Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 6)

Dilihat 3,756 kali | Kirim Ke Teman

اجتماع أهل القرى على بيان أغلاط الأستاذ جَهَادَى مَنْكَى

(رسالة جوابية ونصائح لمحبي السنة الغراء)

"Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 6
"Salah paham terhadap Salafiyyun"

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

  • Salah paham terhadap Salafiyyun

Diantara kekeliruan Jahada, ia menyangka bahwa salafiyyun melarang tanzhim, marhalah, dan tarbiyah secara muthlaq. Padahal salafiyyun hanya mengingkari tanzhim yang mengarah kepada ta’ashshub, dan khuruj alal hukkam (pemberontakan). Demikian pula salafiyyun hanya mengingkari tarbiyah sirriyah dan marhalah sirriyah. Salafiyyun tidak melarang tarbiyah serta sistem marhalah. Tapi yang mereka ingkari jika hal itu dilakukan secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan mengarah kepada pemberontakan. Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang didirikan oleh salafiyyun juga merupakan tarbiyah yang ber-marhalah (berjenjang).

Dakwah sirriyah (rahasia alias sembunyi-sembunyi) di zaman ini di tengah kaum muslimin adalah perkara yang tidak perlu, bahkan dakwah ini harus disebarkan dan dipulikasikan ke semua lapisan. Jika dakwah dilakukan secara sirriyah, maka akan mengundang kecurigaan. Karenanya, Umar bin Khoththob –radhiyallahu anhu– pernah melarang sebagian orang di zaman beliau untuk melakukan perkumpulan rahasia dan tersembunyi.

Dari Zaid bin Aslam Al-Adawiy –rahimahullah– dari bapaknya berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ نَاسًا يَجْتَمِعُوْنَ فِيْ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَأَتَاهَا فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, مَا كَانَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيْكَ وَلاَ بَعْدَ أَبِيْكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْكِ فَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّ هؤُلاَءِ النَّفَرَ يَجْتَمِعُوْنَ عِنْدَكَ, وَايْمُ اللهِ لَئِنْ بَلَغَنِيْ ذَلِكَ لأَحَرِّقَنَّ عَلَيْهِمُ الْبَيْتَ, فَلَمَّا جَاءُوْا فَاطِمَةَ قَالَتْ : إِنَّ ابْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ فَاعِلُ ذَلِكَ ، فَتَفَرَّقُوْا حَتَّى بُوْيِعَ لأَبِيْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

"Telah sampai (suatu berita) kepada Umar bin Khoththob bahwa ada beberapa orang yang akan berkumpul di rumah Fathimah. Maka umar mendatangi Fathimah seraya berkata, "Wahai Putri Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, tak ada seorang pun yang yang lebih kami cintai dibandingkan ayahmu, dan tak ada orang yang paling kami cintai setelah ayahmu dibandingkan anda. Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ada beberapa orang yang berkumpul di sisimu. Demi Allah, jika sampai berita hal itu kepadaku, maka sungguh aku akan membakar rumah mereka". Tatkala mereka mendatangi Fathimah, maka Fathimah berkata, "Sesungguhnya Umar bin Khoththob berkata demikian dan demikian. Sungguh ia melakukan hal itu". Lalu merekapun berpencar sehingga Abu Bakr -radhiyallahu anhu- dibai’at ". [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (14/567-568), dan Ibnu Ashim dalam Al-Mudzakkir wa At-Tadzkir (no. 17)]

Perhatikan sikap Umar ketika mendengar ada sebagian orang yang berkumpul di rumah Fathimah untuk membicarakan suatu permasalahan ketika hampir pemilihan kholifah sepeninggal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Umar khawatir dengan perkumpulan rahasia tersebut akan timbul fitnah (masalah). Oleh karenanya, beliau melarang dan mengancam mereka sampai akhirnya mereka membai’at Abu Bakr.

Perkumpulan dan pertemuan yang mengarah kepada suatu kerusakan adalah sesuatu yang pantas dilarang. Di zaman kita ini banyak bermunculan jama’ah dakwah islamiyyah. Diantara mereka ada yang memiliki metode dakwah sirriyah; tak semua orang boleh menghadiri tarbiyah mereka atau dauroh (basic training) mereka, sebab dalam pertemuan-pertemuan itu ada perkara-perkara rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang yang iltizam (baca: fanatik) kepada aturan dan rambu organisasi.[1] Mereka yang hadir ini sudah diketahui wala’ dan baro’-nya kepada organisasi. Adapun orang lain yang tidak demikian ciri dan kriterianya dari kalangan luar, maka mereka buatkan tarbiyah (pembinaan) dan dauroh yang sifatnya umum saja, sekedar menarik hati dan simpati saja. Adapun membicarakan masalah-masalah yang mendalam, dan rahasia, maka tak ada (disembunyikan), sebab para aktifis dakwah ini khawatir jika rahasia dan misi bocor dan diketahui oleh orang banyak –khususnya, pemerintah-. Inilah yang pernah diingatkan bahayanya oleh Al-Imam Umar bin Abdil Aziz –rahimahullah– dalam ucapannya,

« إِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يَتَنَاجَوْنَ فِيْ دِيْنِهِمْ دُوْنَ الْعَامَّةِ فَاعْلَمْ أَنَّهُمْ عَلَى تَأْسِيْسِ ضَلاَلَةٍ »

"Jika engkau melihat suatu kaum yang berbisik-bisik (berbicara rahasia) tentang agama mereka, tanpa orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merintis kesesatan". [HR. Ahmad dalam Az-Zuhd (1694 & 1705), Ad-Darimiy dalam As-Sunan (313), dan Al-Lalika’iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlish Sunnah wal Jama’ah (219 & 1093), dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm (3/160)]

Majelis-majelis tarbiyah yang diadakan oleh para hizbiyyun amat mengundang pertanyaan dan kecurigaan, sebab agama ini jelas, dan untuk semua orang. Tapi kenapa agama ini disembunyikan?! Bukankah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat malah bersemangat menyebarkannya. Cara dakwah sirriyah seperti ini di tengah kaum muslimin adalah cara dakwah yang menyelisihi Sunnah. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَعَلَيْكَ بِالْعَلاَنِيَّةِ وَإِيَّاكَ وَالسِّرَّ

"Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah sirriyah (ketertutupan)". [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (887). Hadits ini dikuatkan oleh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (1070)]

Kami pernah menyaksikan dengan mata kepala kami, ada sekelompok hizbiyyun yang mengadakan dauroh sirriyah (sembunyi-sembunyi) sampai mereka memerintahkan para peserta datang dua-dua orang dengan selang waktu yang berbeda. Jika tiba di tempat dauroh, maka semua peserta diperintahkan memasukkan sandal ke dalam rumah (tempat) dauroh, dan dilarang menghadiri sholat jama’ah, sebab –kata mereka- tampak keluarnya para peserta akan menimbulkan kecurigaan. Subhanallah, mereka telah berani meninggalkan sholat jama’ah dengan sangkaan belaka.

Perkara tanzhim, marhalah, tarbiyah, sama masalahnya dengan perkara at-tahazzub (berkumpul di atas sesuatu tertentu). Terkadang tahazzub adalah perkara tercela, dan terkadang ia terpuji. Yang terpuji adalah tahazzub yang dilakukan bersama kaum muslimin yang dipimpin oleh pemerintah muslim dalam konteks sebuah negara. Adapun yang tercela adalah tahazzub (perkumpulan) yang keluar dari kepemimpinan pemerintah lalu bergabung bersama perkumpulan-perkumpulan lain yang bersepakat untuk menyelisihi jama’ah (pemerintah dan rakyatnya) dalam perkara yang ma’ruf, menyeleneh dari kepemimpinan syar’iy, dan mengikuti hawa nafsu. Inilah yang biasa kita sebut "hizbiyyun".[2] [Lihat Al-Amr bi Luzum Jama’ah Al-Muslimin wa Imamihim wa At-Tahdzir min Mufaroqotihim (hal. 89-90) karya Syaikh Abdus Salam bin Barjas Alu Abdil Karim, cet. Maktabah Al-Furqon, 1422 H]

Tanzhim menurut bahasa adalah penyusunan & pengaturan[3] . Segala sesuatu butuh pengaturan. Oleh karena itu, negara sebenarnya juga adalah bentuk tanzhim, karena di dalamnya terdapat pengaturan dari seorang penguasa atas rakyat dan kemaslahatan mereka. Namun yang perlu kita ingat bahwa kini kata "tanzhim" sudah diplesetkan maknanya kepada makna yang sempit. Sehingga ada sebagian orang yang membuat tanzhim "bawah tanah" berupa dakwah dan tarbiyah sirriyah untuk melakukan pemberontakan dengan berbagai macam alasan dan dalih kosong yang tak bisa diterima oleh syari’at dan akal sehat. Inilah sebabnya para ulama dan ustadz salaf mengingakari tanzhim model seperti ini, bukan semua tanzhim. Wallahu a’lam. [Lihat Ad-Da’wah ilallah Baina At-Tajammu’ Al-Hizbi wa At-Ta’awun Asy-Syar’iy (hal. 133), cet. Maktabah Ash-Shohabah]

Selain itu, sering kita temukan tanzhim jama’ah pada hari ini yang bermuara pada ta’ashshub (fanatik kelompok) dan tahazzub (hizbiyyah) sehingga jika ada seorang di luar organisasinya, maka mereka menyikapi orang luar tidak seperti menyikapi anggota jama’ah (organisasi). Seakan-akan orang luar bukan saudara mereka yang se-islam.[4] Alangkah sialnya persaudaraan seperti ini !!!

Terakhir, perlu kita masukkan dalam wawasan kita bahwa terkadang tanzhim menjadi dosa besar tatkala mengantarkan kepada ta’ashshub (fanatik) atau pemberontakan. Oleh karena itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengancam orang yang melakukan seruan jahiliah.

Jabir bin Abdillah -radhiyallahu anhu- berkata,

كُنَّا فِي غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ يَا لَلْأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ فَسَمِعَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

"Dahulu kami dalam suatu perang, lalu ada seorang Muhajirin yang menendang pantat seorang Anshor. Maka Orang Anshor itu berkata, "Wahai orang-orang Anshor, tolonglah aku!!". Orang Muhajirin itu juga berkata, "Wahai orang-orang Muhajirin, tolonglah aku". Hal itu pun didengarkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata, "Kenapa ada seruan jahiliah!!" Mereka menjawab, " Ada seorang Muhajirin yang telah menendang pantat seorang Anshor". Beliau bersabda, "Tinggalkanlah seruan jahiliah itu, karena ia adalah ucapan yang busuk". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab At-Tafsir, dan Muslim dalam Kitabul Birri wa Sh-Shilah]

Tanzhim jika mengajak kepada ta’ashshub (fanatik) kepada kelompok atau organisasi dan mengusung kepada pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintah, maka inilah SERUAN JAHILIAH yang dilarang oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam, bahkan beliau ancam dalam sabdanya,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

"Bukanlah termasuk diantara kami orang yang memukul pipi, atau merobek kantong atau menyeru dengan seruan jahiliah". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (148)]

Pembaca yang budiman, perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengancam orang yang menyeru dengan seruan jahiliah. Bukankah model tanzhim hizbi adalah seruan jahiliah?! Ini membatalkan ucapan Jahada yang menyatakan bahwa tak ada ancaman bertanzhim saat JM berkata, " Ada ancaman orang yang bertanzhim? ("Tidak!", kata mad’u)".

Inilah beberapa potong nasihat dan penjelasan dari kami tentang perkara-perkara yang kami ta’liq (komentari) dalam ceramah Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc., seorang dai dan aktifis serta penggerak roda Ormas Wahdah Islamiyah. Semoga risalah ini menjadi penyadar bagi yang lalai, dan penghibur bagi pencinta Sunnah dan ahlinya.

تمت كتابة الرسالة يوم الجمعة 6 من جمادي الأول سنة 1429 هـ الموافق 1 من مايو سنة 2009 مـ

نسأل الله العافية والسلامة من الفتن وأهلها وأن يجعلنا في زمرة أهل السنة وأن يميتنا على الإسلام والسنة, وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين وصلى الله على نبينا وآله وصحبه, آمين

Footnote :

[1] Bagi pemula, biasanya mereka (para pegiat dakwah) itu belum terlalu terbuka dalam perkara yang mereka rahasiakan. Mereka dalam hal ini berbuat selangkah demi selangkah, tapi pasti. Orang-orang yang pernah mengalaminya bersama mereka sudah terlalu banyak. Cuma para pegiat dakwah itu sering mendustai kata hatinya dan pengikutnya, sehingga hal ini sering berusaha ditutupi. Tapi bangkai tak mungkin akan disembunyikan, kata orang. Pasti tercium dan diketahui oleh orang.

[2] Hizbiyyun ada dua: yang terlibat dalam partai politik dan yang tak terlibat. Tapi mereka yang tak berpartai memiliki aqidah yang menyelisihi aqidah salaf, mereka membangun wala’ dan bara’ di atas aqidah bid’ah tersebut atau di atas organisasi. Inilah hizbi yang sering kita ingatkan bahayanya.

[3] Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith (hal. 933)

[4] Perkara seperti ini sering terjadi di lapangan. Sebagai contoh, mereka (para pegiat tanzhim bid’ah ini) jika memiliki anak kajian, maka mereka tak ridho dan murka jika anak kajian mereka mendatangi kajian lain, walapun yang didatangi adalah kajian Ahlus Sunnah alias salafiyyun. Ini adalah hizbiyyah yang tercela!! Jika ada anak kajian mereka dari kalangan akhawat dilamar oleh seseorang, walapun sang pelamar adalah Ahlus Sunnah, maka mereka (para pegiat tanzhim) ini berusaha seribu cara untuk membatalkan lamaran itu. Ini adalah hizbiyyah yang tercela !! Jika ada yang mengingkari seorang ustadz di antara mereka –padahal sudah jelas salah-, maka mereka menuduh sang pengingkar sebagai batu sandungan dakwah. Ini adalah jerat hizbiyyah!! Jika ada seorang hizbi yang bersama mereka, maka hizbi ini dianggap sebagai saudara dekat sehingga menutup mata dari penyimpangannya. Inilah bentuk hizbiyyah dan fanatik golongan yang tercela dalam Islam.

Tags:, , , , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 5)
  2. Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah
  3. Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Muqaddimah)
  4. Katanya Salafy Melarang Demonstrasi, lalu Kenapa Wahdah-Salafy Melakukannya?
  5. Bukan dari Rakyat
  6. Fatwa Syaikh Fauzan Tentang Pemilu
  7. Menjawab Keheranan dan Keta’juban Ustadz Harman Tajang (Da’i Wahdah Islamiyah) tentang Demonstrasi Damai
  8. Jawaban Ilmiah Terhadap Silsilah Pembelaan Wahdah Islamiyah (Bag. 1)
  9. Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 2)
  10. Jangan Buang Bom Sembarang Tempat!!!

One Response to Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 6)

  1. Bismillah.

    Subhanallah, walhamdulillah, Allahu akbar.

    Semoga Allah ta’ala segera mengalahkan mereka sebagaimana kabar dari Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam; “…tidaklah keluar diantara mereka, kecuali akan terkalahkan”.

    Sungguh tanzhim bid’ah yang dibuat oleh para hizbiyyun semakin terendus dan terlihat kejelekan-kejelekannya. Hingga mereka beralih membuat tanzhim-tanzhim yg berbeda tetapi dengan “wajah” yang sama untuk mengelabui ummat. Semoga Allah tampakkan kejelekan mereka, dan menghancurkan mereka. Ana mengetahui hal tersebut sebab telah berkecimpung di dalamnya sekitar +- 5 thn lamanya di Ikhwanul Muslimin.

    Semoga Allah tabaroka wa ta’ala mengokohkan kita di atas manhaj salaf, ahlus sunnah wal jamaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *