis-majelis ilmu beliau. Jadilah, si murid-murid durhaka ini sebagai penghadang yang menyesatkan manusia dari kebenaran, dan selaku wakil-wakil Iblis dalam menjauhkan manusia dari ilmu dan ulama. Mereka ingin mengubur jasa dan jasad beliau yang telah menghabiskan umurnya dalam menebar sunnah. Ya Allah, hamba-Mu yang tiada berdaya. Apa yang mereka inginkan dari beliau? Sungguh jahat, air susu dibalas dengan tuba. Ya Allah, kami tahu bahwa Engkau Maha Perkasa lagi Bijaksana, tidak akan melalaikan kebaikan beliau dan keburukan murid-murid durhaka itu!

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyahrahimahullah– berkata,

وَلَمْ يَنْهَ عَنِ الْعِلْمِ إِلاَّ قُطَّاعُ الطَّرِيْقِ مِنْهُمْ وَنُوَّابُ إِبْلِيْسَ وَشُرَطُهُ

“Tak ada yang melarang dari ilmu, kecuali bajak jalanan (perompak) diantara mrk serta wakil-wakil Iblis dan bala tentaranya”. [Lihat Madarij As-Salikin (2/464)]

Kepada mereka yang durhaka kepada Syaikh Abdur Rohman Al-Mar’iy -rahimahullah-, bertobatlah kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya. Teteskan air mata penyesalan atas kedurhakaan kalian kepada beliau yang selama ini menjadi orang tua kalian dalam ilmu yang menyuap kalian dan mendidik kalian dengan ilmu, akhlak dan kesabarannya. Sesalilah perbuatan buruk dan kurang ajar kalian kepada beliau, sebelum beliau menuntut kalian di hadapan Allah Yang Maha Perkasa.

Para pembaca yang budiman, demikian nasihat dan tulisan ringkas dari kami, semoga bermanfaat dalam menghadapi musibah kematian Roihanatul Yaman (Bunga Harum Negeri Yaman, Syaikh Abdur Rohman Al-Adniy –rahimahullah-.

Sebelum menutup tulisan ini, sebuah hal yang dapat menghibur hati kita, beliau meninggal saat hendak menuju kepada dua keutamaan : sholat Zhuhur dan mengajar tafsir Al-Qur’an. Semoga ini menjadi bisyaroh (berita gembira) bahwa beliau menutup hidupnya dengan kebaikan.

Kemudian kita ber-tafa’ul (optimis dan berharap baik), dimana dalam sebuah berita yang sampai kepada kami bahwa beliau menuju Masjid Al-Firdaus. Semoga ini menjadi isyarat bagi kita bahwa Allah akan memasukkan beliau ke dalam Jannatul Firdaus (Surga Firdaus). Amiin…

Kepada Akhuna Abu Umar Andri Maadza –-hafizhahullah-, kami haturkan “jazakumullohu khoiron” atas motivasi beliau yang mendorong kami menulis tulisan ringkas ini, walaupun air mata ini berderai membasahi lantai, mulut tak mampu berucap. Pena berjalan seiring bayangan-bayangan kesedihan yang menggelayut dalam kalbu seorang yang mencintai beliau. Semoga kecintaan kami dibalas dengan kebaikan, dan dengannya, kami dikumpulkan bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan Syaikh yang tercinta di dalam Jannatul Firdaus, amiin. Ya Syaikhona, nahnu nuhibbukum fillah.

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ،

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لشيخنا عبد الرحمن بن عمر المرعيُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين وصلى الله على نبينا وآله وصحابته أجمعين[2]

 

—— Footnote —-

[1] Lihat : http://www.ajelpress.net/sources/40722-2016-02-28-12-30-44 , http://www.yemenakhbar.com/yemen-news/273981.html , http://hunaaden.com/news30971.html , dan lainnya.

[2] Tulisan ini rampung pada pukul 17 : 02, Senin, 20 Jumadal Ula 1437 H yang bertepatan dengan 29 Februari 2016 M, di Ma’had As-Sunnah –atsaballohu al-qo’imina ahsanal jazaa’-, Jalan Baji Rupa, no. 08, Makassar, Sulawesi Selatan.

Artikel di Kategori ini :

  1. Seuntai Kalimat Indah Seputar Kumpulan Dzikir Pagi dan Sore
  2. [Transkrip Khutbah Jum’at] Kenaikan Harga: Suatu Renungan dan Solusi
  3. Menebar Senyum di Tengah Panasnya Musibah
  4. Potret Para Muballigh di Bulan Ramadhan
  5. Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah
  6. Tangis Sedih atas Kepergian Seorang Ahlus Sunnah (Belasungkawa atas Berpulangnya Ustadz Bashiron – rahimahullah)
  7. Hanya Tiga Hari
  8. Dua Janji Utama bagi Mereka yang Berpuasa
  9. Pentingnya Seorang Guru (Syaikh) Memperbaiki Niat Muridnya
  10. Merenungi Bahasa Musibah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *