Mengapa Harus ke Barat ?

Dilihat 357 kali | Kirim Ke Teman

Sebagian orang jahil dari kalangan kaum muslimin kadang tertipu dengan kemajuan orang-orang barat yang notabene beragama Yahudi atau Kristen. Kemajuan teknologi dan dunia orang barat membutakan mata kaum muslimin sehingga merasa kecil hati dan minder dengan kondisi mereka yang terbelakang, dan pada gilirannya kaum muslimin membebek buta kepada kaum kafir barat, dan bangga dengan segala yang bermerek atau berbau barat.

Kondisi ini semakin diperparah oleh informasi yang dilancarkan orang-orang kafir bahwa mereka hebat dalam segala hal keduniaan, seperti teknologi, ekonomi, budaya, pendidikan, teknik perang, politik, dan lainnya. Hal ini memberikan opini bahwa apa saja yang dibutuhkan oleh kaum muslimin, maka mereka harus belajar ke barat. Sampai pada titik yang terparah, banyak anak-anak kaum muslimin yang belajar agama Islam ke barat.

Mengapa harus ke barat? Ini merupakan puncak kebodohan kaum muslimin, mereka mendorong anak-anak mereka untuk belajar agama kepada orang-orang barat yang jelas dan nyata bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Mereka ini yang Allah jelaskan permusuhan dan kebenciannya kepada kaum muslimin dalam firman-Nya,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqoroh : 120).

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tak senang dan ridho kepada kaum muslimin sampai kaum muslimin mengikuti hawa nafsu dan agama kaum Yahudi dan Nasrani yang terdapat dalam Taurat dan Injil yang telah mengalami penyelewengan berupa penambahan, pengurangan, pengubahan, dan takwil batil. [Lihat Nazhm Ad-Duror fi Tanaasub Al-Ayat wa As-Suwar (1/176) oleh Burhanuddin Al-Biqo’iy –rahimahullah-]

Kebencian kaum kafir kepada kaum muslimin amat jelas jika mau menilik Al-Qur’an dan Sunnah serta sejarah kehidupan manusia. Kebencian dan makar mereka dalam menjauhkan manusia dari agamanya ditempuh dengan berbagai cara, seperti melalui bantuan sosial dan kemanusiaan, politik, budaya, dan pendidikan.

Kebencian dan makar mereka terkadang jelas dan terang, dan terkadang –bahkan sering- tersamar bagi kaum muslimin. Yang tampak dan jelas, seperti perang dan penjajahan yang dilancarkan oleh mereka atas kaum muslimin. Perang dan penjajahan itu mengusung misi penyebaran agama. Di bawah  penindasan dan kekejaman mereka, banyak diantara kaum muslimin yang terpengaruh dan lebih memilih pindah agama alias murtad dari Islam menuju agama Kristen atau Yahudi.

Adapun makar mereka yang terselubung, maka anda bisa lihat dalam aksi dan trik-trik politik, dan bantuan sosial atau bantuan pendidikan mereka kepada kaum muslimin.

Banyak diantara kaum muslimin yang tak mencium dan mengetahui makar kaum kafir barat. Mereka menganggap bahwa segala tindak-tanduk kaum kafir barat tak ada hubungannya dengan agama yang mereka dakwahkan.

Akhirnya, anak-anak kaum muslimin berlomba-lomba belajar agama Islam dan lainnya kepada para orientalis dari kalangan kaum kafir Yahudi dan Nasrani. Lantas mengapa harus ke Barat? Mengapa harus belajar agama Islam kepada kaum kafir. Tiada lain, kecuali karena kebodohan kaum muslimin tentang agamanya, kurangnya kepercayaan mereka kepada ulama Islam dan lebih percaya kepada orientalis kafir yang siap merusak agama kaum muslimin. Semua ini mereka lakukan demi meraih titel dan gelar yang menipu saja. Ketahuilah bahwa titel dan gelar semu yang kita dapatkan, itu hanyalah bunga-bunga kehidupan dunia yang menipu. Allah –Ta’ala– berfirman,

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir”. (QS. Al-Israa’ : 18)

Jika seseorang belajar ke barat, memang akan disediakan tempat dan kehormatan. Tapi apalah gunanya seorang belajar agama ke barat, sedang ia menghadapkan dirinya kepada kehancuran agama dan aqidahnya. Oleh karenanya, sering kita menjumpai para sarjana keluaran barat, sepulang dari barat mereka mulai berusaha melakukan rekonstruksi (perombakan) ajaran agama yang sudah lama terpatri dan diyakini dalam hati oleh kaum muslimin. Padahal ajaran agama tersebut didasari oleh petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah melalui penjelasan para ulama Islam dari zaman ke zaman.

Bangunan Islam yang kokoh itu berusaha diobrak-abrik dan dirobohkan dengan alasan “rekonstruksi”. Islam yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya bukanlah bangunan yang membutuhkan rekonstruksi dan pemugaran, sebab agama ini telah sempurna, tak butuh kepada penambahan dan pengurangan. Tapi yang butuh direkonstruksi adalah pemikiran para sarjana barat yang tertipu dengan kaum kafir orientalis dalam memahami agama Islam yang suci ini.

Aneh sungguh aneh, kaum muslimin belajar agama kepada kaum kafir. Padahal Allah telah jelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa jika ada seorang muslim yang fasiq datang kepada kita membawa berita, maka hendaknya kita berhati-hati dan mengecek kebenarannya. Allah –Ta’ala– berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujuraat : 6)

Jika seorang muslim yang fasiq saja harus kita periksa kebenaran beritanya, maka tentunya orang-orang kafir yang menyampaikan berita (yakni, ilmu agama) kepada kita pun harus diperiksa baik-baik ucapan mereka, bahkan harus ditolak, karena tak ada jaminan bahwa apa yang mereka ajarkan bersih dari makar dan tendensi jelek. Itulah sebabnya, seorang muslim tak boleh belajar dan menuntut ilmu agama dari orang-orang kafir. Oleh karena itu, para ulama sepakat dari zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sahabat, dan seterusnya dalam menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang kafir, karena mereka tak dianggap memiliki ‘adalah (kejujuran). Bagaimana mungkin musuh akan jujur kepada musuhnya??!

Demikian pula, jika kita membuka lembaran sejarah para ulama kaum muslimin, tak ada diantara mereka yang belajar agama kepada kaum kafir, kecuali mereka yang tersesat jalan hidupnya.

Para ulama salaf dahulu tak mau belajar kepada kaum munafik atau ahli bid’ah, apalagi kafir, karena mereka tahu benar kaum kafir adalah musuh mereka yang senantiasa melancarkan makar dan permusuhannya; kaum kafir tak boleh kita percaya.

Allah mengajari kaum muslimin agar jangan mengambil bithonah (teman kepercayaan) yang mengetahui urusan pribadi kita. Nah, urusan apakah yang paling penting bagi pribadi kita dibandingkan ilmu agama yang akan mengarahkan pemikiran, keyakinan dan perbuatan kita??! Oleh karenanya, seorang muslim tak boleh mengambil dan mencari ilmu agama dari para kafir barat dan lainnya. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/106)]

Allah –Ta’ala– berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”. (QS. Ali Imraan : 118)

Ayat ini banyak dilanggar pemuda-pemuda muslim masa kini, sehingga merekapun akhirnya berlomba-lomba mencari peluang menyelesaikan studi dan pendidikan agamanya di Amerika, Belanda, Kanada, Inggris, Australia, dan lainnya. Mereka amat menaruh kepercayaan kepada musuh-musuh Islam yang siap merombak dan merusak agamanya.

Lantaran itu, banyak diantara mereka yang pulang ke Indonesia seusai belajar untuk melakukan perusakan agama. Dari mereka banyak muncul pernyataan-pernyataan munafik yang menyayat hati kaum muslimin, seperti “Jilbab itu budaya Arab”, “Cadar itu hanya untuk kaum yang hidup di gurun pasir”, “Islam perlu di-reknstruksi”, “Syari’at Islam adalah zholim”, “Semua agama itu benar, tak perlu dipersoalkan”, “Poligami itu adalah wabah”, “Hukum Islam sudah tak relevan dengan perkembangan zaman”, dan lainnya.

Dari mana mereka mengambil statement (pernyataan-pernyataan) yang berbahaya seperti ini??! Buah dari belajar agama kepada kaum kafir barat yang amat benci kepada Islam. Mereka menginginkan Islam dan umatnya hancur dengan memperalat para pemuda muslim yang lugu dan percaya kepada para dosen dan orientalis kafir barat tersebut.

Dekade terakhir ini, para alumni barat hasil didikan orientalis kafir berusaha menyebarkan paham kufur dan munafiq yang mereka istilahkan dengan “pluralisme”, suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah!!

Jelas ini batil!! Paham kafir ini menyelisihi firman Allah –Ta’ala-,

“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imraan : 85)

Ayat ini meruntuhkan paham pluralisme dari akarnya, sebab ayat ini menjelaskan bahwa tak ada agama yang benar dan diterima oleh Allah, selain agama Islam yang dibawa oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Syaikh Muhammad Al-Wushobiy Al-Yamaniyhafizhohullah– berkata, “Barangsiapa yang tak mau mengkafirkan orang Yahudi, Nasrani, Majusi, musyrik, atheis, dan lainnya diantara berbagai jenis orang kafir, ataukah ia ragu tentang kekafiran mereka, atau ia membenarkan agama mereka, maka ia kafir!!”. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid fi Adillah At-Tauhid (hal. 46)]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Tertutupnya Pintu Kenabian
  2. RUJUK KEPADA KEBENARAN ADALAH CIRI AHLUS-SUNNAH
  3. Nasehat untuk Ikhwah yang masih Mengungkit Masalah yang Lalu padahal Telah Terjadi Islah [1]
  4. Bisanya Cuman Nyontek
  5. Sudah Cukup !!
  6. Kenapa Ustadz Salafy Tidak Mau Dialog dengan Wahdah Islamiyah??
  7. Bahaya Kebebasan Berpikir
  8. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag 1)
  9. Fatwa Syaikh Fauzan Tentang Pemilu
  10. Amrozi cs, Mati Syahidkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *