Sudah Cukup !!

Dilihat 386 kali | Kirim Ke Teman

Begitu banyak nikmat yang Allah –ta’ala– karuniakan pada makhluknya, baik kepada manusia, hewan, ataupun tumbuhan bahkan segenap makhluk yang ada di jagad raya ini. Semuanya mendapatkan nikmat dari Allah –Azza Wa Jalla-, sama saja apakah dia beriman, fasik, atau bahkan kafir sekalipun. Nikmat itu bagaikan butiran pasir di pantai, susah dihitung. Itu menunjukkan rahmat Allah –Taa’la– yang maha luas dan nikmat-Nya yang tak terhinggakan.

Allah –taa’la– berfirman,

“Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim lagi sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim : 34)

Diantara sekian banyak nikmat itu, ada nikmat yang paling agung, yakni nikmat keimanan dan keislaman serta istiqomah diatas keduanya.

Istiqomah diatas keimanan dan keislaman merupakan kenikmatan yang tiada taranya, meski ditukar dengan dunia dan seisinya. Betapa tidak!! Sebab ia adalah nikmat yang paling sempurna, dan paling baik. Tidak setiap orang dapat memperolehnya, kecuali orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk menerimanya.

Allah –taa’la– menegaskan kesempurnaan nikmat ini dalam firman-Nya,

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian”. (QS. Al-Maa’idah : 3)

Al-Imam Abul Fida` Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Ini adalah karunia Allah -Ta’ala- yang paling besar terhadap umat ini, di saat Allah telah menyempurnakan agama bagi mereka, maka mereka pun tidak butuh lagi kepada agama yang lain dan tidak kepada nabi yang lain selain Nabi mereka -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Dia telah mengutus beliau kepada bangsa manusia dan jin. Jadi, tidak ada perkara yang halal, selain yang beliau halalkan dan tidak ada perkara yang haram selain yang dia haramkan, serta tidak ada ajaran agama selain yang dia syariatkan. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir  (2/14) cet. Darul Ma’rifah]

Syaikh Abdurrahman bin Nashr As-Sa’dirahimahullah– menyatakan bahwa Allah –taa’la– menyempurnakan pertolongan-Nya serta syariat-Nya yang lahir maupun batin, baik yang merupakan pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 220), cet. Mu’assasah Ar-Risaalah]

Karena sempurnanya agama ini, maka manusia tidak butuh lagi pada penambahan dalam syariat yang mulia ini, dan tidak pula pengurangan sedikitpun dari urusan agama kita. Siapapun yang mengada-adakan syariat di dalam agama ini, maka dia telah berbuat bid’ah dan lancang karena melanggar hak Allah –Azza Wa Jalla– sebagai Dzat yang berhak membuat syariat.

Allah –Azza Wa Jalla– berfirman,

“Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”. (QS. Asy-Syuuroo : 12-13)

Ayat-ayat tersebut diatas menunjukkan bahwa menetapkan syariat adalah hak AllahTaa’la-. Adapun mengada-adakan syariat baru dalam agama ini,  maka itu merupakan sifat orang-orang musyrik yang berhukum atau bersyariat dengan syariat jahiliyyah. Allah –Azza Wa Jalla- berfirman,

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al-Maa’idah : 50)

Dalam ayat tersebut Allah –Azza Wa Jalla– bukanlah bertanya untuk membutuhkan jawaban, akan tetapi dalam rangka mengingkari bahwa tidak ada hukum atau syariat yang lebih baik daripada hukum dan syariat Allah –Azza Wa Jalla-.

Adapun semua hukum dan syariat-syariat yang menyelisihi itu adalah hukum jahiliyyah, sedang  para penyeru kepada hukum tersebut adalah orang-orang jahil, zholim serta menyimpang. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 235)]

Kita tidaklah menjumpai orang-orang yang mengada-adakan bid’ah (ajaran baru) atau aturan baru dalam agama ini, melainkan dia adalah orang yang menyimpang dari syariat yang agung ini sebagaimana halnya orang-orang yang setia mengekor serta membela para ahli bid’ah tersebut.

Ketahuilah, mereka  yang membuat syariat baru dalam agama ini tidak hanya melanggar hak Allah –taa’la– sebagai Dzat yang berhak menetapkan syariat, tetapi juga telah melanggar hak Rasulullah sebagai utusan Allah –Azza Wa Jalla– yang mengemban syariat-Nya. Secara tak langsung mereka telah menuduh Nabi Muhammad –shollallahu alaihi wasallama– mengkhianati risalah dengan menyembunyikan sebagian risalah yang Allah –taa’la– wahyukan kepada beliau –shollallahu alaihi wasallama-, sehingga syariatpun dianggap kurang dan butuh penambahan. Sungguh jelek pemahaman mereka ini!!!

Ibnul Majisyunrahimahullah– berkata, “Aku pernah mendengarkan Imam Malik berkata, “Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah (ajaran baru) yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menyangka bahwa Muhammad –shollallahu alaihi wasallama- telah mengkhianati Risalah, karena Allah telah berfirman,

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian…” (QS. Al-Maa’idah : 3)

Apapun yang bukan agama pada hari itu, maka hal itu bukan agama pada hari ini”. [Lihat Al-I’tishom (1/62) karya Al-Imam Asy-Syathibiy, cet. Maktabah At-Tauhid]

Para Pembaca yang budiman, sungguh agama ini telah sempurna, dan telah mencukupi kebutuhan manusia, baik dunia maupun akhiratnya.  Sebab tidaklah beliau –shollallahu alaihi wasallama– meninggalkan dunia ini, melainkan agama ini telah sempurna dan cukup.

Abu Dzar –rodhiyallahu anhu– berkata,

تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ مَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُ لَنَا مِنْهُ عِلْمًا

“Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- meninggalkan kami, sedang tak ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara, melainkan beliau telah menerangkan kepada kita tentang ilmunya”. [HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnad (5/153 & 162), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no. 1647). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1803) ]

Kemudian ada pula yang beranggapan bahwa sebagian dari syariat agama ini tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, sehingga butuh pada pengurangan dan otak-atik. Mereka inilah orang-orang munafik dan pengikut hawa nafsu yang menginginkan kerusakan umat. Sangkaan batil mereka ini telah menghina Allah –taa’la-, karena jika syariat yang Allah tetapkan tidak sesuai dengan zaman, maka itu artinya Allah –taa’la– itu bodoh dan tidak tahu kemaslahatan bagi umat manusia, wal’iyaadzu billah. Sungguh amatlah jelek sangkaan mereka ini!!!

Sebenarnya orang-orang munafik itu takut, jika hukum dan syariat Allah menimpa diri mereka, disebabkan mereka adalah orang-orang yang menyembunyikan kekafiran dalam hatinya dan senantiasa memperolok-olok agama Allah –azza wa jalla-, maka Allah membongkar kedok mereka dalam firman-Nya,

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu”. (QS. At-Taubah : 64)

Demikian kita akan mendapati mereka memperolok-olok agama Allah, menuduh orang yang mengamalkan islam terlalu ekstrim, mengatakan hukum cambuk, rajam, atau potong tangan terlalu sadis, dan menganggap jihad syar’i sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan, serta poligami mereka anggap wabah. Adapun zina, khomer, memakan harta riba, korupsi mereka menganggapnya sebagai hal yang sah-sah saja. Sungguh mereka berani menentang Allah –taa’la-!!!

Komentar miring terhadap Islam dan syari’atnya merupakan salah satu pembatal keislaman yang membuat seseorang murtad dari agamanya. Syaikh Muhammad Al-Wushobiy Al-Yamaniy hafizhohullah– berkata saat menyebutkan pembatal-pembatal keislaman, “Juga termasuk di dalamnya, orang yang meyakini bahwa aturan dan perundang-undangan buatan manusia adalah lebih utama dibanding syari’at Islam, atau ia meyanini bahwa hukum-hukum Islam tak cocok diterapkan di zaman ini, atau Islam merupakan sebab kemunduran kaum muslimin”. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid fi Adillah At-Tauhid (hal. 47)]

Pembaca yang budiman, sungguh urusan agama ini sudah cukup dan telah dipermudah, Agama ini tidaklah diturunkan untuk kesempitan bagi umat manusia. Bahkan Islam adalah rahmat (kasih sayang) bagi semua makhluk. Islam datang dengan aturan yang baik dan paling baku, tanpa ada kekurangannya sedikitpun demi memudahkan para hamba-Nya. Allah berfirman,

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. Al-Hajj : 78)

Burhanuddin Al-Biqo’iy rahimahullah– berkata memaknai ayat ini, ” Allah tidaklah menjadikan untuk kamu suatu kesusahan dalam agama yang Allah pilihkan bagi kalian. Kesusahan, maksudnya: kesempitan yang padanya terdapat semacam halangan bagi orang yang terjun dalam jihad kecil dan besar sebagaimana Allah menjadikan kesempitan itu bagi orang-orang sebelum kalian”. [Lihat Nazhm Ad-Duror (5/388) karya Al-Biqo’iy] 

Marilah kita mengamalkan agama ini sesuai dengan yang Allah inginkan dan dicontohkan oleh Nabi –Shollallahu alaihi wa sallam-, segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan nikmat dan agama-Nya. Wallahu A’laa wa A’lam.

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 2)
  2. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 1)
  3. Kenapa Ustadz Salafy Tidak Mau Dialog dengan Wahdah Islamiyah??
  4. Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi
  5. Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya
  6. Fatwa Kesesatan Jama’ah / Yayasan / Ormas Wahdah Islamiyah (Bag. 1)
  7. Yang Muslimah Lakukan ketika Hendak Keluar Rumah
  8. Memberangus Paham Nabi Palsu
  9. Mengapa Harus ke Barat ?
  10. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag II)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *