Fulan Mati Syahid

Dilihat 147 kali | Kirim Ke Teman

Ketika terjadi eksekusi terhadap tiga orang yang tertuduh sebagai pelaku bom Bali, yaitu Imam Samudra, Ali Gufran, dan Amrozi, maka muncullah berbagai macam opini dan pendapat; antara pro dan kontra. Di beberapa majalah, koran, dan media massa lainnya, diliput dari sebagian orang-orang simpati kepada tiga yang dieksekusi tersebut; mereka berkata, “Tiga orang itu adalah syahid”. Lalu mereka sebutkan sebagian “tanda” bahwa mereka mati syahid. Konon kabarnya saat mati, seorang dari 3 orang tersebut tersenyum, wajahnya bercahaya, kuburnya harum semerbak, dan lainnya diantara khayalan dan persangkaan yang diada-ada !!

Padahal Allah -Ta’ala- berfirman,

Ÿxsù (#þq’.t“è? öNä3|¡àÿRr& ( uqèd ÞOn=÷ær& Ç`yJÎ/ #’s+¨?$# ÇÌËÈ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (QS. An-Najm: 32).

Abu Bakroh –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Ada seseorang yang pernah memuji seorang laki-laki di sisi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda,

وَيْلَكَ, قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبَكَ , قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبَكَ ) مِرَارًا

“Celaka engkau, kau telah memotong leher temanmu, kau telah memotong leher temanmu”. Beliau ucapkan berkali-kali”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Asy-Syahadat (2519) dan Muslim dalam Kitab Az-Zuhd wa Ar-Riqoq (3000)]

Kekacauan berpikir seperti ini lahir karena jahilnya ummat ini tentang Al-Kitab dan Sunnah. Tragisnya lagi, kebanyakan diantara kita tak ada yang mau meminta fatwa dari para ulama’ kita tentang boleh tidaknya seorang menyatakan, “Fulan mati syahid”.

Ada yang pernah bertanya kepada Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Al-Atsariy -rahimahullah-, “Apa hukumnya ucapan, “Fulan mati syahid?”

Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Al-Atsariy -rahimahullah- berkata dalam memberi jawaban, “Jawaban tentang hal itu bahwa persaksian bagi seseorang bahwa ia adalah seorang yang mati syahid; ini ada dua bentuknya:

Pertama: Persaksian itu di-taqyid (dikaitkan) dengan sifat, misalnya dikatakan, “Setiap orang yang meninggal di jalan Allah, maka ia adalah orang yang mati syahid. Barang siapa yang mati membela hartanya, maka ia mati syahid. Barang siapa yang mati karena penyakit Thoo’uun, maka ia mati syahid”, dan semisal itu. Persaksian seperti ini boleh sebagaimana yang dibawa oleh nash-nash, karena anda telah mempersaksikan sesuatu yang telah dikabarkan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Kami maksudkan dengan ucapan kami, “boleh”, adalah tidak terlarang. Walaupun sebenarnya persaksian seperti ini adalah wajib demi membenarkan berita Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Kedua: Persaksian yang di-taqyid (dikaitkan) dengan orang tertentu. Misalnya, engkau katakan kepada orang yang tertentu, “Dia mati syahid”, maka ini tak boleh, kecuali yang diberikan persaksian oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, atau ummat sepakat untuk memberikan persaksian baginya dalam hal itu.

Al-Imam Al-Bukhoriy -rahimahullah- membuatkan judul bab bagi masalah ini dengan ucapannya, “Bab: Tidak Boleh Dikatakan,“Fulan Mati Syahid”. [Lihat Shohih Al-Bukhoriy (6/109), cet. Darus Salam]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath (6/90), “Maksud Al-Bukhoriy, (persaksian) dalam bentuk pemastian tentang hal itu., kecuali jika berdasarkan wahyu. Seakan-akan beliau mengisyaratkan kepada hadits Umar  bahwa beliau pernah berkhuthbah seraya berkata,

تَقُوْلُوْنَ فِيْ مَغَازِيْكُمْ: فُلاَنٌ شَهِيْدٌ, وَمَاتَ فُلاَنٌ شَهِيْدًا, وَلَعَلَّهُ قَدْ يَكُوْنُ قَدْ أَوْقَرَ رَاحِلَتَهُ, أَلاَ لاَ تَقُوْلُوْا ذَلِكُمْ, وَلَكِنْ قُوْلُوْا كَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ مَاتَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيْدٌ

“Kalian katakan dalam peperangan kalian, “Fulan syahid, fulan mati syahid. Boleh jadi dia telah menjatuhkan kendaraannya. Ingatlah, jangan kalian mengucapkan hal itu. Tapi ucapkanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Barangsiapa yang mati di jalan Allah atau ia terbunuh, maka ia mati syahid”. [HR. Ahmad, Sa’id bin Manshur, dan selain keduanya dari jalur Muhammad bin Sirin dari Abul Ajfaa’ dari Umar] Selesai ucapan Al-Hafizh.

Karena persaksian bagi sesuatu tak ada, kecuali didasari oleh ilmu tentang hal itu. Syarat seorang dikatakan mati syahid , ia berperang agar kalimat Allah (agama-Nya) tinggi. Sedang hal seperti ini adalah niat yang tersembunyi; tak ada jalan untuk mengetahuinya. Oleh karena ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda saat memberi isyarat tentang hal itu,

مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ -وَاللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِهِ

“Perumpamaan seorang mujahid fi sabilillah –sedang Allah yang lebih tahu tentang orang yang berjihad di jalan-Nya– …”. [HR. Al-Bukhoriy (2787)]

Beliau juga bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ, لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ -وَاللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِيْ سَبِيْلِهِ- إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ, وَالرِّيْحُ رِيْحُ الْمِسْكِ

“Demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang terluka di jalan Allah –sedang Allah lebih tahu tentang orang yang teluka di jalan-Nya–, kecuali ia akan datang pada hari kiamat, sedang warnanya warna darah, dan baunya baum misk”. [HR. Al-Bukhoriy (2803)]

Kedua hadits itu telah diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari sahabat Abu Hurairah.

Tapi barangsiapa yang lahiriahnya sholeh (baik), maka kita harapkan hal itu baginya, tidak memberikan persaksian (bahwa ia mati syahid), dan tidak berburuk sangka kepadanya. Harapan adalah suatu tingkatan diantara dua tingkatan. Tapi kita hadapi orang tersebut di dunia berdasarkan hukum-hukum (yang berkaitan) dengan syuhada’ (orang-orang yang mati syahid). Jika ia terbunuh di medan jihad fi sabilillah, maka ia dikuburkan bersama darahnya, dalam bajunya, tanpa perlu disholati. Jika ia termasuk golongan syuhada’ lain (tidak mati di medan jihad), maka ia dimandikan, dikafani, dan disholati.

Sebab andaikan kita memberikan persaksian bagi pribadi tertentu bahwa ia adalah syahid, maka persaksian itu mengharuskan kita untuk memberikan persaksian bagi orang itu dengan surga. Ini menyelisihi prinsip yang dupijaki oleh Ahlus Sunnah, karena mereka tidak memberikan persaksian surga, kecuali bagi orang yang diberikan persaksian oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan suatu sifat atau tentang pribadi tertentu.

Sebagian diantara mereka (Ahlus Sunnah) berpendapat tentang bolehnya memberikan persaksian tentang hal itu bagi orang yang disepakati oleh ummat untuk memberikan pujian kepadanya. Ini adalah pendapat yang dipegangi oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah ta’ala-

Dengan (jawaban) ini, maka nampaklah bahwa tak boleh memberikan persaksian bagi orang tertentu bahwa ia adalah syahid, kecuali berdasarkan nash atau kesepakatan ummat. Namun orang yang lahiriahnya adalah sholeh (baik), maka kita harapkan hal itu baginya sebagaimana yang telah berlalu. Hal ini cukup sebagai keutamaan baginya. Sedang ilmu tentang dirinya hanya ada di sisi Penciptanya -Subhanahu wa -Ta’ala- “. [Lihat fatwa ini dalam Fataawa Arkan Al-Islam (hal. 197-199) karya Syaikh Al-Utsaimin]

Sekarang kita bertanya, “Apakah 3 orang yang dieksekusi tersebut lahiriahnya adalah sholeh?” Jawabnya, Tidak !! sebab mereka telah melakukan dosa besar dalam aksi mereka saat membom orang-orang kafir dan muslim. Sedang mereka (orang-orang kafir tersebut) adalah orang-orang yang tak pantas dibunuh menurut syari’at Islam !!!

Perhatikan, syari’at Islam melarang kita membunuh seorang muslim. Adapun 3 orang itu, malah membunuh seorang muslim, bahkan lebih. Allah berfirman,

`tBur ö@çFø)tƒ $YYÏB÷sãB #Y‰ÏdJyètG•B ¼çnät!#t“yfsù ÞO¨Yygy_ #V$Î#»yz $pkŽÏù |=ÅÒxîur ª!$# Ïmø‹n=tã ¼çmuZyès9ur £‰tãr&ur ¼çms9 $¹/#x‹tã $VJŠÏàtã ÇÒÌÈ

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. An-Nisa`: 93)

Demikian pula membunuh orang kafir mu’ahad (yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah, seperti para pelancong), mereka tak boleh dizholimi, dan dibunuh, kecuali jika ia melakukan perbuatan yang mengharuskan dirinya dibunuh menurut syariat Islam. Namun yang menghukum mereka pun adalah penguasa, bukan setiap orang. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Siapa yang mebunuh kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan 40 tahun. [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3166)]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

أَلاَ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ingatlah, siapa yang menzholimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya, tanpa keridhoan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat  [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (3052) dan Al Baihaqy (9/205). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (445)]

Ayat dan hadits-hadits ini menunjukkan bahwa aksi bom Bali yang dilakukan oleh 3 orang tersebut bukanlah untuk memperjuangkan dan meninggikan Al-Kitab dan Sunnah. Bahkan ketiganya telah merendahkannya. Karenanya, ketiganya tak layak disebut “syahid” !!

Seorang mufassir, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata saat menafisrkan ayat ini, “Tak ada ancaman yang lebih besar dalam semua jenis dosa besar, bahkan tidak pula semisalnya dibandingkan ancaman ini, yaitu pengabaran bahwa balasan orang yang membunuh adalah Jahannam. Maksudnya, cukuplah dosa yang besar ini saja untuk dibalasi pelakunya dengan Jahannam, beserta siksaan yang besar di dalamnya, kerugian yang hina, murkanya Al-Jabbar (Allah), luputnya keberuntungan, dan terjadinya kegagalan, dan kerugian. Kami berlindung kepada Allah dari segala sebab yang menjauhkan dari rahmat-Nya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal.193-194)]

Lihatlah pembaca yang budiman! Allah mengancamnya di dalam ayat ini dengan neraka jahannam dan tidak sampai disitu saja, bahkan ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutuknya dan menyediakan siksa yang pedih baginya. Ini baru satu orang muslim, bagaimana lagi jika yang dibunuhnya adalah puluhan sampai ratusan orang muslim? –Nas alulllaha ‘afiyah wassalamah-.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَزَوَالُ لدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada membunuh (jiwa) seorang muslim”. [HR. At-Tirmidzy dalam As-Sunan (1399), An-Nasa`iy dalam As-Sunan (7/82), Al-Bazzar dalam Al-Musnad  (2393), dan lain-lain. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ghoyatul Maram (4390)]

Mereka berteriak ketika kaum kuffar AS dan sekutunya membantai jutaan kaum muslimin dengan menyatakan bahwa nyawa seorang muslim itu sangat mahal di sisi Allah. Namun di sisi lain, mereka sendiri ternyata juga turut menumpahkan darah kaum muslimin. parahnya lagi kesalahan tersebut berusaha ditutupi dan dibenarkan dengan berjuta dalih: “Ini kan jihad”, “Mereka adalah Mujahid”, “Jika mereka dieksekusi, maka mereka akan mati syahid !!”. Padahal orang-orang yang melakukan aksi teror tersebut adalah orang-orang yang mati konyol, mereka meninggal dalam keadaan membawa dosa besar menghadap Allah Robbul alamin. Bagaimana mereka bisa dikatakan syahid, padahal mereka telah membunuh saudara-saudara mereka yang tertimpa aksi bom tersebut?! Bagaimana mereka dicap mati syahid, sementara mereka membunuh orang-orang kafir yang masuk ke negeri kita dalam keadaan mendapat izin dan jaminan keamanan dari pemerintah kita yang masih muslim.

Bagaimana mereka dikatakan syahid, sedang mereka “berjihad” bukan pada waktu, dan tempatnya !!? Bagaimana mereka dianggap sebagai mujahid yang mati syahid, sedang mereka dalam aksi “jihadnya” (baca: aksi terornya) tidak di bawah perintah dan komando pemerintah Indonesia yang muslim. Namanya jihad, harus di bawah komando penguasa muslim !! Demi Allah, ini adalah kejahilan tentang syari’at jihad menurut syari’at Islam !!!

Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Roziy -rahimahullah- berkata,

فَإِنَّ الْجِهَادَ مَاضٍ مُذْ بَعَثَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ مَعَ أُولِي اْلأَمْرِ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ, لاَ يُبْطِلُهُ شَيْءٌ

“Sesungguhnya jihad terus berjalan sejak Allah -Azza wa Jalla- mengutus Nabi-Nya –alaihish sholatu was salam- sampai tegaknya kiamat bersama pemerintah diantara pemimpin kaum muslimin; jihad itu tak akan dibatalkan oleh apapun”. [Lihat Syarh Ushul Al-I’tiqod (1/178)]

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawiy -rahimahullah- berkata, “Haji, dan jihad akan terus berjalan bersama pemerintah dari kalangan kaum muslimin, yang baik maupun yang fajir sampai tegaknya hari kiamat, tak akan dibatalkan dan digugurkan oleh sesuatu apapun”. [Lihat Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal.50)]

Jadi nyatalah dari keterangan di atas bahwa 3 orang tersebut tidak boleh dikatakan “syahid” berdasarkan nas-nas yang menjelaskan hukum lahiriah mereka; kepastian nasib mereka di akhirat kita kembalikan kepada Allah.

Terakhir, kami nasihatkan kepada kaum muslimin agar kaum muslimin senantiasa mempelajari agamanya sehingga ia tidak tertipu dengan orang-orang yang suka mengelabui dengan berkedok agama. Padahal agama berlepas diri dari perbuatan dan ucapannya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari segala fitnah, dan mematikan kita di atas Sunnah.

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Bukan dari Rakyat
  2. Membunuh Orang Kafir di Negeri Mereka (Menanggapi Pengeboman dan Penembakan di Paris, Perancis)
  3. Mengapa Harus ke Barat ?
  4. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag 1)
  5. Sudah Cukup !!
  6. Agama Syi’ah-Rofidhoh (Bahaya Laten yang Mengancam Kaum Muslimin) – Bag. 1
  7. Meluruskan Pemikiran Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’
  8. Resensi Buku Memang Harus Beda antara SALAFIYYAH dengan HIZBIYYAH (Sebuah Bantahan Buku Beda Salaf dengan “Salafi”)
  9. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag III)
  10. Fatwa-Fatwa Seputar Kejadian Teror

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *