Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag III)

Dilihat 1,504 kali | Kirim Ke Teman

“Renungan Agar Tidak Berpikir Picik”
Jawaban untuk Al-Akh Ihsan Zainuddin
(Bag III)
(Seorang Ustadz di Ormas Wahdah Islamiyah)

Ihsan: “Tentang “tukang jarh” itu, Syeikhul Islam mengatakan: “Diantara manusia, ada yang mengghibah orang lain demi (menyenangkan) orang yang hadir di majelisnya, teman-temannya, dan kerabat-kerabatnya. Padahal ia mengetahui bahwa orang yang ia gunjingkan sama sekali bersih dari apa yang mereka katakan. Atau mungkin saja orang itu memang memiliki beberapa hal yang digunjingkan itu, tapi ia takut jika ia mengingkari (apa yang dilakukan teman-temannya itu), maka majelis itu ditutup, mereka merasa marah dan meninggalkannya. Maka ia memandang bahwa menyetujui apa yang mereka kerjakan adalah salah satu wujud mempergauli teman dengan baik. (Orang-orang di majlis) mungkin marah (pada orang yang digunjing), maka iapun ikut marah karenanya…Diantara mereka adapula yang melakukan ghibah dengan berbagai cara. Kadang ada yang melakukannya dengan berlindung dibalik keshalehan dan keta’atannya beribadah. Ia mengatakan: ‘Bukan kebiasaan saya untuk menceritakan seseorang kecuali dengan kebaikan dan saya sebenarnya tidak menyukai ghibah apalagi dusta.Tapi saya hanya menyampaikan apa yang sebenarnya tentang dia…’ Atau mengatakan: ‘Demi Allah, sungguh ia orang yang patut dikasihani…’ Atau : ‘Ia sebenarnya orang baik, tapi sayangnya ia begini dan begitu’… ”. Dan pada lain kali ia akan mengatakan:’Jangan lagi singgung tentang dia! Semoga Allah mengampuni kita dan dia…’, padahal maksudnya hanyalah meremehkan dan merendahkan orang itu. Mereka melakukan ghibah dengan berlindung di balik alasan agama dan keshalehan. Mereka telah menipu Allah sebagaimana mereka telah menipu makhluq-Nya. Dan kami telah melihat banyak orang seperti ini dan yang semacamnya.”

Ibnul Qoyyim: “…Betapa banyaknya engkau melihat orang yang bersikap wara’ dari perbuatan keji dan kezhaliman, namun lidahnya melemparkan kedustaan kepada kehormatan orang yang masih hidup maupun telah meninggal. Dan ia tidak peduli dengan apa yang ia ucapkan…”.

Jawaban dan sanggahannya:

  • Ucapan Syaikhul Islam dan Ibnul Qoyyim di atas, ini cocok kita kembalikan kepada orang-orang yang berpenampilan shaleh dan wara’ namun mereka masih saja senang mengghibah pemerintahnya yang muslim dan para du’at salafiyyin. Silakan anda pikirkan sendiri.
  • Amatlah mengherankan ada suatu kaum yang melarang ghibah, namun dirinya sendiri senang mengghibah pemerintah dalam demo-demo, majelis, dan obrolan mereka. Tiba giliran orang mengingatkan bahayanya para ahlul ahwa’, eh malah mencak-mencak melarang orang berghibah. Padahal kalau ditinjau itu bukan ghibah, tapi nasehat bagi orang yang tak tahu tentang kesesatan suatu kaum dari kalangan ahlul ahwa’.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Allah Ta’ala berfirman:

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja . Padahal di sisi Allah adalah (perkara yang sangat) besar.” QS.An-Nur:15

  • Sekali lagi mudah-mudahan ini bukan tuduhan bagi salafiyyin. Ingat Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti.

Ihsan: “Itulah sebabnya, nasehat para salaf untuk tidak mendengarkan celaan dan tuduhan alim yang satu terhadap alim yang lainnya demikian banyaknya”.

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Seakan Ihsan disini mengisyaratkan kepada suatu kaedah dalam ilmu hadits yang berbunyi: “Jarhul aqron laa yu’tabar”
  • Saya katakan: Ini merupakan syubhat yang diambil dari kaedah yang telah dibuat oleh para ahlul hadits, yang kemudian hari dijadikan hujjah oleh sebagian orang yang ada penyakit di hatinya tentang tidak bolehnya seseorang membicarakan penyimpangan para du’at hizbiyyin dan ahlul ahwa’. Kaedah ini bukanlah hujjah bagi mereka dalam hal tsb. Kaedah ini tidaklah diamalkan begitu saja, bahkan disana harus terpenuhi syarat-syaratnya sebagaimana hal ini nyata melalui ucapan para ahlul ilmi berikut :
  • Syaikh Muhammad Dhiya’ Ar-Rahman Al-A’zhomy –hafizhahullah- berkata dalam mengomentari kaedah tsb: “Sebaliknya disana ada poin yang lain, yaitu bahwa jarh apabila munculnya dari seorang yang memahami sebab-sebab jarh, dan ia termasuk orang yang dipercaya agama dan ketaqwaannya. Maka komentarnya -tentang orang yang semasa dengannya, dia melihatnya, bergaul dengannya, dan menemaninya-lebih jelas dibandingkan orang lainnya. Jadi, menghukumi seseorang dengan berdasarkan pengalaman, uji-coba, dan penyaksian adalah lebih utama diterima dibandingkan komentar orang yang tidak semasa dengannya dan tidak menyaksikannya. Karenanya, orang yang melazimi seorang syaikh itu akan lebih tahu tentang syaikhnya dibandingkan orang lain. Ini banyak dalam kitab-kitab jarh dan ta’dil. Jadi, pendapat yang menyatakan bahwa jarhnya seorang terhadap qorin/temannya tidaklah berpengaruh bukan (diamalkan) begitu saja secara muthlaq” [1]
  • Ini menunjukkan bahwa kaedah ini bukan digunakan begitu saja secara serampangan.Apabila disana jarh yang jelas (mufassar) yang di dalamnya orang yang menjarh menyebutkan sebab ia menjarh, maka wajib menerima jarh tsb. Al-Hafizh berkata: “Komentar seorang tentang sebagian qorinnya tidak diperhitungkan apabila tidak jelas (ghairu mufassar)” [2] Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa yang tidak mu’tabar adalah jarh qorin yang tidak jelas.
  • Namun siapakah ulama yang kalian maksudkan disini? Apakah jika Syaikh Ibn Baz –misalnya-menjelaskan penyimpangan Salman dan Safar, bahkan memenjara keduanya. Lalu apakah kita pantas berkata dalam kasus Syaikh Ibn Baz ini demikian: “Itulah sebabnya, nasehat para salaf untuk tidak mendengarkan celaan dan tuduhan alim yang satu terhadap alim yang lainnya demikian banyaknya”.

Ini kalau kita anggap Salman dan Safar Al-Hawaly sebagai ulama. Tapi apa mereka ulama, tentu bukan.

Ihsan:”Abu Hazim-rahimahullah-berkata: “Hingga tiba zaman ini, dimana seorang mencela orang yang di atasnya dalam hal ilmu agar orang tidak lagi berguru padanya dan memandang bahwa mereka tidak lagi membutuhkannya. Ia tidak pula mau bermudzakarah dengan yang sama dengannya dalam hal ilmu. Lalu meremehkan orang yang ilmunya lebih rendah darinya. Akibatnya binasalah manusia”.

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan:

  • Alhamdulillah, kami salafiyyin adalah orang-orang yang paling menghormati orang-orang yang ada di atas kami dari kalangan ulama. Sebab kami tahu benar ucapan dan nasihat para salaf agar menghormati para ulama:

Melecehkan Ahli hadits dan ulama merupakan di antara tanda dan ciri khas ahli bid’ah yang menyimpang. Imam Abu Utsman Isma’il bin AbdurrahmanAsh-Shobuni -Rahimahullah– berkata: "Tanda-tanda bid’ah pada pelakunya sangat jelas. Tanda mereka yang paling jelas: adalah sengitnya permusuhan mereka terhadap pembawa hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam [3], merendahkan mereka…" [4]

Muhammad bin Isma’il At-Tirmidzy Rahimahullah berkata: "Dulu saya pernah bersama Ahmad bin Al-Hasan di sisi Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal. Lalu Ahmad bin Al-Hasan berkata kepada beliau:[Wahai Abu Abdillah, Orang-orang di Mekkah menyebutkan aibnya para ahli hadits kepada Ibnu Abi Qutailah. Lalu Ibnu Abi Qutailah pun berkata:"Ahli hadits itu adalah kaum yang jelek"]. Maka Imam Ahmad pun bangkit berdiri dan mengirapkan pakaiannya seraya berkata:[Zindiq…zindiq…zindiq !!!]sampai beliau masuk rumah".

Ahmad bin Sinan Al-Qoththon –Rahimahullah – berkata: "Tak ada seorang ahli bid’ahpun di dunia ini, kecuali ia akan membenci Ahli Hadits. Jika seseorang melakukan suatu bid’ah, niscaya akan dicabut manisnya hadits dari hatinya".

Abu Nashr Ibnu Sallam Al-Faqih-rahimahullah- berkata: "Tak ada sesuatu yang paling berat dan dibenci oleh orang-orang mulhid daripada mendengarkan hadits dan meriwayatkannyanya bersama sanad".

Abu Hatim Muhammad bin Idris Ar-Rozi–rahimahullah-, seorang Imam Ahlis Sunnah di zamannya pernah berkata: "Ciri khas ahli bid’ah adalah (suka ) mencela ahli hadits".[5]

Inilah adab yang senantiasa dijaga oleh Ahlis Sunnah, yaitu senantiasa menjaga dan menghormati mereka para ulama, serta tidak merendahkan mereka.

Di dalam Islam kita diajarkan agar senantiasa menjaga adab sopan-santun terhadap sesama muslim. As-Sulamy –rahimahullah-berkata:"Persahabatan itu bermacam-macam. Semuanya mempunyai adab, kewajiban, dan konsekuensi.Maka persahabatan dengan ulama dengan cara:menjaga kehormatan mereka, menerima ucapannya, rujuk kepada mereka dalam segala urusan, mengenal martabat mereka yang Allah telah berikan kepadanya sebagai pengganti dan pewaris Nabi-Nya Shallallaahu ‘alaihi wasallam , berdasarkan sabdanya:["Ulama adalah pewaris para Nabi" ][6]" .[7]

Tidak merendahkan dan mencela seorang muslim merupakan adab yang harus dijaga oleh seorang yang multazim dan komitmen dengan dinul Islam. Ini hubungannya dengan muslim secara umum, bagaimana lagi jika ia seorang ulama dan ahli hadits, maka tentunya kita harus lebih menjaga lisan dan hati kita dari sikap yang menunjukkan perendahan dan penghinaan kepada ahli hadits. Mereka itu adalah pewaris dan penukil hadits –hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam . Mereka telah banyak mengorbankan waktu, tenaga dan harta demi mengumpulkan hadits-hadits agar ajaran agama Islam ini tetap abadi.Mereka berjalan mencari hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam di bawah terik matahari dan tidak mengenal siang-malam, terkena hujan demi menjaga syari’at ini sehingga kita bisa menikmati dan mempelajarinya pada hari ini seakan kita belajar di depan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mendengarkannya secara langsung, tanpa bersusah payah.

Apakah dengan segala pengorbanan tersebut dalam mencari hadits, lalu kita generasi berikutnya berani dan lancang mencela dan merendahkan mereka seraya berkata:"Saya tak butuh ahli hadits dan ulama. Mereka itu mengambil hadits dari makhluk dan orang-orang mati, serta kitab-kitab kuno, sedangkan saya mengambil hadits langsung dari Allah. Ilmu kami lebih luas dibandingkan para ulama itu. Karena para ulama tak mengenal waqi’"? Sungguh ini merupakan kesombongan dan kurangnya kesyukuran !!

Mungkin ada baiknya kami nukilkan sebagian ucapan para hizbiyyin yang merendahkan ahlul ilmi.

Safar Al-Hawaly berkata dalam kasetnya “Fafirru ilallah” :”Ulama kita, ya ikhwan, cukuplah bagi mereka, cukuplah bagi mereka. Kita tidak membenarkan segala seseuatu bagi mereka…kita tidak mengatakan: mereka itu ma’shum. Kita katakan: ”Mereka memiliki kekurangan dalam mengenal waqi’ (kenyataan). Mereka memiliki beberapa perkara kitalah yang akan menyempurnakannya”.[8]

  • Tentang Mudzakarah : alhamdulillah, kami biasa bermudzakarah dengan orang yang selevel dengan kami, lebih dari itu bahkan kami biasa bermudzakarah dengan ikhwah-ikhwah yang lebih rendah ilmunya dibandingkan kami. Apalagi kalau ilmu sama atau lebih banyak. Sifat yang disebutkan oleh Abu Hazim ini adalah sifat sombong yang tidak boleh dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, apalagi seorang ustadz seperti anda.
  • Memang benar kami mengingatkan bahaya penyimpangan Salman, A’idh, dan Safar Al-Hawaly sekalipun mereka lebih tinggi ilmunya dibandingkan kami-menurut anda- karena ulama kita yang kibar pun mengingatkan penyimpangan mereka. Ya, kita ini sekedar penyampai misi para ulama. Maka tak ada salahnya jika kami menyampaikan tahdzir mereka kepada 3 du’at tsb.[9]
  • Jadi, ucapan Abu Hazim anda jangan ditempatkan bukan pada tempatnya. Sepantasnya ditujukan kepada para hizbiyyin yang melarang murid-muridnya untuk belajar kepada masyayikh salafiyyin.[10]

Ihsan: “Yah, bagaimana manusia tidak akan binasa, jika tidak ada lagi seorang ulama atau da’i yang dapat mereka percaya. Si fulan begini dan si fulan begini. Siapa lagi yang tersisa.”

Jawaban terhadap ucapan Ihsan:

  • Siapa sih ulama yang tidak lagi kami-salafiyyin- percayai. Alangkah banyaknya ulama yang kami percayai. Kalau mau dihitung, umur tak cukup untuk menyebutkannya. Kami percaya kepada para Ulama’ yang terpercaya di Saudi dan lainnya, semisal Syaikh Ibn Baz, Al-‘Utsaimin, Albany, Al-Fauzan, Ali bin Hasan Al-Halaby Al-Atsary, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Rabi’ bin Hadi, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Sholeh As-Suhaimy, Abdur-Razzaq Al-Abbad, dll masih banyak.
  • Siapa sih da’i yang tidak kami percaya??Alangkah banyaknya kalau mau dihitung, semisal Ibnu Yunus, Dzulqornain, Khidhir, Mustamin, Askari, dll masih banyak perlu dibuatkan kolom.
  • Mana kebenaran ucapan anda?? Kami khawatir jika ini hanya sekedar tuduhan keji kepada salafiyyin. Ingat Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti. Karena ini, jelas menyakitkan hati salafiyyin. Maka bertaqwalah kepada Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat , maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata ”
[11]

  • Tidak mempercayai seseorang, itu merupakan pekerjaan hati tidak diketahui siapapun kecuali Allah. Entah darimana anda mengetahui isi hati orang bahwa salafiyyin tidak lagi percaya sama ulama. Entah dari mana anda memperoleh ilmu “penyingkapan niat” seseorang.

Ihsan:“Orang-orang yang melakukan tashnif ini mungkin telah buta atau pura-pura buta untuk melihat betapa setiap hari, bahkan setiap detik ummat ini dalam kondisi yang mengkhawatirkan”.

Jawaban ucapan Ihsan:

  • Apa maksud anda mengucapkan seperti ini. Apakah kalian mengharapkan kami diam terhadap penyimpangan para hizbiyyin dan membiarkan mereka menyebarkan fikrah sesatnya??Kapan ummat akan tahu bahwa jama’ah fulan keliru dalam aqidahnya, jika tidak dijelaskan.
  • Salafiyyun paham dan prihatin benar dengan kondisi ummat, lebih dari perhatian anda. Tapi apakah kita mau mengatasi problema ummat dengan dakwah salafiyyah ataukah kita mau mengambil jalan pintas orang-orang harakiyyin dalam berdakwah dengan cara kudeta, demo, masuk parlemen dengan dalih “prihatin terhadap ummat”, “Ghirah terhadap dien”, “menyatukan ummat”. Sehingga orang yang tidak melakukan cara-cara itu dikatakan dia tidak ada perhatiannya dengan umat??!

Ihsan: “Apakah mereka merasa dapat menjalankan amanah ilmu dan da’wah ini tanpa bantuan yang lain”.

Jawaban dan sanggahannya:

  • Semua orang tahu bahwa manusia hidup di dunia ini saling membutuhkan antara satu dengan lainnya. Orang-orang kafir paham hal ini, apalagi kita sebagai seorang muslim yang berakhlak dan memiliki aturan.
  • Apa maksud anda dengan “bantuan yang lain”? Jika dia Ahlus Sunnah, maka itu merupakan kewajiban syar’i. Adapun jika selain Ahlus Sunnah, maka ingatlah ucapan seorang yang berkata:

Kapankah bangunan akan sempurna pada waktunya, jika engkau membangun sedang yang lain merusaknya”.

Kapankah akan usai problema ummat, jika kelompok fulan melakukan penyimpangan, sementara kita mendiamkannya merusak dengan alasan kita sibuk adakan pembangunan ummat. Bangunan itu tak usai jika yang rusakpun tidak dipugar. Moga paham.

Ihsan: “Syekh Bakr mengatakan:”Jika engkau beradu argument dengan salah seorang dari mereka, maka engaku tidak akan menemukan apapun darinya kecuali sepotong semangat yang menggerakkannya tanpa landasan ilmu yang jelas. Maka iapun masuk ke dalam akal orang-orang yang bodoh dengan semboyan “ghirah terhadap dien”,”menolong sunnah”, dan “persatuan ummat”. Padahal merekalah yang pertama kali mengayunkan palu godam untuk menghancurkan dan mengoyak-ngoyak keutuhannya…”

  • Bagaimana kira-kira pandangan Ihsan kalau ucapan Syaikh ini kami balikkan kepada anda??
  • Jika kita beradu argument dengan WI: apa alasan anda melakukan demo,membela muwazanah, membela Salman, A’idh, dan Safar??, maka kita tidak akan menemukan dari mereka kecuali hanya sepotong semangat yang menggerakkannya tanpa landasan ilmu yang jelas. Maka iapun masuk ke dalam akal orang-orang yang bodoh dengan semboyan “ghirah terhadap dien”,”menolong sunnah”, dan “persatuan ummat”.[12] Padahal merekalah yang pertama kali mengayunkan palu godam untuk menghancurkan dan mengoyak-ngoyak keutuhannya. Satunya membela Salman, yang lain tidak. Satunya membela muwazanah, yang lainnya tidak.Satunya berdemo dan mengoreksi pemerintah terang-terangan, yang lain tidak mau dan enggan. Inikan memecah-belah ummat dan mengoyak-ngoyak persatuan mereka.
  • Dalam tulisan antum ini banyak sekali tuduhan palsu dan buruk sangka. Dan ini kelak akan antum pertanggungjawabkan di Hadapan Allah Robbul alamin. Semua itu yang menyakitkan hati para salafiyyin..

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat , maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata ”
[13]

Ihsan: “Namun beliau juga memberikan kabar gembira bahwa pengikut fenomena ini tidak akan lama bertahan. Kekejiannya akan padam.Pembawa pemikiran ini hanya hidup dalam angan-angan. Kelak tidak ada yang akan mendukung mereka. “Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim itu penolong-penolong” (Al-Baqoroh: 270). Mereka hanyalah orang-orang yang berjalan tanpa tujuan.Semoga. Insya Allah”.

Jawaban dan sanggahan untuk ucapan Ihsan:

  • Banyaknya pengikut bukanlah merupakan tanda seseorang itu berada di atas Al-haq. Jika kita sudah berdakwah sesuai dengan tuntunan para anbiya’-alaihimush sholatu wassalam-, maka Allah tak akan mencela kita karena kurangnya pengikut sebab dulu juga para nabi ketika berdakwah banyak mengalami tantangan dari masyarakatnya sekalipun mereka sudah berusaha berdakwah secara hikmah. Namun pada akhirnya pengikutnya tetap saja sedikit.Kata Nabi –shollallahu alaih wasallam-: “Ummat-ummat telah diperlihatkan kepadaku. Saya melihat ada seorang nabi bersamanya sekelompok kecil pengikut, seorang nabi lagi bersama satu-dua orang, dan seorang nabi lagi tak ada seorangpun bersamanya”.[14]
  • Syaikh Salim Ibn Ied Al-Hilaly Al-Atsary –hafizhahullah- berkata dalam mengomentari hadits di atas: “ Kebenaran itu tidaklah dikenal karena banyaknya pengikut dan bilangan tangan yang teracung sebab seorang nabi nanti akan datang pada hari kiamat bersama dua orang, seorang nabi lagi datang bersama seorang saja, dan seorang nabi lagi hanya datang sendirian. Dari sini, nyatalah bahwa kebenaran seorang da’i tidaklah dikenal karena banyak pengikut dan pendukungnya ”.[15]
  • Jika ucapan ini ditujukan kepada salafiyyin,maka bagaimana mungkin salafiyyin hanya gara-gara mereka mentashnif, lalu lenyap dari muka bumi. Demi Allah, dakwah salaf dan salafiyyin akan ada terus sampai akhir zaman.
  • Anda katakan: “Kekejiannya akan padam.Pembawa pemikiran ini hanya hidup dalam angan-angan”.Saya tak tahu kekejian apa yang dilakukan salafiyyin. Saya khawatir jika ini hanyalah tuduhan tanpa bukti. Ingat Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti.
  • Salafiyyin bukanlah jama’ah yang hidup dalam angan-angan. Salafiyyin punya cita-cita yang mulia dalam menyebarkan dakwah tauhid. Malah sebenarnya para hizbiyyin yang ingin membangun negara Islam dalam angan-angan.Kenapa? Karena mereka ingin membangun negara Islam yang belum tiba saatnya,akhirnya mereka memaksakan diri untuk hal tsb lewat cara-cara yang haram, seperti: lewat kudeta, masuk parlemen. Ini adalah cara yang salah dan tergesa-gesa. Maka mereka terus dalam angan-angan yang hampa . [16]
  • Apakah salafiyyin yang melakukan tashnif adalah orang-orang yang zhalim??Jawabnya: Tidak, bahkan terzhalimi sebab dituduh men tashnif , padahal orang yang menuduh juga mentashnif. Inikan kezhaliman. Ya, lempar batu sembunyi tangan . Ingat Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti.
  • Apa sih ukurannya sehingga orang dikatakan berjalan tanpa tujuan. Saya kira orang yang demikian adalah orang gila saja. Adapun salafiyyun, mereka berjalan menurut tuntunan Al-Kitab dan As-Sunnah ala nahjis Salaf. Dakwah salafiyyah memiliki tujuan yang tinggi: meninggikan La ilaha illallah.
  • Tulisan Ihsan ini ditutup dengan doa yang kurang bagus sebab mendoakan orang agar tetap berjalan tanpa tujuan. Padahal mestinya seorang da’i harus bersabar, jangan langsung doakan kejelekan bagi orang, bahkan didoakan kebaikan sebagaimana dulu Nabi –shollallahu alaih wasallam mendoakan suatu kaum:”Ya Allah, tunjukilah suku Daus”.[17]

Footnote :

[1] Lihat Dirasat fi Al-Jarh wa At-Ta’dil, hal.106

[2] Lihat referensi di atas.

[3] Pembawa hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam :maksudnya adalah para ahli hadits.

[4] Lihat Aqidah As-Salaf Ashhabil Hadits (hal.109), tahqiq Abul Yamin Al-Manshury Hafizhohullah, cet.Dar Al-Minhaj

[5] Lihat Ar-Risalah fi I’tiqod Ahlis Sunnah wa Ashhabil Hadits wa Al-A’immah (hal.109-110), dengan tahqiq Abul Yamin Al-Manshury Hafizhohullah. Ucapan keempat ulama di atas kami nukilkan dari kitab ini.Bagi pembaca yang ingin mengenal aqidah Ahlis Sunnah, bacalah kitab ini.

[6] HR.Abu Dawud dalam As-Sunan (3641-3642), dan At-Tirmidzi dalam As-Sunan (2683-2684). Syaikh Ali bin Hasan Al-Atsari Hafizhohullah berkata:"Dari Abu Darda’ dengan sanad yang hasan". Lihat Tahqiq Adab Al-Isyrah (hal.56)

[7] Lihat Tahqiq Adab Al-Isyrah (hal.56)

[8] Lihat Madarik An-Nazhar (hal.391)

[9] Perlu anda ketahui bahwa Syaikh Ibn Baz pernah mengeluarkan fatwa untuk dua orang diantara mereka: Salman dan Safar agar dipenjara. Surat resmi beliau kepada pemerintah agar keduanya dipenjara karena pelanggaran mereka dalam hal aqidah bisa dilihat dalam kitab Madarik An-Nazhar.

[10] Saya teringat sekali dengan kisah dialami oleh Syaikh Albany ketika ada seorang hizby belajar kepada beliau, lalu pimpinannya tahu. Maka pimpinannya pun melarang hizby tsb belajar kepada Syaikh Albany. Hal itu bukan hanya dialami oleh seorang yang belajar kepada Syaikh Albany, tapi juga ada sekelompok ikhwah yang pernah mendapatkan ultimatum dari pihak Wahdah di Makassar karena mereka belajar kepada seorang da’i yang bukan termasuk WI. Nas’alullahal ‘afiyah.

[11] QS.Al-Ahzab:58

[12] Sampai-sampai masjidnya diberi nama: “Wihdatul Ummah”(persatuan ummat) dan yayasan/ormasnya dengan nama” Al-Wahdah Al-Islamiyyah”(Persatuan Islamiyyah)

[13] QS.Al-Ahzab:58

[14] HR.Al-Bukhory (5704), Muslim (374), dan At-Tirmidzy (2446)

[15] LihatBahjah An-Nazhirin (1/153) karya Sali m Al-Hilaly.

[16] Kami katakan seperti ini, bukanlah berarti salafiyyin tidak ada keinginan untuk membangun negara Islam. Dengan pelan, tapi nyata dan sesuai dengan syari’at.

[17] Do’a jeleknya ini juga menunjukkan bahwa tulisannya bukanlah sebuah nasihat yang bersifat umum tanpa ada yang dituju, tapi merupakan kecaman dan tuduhan yang arahnya kepada salafiyyin. Demikiankah orang yang menasihati orang..

Artikel di Kategori ini :

  1. Agama Syi’ah-Rofidhoh (Bahaya Laten yang Mengancam Kaum Muslimin) – Bag. 2
  2. Katanya Salafy Melarang Demonstrasi, lalu Kenapa Wahdah-Salafy Melakukannya?
  3. Tegar Menyampaikan Kebenaran
  4. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag II)
  5. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Muqaddimah)
  6. Surat Syaikh Al Albani kepada Pemuda FIS (Tentang Pemilu dan Parlemen)
  7. Benteng Menghadapi Gelombang Syubhat Nabi Palsu
  8. Fatwa Kesesatan Jama’ah / Yayasan / Ormas Wahdah Islamiyah (Bag. 2)
  9. Tabligh Bingung, Salafi Menjawab (1)
  10. Haus Kekuasaan