Meluruskan Pemikiran Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’

Dilihat 235 kali | Kirim Ke Teman

Meluruskan Pemikiran Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’

Demonstrasi bukan Perkara Duniawi Semata

(Bantahan bagi Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’)

==============================================
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-
==============================================

meluruskan-pemikiran-dai-stiba-wahdah-islamiyah-yang-membolehkan-demonstrasi-silmiyyah-damaiSeorang ikhwah bertanya kepada kami via What’sApp tentang pernyataan yang terkirim kepadanya melalui media sosial tersebut. Pernyataan itu ditulis oleh seorang dai STIBA yang beralamat :

Masjid Anas bin Malik, STIBA Makassar.

Makassar , 1 Nov 2016.

By. Abu Najla Al-Bughisy Al-Ambony.

Di dalam selebaran itu, dai tersebut membuat pernyataan,

“Demo hanya persoalan sarana, duniawi, bukan ibadah mahdhah, hukum asalnya boleh.

Pernyataan ini perlu kita koreksi dalam beberapa poin berikut :

Pertama, pokok dari syubhat ini bahwa hukum asal demo adalah mubah (boleh)!

Untuk menyanggah hal ini, kami nukilkan sanggahannya dari Guru kami yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badrhafizhahullah– saat beliau membantah seorang dai yang membolehkan muzhoharot silmiyyah (Demonstrasi Damai),

تقدم أن الأصل فيها استيرادها من الغرب وأنها لا تخلو من مفاسد وأضرار أقلها التضييق على الناس في طرقاتهم وأن كبار العلماء في هذه البلاد وكذا الشيخ محمد بن ناصر الدين الألباني قالوا بتحريمها لما يترتب عليها من أضرار

“Telah berlalu (keterangannya) bahwa asalnya demonstrasi diadopsi dari barat (baca : kaum kafir, pent.) dan bahwa demo damai tidak akan lepas dari berbagai kerusakan dan madhorot. Minimalnya, membuat kemacetan bagi manusia di jalan-jalan mereka, dan bahwa para ulama besar di negeri ini, demikian pula Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy menyatakan pengharaman demo damai, karena sesuatu lahir darinya berupa madhorot-madhorot.” [Lihat Tanbihat ala Maqol Haula Ibahah Al-Muzhoharot As-Silmiyyah (3/4-4/4)][1]

Kedua, Demo bukanlah sarana yang mubah dalam inkarul munkar (mengingkari kemungkaran). Kemudian perlu diketahui bahwa tidak semua sarana hukum asalnya mubah (boleh), bahkan terkadang ada sarana yang haram atau bid’ah. Apalagi dalam urusan dakwah dan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Kami berikan contoh sarana yang haram, misalnya seorang yang berdakwah dengan nyanyian dan musik. Bahkan berdakwah atau amar ma’ruf dan nahi munkar dengan nyanyian dan musik merupakan perkara yang diharamkan dalam agama!

Ini menunjukkan bahwa tidak semua sarana hukum asalnya adalah boleh, bahkan ada yang haram atau bid’ah, termasuk sebagai contoh adalah berdakwah atau amar ma’ruf dan nahi munkar dengan DEMONSTRASI DAMAI.

Belum lagi, seringkali demo damai diawali dengan ketenangan dan tertib berjalan, namun pada akhirnya mereka ribut. Apalagi jika demo damai itu dikompori dengan orasi para aktivis dakwah yang memiliki retorika yang berapi-api dan menyulut amarah para demonstran, sebagaimana yang terlihat sebelumnya. Tak usah terlalu jauh dari Demonstrasi Gerakan Reformasi yang juga diikuti sebagian ormas Islam. Apakah ada jaminan bahwa semua yang hadir akan tenang?! Jawabnya, tidak ada jaminan! Tidak ada yang tahu tentang damai atau tidaknya, melainkan seusai demo.

Jadi, realita dan waqi’ membuktikan bahwa seringkali demo diawali dengan kedamaian, namun di akhiri dengan keributan dan kekacauan.

Syaikh Muhammad bin Umar Bazimul -hafizhahullah- berkata dalam sebuah artikelnya,

وعلى التسليم بأن أمر المظاهرات والمسيرات على الإباحة؛ فإن المباح إذا كان ذريعة لمحرم منع منه، فما بالك وقد تبين بحسب الواقع في المظاهرات والمسيرات أنه يندس فيها أصحاب الأغراض والأهواء والجهلة وأصحاب التوجهات المخالفة والمعادية لأهل السنة والجماعة، بل ولأمة الإسلام والمسلمين وتسوق البلاد إلى أن تقع في ربقة الاحتلال الغاشم! أليس من الحكمة والفقه سد الذريعة؟!

“Anggaplah perkara demo dan unjuk rasa adalah mubah, maka sungguh perkara mubah jika ia merupakan jalan pengantar menuju yang haram, maka yang mubah itu pun dilarang darinya. Nah, bagaimana lagi pandangan anda, sungguh telah nyata (terbukti) sesuai realita pada demo-demo dan unjuk rasa tersebut menyusup di dalamnya orang-orang yang memiliki tujuan (tendensi), ahli bid’ah, orang-orang jahil, para pemilik haluan yang menyelisihi dan memusuhi ahlus sunnah, bahkan (memusuhi) umat Islam dan kaum muslimin, serta demo-demo itu akan menyeret negeri ini untuk terjerumus dalam belenggu penjajahan yang aniaya. Nah, apakah  bukan termasuk hikmah dan fiqih menutup pintu (menuju kerusakan)!”[2]

Saya yakin bahwa demo yang diklaim damai bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menjamin bahwa semua pihak akan berjalan tertib dan damai, apalagi demo dalam skala besar, seperti demo yang akan digelar 4 November 2016 mendatang menuntut Ahok si Penista Agama!![3]

Kemudian ukuran dan batas damai sampai dimana? Apakah damai jika sekiranya sang orator berteriak-teriak dan memanas-manasi massa untuk membunuh dan menangkap si fulan. Apakah damai jika membeberkan kesalahan pemerintah fulan dan fulan yang nyata-nyata muslim? Apakah damai jika sang ustadz berteriak dan beraksi di atas mobil dalam menampakkan kekurangan pemerintah dalam menangani suatu kasus?! Silakan jawab sendiri.

Kalau anda berakal, maka pasti anda menjawab bahwa jelas semua itu adalah kekacauan dan kebrutalan yang dilarang keras dalam agama kita. Tidak heran apabila ulama-ulama besar di zaman ini mengharamkan demo dalam segala bentuknya, termasuk DEMO DAMAI, sebagaimana yang akan kami utarakan dari fatwa-fatwa mereka, insya Allah di akhir tulisan ini.

Ketiga, demo bukanlah perkara duniawi yang hukum asalnya mubah, bahkan ia bersinggungan dengan dakwah atau amar ma’ruf & nahi munkar.

Sementara dakwah atau inkarul munkar merupakan ibadah yang diperintahkan dalam agama dan telah diatur cara dan kaifiatnya dalam syariat. Oleh karena itu, seseorang yang ingin berdakwah tidak boleh sembarangan mengambil sarana dakwah. Ia harus tahu apakah sarana itu mubah (boleh) atau tidak. Selanjutnya, apakah sarana itu punya dasar penggunaanya dalam syariat. Kemudian apakah ia tidak menimbulkan madhorot, dan tidak pula menyebabkan terjadinya penyelisihan prinsip-prinsip dan qowa’id syar’iyyah (kaedah-kaedah syariat).

Inkarul munkar (mengingkari kemungkaran) merupakan bagian dari dakwah, sedang dakwah adalah ibadah yang harus ditopang oleh dua pilar utama : IKHLASH dan ITTIBA’ (mengikuti sunnah).

Dakwah merupakan ibadah yang diperintahkan dalam banyak ayat dan hadits.

Allah –Azza wa Jalla– memuji orang-orang yang menegakkan ibadah dakwah ilallah dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  [فصلت : 33]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat : 33)

Ibadah yang bernama “DAKWAH” merupakan jalan para nabi dan rasul yang Allah perintahkan atas mereka. Ia merupakan amalan yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, bahkan Dia wajibkan atas mereka untuk berdakwah di jalan Allah -Azza wa Jalla-.

Di dalam sebuah ayat, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ [يوسف : 108]

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108)

Al-Imam Muhammad Shiddiq Hasan Khan Al-Husainiy Al-Qinnaujiy -rahimahullah- berkata,

وفي هذا دليل على أن كل متبع لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم حق عليه أن يقتدي به في الدعاء إلى الله أي الدعاء إلى الإيمان به وتوحيده والعمل بما شرعه لعباده، ((فتح البيان في مقاصد القرآن – (6 / 416))

“Di dalam firman Allah ini, terdapat dalil bahwa setiap pengikut Rasulullah -Shallallahu alaihi wa alihi wa sallam- harus baginya untuk meneladani beliau dalam berdakwah kepada Allah, yakni mengajak kepada iman kepada-Nya, men-tauhid-kannya (mengesakan-Nya) dan mengamalkan sesuatu yang Dia syariatkan bagi para hamba-Nya.” [Lihat Fathul Bayan (6/416)]

Di dalam ayat ini, ada isyarat bahwa dakwah adalah ibadah, karena seorang dai diperintahkan untuk berada di atas jalan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, sedang jalan beliau tentunya adalah AL-IKHLASH & AL-ITTIBA’

Fadhilatus Syaikh Sholih Alusy Syaikh –hafizhahullah– berkata,

وهو أصل الأصول ذلكم هو أن الدعوة لابد فيها من الإخلاص لأن الدعوة عبادة إذ أمر بها شرعا فهي عبادة من العبادات والعبادة لا تصح إلا بشرطين:* بأن يكون العبد فيها مخلصا لله.*وأن يكون فيها متاعا نبينا محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dia (keikhlasan dalam dakwah) merupakan prinsip paling pokok. Demikian itu karena haruslah dalam ada keikhlasan. Karena dakwah itu adalah IBADAH. Sebab dakwah itu diperintah menurut syariat. Jadi, dakwah itu merupakan sebuah ibadah diantara ibadah-ibadah. Sedang ibadah itu tidak akan sah, kecuali dengan dua syarat : seorang hamba di dalamnya ikhlash karena Allah, dan ia di dalamnya ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.”[4]

Dari tiga sisi dan sanggahan ini, maka nyatalah bagi kita kebatilan pernyataan dai STIBA itu dalam membolehkan DEMO DAMAI.

Kemudian di akhir tulisan ini, kami akan menukilkan sebagian fatwa dari ulama kita yang mengharamkan demonstrasi, baik yang menimbulkan keributan dan kekacauan ataukah yang dilakukan secara “damai”.

Fatwa Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz Ibn Baz-rahimahullah Ta’ala

Beliau –rahimahullah– berkata, “Cara yang bagus merupakan sarana terbesar diterimanya kebenaran. Sedang cara yang keliru dan kasar merupakan sarana yang paling berbahaya ditolaknya dan tidak diterimanya kebenaran, atau bisa mengobarkan kekacauan, kezhaliman, permusuhan, dan saling menyerang. Dikategorikan dalam permasalahan ini apa yang dikerjakan oleh sebagian orang berupa demonstrasi yang menyebabkan keburukan yang banyak bagi para da’i. Maka berkonvoi di jalan-jalan dan berteriak bukanlah merupakan jalan untuk memperbaiki dan dakwah. Jadi, cara yang benar adalah dengan menziarahi (pemerintah), menyuratinya dengan cara yang bagus. Nasihatilah para pemimpin, pemerintah, dan kepala suku dengan metode seperti ini. Bukan dengan cara kekerasan dan demonstrasi. Nabi –Shollallahu alaihi wasallam- ketika tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau tidaklah pernah menggunakan demonstrasi dan berkonvoi, serta tidak mengancam orang lain untuk menghancurkan harta-bendanya, dan membunuh mereka. Tak ragu lagi, cara ini akan membahayakan dakwah dan para da’i, akan menghalangi tersebarnya dakwah, membuat para pemimpin teras memusuhinya dan melawannya dengan segala yang mungkin bisa dilakukannya. Mereka (para pelaku demo) menginginkan kebaikan dengan cara seperti tersebut, akan tetapi malah terjadi yang sebaliknya. Maka hendaknya seorang da’I ilallah menempuh jalannya para rasul dan pengikutnya, sekalipun memakan waktu yang panjang. Itu lebih utama dibandingkan perbuatan yang membahayakan dan mempersempit (ruang gerak) dakwah, atau dihabisi. Walaa haula walaa quwwata illa billah”. [Lihat Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi ke-38, (hal.310)]

Beliau -rahimahullah- pernah ditanya, “Apakah demonstrasi yang dilakukan oleh kaum pria dan wanita melawan pemerintah bisa dianggap termasuk sarana dakwah? Apakah orang yang meninggal di dalamnya dianggap mati syahid?”

Maka beliau  –rahimahullah- memberikan jawaban: “Saya tidak memandang demonstrasi yang dilakukan para kaum hawa dan juga oleh kaum Adam sebagai suatu solusi . Akan tetapi itu merupakan sebab timbulnya fitnah (baca: musibah), keburukan, sebab dizholiminya sebagian orang, dan melampaui batas atas sebagian orang tanpa haq. Akan tetapi, cara-cara yang syar’i (menasihati pemerintah) adalah dengan cara menyurat, menasihatinya, dan mendakwahinya menuju kepada suatu kebaikan dengan cara damai. Demikianlah yang ditempuh paara ulama’. Demikianlah para sahabat Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- dan para pengikut mereka dalam kebaikan.Cara mereka menasihati dengan menyurat dan berbicara langsung dengan orang yang bersalah, pemerintah, dan penguasa. Dengan cara menghubunginya, menasihatinya, dan menyuratinya, tanpa membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar dan tempat-tempat lainnya (dengan berteriak): “Pemerintah Fulan melakukan begini dan begini, lalu hasilnya begini dan begini !! ”, Wallahul Musta’an”. [ Simak Kaset : Muqtathofaat min Aqwaal Al-Ulama’ ]

Demonstrasi bukanlah uslub (cara) berdakwah yang benar. Bukan seperti yang dikatakan oleh seorang da’i hizbi, Safar Al-Hawaly. Dia berkata dalam kasetnya yang berjudul “Syarah Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah” (no.185), ”Sesungguhnya demonstrasi yang dilakukan oleh kaum wanita merupakan salah satu di antara uslub (cara) berdakwah dan memberikan pengaruh”.

Senada dengan ini, A’idh Al-Qorny berkata, “Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah keluar di Al-Jaza’ir dalam satu hari 700.000 wanita muslimah yang berhijab menuntut ditegakkannya syari’at Allah”.

Adapun Salman bin Fahd Al-Audah, maka tak jauh beda dengan kedua temannya tadi. Dia berkata dalam kaset “Lin Nisaa’ Faqoth”, ”Sungguh kita telah mendengar di beberapa negara lain suatu berita yang menggembirakan adanya kembali (kesadaran) yang jujur-khususnya di kalangan pemudi- kepada Allah. Setiap orang dengar adanya demonstrasi lantang di al-Jaza’ir. Sedangkan pemimpinnya adalah sekelompok wanita. Jumlah mereka lebih dari ratusan ribu orang”.

Syaikh Abdul Malik Al-Jaza’iry –Hafizhahullah– berkata dalam mengkritik kekeliruan tiga orang di atas, “Demi Allah, Sesungguhnya urusan mereka ini benar-benar aneh! Tidaklah pernah dibayangkan kalau Jazirah Arab –setelah adanya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab- akan melahirkan orang-orang semacam mereka!? Apakah setelah kehidupan yang dihiasi dengan menjaga kehormatan yang dijaga oleh kaum muslimin Jazirah, akan datang Safar, Salman, dan Al-Qorny ke hadapan para wanita untuk mengeluarkan mereka dari rumah kemuliaan mereka dengan memperbanyak jumlah dan kekuatan dengan para wanita!? Safar menjelaskan pengaruh yang dalam ketika keluarnya para wanita tsb untuk berdemo, sedang Al-Qorny menguatkannya dengan sumpah!! Sedang Salman membangkitkan semangat mereka agar tetap bersabar menghadapi tank-tank. Duh, Alangkah anehnya agamanya!”. [Lihat Madarik An-Nazhor (hal.419-420), cet. Dar Sabiil Al-Mu’minin.]

Apa yang dinyatakan oleh tiga orang ini jelas salah, karena menasihati pemerintah adalah dengan secara rahasia dan tersembunyi seperti menziarahinya, menyuratinya, menelponnya, atau menghubunginya lewat temannya,dan semacamnya, sebab inilah merupakan prinsip dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُمَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

“Barang siapa yang ingin menasihati seorang penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya, dan berduan dengannya. Jika ia terima, maka itulah (yang diharap). Jika tidak, maka ia telah melaksanakan keawjiban atas dirinya”.[HR.Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096). Syaikh Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam Zhilal Al-Jannah (hal.514), “Sanadnya shohih”] .

  • w Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin –rahimahullah-

Beliau –rahimahullah Ta’ala – ditanya: “Apakah Demonstrasi bisa dianggap sarana dakwah yang disyari’atkan?”

Beliau menjawab, “Alhamdu lillahi Rabbil alamin wa shollallahu ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma ba’du: Sesungguhnya demonstrasi merupakan perkara baru, tidaklah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaihi wasallam-, dan para sahabatnya –radhiyallahu anhum-. Kemudian di dalamnya terdapat kekacauan dan huru-hara yang menjadikannya perkara terlarang, dimana didalamnya terjadi pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu, dan lainnya. Juga terjadi padanya ikhtilath (campur-baur) antara pria dan wanita, orang tua dan anak muda, dan sejenisnya diantara kerusakan dan kemungkaran. Adapun masalah tekanan atas pemerintah. Jika pemerintahnya muslim, maka cukuplah bagi mereka sebagai penasihat adalah Kitabullah Ta’ala, dan Sunnah Rasul –Shollallahu alaihi wasallam-. Ini adalah sesuatu terbaik disodorkan kepada seorang muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka tak akan memperhatikan para peserta demonstrasi. Pemerintah tersebut akan “bermanis muka” di depan mereka, sementara itu hanyalah merupakan kejelekan yang tersembunyi di batin mereka. Karenanya, kami memandang bahwa demonstrasi merupakan perkara mungkar !!Adapun alasan mereka: “Demo inikan aman-aman saja”. Memang terkadang aman-aman saja di awalnya atau pertama kalinya, lalu kemudian berubah menjadikan perusakan. Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mau mengikuti jalannya Salaf. Karena Allah –Subhanahu wa Ta’ala- telah memuji para sahabat Muhajirin dan Anshor, serta juga orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan”. [Lihat Al-Jawab Al-Abhar (hal.75) karya Fu’ad Siroj]

w    Fatwa Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun-rahimahullah

Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun -rahimahullah- berkata, “Jadi seorang da’I, orang yang memerintahkan kebaikan, dan melarang dari kemungkaran, wajiblah bagi dirinya untuk menghiasi dirinya dengan kesabaran, mengharapkan pahala dan ganjaran (di sisi Allah), menanggung segala sesuatu yang ia dengarkan atau terkadang ia dicemooh dalam dakwahnya. Adapun seorang da’I menempuh cara kekerasan, atau dia -wal’iyadzu billah- menempuh cara dengan menyakiti manusia, mengganggu orang, atau menempuh cara perselisihan dan pertengkaran, dan memecah belah kesatuan. Ini merupakan perkara-perkara setan. Dia adalah prinsip dakwah Khawarij. Inilah prinsip dakwah Khawarij !! Mereka itulah yang mengingkari kemungkaran dengan senjata, mengingkari sesuatu perkara-perkara yang mereka anggap tidak boleh dan menyelisihi keyakinan mereka dengan cara perang, menumpahkan darah, mengkafirkan orang, dan beberapa perkara lain. Maka bedakanlah antara dakwah para sahabat Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- dan Salafush Sholeh dengan dakwah Khawarij dan orang yang menempuh manhaj (jalan hidup) mereka, dan menjalani jalan mereka. Dakwahnya para sahabat dengan cara hikmah, nasehat, menjelaskan kebenaran, dengan penuh kesabaran, dengan berhias kesabaran, dan mencari pahala dan ganjaran. Sedangkan dakwah Khawarij dengan cara membunuh manusia, menumpahkan darah mereka, mengkafirkan mereka, memecah-belah kesatuan, dan merobak-robek barisan kaum muslimin. Ini adalah perbuatan-perbuatan keji dan bid’ah. Sepantasnya orang-orang yang mengajak kepada perkara-perkara seperti ini dijauhkan dan dijauhi, diburuk-sangkai. Mereka itu telah memecah-belah kesatuan kaum muslimin. Padahal Persatuan itu merupakan rahmat,sedangkan perpecahan merupakan sengsara dan adzab-wal’iyaadzu billah-. Andai suatu penduduk negara di atas kebaikan, bersatu di atas satu kata, niscaya mereka akan memiliki kharisma dan wibawa. Akan tetapi penduduk negara kita sekarang sudah berkelompok-kelompok dan terkotak-kotak. Mereka telah sobek, berselisih, musuh dari kalangan mereka masuk ke tengah-tengah mereka, dari sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Ini merupakan cara bid’ah, dan keji. Merupakan jalan seperti  yang telah berlalu keterangannya, datang dari orang-orang yang mau memecah-belah kesatuan, dan orang-orang yang telah membunuh Amirul Mukminin Ali-radhiyallahu anhu- dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan sahabat, peserta bai’at Ridhwan. Mereka telah membunuh beliau sedang mereka menginginkan “kebaikan”!! Sedang mereka itu adalah pemimpin kerusakan, pemimpin bid’ah,dan pemimpin perpecahan. Mereka itulah yang memecah-belah persatuan kaum muslimin, dan melemahkan barisan kaum muslimin. Demikian juga sampai orang-orang yang berpendapat bolehnya, mengadopsinya, dan menganggapnya baik. Maka orang seperti ini jelek aqidahnya, dan harus dijauhi.Aku tahu-wa’iyaadzu billah- bahwa ada seorang yang disiapkan untuk membahayakan ummatnya dan teman-teman majelisnya, serta orang-orang yang ada disekitarnya. Nasihat yang haq, hendaknya seorang muslim menjadi seorang bekerja, membangun, mengajak kepada kebaikan, dan mencari kebaikan sebenar-benarnya. Dia harus mengucapkan kebenaran, berdakwah dengan cara yang benar dan lembut, berbaik sangka terhadap saudaranya, serta mengetahui bahwa kesempurnaan merupakan sesuatu yang sulit diraih, bahwasanya yang ma’shum adalah  Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- , dan andaikan para pemerintah tsb hilang/pergi, maka tak akan datang orang yang lebih bagus dibandingkan mereka. Andaikan semua orang yang ada hilang/pergi-sama saja diantara mereka ada pemerintah, penanggung jawab, atau para penuntut, atau rakyat. Andaikan ini semuanya pergi/hilang-rakyat negara mana saja-, niscaya akan datang pemimpin yang lebih jelek darinya !! Karena tak akan datang suatu masa kecuali yang berikutnya lebih buruk. Jadi, orang yang menginginkan agar orang sampai pada derajat kesempurnaan, atau menjadi orang-orang yang ma’shum dari segala kesalahan dan kejelekan. Orang (yang berpemikiran) macam ini adalah orang sesat. Mereka ini adalah orang-orang Khawarij. Mereka inilah yang memecah-belah persatuan manusia dan menyakiti mereka. Ini merupakan tujuan orang-orang yang memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan berbagai bid’ah dari kalangan orang Rofidhoh, Khawarij, Mu’tazilah, dan seluruh jenis pelaku kejelekan dan bid’ah”. [Lihat Majallah Safinah An-Najaah, edisi 2, Januari 1997 M.]

Inilah beberapa fatwa ulama’ besar di zaman ini. Semuanya sepakat mengharamkan demonstrasi, karena menimbulkan kerusakan dalam segala lini kehidupan, secara langsung atau tidak. Fakta yang ada di lapangan telah membuktikan bahwa demo menyebabkan banyak kerusakan. Intinya, demo adalah haram dalam Islam, baik demonya dalam bentuk damai tak menimbulkan kerusuhan saat demo, apalagi yang disertai kekasaran, dan sesuatu yang memancing emosi, serta merendahkan wibawa pemerintah.

[1] https://goo.gl/9pCFT3

[2] https://goo.gl/JV3Y37

[3] Disini kami melarang demo, bukan karena membela Ahok. Tapi karena demo bukan jalan Islam dan sunnah!!

[4] https://goo.gl/nZ59zQ

Sumber : https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/11/meluruskan-pemikiran-dai-stiba-wahdah.html?m=1

Tags:, ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Fatwa Kesesatan Jama’ah / Yayasan / Ormas Wahdah Islamiyah (Bag. 3)
  2. Jawaban Ilmiah Terhadap Silsilah Pembelaan Wahdah Islamiyah (Bag. 2)
  3. Fatwa Ulama’ Sunnah tentang Demonstrasi & Mogok Makan
  4. Agama Syi’ah-Rofidhoh (Bahaya Laten yang Mengancam Kaum Muslimin) – Bag. 2
  5. Anjing-anjing Neraka
  6. Memberangus Paham Nabi Palsu
  7. Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 1)
  8. Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 2)
  9. Terlarangkah Memakai Nisbah As-Salafiy atau Al-Atsariy ???
  10. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag II)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *