Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag 1)

Dilihat 1,783 kali | Kirim Ke Teman

"Renungan Agar Tidak Berpikir Picik"
Jawaban untuk Al-Akh Ihsan Zainuddin
(bag. 1) [1]
(Seorang Ustadz di Ormas Wahdah Islamiyyah)

"(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja . Padahal di sisi Allah adalah (perkara yang sangat) besar.” QS.An-Nur:15

Telah sampai ke tangan saya sebuah majalah yang bernama “Al-Islamy”[2] yang diasuh oleh para ustadz yang aktif di sebuah Ormas Al-Wahdah Al-Islamiyyah (WI).[3]

Dari namanya, majalah ini nampaknya majalah yang membawakan suara Islam dan misi perdamaian. Namun disayangkan sekali pada edisi ke-2, tahun I/1426 H terdapat sebuah artikel yang menyayat hati dan berisi tuduhan-tuduhan yang tidak benar. Sekalipun maksud penulis ingin memperbaiki, namun malah sebaliknya.[4]

Ketika membaca tulisan itu baris demi baris, saya temukan berisi tuduhan dan kedustaan pada orang lain. Semoga saja tuduhan dan kedustaan itu bukan ditujukan pada Salafiyyin. Jika hal itu ditujukan pada Salafiyyin, maka saya –dengan meminta izin Allah Robbul alamin- merasa terpanggil untuk melayangkan nasihat kepada Al-Akh Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc sebagai pengisi rubrik yang berjudul “Fenomena Tashnif Di Tengah Para Pejuang Da’wah (1)”.

Sekali lagi, jika tulisan itu ditujukan kepada Salafiyyin, maka jawaban dan sanggahannya berikut ini:

Ihsan berkata: “Namun yang sungguh sangat menyedihkan, di tengah beban perjuangan yang sangat berat ini, ada kawan dan sahabat kita yang seolah mengoyak dan membuat luka dalam kebersamaan”.

Jawaban dan sanggahan ucapan Ihsan:

  • Jika yang Ihsan maksudkan disini sebagai kawan dan sahabat yang mengoyak dan membuat luka dan kebersamaan adalah salafiyyin, maka ini merupakan kezholiman dan kedustaan tanpa hujjah dan bukti. Mana bukti bahwa salafiyyin mengoyak dan membuat luka dalam kebersamaan? Jika yang Ihsan maksudkan dengan mengoyak disini adalah “mengambil” para mad’unya, maka hal inipun tak boleh diucapkan oleh seorang yang beradab, apalagi seorang alumni Al-Jami’ah Al-Islamiyyah yang merupakan pionir da’wah dan adab serta akhlak.Sekedar main tuduh mudah aja. Sebab boleh saja kita katakan bahwa kalian pun sebenarnya “mengambil” mad’u orang, baik dari Muhammadiyah, NU, Jama’ah Tabligh, HT, dll. Apabila yang ihsan maksudkan dengan mengoyak bahwa salafiyyin sering mengeritik (baca: menasihati)WI dan jama’ah da’wah lainnya yang menyimpang, maka inipun tak ada salahnya. Sebab meluruskan penyimpangan suatu jama’ah merupakan amar ma’ruf nahi munkar yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu alaih wasallam.
  • Kami yakin Ihsan tak mampu mendatangkan bukti bahwa salafiyyin mengoyak dan membuat luka dalam kebersamaan. Ini merupakan tuduhan dan persangkaan yang menyakitkan dan mengoyak hati salafiyyin. Oleh karena itu, kami ingatkan Ihsan dengan firman Allah Ta’ala:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”[5]

Ihsan selanjutnya berkata (hal.47): “ Ada kawan dan sahabat yang tidak lagi mempercayai bahwa kita sesungguhnya memiliki begitu banyak kesamaan dalam perjuangan”.

Jawaban dan sanggahan ucapan Ihsan:

  • Kesamaan kami salafiyyin dengan kalian memang ada, namun jangan lupa bahwa disana ada perkara yang penting yang membedakan kita?! Bukankah salafiyyin melarang khuruj (membelot) terhadap pemerintah[6], menafikan adanya muwazanah[7] ketika membantah seorang yang menyimpang dan menerangkan kekeliruannya agar kaum muslimin tidak mengikutinya dalam kekeliruan tsb, dan tidak membela para du’at yang memiliki fikrah yang menyimpang. Sementara Ihsan dan yang sehaluan dengannya malah melakukan hal itu.
  • Inilah perbedaan antara kami dengan kalian. Perbedaan ini bukan saja sebatas furu’, tapi sudah sampai aqidah ?! Bagaimana tidak, sebab yang namanya khuruj alal hukkam (membelot terhadap pemerintah) merupakan perkara bid’ah, dan bukan aqidah dan amaliyyah salaf . Itu hanyalah amaliyyah orang yang buta bashirahnya (mata hatinya) dari kalangan khawarij dan orang-orang kuffar.
  • Janganlah anda menyatakan bahwa demonstrasi yang tidak disertai kekacauan (muzhoharoh silmiyyah) merupakan perkara yang sah –sah saja dan boleh. DengarkanSyaikh Muhammad Ibn Sholeh Al-‘Utsaimin-rahimahullah- berkata: “Demonstrasi merupakan perkara baru yang tidak pernah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaih wasallam- , dan tidak pula di zaman Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin dan paara sahabat-radhiyallah anhum-. Kemudian di dalamnya juga terdapat kerusuhan, dan huru-hara yang menjadikannya terlarang, dimana juga terjadi di dalamnya pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu dan lainnya. Juga terjadi ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, antara anak muda dengan orang tua[8] , serta perkara-perkaara yang menyerupainya berupa kerusakan dan kemungkaran.Adapun masalah menekan dan mendesak pemerintah, maka jika pemerintahnya muslim, cukuplah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya –Shollallahu alaih wasallam- sebagai pengingat baginya. Ini merupakan sebaik-baik perkara (baca:nasihat) yang disodorkan kepada seorang muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka (orang-orang kafir) itu tidak mau mempedulikan para demonstran. Boleh jadi Pemerintah kafir itu akan bersikap ramah dan baik di depan para demonstran, sekalipun di batinnya tersembunyi kejelekan. Karenanya, kami memandang bahwa demo merupakan perkaara munkar. Adapun ucapan(baca: alas an) mereka: ‘Inikan demo yang damai (tak ada kerusuhan,pent.)!!’, maka boleh jadi demonya damai di awalnya atau awal kalinya, kemudian berubah jadi demo perusakan. Aku nasihatkan kepaada para pemuda agar mereka mengikuti jalan hidupnya para Salaf. Karena Allah telah memuji orang-orang Muhajirin dan Anshor, Allah telah memuji orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan ”.[9]

Alangkah benarnya apa yang dikatakan beliau bahwa demo-walaupun tanpa kerusuhan- merupakan perkara baru dan bid’ah. Bid’ahnya orang-orang Khawarij.

Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqolany – rahimahullah- berkata dalam menjelaskan hakekat orang-orang Al-Qo’diyyah (salah satu kelompok Khawarij): “Al-Qo’diyyah: adalah orang-orang Khawarij yang tidak memandang (harusnya) perangi (pemerintah). Bahkan mereka hanya mengingkari pemerintah yang zholim sesuai kemampuan, mereka mengajak kepada pendapat mereka, dan juga mereka menghias-hiasi-disamping hal tsb- untuk memberontak, serta mengira itu baik”.[10]

Dalam kitabnya yang lain, Al-Hafizh –rahimahullah-berkata:”Al-Qo’diyyah: adalah orang-orang yang menghias-hiasi pemberontakan atas pemerintah, sekalipun mereka tidak melakukan (pemberontakan itu) secara langsung”.[11]

  • Janganlaah anda tertipu dengan para du’at hizbiyyin yang membolehkan demo, sebab aqidah kita Ahlus Sunnah tidak mengindahkan demo sebagai sarana da’wah. Bukan dan jangan seperti Safar Al-Hawali yang pernah berkata: “Sesungguhnya demonya para wanita merupakan salah satu di antara uslub (metode) da’wah dan memberi pengaruh”.[12]

Jangan seperti A’idh Al-Qorni yang berkata ketika bangga menyaksikan para wanita Al-Jaza’ir berdemo: “Demi Allah, Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah keluar di Al-Jaza’ir dalam waktu sehari 700 ribu wanita muslimah yang berhijab menuntut penerapan syari’at Islam”.[13]

Dan Jangan seperti Salman yang berkata: “Desakan manusia tidak mungkin dilalaikan dalam segala kondisi di era sekarang ini. Kita sekarang di era orang-orang mayoritas memiliki pengaruh besar. Mereka mampu menjatuhkan para pemimpin besar, menggoncang singgasana, menghancurkan pagar-pagar dan pembatas. Senantiasa (masih teringat)gambar-gambar/foto orang-orang yang tidak bersenjata menghadapi tank-tank dengan dada mereka di Uni Soviet”.[14]

Syaikh Abdul Malik Al-Jaza’iry berkata dalam menanggapi ucapan ketiga da’i di atas: “Demi Allah, sungguh urusan mereka itu aneh ! Siapa yang bisa membayangkan kalau Jazirah Arab –setelah adanya da’wah Syaikh Muhammad Ibn Abdil Wahhab- akan mampu melahirkan orang-orang semisal mereka?! Setelah kehidupan yang penuh kesucian dijaga oleh kaum muslimin Jazirah Arab,maka datanglah Safar, Salman, dan A’idh Al-Qorni di hadapan kaum hawa agar mereka bisa mengeluarkannya dari kehormatannya karena Cuma ingin memperbanyak jumlah dengannya dan memperkuat diri dengan para wanita?! Safar Al-Hawali menerangkan pengaruh yang dalam ketika keluarnya para wanita berdemo, , Al-Qorni menguatkannya dengan sumpah!! , sedang Salman memompa mereka untuk bersabar menghadapi tank-tank. Alangkah anehnya agama mereka!

Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz–rahimahullah- berkata: “Aku tidak memandang bahwa demonya para wanita ataupun demonya para laki-laki termasuk solusi. Akan tetapi itu merupakan musibah, dan termasuk sebab kejelekan, termasuk sebab dizhaliminya sebagian orang, dengan cara yang tak benar. Akan tetapi cara-cara yang syar’i adalah menyurat, menasihati berda’wah kepada kebaikan dengan cara damai. Demikianlah yang ditempuh para ulama, demikianlah para sahabat Nabi –Shallallahu alaih wasallam- dan para pengikut mereka dalam kebaikan: dengan cara menyurat, berbicara langsung dengan orang yang berbuat salah, dengan pemerintah, dan penguasa dengan menghubunginya, menasihatinya, dan menyuratinya tanpa membeberkannya di atas mimbar dan lainnya!! Katanya: Pemerintah melakukan begini, akhirnya begini, Wallahul Musta’an“.

Beliau juga berkata: “Dikategorikan dalam masalah ini apa yang dilakukan oleh sebagian orang berupa demo yang menimbulkan keburukan yang besar bagi para da’i. Maka karnaval dan teriak-teriakan bukanlah merupakan jalan untuk memperbaiki dan da’wah [15] . Jalan yang benar (dalam menasihati pemerintah,pent.) adalah dengan cara berziarah dan menyurat dengan cara yang baik”.[16]

  • Memang benar ada kesamaan antara kami dengan anda dalam sebagian hal. Namun apa maksud anda dengan menyatakan hal seperti ini?? Apakah anda menginginkan kami diam dari penyimpangan kalian ataukah anda ingin menyamakan diri anda sama dengan diri kami dalam segala hal sehingga seakan-akan tak ada masalah diantara kita. Jika ini yang anda inginkan, maka sulit.
  • Tidakkah anda ingat bahwa antara dakwah Salaf dengan Asy’ariyyah atau Ikhwanul Muslimin, JT, dan HT ada kesamaan dalam sebagian sisi. Tapi kenapa para ulama’ kita tetap menerangkan penyimpangan mereka yang merupakan pembeda antara dakwah Salaf dengan dakwah ahli bid’ah. Cukuplah ini Anda pikirkan.

Ihsan:“Namun tiba-tiba engkau bertemu dengannya di sisi jalan, tapi tak ada salam. Tak ada senyum. Ada apa sebenarnya?”

Sanggahan dan Jawaban untuk ucapan Ihsan di atas:

  • Jika sekedar pengalaman, maka ana sendiri pernah mengalami ada seorang aktivis Wahdah saya beri salam beberapa kali dan ana tetap berdiri menunuggu jawaban salam dan uluran tangannya, namun ia tak membalasnya. Lantas apa yang anda katakan tentang sikapnya. Apakah ia salah??
  • Seorang muslim ketika melihat saudaranya tidak memberikan salam kepadanya, maka hendaknya ia berbaik sangka. Yah, mungkin ia lagi tidak enak badan, atau anda adalah orang yang kurang menyenangkan dalam bergaul. Jadi, hal ini dijadikan koreksi, jangan malah dijadikan bahan tuduhan dan berburuk sangka kepada yang lain.Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.[17]
  • Kalaupun ada seorang yang tak memberi salam demi memberikan pelajaran kepada seseorang yang memiliki penyimpangan atau kesalahan sebagai bahan koreksi bagi dirinya, maka inipun tak ada salahnya dan memang merupakan perkara yang syar’i.[18]

Ihsan:“Kita sering sekali dibingungkan. Rujukan kita sama. Aqidah kita sama. Kecintaan kita kepada As-Salaf Ash-Sholeh juga sama”.

Jawaban dan sanggahan ucapan Ihsan di atas:

  • Memang benar sebagian rujukan kita sama. Namun kami tidaklah memakai kitab-kitab A’idh Al-Qorny, Salman, Safar Al-Hawaly sebagai rujukan dan kitab kajian.Kami tak tahu apakah anda tahu hal ini ataukah pura-pura buta dengan kenyataan. Kami tak ingin menyatakan anda dusta sebab seorang ustadz jauh dari dusta.
  • Sebagian aqidah kita memang sama, namun kami tak merusak aqidah kami dengan mengadakan demo, menceritakan kejelekan pemerintah muslim, dan juga tidak membenci mereka.
  • Benar anda mencintai Salaf. Namun kecintaan kepada suatu kaum tidaklah cukup dengan sekedar pernyataan, bahkan harus dibarengi dengan realisasi.

Ihsan: “Baiklah, mungkin kita berbeda pandangan dalam beberapa masalah, tapi bukankah para sahabat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam – yang muliapun seringkali berbeda pandangan. Lalu mengapa lahir tuduhan-tuduhan yang membingungkan itu?”

Jawaban dan sanggahan buat ucapan Ihsan di atas:

  • Perbedaan yang terjadi di antara para sahabat hanyalah dalam masalah ijtihadiyah yang tidak mengharuskan adanya perpecahan [19].Mereka tidak berbeda dalam manhaj dan aqidah. Sebaliknya perbedaan yang terjadi antara jama’ah-jama’ah Islamiyyah, bukan lagi dalam masalah ijtihadiyah, bahkan dalam masalah manhaj dan aqidah. Coba tengok ke depan sedikit, anda akan melihat Ikhwanul Muslimin mengadakan kudeta, demonstrasi, berdakwah lewat parlemen, pendekatan sunni-syi’ah, bahkan muslim-kafir. Tengok lagi disana, Hizbut Tahrir menolak ratusan hadits-hadits ahad dalam masalah aqidah. Sementara disana Jama’ah Tabligh mengajak ummat kepada tasawwuf. Disana ada lagi Jama’atul Muslimin yang mengkafirkan kaum muslimin yang tidak larut bersama mereka. Dan ternyata Wahdah turut ambil andil dalam demo sebagai benih kebencian kepada pemerintah, dan mengumandangkan muwazanah dalam mengkritik para ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang.Demikian pula seminar yang mereka adakan bersama IM tentang politik dan pemilu di kampus UNHAS [20],lalu seminar bersama HT [21] .Adapun kedekatan beberapa tokoh Jamaah Tabligh dengan para ustadz WI adalah perkara yang tidak samar.
  • “Lalu mengapa lahir tuduhan-tuduhan yang membingungkan itu?”, kata Ihsan. Tuduhan apa yang membingungkan kalian? Bukankah kalian berdemo, mempertahankan manhaj muwazah yang mubtada’ah, duduk bersama ahli bid’ah. Ini bukan tuduhan. Bahkan waqi’unal yaum.

Ihsan:“Fenomena inilah yang disebut oleh Syekh Bakr ibn Abdillah Abu Zaid-hafizhahullah- dengan fenomena tashnif. Fenomena pemberian label dan cap kepada orang lain”.

  • Jika sekedar ngomong dan nuduh orang, gampang. Bukankah kalian sering menggunakan kata Ikhwanul Muslimin, Hizbut-Tahrir, Jama’ah Tabligh, dan lainnya dalam membagi dan menyebut kelompok-kelompok da’wah di Makassar?Jika anda menyatakan bahwa anda menyebut mereka demikian tadi, itu bukan mencap dan memberi label untuk mereka. Maka kami khawatir kalau anda tak ada bedanya dengan mereka dengan alas an mereka kan saudara-saudara kita sama-sama “berjuang” dan “berda’wah”.
  • Dari dulu sampai sekarang para ulama kita masih terus memberikan label kelompok-kelompok sesat, bahkan kelompok-kelompok sesat itu sendiri yang melabeli dirinya. Dan perlu kami jelaskan bahwa tashnif ditinjau secara bahasa bermakna :”membedakan sesuatu, sebagiannya dari sebagian yang lain”.[22]
  • Jadi, Sejak dulu para ulama kita telah membedakan ini Mu’tazilah, ini shufiyyah, ini Murji’ah, ini Khawarij, dan ini Syi’ah sehingga istilah-istilah ini terkenal sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Hazm –misalnya- dalam Al-Fishol fil Milal wal-Ahwaa’ wa An-Nihal, Abdul Qohir Ibn Muhammad Al-Baghdady dalam Al-Farq bainal Firoq, Asy-Syahrostany dalam Al-Milal Wa An-Nihal. Demikian pula ulama’-ulama’ mutakhirin pun menggunakan istilah-istilah untuk jama’ah dakwah agar bisa dibedakan dari dakwah Ahlus Sunnah. Misalnya, Syaikh Ibn Baz, Syaikh Al-Albany dalam berbagai kitab dan kasetnya, Syaikh At-Tuwaijiry dalam At-Tahdzir Al-Baligh min Jama’ah At-Tabligh, Syaikh Al-Fauzan dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah, Syaikh Ahmad An-Najmy-hafizhohumullah wa rahim– dan lainnya. Nah, Apakah menggunakan istilah-istilah seperti Ikhwanul Muslimin,Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir kita mau larang sementara para ulama kita memakainya dalam rangka membedakan mereka dari dakwah salaf?? Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily –hafizhohullah- berkata setelah menerangkan asal kata Salafiyyun: “Dengan ini, nyatalah bahwa penggunaa nama ini (yaitu, nama Salafiyyun,pent)bagi Ahlus Sunnah adalah sesuatu yang syar’I dan kembali -pada asal maknanya- kepada nama-nama mereka (Ahlussunnah) yang Syar’i. Seperti: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Ath-Tho’ifah Al-Manshuroh, Al-Firqoh An-Najiyah untuk membedakan antara mereka (Ahlus Sunnah-Salafiyyun, pen) dengan orang-orang yang menisbahkan diri kepada Islam dari kalangan orang-orang yang menyimpang dari aqidah yang benar yang Rasul –Shollallahu alaihi wasallam- meninggalkan ummatnya da atasnya.[23]. Sekali lagi, Apakah membedakan kelompok-kelompok yang ada dengan memberi label kepada mereka dengan menggunakan kata Ikhwani, Tablighi, Tahriri, WI, NII bagi kelompok-kelompok yang menyimpang dari rel Salaf merupakan perkara yang salah?? Jawabnya, tentu tidak berdasarkan amaliyyah ulama’. Bahkan Nabi–Shollallahu alaihi wasallam- juga membedakan ini muslim, itu kafir dan beliau juga pernah bersabda dalam memberi label kepada orang-orang yang mengingkari takdir:“Al-Qodariyyah: majusinya ummat ini…”.[24]
  • Jika kita tidak memberi label kepada kelompok da’wah sufiyyah modern (baca: Jama’ah Tabligh), kepada kelompok da’wah Neo Mu’tazilah(baca: HT) dan lainnya, maka kapankah umat tahu kawan dan lawan mereka. Apakah setelah mereka terjerat dalam kesesatan kelompok-kelompok itu, baru kita berteriak-teriak bak “kebakaran jenggot”.
  • Dulu ketika kami masih di Wahdah, kami sering kali mendengar kata “MANIS”, Jama’ah Tabligh, IM, HT, dan lainnya dari mulut para pengikut WI dan para ustadznya. Bahkan label “MANIS” mereka sudutkan. Bukankah ini juga tashnif?? Mengapa justru fenomena tashnif ini malah diarahkan dan dituduhkan kepada orang lain tanpa hujjah. Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Kalian nyuruh orang agar tidak melakukan tashnif, tapi kalian sendiri mentashnif manusia. Wallahi, hadza lasyai’un ujaab!!

  • Jika seorang mentashnif jama’ah-jama’ah yang menyimpang, apakah ini keliru, dan dimana letak kekeliruannya. Maka kami akan katakan kepada anda sebagai mana yang dikatakan Syaikh Bakr Abu Zaid-hafizhahullah-:”Jika engkau beradu argumen dengan salah seorang dari mereka, maka engkau tidak akan menemukan apapun darinya kecuali sepotong semangat yang menggerakkannya tanpa landasan ilmu yang jelas. Maka ia pun masuk ke dalam akal orang-orang bodoh dengan semboyan “ghirah terhadap dien”, “menolong sunnah”, dan “persatuan ummat”.[25] Padahal merekalah yang pertama kali yang mengayunkan palu godam untuk menghancurkan dan mengoyak-ngoyak keutuhannya… ” [26]

Footnote

[1] Ustadz ini merupakan pengamat dan pendukung da’wah Salaf sebagaimana ia namakan dirinya dalam makalahnyaRenungan untuk Tidak Berfikir Picik yang dimuat dalam Jurnal Islamy, Al-Bashirah. Namun tidak setiap pengamat dan pendukung merupakan “pemain” Selanjutnya kami sebut Ihsan.

[2] Mudah-mudahan penamaan majalah ini dengan “Al-Islamy”bukanlah timbal balik adanya ketidaksetujuan penulis menisbahkan diri kepada As-Salaf. Artinya, moga dia berbuat demikian bukan karena enggan menamai dirinya atau majalahnya dengan nama salafy

[3] Majalah ini dibawa oleh seorang ikhwah yang baru keluar dari WI.

[4] Kita berharap hal ini dilakukan bukan karena pembelaan diri atau “jama’ah” atau sekedar melampiaskan kebencian pada Salafiyyin tanpa hujjah.

[5]QS.Al-Ahzab:58

[6] Baik dengan cara melakukan demonstrasi, membongkar aib pemerintah lewat Koran, majalah, TV, radio, pertemuan, maupun melakukan pemberontakan dan kudeta.

[7] Perlu kami jelaskan dengan ringkas bahwasanya muwazanah yang diingkari oleh para ulama’ adalah muwazanah ketika menjelaskan kekeliruan dan penyimpangan seseorang. Adapun dalam menjelaskan biografi seseorang, maka tak mengapa disebutkan kebaikan dan kejelekannya (baca: kekeliruan dan penyimpangannya). Namun itupun bukanlah merupakan keharusan.

[8]Seakan syaikh menyatakan bahwa itu merusak muru’ah (citra diri) sebab orang tua ketika demo berlaga seperti anak muda,berteriak dan emosi. Demikian pada wanita yang demo, citra dirinya rusak. Dia berjalan bersama laki-laki, berlaga seperti laki-laki. Mestinya tinggal di rumah. Malah keluar, na’udzu billah !!

[9]Lihat Buletin Silsilah Ad-Difa’ anis Sunnah (7): “Aqwaal ‘Ulama’ As-Sunnah fil Muzhaharat wa maa Yatarattab Alaih min Mafasid ‘Azhimah”, hal.2-3, cet. Maktabah Al-Furqon, UEA.

[10]Lihat At-Tahdzib (8/114) sebagaimana dalam Lamm Ad-Durr Al-Mantsur, hal.60 karya Jamal Ibn Furoihan Al-Haritsy, cet. Dar Al-Minhaj, Mesir.

[11]Lihat Hadyus Sari (459) yang dinukil dari Lamm Ad-Durr Al-Mantsur, hal.60, cet. Dar Al-Minhaj.

[12]Simak kasetnya: Syarh Ath-Thohawiyyah (185)

[13]Lihat Fikrah Al-Irhab wal ‘Unf fil Mamlakah, hal.217 oleh Syaikh Abdus Salam As-Suhaimy& Madaarik An-Nazhar, hal.416, cet. Dar Sabil Al-Mu’minin.

[14]Simak Kasetnya: Humum Fatat Multazimah. Ucapannya ini kami nukil dari Fikrah Al-Irhab, hal.214

[15]Beda dengan yang dinyatakan oleh Safar Al-Hawali, katanya demo adalah uslub da’wah. Maka perhatikan. Dan jangan dikatakan: “Diakan ulama’ boleh saja ia berbuat dan berkata semaunya sebab itukan ijtihad dia. Kalau benar dapat dua pahala, kalau salah, dapat satu”. Ini merupakan tipuan Iblis, sebab demo merupakan salah satu bentuk khuruj alal hukkam.Sedang permasalahan khuruj termasuk masalah aqidah yang salaf sudah sepakat haramnya. Lagian Safar bukan ulama.

[16] Lihat Buletin Silsilah Ad-Difa’ (7),hal.1-2

[17]Kalimat-kalimat yang tebal dan bergaris bawah di atas adalah merupakan ucapan Ihsan dalam tulisannya tsb dalam Majalah Al-Islamy, edisi 2/1/1426 H, hal.50. Dan ucapannya ini akan kami ulang-ulangi agar para pembaca tahu dan paham firman Allah yang terjemahannya begini:

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja . Padahal di sisi Allah adalah (perkara yang sangat) besar.” QS.An-Nur:15

[18]Lihat dalil-dalil masalah ini dalam kitab-kitab aqidah yang mutaqoddimin. Adapun kitab-kitab ulama-ulama sekarang seperti kitab Hajr Al-Mubtadi’ karya Syaikh Bakr Abu Zaid, Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily, Idho’ah Asy-Syumu’ karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, Ta’zhim As-Sunnah dll.

[19] Jika mau dikatakan itu dalam hal aqidah, maka itupun tidak menghalangi adanya pengingkaran. Mereka berselisih, berarti belum ada ijma’. Namun perkara yang diingkari para ulama atas jama’ah dakwah hizbiyyah adalah merupakan perkara-perkara yang sudah mereka sepakati keharamannya, semisal khuruj ala al-hukkam.

[20]Yang diisi oleh Pimpinan WI, Al-Ustadz H.Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc

[21]Seminar seperti ini pernah diadakan dua kali menurut yang kami ketahui.Sekali dengan pembicara Al-Ustadz H.Muhammad Zaitun Rasmin,Lc (saat itu juga pimpinan WI), yang kedua dengan pembicara Al-Ustadz H.Ilham Jaya,Lc.

[22]Lihat Mu’jam Maqooyiis Al-Lughoh, hal.554 karya Abul Husain Ibn Faris cet. Dar Ihya’ At-Turoots Al-Aroby, dan Lisan Al-Arab (7/423) cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Araby dan Mu’assasah At-Tarikh Al-Araby.

[23]Lihat Mauqif Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah (1/64)

[24]HR.Abu Dawud dan Al-Hakim. Lihat Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir (4442) karya Syaikh Al-Albany –rahimahullah

[25] Sampai masjidnya pun disebut dengan “ Wihdatul Ummah” (Persatuan Ummat). Sekalipun demikian, merekalah yang pertama kali mengayunkan palu godam atas ummat ini. Sebagai bukti, mereka mengajak ummat untuk berdemo sebagai bukti pembangkangan kepada pemerintah muslim, mereka melarang anak-anak untuk kajian ke tempat lain sekalipun ngaji pada salafiyyin. Bukankah ini merupakan pemecahbelahan ummat? Jelas ini pemecahbelahan ummat, bahkan juga tashnif. Yang satunya bilang: “kami Wahdah Islamiyyah”, yang lain bilang: “Kami Hizbut Tahrir”, yang lain lagi bilang: “Kami Tabligh”, dan satu lagi bilang: “Ikhwanul Muslim (Baca: PKS)”. Satu sama lainnya saling melarang anak kajiannya untuk bergabung dengan yang lainnya karena takut -alasannya- anak kajiannya “direbut” (baca: dirampas) orang

[26]Lihat Majalah Al-Islamy 2/I/1426 H, hal.54

Artikel di Kategori ini :

  1. Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi
  2. Fatwa Kesesatan Jama’ah / Yayasan / Ormas Wahdah Islamiyah (Bag. 3)
  3. Resensi Buku Memang Harus Beda antara SALAFIYYAH dengan HIZBIYYAH (Sebuah Bantahan Buku Beda Salaf dengan “Salafi”)
  4. RUJUK KEPADA KEBENARAN ADALAH CIRI AHLUS-SUNNAH
  5. Fulan Mati Syahid
  6. Fatwa Ulama’ Sunnah tentang Demonstrasi & Mogok Makan
  7. Bahaya Kebebasan Berpikir
  8. Demikiankah Jihad ?
  9. Fatwa Syaikh Fauzan Tentang Pemilu
  10. Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah