Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya

Dilihat 137 kali | Kirim Ke Teman

Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya
oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada PemeluknyaKaum muslimin harus lebih cerdik menilai sebagian berita-berita yang disebarkan oleh para propagandis dari kalangan musuh-musuh Islam yang amat tertata halus dan rapi.

Berita-berita yang mereka sebarkan dengan memanfaatkan media sosial yang bekerja hanya sekedar mencari duit, tanpa memperhatikan kerugian dan bahaya yang ditimbulkan bagi Islam dan kaum muslimin.

Berita-berita berbahaya yang dihembuskan oleh mereka mengandung berbagai macam kebatilan, dan igauan dusta, dan terkadang berita itu dipotong, atau dibolak-balik, sehingga memberikan kesan buruk Islam dan menyudutkan kaum muslimin.

Diantara usaha buruk para propagandis dari kalangan kaum kafir dalam menjatuhkan dan mendiskreditkan Islam, menyandarkan “TERORISME” kepada Islam.

Ini merupakan tuduhan terkeji bagi Islam sepanjang sejarah, khususnya belakangan ini. Sebuah tuduhan keji untuk menebar kebencian, fobia Islam, dan memusuhi Islam serta menyandarkan keburukan kepada Islam. Padahal Islam bersih dari semua tuduhan dan keburukan itu!!

Tuduhan busuk ini dihembuskan melalui media-media sosial merupakan usaha terencana dan halus dalam menjauhkan manusia dari Islam, dimana manusia pada hari-hari ini banyak yang masuk Islam dan simpati kepadanya.

Sebenarnya kalau kita mau jujur dan mau mengerti sedikit saja, maka sesungguhnya “terorisme” itu ada pada setiap tempat dan kaum, karena terorisme merupakan fenomena global yang mungkin ada pada setiap tempat dan kaum. Tidak ada suatu agama pun yang rela dituduh mengajarkan teroris kepada umatnya, apalagi Islam.

Kalau kita ingin menilik arti dari kata “terorisme”, maka ia terambil dari kata dalam Bahasa Inggris”terror” : kegentaran, kengerian, kerusuhan, keributan, kekacauan, dan huru-hara, dan ketakutan. [Lihat : http://uuu.sederet.com/translate.php]

Dalam KBBI, disebutkan bahwa “terorisme” adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).” [Lihat : http://kbbi.web.id/terorisme ]

“Terorisme” merupakan perilaku dan tindakan yang muncul dari sikap tathorruf (berlebihan dan melampaui batas), yang tidak akan kosong suatu masyarakat darinya.

Pemikiran terorisme memiliki banyak warna dan ragamnya. Bisa dalam skala personal, kelompok, sekte, organisasi atau negara.

Keragaman terorisme ini juga bisa dipengaruhi oleh sikap berlebihan dalam pemikiran, atau melampaui batas dalam beragama, melampaui batas dalam membela dan mencintai suku, organisasi, partai, atau pimpinan.

Jadi, tampak dari penjelasan ini bahwa “terorisme”, bukan hanya muncul karena akibat sikap ghuluw (melampaui batas) dalam beragama yang dilakukan oleh pemeluk agama tertentu, bahkan juga dalam ranah perpolitikan, kesukuan, kepemimpinan, dan lainnya.

Belakangan ini, terorisme hanya dikaitkan dengan ranah agama. Jelas ini keliru besar, sebab terorisme bukan hanya terbatas pada ranah agama, seperti yang telah kami jelaskan.

Para pembaca yang budiman, Kalau kita menoleh ke belakang untuk melihat dan mengenang kembali sejarah terorisme, kaum Yahudi dan Kristen telah lama terlibat di dalamnya!! Belum lagi kalau kita tarik garis sejarah sampai hari ini, maka terlalu banyak buktinya, sebagaimana yang telah diketahui semua pihak.

Di dalam Al-Qur’an Al-Karim, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- pernah menegur orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen) dari sikap ghuluw yang merupakan cikal bakal lahirnya “terorisme”,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ [المائدة : 77]

Katakanlah: “Hai ahli kitab, janganlah kalian ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maa’idah : 77)

Perhatikan akhir ayat ini, Allah terangkan bahwa hasil dari sikap ghuluw (melampaui batas) dalam beragama adalah menyimpangnya seseorang dari rel kebenaran. Orang-orang Yahudi dan Kristen telah melakukan sikap ghuluw dalam mengikuti agama Islam yang dianut oleh Nabi Isa, sampai membuat agama dan aturan baru serta melenceng dari ajaran nabi mereka. Akibatnya muncul sikap kasar dan keras dari mereka kepada siapa saja yang tidak mau mengikuti ajaran mereka yang sesat lagi menyimpang.

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata mengomentari kalimat bergaris di atas,

أي: وخرجوا عن طريق الاستقامة والاعتدال، إلى طريق الغواية والضلال.

Maksudnya, mereka keluar dari jalan lurus dan tegak menuju jalan penyimpangan dan kesesatan.” [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/159) karya Ibnu Katsir, cet. Dar Thoibah]

Demikianlah hasil dan akibat dari sikap ghuluw yang ada pada kaum Yahudi dan Kristen. Diantara sikap ghuluw Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka berlebihan terhadap nabi mereka, sampai disamakan dengan Allah dalam peribadahan dan ketuhanan.

Mereka ghuluw (berlebihan) terhadap para pendeta dan orang sholih diantara mereka sampai menyamakannya dengan Tuhan dalam menghalalkan sesuatu atau mengharamkan perkara-perkara yang tidak pernah Allah syariatkan.

Sikap ghuluw (melampaui batas dan berlebihan) seperti ini mengantarkan mereka untuk meninggalkan Taurat dan Injil dengan melakukan berbagai revisi dan perubahan terhadap kedua kitab suci tersebut, sehingga lahirlah agama baru yang jauh dari inti ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa.

Begitu lancangnya mereka membuat agama dan syariat baru, demi meninggalkan dan melenceng dari agama Allah (Islam) yang merupakan misi para nabi dan rasul. Agama dan syariat baru buatan Ahli Kitab yang kita kenal dengan “Agama Yahudi”, dan “Agama Kristen.”

Kelancangan mereka dalam meninggalkan agama dan syariat Allah merupakan hasil dan buah dari sikap ghuluw mereka. Tidak heran apabila Ahli Kitab berani melakukan tindakan “terorisme” yang telah diabadikan di dalam Al-Qur’an dan akan dibaca serta dikenang oleh sejarah manusia sampai akhir zaman sebagai sejarah kelam mereka.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ [آل عمران : 112]

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu, karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu[220] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali Imraan : 112)

Allah perjelas “terorisme” yang dilakukan oleh Ahli Kitab dalam firman-Nya,

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (181) ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (182) الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (183) فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ (184) [آل عمران : 181 – 185]

“Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah oleh kalian siksa yang membakar”.

(Siksaan) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya,

(yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api”.

Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Jika mereka mendustakan kalian, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan Kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (QS. Ali Imran : 181-185)

Adakah tindak terorisme yang lebih keji, lebih besar dosanya, dan lebih melanggar dibandingkan usaha mengejar, memusuhi dan membunuh para nabi dan pengikutnya?!

Itulah pekerjaan Ahli Kitab yang suka membunuh para nabi. Bahkan Yahudi dari kalangan Ahli Kitab menurut sejarah merupakan pelopor dalam usaha mengejar dan membunuh Nabi Isa –alaihi salam-, dengan bekerjasama bersama Pemerintah Romawi.

Walaupun kaum Yahudi tidak berhasil melakukan tindak terorisme dalam membunuh Nabi Isa -Shallallahu alaihi wa sallam-, hanya membunuh orang yang serupa dengan beliau, namun mereka (Yahudi) tetap mendapatkan dosa dalam hal itu, karena mereka punya niat membunuh Nabi Isa –alaihish sholatu was salam-. [Lihat : Al-Jawab Ash-Shohih (94/380), dan Hidayah Al-Hayaro (hal. 167), karya Ibnul Qoyyim]

Inilah yang Allah -Azza wa Jalla- terangkan dalam firman-Nya,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) [النساء : 157 ، 158]

Dan Karena ucapan mereka (kaum Yahudi) : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 157-158)

Padahal kalau dari sisi nasab, Nabi Isa –alaihis salam- dan Yahudi adalah sama-sama dari kalangan Bani Isra’il. Tapi mereka dengan kesombongan dan hasadnya menggelar “aksi terorisme” yang dikecam oleh seluruh bangsa (utamanya Kaum Nasrani alias Kristen).

Tidak heran apabila kebencian diantara pengikut dua agama ini, terus membara sampai hari ini, walaupun kedua pihak berusaha menutupi hal itu di depan kaum muslimin dan masyarakat dunia.

Aksi terorisme yang dilakoni kaum Yahudi dalam usaha membunuh Nabi Isa –alaish sholatu was salam- telah diabadikan di dalam Al-Qur’an Al-Karim,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (155) وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) [النساء : 155 – 158]

“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, Sebenarnya Allah Telah mengunci mati hati mereka Karena kekafirannya, Karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

Dan Karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

Dan Karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 155-158)

Akibat aksi terorisme yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi bekerjasama dengan Kerajaan Romawi, maka kaum Yahudi pun dilaknat oleh Allah, mereka disambar petir, menjelmakan mereka menjadi kera, dan sebagainya.

Siapa saja yang ghuluw (melampaui batas dan berlebihan) dalam beragama dengan keluar dari bimbingan wahyu Allah, maka pasti ia akan jatuh dalam penyimpangan (salah satunya adalah terorisme).

Oleh karena itu, jauh hari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan umatnya dari sikap ghuluw agar mereka jatuh dalam penyimpangan. Jauhnya seseorang menyimpang dari Islam merupakan kebinasaan.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ.

“Waspadalah kalian sikap ghuluw (melampaui batas), karena orang-orang sebelum kalian hanyalah binasa karena ghuluw (melamapui batas) dalam beragama.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/347), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (3057). Hadits dinilai shohih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (no. 3248)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy -rahimahullah- berkata,

وذلك يقتضي: أن مجانبة هديهم مطلقاً أبعد عن الوقوع فيما به هلكوا وأن المشارك لهم في بعض هديهم، يخاف أن يكون هالكاً.

“Hal ini mengharuskan bahwa menjauhi jalan hidup mereka (Yahudi) secara mutlak adalah tindakan yang lebih jauh dari terjerumus dalam (sebab) yang mereka binasa karenanya dan bahwa orang mengiringi (mengikuti) mereka dalam sebagian jalan hidup mereka, maka ditakutkan ia akan binasa.” [Lihat Iqtidho’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim (hal. 106]

Sekalipun Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, para sahabat, dan ulama-ulama Ahlus Sunnah telah mengingatkan bahaya ghuluw (diantaranya adalah aksi terorisme), karena itu adalah kebiasaan Ahli Kitab, namun disayangkan masih ada saja diantara kaum muslimin yang jahil tentang agamanya, yang jatuh dalam sikap ghuluw!!

Tidak heran jika anda melihat kaum Khawarij memerangi para sahabat. Sekte sesat Syi’ah memerangi para sahabat dan mengafirkan mereka, bahkan juga mengafirkan kaum muslimin secara umum dan menghalalkan darah mereka, seperti apa yang kalian lihat pada hari ini berupa aksi terorisme kaum Syi’ah dalam membantai Ahlussunnah di Iran, Iraq, Suriah, dan lainnya.

Juga terlibat di dalam aksi terorisme itu, negara-negara barat yang beragama komunis atau Kristen, seperti : Rusia, dan Perancis, sehingga semakin memperkeruh suasana dan menelan ribuan korban jiwa.1

Belum hilang dari ingatan kalian, tindak terorisme dan kejahatan yang dilakukan kaum Hindu atas kaum muslimin di Ayodya. Kaum Hindu menghancurkan Masjid Babri merupakan bangunan bersejarah di yang berdiri di Ayodya, India. Masjid ini dibangun oleh Kaisar Mughal pertama India, Babur, abad ke-16. [http://www.merdeka.com/ramadan/masjid-babri-saksi-bisu-konflik-muslim-hindu-di-india.html]

Penghancuran Masjid Babri ini telah memicu tewasnya ribuan kaum Muslim yang dengan gagah berani berusaha mempertahankan masjid Allah tersebut. Penghancuran masjid ini dimotori oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Athal Bihari Fajpaye saat itu berkuasa di India. Tidak berhenti sampai di sana, hingga saat ini, ekstremis Hindu tetap ‘ngotot’ untuk membangun kuil di atas reruntuhan Masjid Babri tersebut. Para Hindu ekstremis tetap ingin membangun kuil meskipun pemerintah India telah melarang. [http://www.muslimdaily.net/berita/internasional/hari-ini-16-tahun-yang-lalu-masjid-babri-india-dihancurkan-kafir-hindu.html#]

Ingatkah kalian dengan pembantaian dan pengusiran yang dilakukan oleh Umat Buddha di Myanmar (Burma) atas Muslim Rohingya.

Ribuan warga Muslim Etnik Rohingya terpaksa lari dari tempat tinggal mereka di Myanmar, menuju ke negara lain (seperti, Indonesia, Bangladesh, Malaysia, dll). Mereka memilih mati di negeri orang ketimbang bertahan di negara mayoritas Buddha radikal itu.

Rupanya, seorang biksu Buddha menjadi dalang di balik neraka bagi kaum Rohingya. Biksu bernama Ashin Wirathu itu menyebarkan teror dan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu. [http://www.suara-islam.com/read/index/14341]

Kilas balik ke tahun 1995, saat terjadi pembantaian yang dilakukan oleh Serbia (yang beragama Kristen Orthodoks) atas kaum muslimin Bosnia.

Pembantaian Srebrenica (disebut juga Genosida Srebrenica) adalah kejadian sekitar lebih dari 8000 pembantaian lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak, pada Juli 1995 di daerah Srebrenica, Bosnia oleh pasukan Republik Srpska pimpinan Jenderal Ratko Mladi. Ini merupakan pembantaian terbesar pasca Perang Dunia II dan gerakan terorisme paling parah atas muslimin Srebrenica, Bosnia. [https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Srebrenica]

Anda jangan lupa pula pembantaian demi pembantaian di Palestina yang dilakukan oleh kaum Yahudi atas muslimin Palestina.

Sejarah kehidupan entitas Zionis-Yahudi hanyalah diisi dengan pembantaian demi pembantaian terhadap rakyat muslim Palestina yang tidak berdosa. Rezim Yahudi dari waktu ke waktu, tanpa jeda sedikitkpun terus melakukan pembantaian terhadap rakyat muslim sipil, dan kemudian mengusir, menjajah, dan menguasai tanah kelahirannya. [http://global.liputan6.com/read/2075800/presiden-palestina-israel-sedang-lakukan-pembantaian-di-gaza dan https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Qibya]

Para pembaca yang budiman, kalau kita ingin buka-bukaan berita dan kenyataan, maka kita akan dapati bahwa kaum muslimin sering kali menjadi korban terorisme (baik skala kecil atau skala besar).

Namun mengapa para pelaku terorisme tidak dicap sebagai teroris, dan mengapa kaum muslimin tidak mendapat simpati dari dunia?!

Jawabnya, karena para pelaku bukanlah muslim. Kedua, karena yang menguasai media dan politik bukan kaum muslimin.

Pembantaian dan tidak teror telah dialami oleh kaum beriman sejak dahulu kala, disebabkan oleh KEBENCIAN KAUM KAFIR terhadap KEIMANAN KAUM MUSLIMIN.

Realita ini tidak dapat dipungkiri, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dalam firman-Nya,

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9) إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (11) [البروج : 8 – 11]

“Dan mereka (orang-orang kafir) tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan2 kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka siksa Jahannam dan bagi mereka siksa (neraka) yang membakar.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruuj : 8-11)

Para pembaca yang bijak, ketika ada gerakan “PEMBERANTASAN TERORISME”, kami minta agar yang dijadikan sasaran hanyalah teroris muslim, sedang teroris dari kalangan agama lain tidak dijadikan sasaran pemberantasan. Ini jelas mencoreng nama ISLAM dan KAUM MUSLIMIN!! Sehingga kesannya Islam itu identik dengan teror dan kekerasan. Padahal agama kita, Islam adalah agama kasih sayang dan kedamaian!!! Islam tidak mengajarkan TERORISME kepada pengikutnya. Adapun jika ada oknum muslim melakukannya, maka itu bukanlah atas ajaran Islam, tapi hal itu muncul dari kesalahpahaman tentang Islam. Karena itu, para ulama Islam dan dai-dainya mengingkari hal itu dan mengecamnya, karena bertentangan dengan Islam.

Nah, adakah ketika umat lain melakukan aksi TERORISME, maka ketika itu juga para pendeta, biara dan biksu mereka serentak melakukan pengingkaran dan kecaman atas para pelaku?!! Pengingkaran itu hanyalah ada dari kalangan ulama Islam. Adapun yang lain, silakan anda menilai sendiri.

Kalau ingin memberantas teroris, ya harus adil, jangan cuma kaum muslimin yang jadi sasaran dan sering kali diintai dan dituduh sebagai teroris, lalu para perusak dari agama lain tidak disikapi sama!!

Tulisan ini kami buat sebagai tanggapan atas pernyataan Direktur Eksekutif Megawati Institut, Siti Musdah Mulia menuding sekolah Islam sebagai penyebab munculnya terorisme di Indonesia.

Pernyataan ini kemudian mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan. Pernyataan ini memberikan kesan negatif, seakan-akan Islam diajarkan di pesantren untuk menanamkan pemikiran radikal dan terorisme. Padahal sebaliknya Islam kalau mau jujur, justru melalui pesantren-pesantren mengajarkan kasih sayang, akhlak yang baik, memberantas segala macam kezholiman (termasuk sikap radikal, teror, dan pembantaian).

Memang tidak dipungkiri bahwa memang ada sebagian oknum muslim mengajarkan hal-hal buruk seperti itu dari arah yang ia tidak sadari, sebagaimana hal itu juga dilakukan oleh oknum lain dari agama-agama lain. Jadi, amat keliru jika sebuah kasus khusus dan oknum tertentu, lalu hal itu digeneralisasi dalam sebuah opini buruk yang menyudutkan Islam. Karena itu, kami meminta kepada si penuduh agar berpikir jujur dan objektif. Jika ia muslim atau muslimah agar segera bertobat.

……………………..

Selesai, tanggal 24 Rajab 1437 H yang bertepatan 2 Mei 2016 M, di Makassar, Sulsel, Indonesia.

1 Adakah dunia tercengang di kala masyarakat sipil Suriah di bombardir oleh Rusia bersama Basyar Asad?! Aksi terorisme ini didiamkan oleh dunia, karena yang melakukannya orang kafir.

2 seperti menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh dan sebagainya.

Tags:,

Artikel di Kategori ini :

  1. Andaikan Mereka Bersabar
  2. Agama Syi’ah-Rofidhoh (Bahaya Laten yang Mengancam Kaum Muslimin) – Bag. 2
  3. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag II)
  4. Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah
  5. Nasehat untuk Ikhwah yang masih Mengungkit Masalah yang Lalu padahal Telah Terjadi Islah [1]
  6. Membunuh Orang Kafir di Negeri Mereka (Menanggapi Pengeboman dan Penembakan di Paris, Perancis)
  7. RUJUK KEPADA KEBENARAN ADALAH CIRI AHLUS-SUNNAH
  8. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 3)
  9. Resensi Buku Memang Harus Beda antara SALAFIYYAH dengan HIZBIYYAH (Sebuah Bantahan Buku Beda Salaf dengan “Salafi”)
  10. Sikap dan Adab Ahlus Sunnah kepada Para Sahabat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *