Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 3)

Dilihat 2,271 kali | Kirim Ke Teman

"Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 3

"Membolehkan Demonstrasi "

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Diantara bid’ah dan pelanggaran besar yang pernah dilakoni oleh orang-orang WI adalah demonstrasi. Mereka menyangka berdemo adalah sesuatu yang boleh dan uslub (metode) yang baik dalam menasihati pemerintah. Sehingga merekapun berusaha melegitimasi demo yang pernah mereka lakukan dengan berbagai macam dalih, seperti mereka katakan, "Demo tak apa-apa, yang penting tidak berbuat ricuh, kekacauan dan keributan; yang penting dengan cara damai".

Sekarang kita mau bertanya, kapan demo itu dianggap kekacauan dan kapan dianggap damai. Bagaimana jika ada yang berdemo dengan teriak-teriak dan berkonvoi melalui trotoar, tidak menghalangi pengendara. Sesampainya di depan gedung DPR atau Gubernur mereka berteriak dengan bantuan loadspeaker , menuntut penguasa agar siap diajak bicara. Apakah ini damai??! Bagaimana jika ada yang demo seperti di atas, tapi sesampainya di halaman Gubernur, mereka bakar ban mobil, dan berteriak di hadapan pemerintah. Apakah ini demo yang damai??!

Nah, orang-orang yang membolehkan demo dengan syarat damai akan bingung memberikan jawaban. Apa batasan dan dhowabith (kriteria) demo itu damai. Lalu siapa diantara ulama yang menyatakan bahwa demo yang damai adalah boleh?!!! Kami yakin para ustadz WI tak mampu mendatangkan pernyataan seorang ulama dalam membolehkannya, kecuali orang-orang yang yang sepemikiran dengan mereka, seperti Salman bin Fahd Al-Audah, Safar Al-Hawali, dan A’idh Al-Qorniy.

Dengarkan Jaahada berkata dalam membolehkan demo dengan syarat damai, " Masuk dalam kabiirah? Ya, mungkin bisa masuk dalam kabiirah. Tapi ini perlu pembahasan khusus. Perlu pengkajian terhadap apa yang disebutkan para ulama kita tentang kapan tidak boleh seorang melakukan demonstrasi atau keluar dari sebuah pemerintah (khuruj alal hukkam, pen). Bahkan terus terang, saya mau berikan wawasan. SAYA MAU BERIKAN WAWASAN! Misalnya, Al-Akh Sofyan misalnya-kepala sekolah di sebuah SMA misalnya. Lalu kemudian dia mengeluarkan satu kebijakan: "Semua siswi SMA itu tidak boleh Jilbab". Semua guru-guru sudah berusaha untuk mendekati, menasehati, menyampaikan, dan seterusnya, supaya dicabut kebijakan itu. Orang tua siswi juga sudah datang berikan nasehat. Pokoknya dia tetap bersikukuh dengan kebijakannya. Maka dilihat bahwa tidak ada jalan untuk memberikan pressure dan tekanan supaya dia mencabut kebijakan itu, kecuali anak-anak siswa itu disuruh demonstrasi. Tapi demonstrasi dalam hal ini yang kita maksudkan tidak anarkis. Memberikan pressure dan tekanan, supaya dia bisa mencabut kebijakan dan keputusan tersebut. Dan itulah jalan yang bisa ditempuh untuk bisa dia down dan bergeser dari kebijakannya. Saya mau tanya! Demonstrasi yang seperti itu, boleh atau tidak? ("Boleh", jawab pendengar). Boleh atau tidak? Artinya, dia tidak akan bergeser dari kebijakannya melarang siswa untuk berjilbab, seandainya tidak dengan cara seperti itu, ‘a? BAHKAN WAJIB!. Karena kita nanti mendapatkan hak-hak kita dengan cara seperti itu. Tapi, okelah kita mengatakan secara umum, dia tidak boleh!"

Demikianlah pernyataan sang Ustadz bahwa demo boleh ketika demo dilakukan dengan damai, tanpa bersikap anarkis, dan menjadi jalan terakhir. Sekali lagi kita bertanya, "Siapakah ulama di belakang kalian yang membolehkan demo seperti ini. Kami yakin orang-orang diantara kalian akan diam seribu bahasa, dan berkelit, "Tapi kan, tapi kan…" Simpanlah kata "tapi" dalam laci baik-baik.

Kami yakin orang -orang WI terpengaruh dengan para tokoh kenamaan mereka, para da’i hizbi, semisal Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, dan A’idh Al-Qorniy. Silakan dengarkan pernyataan dai-dai idola mereka ini dalam membolehkan demo, dan berikut bantahannya:

Safar Al-Hawali yang pernah berkata: “Sesungguhnya demonya para wanita merupakan salah satu di antara uslub (metode) da’wah dan memberi pengaruh”.[1]

A’idh Al-Qorni yang berkata ketika bangga menyaksikan para wanita Al-Jaza’ir berdemo: “Demi Allah, Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah keluar di Al-Jaza’ir dalam waktu sehari 700 ribu wanita muslimah yang berhijab menuntut penerapan syari’at Islam”.[2]

Salman Al-Audah berkata: “Desakan manusia tidak mungkin dilalaikan dalam segala kondisi di era sekarang ini. Kita sekarang di era orang-orang mayoritas memiliki pengaruh besar. Mereka mampu menjatuhkan para pemimpin besar, menggoncang singgasana, menghancurkan pagar-pagar dan pembatas. Senantiasa (masih teringat)gambar-gambar/foto orang-orang yang tidak bersenjata menghadapi tank-tank dengan dada mereka di Uni Soviet”.[3]

Seorang ulama’ salafi, Syaikh Abdul Malik Al-Jaza’iry berkata dalam menanggapi ucapan ketiga da’i di atas: “Demi Allah, sungguh urusan mereka itu aneh ! Siapa yang bisa membayangkan kalau Jazirah Arab –setelah adanya da’wah Syaikh Muhammad Ibn Abdil Wahhab- akan mampu melahirkan orang-orang semisal mereka?! Setelah kehidupan yang penuh kesucian dijaga oleh kaum muslimin Jazirah Arab,maka datanglah Safar, Salman, dan A’idh Al-Qorni di hadapan kaum hawa agar mereka bisa mengeluarkannya dari kehormatannya karena cuma ingin memperbanyak jumlah dengannya dan memperkuat diri dengan para wanita?! Safar Al-Hawali menerangkan pengaruh yang dalam ketika keluarnya para wanita berdemo, , Al-Qorni menguatkannya dengan sumpah!! , sedang Salman memompa mereka untuk bersabar menghadapi tank-tank. Alangkah anehnya agama mereka!” [Lihat Madarik An-Nazhor (hal. 420)]

Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz–rahimahullah- berkata, “Aku tidak memandang bahwa demonya para wanita ataupun demonya para laki-laki termasuk solusi . Akan tetapi itu merupakan musibah, dan termasuk sebab kejelekan, termasuk sebab dizhaliminya sebagian orang, dengan cara yang tak benar. Akan tetapi cara-cara yang syar’i adalah menyurat, menasihati berda’wah kepada kebaikan dengan cara damai. Demikianlah yang ditempuh para ulama; demikianlah para sahabat Nabi –Shallallahu alaih wasallam- dan para pengikut mereka dalam kebaikan: dengan cara menyurat, berbicara langsung dengan orang yang berbuat salah, dengan pemerintah, dan penguasa dengan menghubunginya, menasihatinya, dan menyuratinya tanpa membeberkannya di atas mimbar dan lainnya!! Katanya: Pemerintah melakukan begini, akhirnya begini, Wallahul Musta’an“.

Beliau juga berkata: “Dikategorikan dalam masalah ini apa yang dilakukan oleh sebagian orang berupa demo yang menimbulkan keburukan yang besar bagi para da’i. Maka karnaval dan teriak-teriakan bukanlah merupakan jalan untuk memperbaiki dan da’wah [4] . Jalan yang benar (dalam menasihati pemerintah,pent.) adalah dengan cara berziarah dan menyurat dengan cara yang baik”.[5]

Saya mau berikan wawasan bahwa demo adalah termasuk cara dan metode dakwah kaum Khawarij yang dihias-hiasi oleh setan sehingga mereka menjadikannya jalan dan solusi dalam dakwah.

Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan hukum demo, “Jadi seorang da’i, orang yang memerintahkan kebaikan, dan melarang dari kemungkaran, wajiblah bagi dirinya untuk menghiasi dirinya dengan kesabaran, mengharapkan pahala dan ganjaran (di sisi Allah), menanggung segala sesuatu yang ia dengarkan atau terkadang ia dicemooh dalam dakwahnya. Adapun seorang da’I menempuh cara kekerasan, atau dia -wal’iyadzu billah- menempuh cara dengan menyakiti manusia, mengganggu orang, atau menempuh cara perselisihan dan pertengkaran, dan memecah belah kesatuan. Ini merupakan perkara-perkara setan. Dia adalah prinsip dakwah Khawarij. Inilah prinsip dakwah Khawarij !! Mereka itulah yang mengingkari kemungkaran dengan senjata, mengingkari sesuatu perkara-perkara yang mereka anggap tidak boleh dan menyelisihi keyakinan mereka dengan cara perang, menumpahkan darah, mengkafirkan orang, dan beberapa perkara lain. Maka bedakanlah antara dakwah para sahabat Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- dan Salafush Sholeh dengan dakwah Khawarij dan orang yang menempuh manhaj (jalan hidup) mereka, dan menjalani jalan mereka. Dakwahnya para sahabat dengan cara hikmah, nasehat, menjelaskan kebenaran, dengan penuh kesabaran, dengan berhias kesabaran, dan mencari pahala dan ganjaran. Sedangkan dakwah Khawarij dengan cara membunuh manusia, menumpahkan darah mereka, mengkafirkan mereka, memecah-belah kesatuan, dan merobak-robek barisan kaum muslimin. Ini adalah perbuatan-perbuatan keji dan bid’ah. Sepantasnya orang-orang yang mengajak kepada perkara-perkara seperti ini dijauhkan dan dijauhi, diburuk-sangkai. Mereka itu telah memecah-belah kesatuan kaum muslimin. Padahal persatuan itu merupakan rahmat,sedangkan perpecahan merupakan sengsara dan adzab-wal’iyaadzu billah-. Andai suatu penduduk negara di atas kebaikan, bersatu di atas satu kata, niscaya mereka akan memiliki kharisma dan wibawa. Akan tetapi penduduk negara kita sekarang sudah berkelompok-kelompok dan terkotak-kotak. Mereka telah sobek, berselisih, musuh dari kalangan mereka masuk ke tengah-tengah mereka, dari sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Ini merupakan cara bid’ah, dan keji. Merupakan jalan seperti yang telah berlalu keterangannya, datang dari orang-orang yang mau memecah-belah kesatuan, dan orang-orang yang telah membunuh Amirul Mukminin Ali-radhiyallahu anhu- dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan sahabat, peserta bai’at Ridhwan. Mereka telah membunuh beliau sedang mereka menginginkan “kebaikan”!! Sedang mereka itu adalah pemimpin kerusakan, pemimpin bid’ah,dan pemimpin perpecahan. Mereka itulah yang memecah-belah persatuan kaum muslimin, dan melemahkan barisan kaum muslimin. Demikian juga sampai orang-orang yang berpendapat bolehnya, mengadopsinya, dan menganggapnya baik. Maka orang seperti ini jelek aqidahnya, dan harus dijauhi.Aku tahu-wa’iyaadzu billah- bahwa ada seorang yang disiapkan untuk membahayakan ummatnya dan teman-teman majelisnya, serta orang-orang yang ada disekitarnya. Nasihat yang haq, hendaknya seorang muslim menjadi seorang bekerja, membangun, mengajak kepada kebaikan, dan mencari kebaikan sebenar-benarnya. Dia harus mengucapkan kebenaran, berdakwah dengan cara yang benar dan lembut, berbaik sangka terhadap saudaranya, serta mengetahui bahwa kesempurnaan merupakan sesuatu yang sulit diraih, bahwasanya yang ma’shum adalah Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- , dan andaikan para pemerintah tsb hilang/pergi, maka tak akan datang orang yang lebih bagus dibandingkan mereka. Andaikan semua orang yang ada hilang/pergi-sama saja diantara mereka ada pemerintah, penanggung jawab, atau para penuntut, atau rakyat. Andaikan ini semuanya pergi/hilang-rakyat negara mana saja-, niscaya akan datang pemimpin yang lebih jelek darinya !! Karena tak akan datang suatu masa kecuali yang berikutnya lebih buruk. Jadi, orang yang menginginkan agar orang sampai pada derajat kesempurnaan, atau menjadi orang-orang yang ma’shum dari segala kesalahan dan kejelekan. Orang (yang berpemikiran) macam ini adalah orang sesat. Mereka ini adalah orang-orang Khawarij. Mereka inilah yang memecah-belah persatuan manusia dan menyakiti mereka. Ini merupakan tujuan orang-orang yang memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan berbagai bid’ah dari kalangan orang Rofidhoh, Khawarij, Mu’tazilah, dan seluruh jenis pelaku kejelekan dan bid’ah”. [Lihat Majallah Safinah An-Najaah, (edisi 2), Januari 1997 M.]

Diantara metode yang paling buruk dalam menasihati penguasa, keluar ke jalan-jalan berkonvoi dalam rangka berdemo, apakah disertai kekacauan, ataukah, tidak!! Perlu dimasukkan dalam WAWASAN BARU KITA bahwa demo yang damai adalah bid’ah yang tercela dan terlarang. Tapi sekali lagi, anda jangan ditipu oleh setan lalu berkata, "Demo, kalaupun dosa, yah paling dosa kecil, bukan dosa besar". Sebab ini adalah peremehan terhadap bid’ah dan dosa.

Dengarkan Al-Faqih Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaiminrahimahullah– berkata, “Demonstrasi merupakan perkara baru yang tidak pernah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaih wasallam- , dan tidak pula di zaman Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin dan para sahabat-radhiyallah anhum-. Kemudian di dalamnya juga terdapat kerusuhan, dan huru-hara yang menjadikannya terlarang, dimana juga terjadi di dalamnya pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu dan lainnya. Juga terjadi ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, antara anak muda dengan orang tua , serta perkara-perkara yang semacamnya, berupa kerusakan dan kemungkaran.Adapun masalah menekan dan mendesak pemerintah, maka jika pemerintahnya muslim, cukuplah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya –Shollallahu alaih wasallam- sebagai pengingat baginya. Ini merupakan sebaik-baik perkara (baca:nasihat) yang disodorkan kepada seorang muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka (orang-orang kafir) itu tidak mau mempedulikan para demonstran. Boleh jadi Pemerintah kafir itu akan bersikap ramah dan baik di depan para demonstran, sekalipun di batinnya tersembunyi kejelekan. Karenanya, kami memandang bahwa demo merupakan perkaara munkar. Adapun ucapan (baca: alasan) mereka: “Inikan demo yang damai (tak ada kerusuhan,pent.)!!”, maka boleh jadi demonya damai di awalnya atau awal kalinya, kemudian berubah jadi demo perusakan.Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mengikuti jalan hidupnya para Salaf. Karena Allah telah memuji orang-orang Muhajirin dan Anshor; Allah telah memuji orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan ”. [Lihat Buletin Silsilah Ad-Difa’ anis Sunnah (7): “Aqwaal ‘Ulama’ As-Sunnah fil Muzhaharat wa maa Yatarattab Alaih min Mafasid ‘Azhimah”, (hal.2-3), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA]

Alangkah benarnya apa yang dinyatakan oleh beliau bahwa demo-walaupun tanpa kerusuhanmerupakan perkara baru dan bid’ah. Bid’ahnya orang-orang Khawarij. Anggaplah demo itu damai, akan tetapi itu merupakan sarana dalam menyebarkan aib penguasa, karena dengan keluarnya seseorang ke jalan-jalan untuk demo, akan memberikan opini bahwa mereka akan pergi mengeritik, dan membongkar aib, dan kekurangan penguasa. Membeberkan aib penguasa muslim merupakan metode lama yang dipergunakan oleh kaum Khawarij yang suka memberontak.

Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqolany rahimahullah– berkata dalam menjelaskan hakekat orang-orang Al-Qo’adiyyah (salah satu kelompok Khawarij), Al-Qo’adiyyah: adalah kelompok Khawarij yang tidak memandang (harusnya) memerangi (pemerintah). Bahkan mereka hanya mengingkari pemerintah yang zholim sesuai kemampuan, mereka mengajak kepada pendapat mereka, dan juga mereka menghias-hiasi –disamping hal tsb– untuk memberontak, serta mengira itu baik” [ Lihat At-Tahdzib (8/114) sebagaimana dalam Lamm Ad-Durr Al-Mantsur (hal.60) karya Jamal Ibn Furoihan Al-Haritsy, cet. Dar Al-Minhaj, Mesir.]

Dalam kitabnya yang lain, Al-Hafizh rahimahullahberkata, "Al-Qo’adiyyah: adalah orang-orang yang menghias-hiasi pemberontakan atas pemerintah, sekalipun mereka tidak melakukan (pemberontakan itu) secara langsung”. [ Lihat Hadyus Sari (459) yang dinukil dari Lamm Ad-Durr Al-Mantsur, hal.60, cet. Dar Al-Minhaj.]

Jadi, tugas Al-Qo’adiyyah dahulu sama persis dengan tugas sebagian orang yang membakar semangat pemuda-pemuda untuk membangkang, dan tidak taat kepada pemerintah, bahkan terkadang mengarahkan mereka kepada pemberontakan fisik lewat ajang demonstrasi. Ini adalah tercela dalam pandangan ulama’ Ahlus Sunnah berdasarkan dalil-dalil, baik naqli, maupun aqli.

Melakukan demo merupakan bentuk pemberontakan non-senjata yang akan mengantarkan kepada pemberontakan senjata, dan fisik. Demo bukanlah perkara yang remeh, yang orang boleh berijtihad di dalamnya, sebab ia merupakan bentuk khuruj alal hukkam (pemberontakan kepada penguasa). Sedang memberontak kepada penguasa muslim adalah perkara yang menyelisihi aqidahnya salaf. Pemberontakan sekecil apapun, itu terlarang; walaupun menghasung orang dengan ucapan dalam melawan pemerintahnya !!

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaiminrahimahullah– berkata dalam Syarh Rof’il Asatin fi Hukmil Ittishol bi As-Salathin, "Bahkan anehnya, celaan itu ditujukan kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dikatakan kepada beliau, "Berbuat adillah", dan juga dikatakan, "Ini adalah pembagian yang tak diinginkan wajah Allah dengannya". Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, "Akan keluar dari semisal orang ini, orang yang seorang diantara kalian akan meremehkan sholatnya jika dibandingkan sholat orang itu". Ini merupakan dalil terbesar bahwa pemberontakan terhadap pemerintah (khuruj alal hukkam, -pen.) bisa dengan senjata, ucapan dan komentar. Maksudnya, orang ini (Dzul Khuwaisiroh) tidak mengambil senjata melawan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, tapi orang itu hanya mengingkari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Adapun sesuatu yang disebutkan dalam sebagian kitab-kitab Ahlus Sunnah bahwa pemberontakan melawan pemerintah adalah pemberontakan dengan menggunakan senjata, maka yang mereka maksudkan dengan hal itu adalah pemberontakan akhir lagi terbesar, sebagaimana halnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa zina bisa mata, telinga, kaki. Tapi zina terbesar –yang merupakan zina pada hakikatnya- adalah zina farji. Ungkapan seperti ini dari sebagian ulama’, inilah maksud mereka. Kami tahu betul -berdasarkan konsekuensi tabiat kondisi- bahwa tak mungkin ada pemberontakan bersenjata, kecuali didahului oleh pemberontakan dengan menggunakan lisan, dan ucapan. Manusia tak mungkin akan mengambil senjata untuk memerangi pemerintah tanpa ada sesuatu yang memancing emosi mereka. Pasti disana ada sesuatu yang memancing emosi mereka, yaitu ucapan. Jadi, pemberontakan melawan pemerintah dengan menggunakan ucapan merupakan pemberontakan pada hakikatnya yang telah ditunjukkan oleh Sunnah dan waqi’ (realita). Adapun Sunnah, maka anda telah mengetahuinya. Adapun realita, maka sesungguhnya kita telah tahu dengan yakin bahwa pemberontakan bersenjata adalah cabang[6] dari pemberontakan lisan dan ucapan. Karena manusia tak akan memberontak melawan pemerintahnya hanya sekedar ada yang bilang, "Ayo jalan, ambil pedang". Mesti disana ada pengantar dan pembukaan berupa celaan kepada pemerintah, dan menutupi kebaikan-kebaikan mereka. Kemudian hatipun dipenuhi dengan perasaan marah, dan dendam. Ketika itulah terjadi bala’".[7]

Ada seorang penanya pernah berkata kepada Syaikh Sholih bin Ghonim bin As-Sadlanhafizhohullah-, "Saya melihat pada jawaban lalu bahwa anda tak membatasi pemberontakan pada pemberontakan bersenjata. Bahkan anda menganggap bahwa pemberontakan terkadang dengan lisan. Apakah anda punya penjelasan terhadap permaslahan ini secara khusus? Sebab diperhatikan adanya sikap bergampangan kebanyakan orang dan dai dalam masalah berkomentar (tentang aib penguasa, -pen.), dan hal itu tak dianggap bermasalah dan sebagai pemberotakan. Jika dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya di dalam perbuatan ini ada semacam pemberontakan", maka ia akan berkata, "Kami tetap berwala’, dan kami tidak melakukan pemberontakan melawan pemerintah". Mereka memandang bahwa dalam ucapan mereka ini terdapat kemaslahatan yang sebenarnya untuk pemerintah?"

Syaikh Sholih bin Ghonim As-Sadlanhafizhohullah– menjawab, "Pertanyaan ini penting, karena sebagian saudara-saudara kita terkadang melakukan hal ini dengan niat baik dalam keadaan meyakini bahwa pemberontakan hanya dengan bersenjata saja. Pada hakikatnya, pemberontakan tidaklah terbatas pada pemberontakan dengan kekuatan senjata atau membangkang dengan berbagai macam metode yang dikenal saja. Bahkan pemberontakan dengan ucapan lebih parah daripada pemberontakan bersenjata, karena pemberontakan dengan senjata dan kekerasan tidaklah dikembangkan (dikompori) kecuali oleh ucapan. Jadi, kami katakan kepada saudara-saudara kita yang terseret semangat, dan kami menyangka dari mereka ada keshalihan –insya Allah Ta’ala-, "Wajib bagi mereka untuk berhati-hati". Kami juga katakan kepada kepada mereka, "Pelan-pelan, karena sikap keras kalian akan menumbuhkan dalam hati (kebencian, -pent), akan menumbuhkan hati yang segar yang tidak mengenal kecuali emosi sebagaimana halnya sikap keras itu akan membuka pintu di depan orang-orang yang memiliki tendensi sehingga mereka mengungkapkan sesuatu yang terdapat dalam hatinya, walaupun itu benar atau batil. Tak ragu lagi, pemberontakan dengan kalimat, dan menggunakan pena dengan cara apapun atau menggunakan kaset atau ceramah atau seminar dalam memompa manusia dalam bentuk tak syar’iy. Aku yakini hal ini adalah asas pemberontakan bersenjata. Aku tahdzir (ingatkan) bahaya hal itu dengan sekeras-kerasnya, dan aku katakan kepada mereka, "Wajib bagi kalian memperhatikan akibat buruknya, dan juga orang-orang yang mendahului mereka kepada perkara seperti ini". Hendaknya mereka memperhatikan fitnah (masalah dan akibat buruk) yang dialami oleh sebagian masyarakat muslim, apa sebab fitnah itu dan langkah apa yang menyeret mereka kepada kondisi yang mereka hadapi. Jika kita telah mengetahui hal itu, maka ia akan mengetahui bahwa pemberontakan dengan kalimat (ucapan), menggunakan sarana informasi-komunikasi untuk menjauhkan orang, memompa emosi, dan menekan. Semua ini akan menumbuhkan fitnah (masalah) dalam hati".[8]

Kemudian, mengingkari kemungkaran perlu didudukkan dengan baik dan diletakkan sesuai porsinya. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, dengan mengingkari kemungkaran yang dibuat oleh rakyat. Sedang rakyat pun harus disikapi dengan baik dan hikmah.

Apabila anda bertanya tentang metode syar’i dalam mengingkari penguasa, maka perkara ini telah dijelaskan oleh para ulama. Dalam pembahasan berikut ini kami akan kupas metode mereka mengingkari, dan menasihati penguasa. Ini perlu diketahui, karena banyak orang yang tak paham.

Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata, “perkara yang dibolehkan dalam amar ma’ruf dan nahi Mungkar hubungannya dengan penguasa, yaitu memberikan pengertian dan nasihat. Adapun berkata-kata kasar, seperti “Wahai orang zholim”, “wahai orang yang tidak takut kepada Allah!” Jika hal itu menggerakan/membangkitkan fitnah (musibah) yang menyebabkan kejelekannya tertular kepada orang lain, maka tidak boleh dilakukan. Jika ia tidak takut, kecuali atas dirinya, maka boleh menurut jumhur ulama. Menurut pendapatku, hal itu terlarang.” [ Lihat Al- Adab Asy-Syar’iyyah (1/195-197)]

Ibnu An-Nuhhas Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata, “Seseorang yang menasehati penguasa hendaknya memilih pembicaraan empat mata bersama penguasa dibandingkan berbicara bersamanya di depan publik, bahkan diharapkan andaikan ia berbicara dengan penguasa secara sirr ((rahasia), dan menasehatinya secara tersembunyi, tanpa pihak ketiga.” [Tanbih Al- Ghofilin (hal. 64)]

As-Syaukaniy -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya bagi orang yang nampak baginya kesalahan penguasa dalam sebagian masalah agar ia menasihati penguasa, dan tidak menampakan celaan padanya didepan publik”.[Lihat As-Sail Al-Jarrar (4/556)]

Apa yang ditetapkan oleh Ibnul Jauziy, Ibnu An-Nahhas dan Asy-Syaukaniy, bahwa menasihati penguasa dengan cara rahasia dan tersembunyi, ini telah dikuatkan oleh hadits-hadits dan atsar dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , para sahabat, serta para ulama’ Ahlus Sunnah yang menapaki jalan mereka.[9]

Sekarang kami nasihatkan kepada orang yang suka demo dan juga orang yang menghasung mereka kepada hal itu dengan mengutip ucapan Penulis Beda Salaf Dengan "Salafi" (BSDS), Mut’ab Al-Ashimi, "Cara mengkritik seperti ini adalah perbuatan dosa dan keluar dari manhaj pertengahan (Al-Wasithiyyah) dalam mengkritik dan menghukumi orang lain. Dan ini bukanlah termasuk akhlak Salafus Shalih dalam persoalan etika menasihati saudara mereka yang berakidah Ahlus Sunnah".[Lihat BSDS (hal.47)]

Kami juga nasihati JM, dan orang yang simpati kepadanya dengan ucapan Penulis BSDS (hal.38) saat ia menasihati salafiyyun secara zholim, "Jadilah kalian dai-dai –bukan pengaku-aku (saya salafi.-pent.)—yang mengajak kepada salaf yang sebenarnya. Yaitu perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan pandangan Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa ada sikap ifrath dan tafrith.[10] Dan jangan mengajak kepada salaf hanya perkataan tanpa ada amalan".

والدعاوى ما لم يقيموا عليها بينات أبناؤها أدعياء

"Semua pengakuan, tanpa ada bukti.

Adalah omong kosong". [Lihat BSDS (hal.39)]

Inilah salah satu sebab Syaikh Abdul Aziz bin Baaz mengirim surat ke Amir Nayif bin Abdul Aziz di Riyadh agar kedua orang ini (Safar Al-Hawaliy, dan Salman Al-Audah) diberhentikan dari aktivitas dakwah karena memiliki pernyataan-pernyataan yang menyelisihi aqidah salaf, seperti membakar semangat para pemuda untuk memberontak.[11]

Pembaca yang budiman, untuk menasihati orang lain –khususnya pemerintah-, tak perlu melakukan demonstrasi. Seorang dalam menasihati mereka tak ada tanggung jawab di pundak kita kecuali hanya sekedar menyampaikan saja. Jika nasihat kita diterima, maka itulah yang kita harap. Jika tak diterima, maka hendaknya kita BERSABAR, jangan emosi, dan terbawa perasaan sehingga menyeret kita untuk melakukan demonstrasi dan pemberontakan ataupun pemukulan. Jangan seperti sebagian MUTASHOWWIFUN (yakni, Jama’ah Tabligh) ketika dakwahnya tak diterima, terkadang mereka emosi dan memukul orang.

Teladan dalam berdakwah, jelas bagi kita. Lihatlah para nabi dan rasul, saat mereka berdakwah tak ada diantara mereka yang melakukan TEKANAN atas kaumnya bahwa mereka harus menerima dakwah dan nasihatnya.

Allah –Ta’ala– berfirman,

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". dan Katakanlah kepada orang-orang yang Telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". jika mereka masuk islam, Sesungguhnya mereka Telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, Maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. [Ali Imraan: 20]

Allah –Ta’ala– berfirman,

Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka". (QS. Ar-Ra’d: 40)

Allah –Ta’ala– berfirman,

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku". (QS. Qoof: 45)

Allah –Ta’ala– berfirman,

"Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,". (QS. Al -Ghosyiyah: 21-22)

Hudzaifah bin Al-Yamanradhiyallahu anhu– berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita dahulu berada dalam kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan, lalu kami berada di dalamnya. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan? Beliau jawab, "Ya". Aku katakan, "Apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan?". Beliau jawab, "Ya". Aku katakan lagi, "Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?" Beliau jawab, "Ya". Aku katakan, "Bagaimana?" Beliau bersabda, "Akan ada setelahku beberapa pemimpin yang tak berpetunjuk dengan petunjukku, dan dan berteladan dengan sunnahku. Akan tegak diantara mereka beberapa tokoh yang hatinya adalah hati setan dalam tubuh seorang manusia". AKu katakan, "Apa yang harus aku lakukan ya Rasulullah, jika menjumpai hal itu?" Beliau bersabda, "Engkau mendengar dan taat kepada pemerintah itu, walaupun ia memukul punggungmu, dan mengambil hartamu. Dengar dan taatilah". [HR. Muslim dalam Kitab AL-Imaroh: bab Wujub Mulazamah Jama’ah Al-Muslimin inda Zhuhur Al-Fitan wa fi Kulli Haal wa Tahrim Al-Khuruj alaa Ath-Tho’ah wa Mufaroqoh Al-Jama’ah (3435)]

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ.

“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah ia menampakkan secara terang terangan. Akan tetapi hendaknya ia ia mengambil tangannya agar ia bisa berduaan. Jika ia terima ,aka itulah yamg diharap, jika tidak maka sungguh ia telah menunaikan tugas yan ada pada pundaknya”. [HR Ahmad dalam Al-Musnad (3/403-404) dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096, 1097, 1098). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (hal. 514)]

Jika kita memperhatikan ayat-ayat dan hadits ini, maka kita akan mendapatkan faedah bahwa menasihati umat harus bersabar dan tidak boleh memaksa dan MENEKAN mereka agar mereka mengikuti dakwah kita. Kita hanya diperintahkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Jika diterima, yah syukur dan pujilah Allah, sebab anda akan mendapatkan janji di sisi Allah. Jika tak diterima, maka sabar, dan jangan melampaui batas sehingga melanggar batas sebagai seorang nashih (penasihat). Itulah dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dakwah selain mereka, selalu dibangun di atas perasaan, tanpa dilandasi dengan ilmu!!

Jadi , apa yang dinyatakan oleh Al-Ustadz Jahada Mangka bahwa jika tak ada jalan untuk mendapatkan hak-hak kita, maka boleh berdemo. Ini jelas salah, dan menyalahi jalannya para salaf !!

Terakhir kami akan nukilkan sebuah atsar yang menggambarkan sikap Imam Ahlis Sunnah, Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibaniyrahimahullah-. Seorang diantara murid beliau, Abul Harits Ahmad bin Muhammad Ash-Sho’ighrahimahullah– berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang suatu perkara yang terjadi di kota Baghdad; adanya suatu kaum yang mau memberontak, "Apa yang anda katakan tentang memberontak bersama kaum itu?" Kemudian beliau mengingkari mereka seraya berkata, "Subhanallah. Jagalah darah, jagalah darah. Aku tidak memandang hal itu baik, dan aku tak memerintahkannya. Bersabar di atas kondisi kita hadapi lebih baik dari fitnah (masalah yang timbul dari pemberontakan, -pen.). Nanti akan tertumpahkan darah di dalamnya, harta-harta akan dihalalkan, dan kehormatan-kehormatan akan ternodai. Bukankah engkau telah mengetahui kondisi manusia dahulu (yakni, pada hari-hari fitnah)[12]" Aku (Ash-Sho’igh) katakan, "Bukankah manusia pada hari ini juga berada dalam fitnah (masalah), wahai Abu Abdillah?" Beliau berkata, "Walaupun hal itu terjadi, maka itu hanyalah fitnah (masalah) yang khusus (parsial) saja. Jika terjadi perang, maka fitnah (masalah dan kerusakan) akan merata, dan jalan-jalan akan terputus. Bersabar di atas kondisi seperti (sekarang) ini, dan agamamu selamat adalah lebih baik bagimu". (Kata Ash-Sho’igh), "Aku melihat beliau mengingkari pemberontakan terhadap pemerintah seraya berkata, "Jagalah darah; aku tak memandang hal itu boleh, dan aku tak memerintahkannya".[13]

Inilah mauqif (sikap) yang kokoh dan benar dari seorang Imam Ahlus Sunnah di zamannya. Beliau diperintahkan menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka beliau bersabar, dan rela di siksa dalam waktu lama. Saat beliau dalam kondisi sempit seperti itu beliau diajak memberontak dan melawan Kholifah saat itu, tapi beliau tegar di atas Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan tidak terbawa perasaan. Bahkan beliau memerintahkan mereka bersabar dan melarang mereka melawan pemerintah. Beliau tak terbawa dengan perasaannya sehingga menyatakan bolehnya berdemo dan melawan penguasa demi mendapatkan hak berupa kebebasan beragama. Beliau tetap berada di atas Sunnah. Adapun Al-Ustadz Jahada Mangka, Lc., maka ia memerintahkan kita berdemo demi mendapatkan hak kita yang tak bisa diambil, kecuali dengan jalan demo. Bahkan demo menurutnya adalah WAJIB dalam kondisi seperti itu. Manakah ulama yang membolehkannya? Bukankah ini menjadi bukti bahwa sang Ustadz tidak ada seorangpun ulama yang bersamanya dalam hal tersebut. Adapun kita yang menapaki jalan salaf, alhamdulillah para ulama adalah pionir kita dalam memahami din Islam ini. Salafiyyun tidaklah bersendirian dalam sikap-sikap mereka sehingga JM perlu menyatakan bahwa tak ada orang tua diantara salafiyyin. Salafiyyun tidaklah serampangan dalam bersikap, tidak menuruti emosional, tapi mereka memiliki qo’idah dan dhowabith dalam dakwah yang amat jelas sejelas matahari di siang bolong. Bukan seperti orang-orang WI yang mengutamakan emosional dan perasaan dalam dakwah sehingga harus mendemo pemerintah seperti kaum Khawarij!!

Oleh karena itu, mereka lebih pantas kita katakan kepadanya seperti yang dikatakan oleh Jahada Mangka sendiri, " Subhanallah ! itu adalah ashhabul ahwa’!Ashhabul ahwa’! seperti ini! Tidak ada dawabith! Tidak ada kriteria yang jelas. Apa yang membuat orang keluar dari Ahlus Sunnah, dan apa yang membuat orang masuk dalam kategori Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak ada dawabith yang jelas. Sesuai dengan perasaan! Kita mengatakan si fulan salafi, yah sesuai dengan perasaan kita, sesuai dengan keinginan kita. Dan kita mengatakan si fulan bukan salafi, sesuai dengan perasaan dan keinginan kita. Tidak ada dawabithyang jelas…" Demikian kata JM dalam ceramahnya.

Dari pernyataan Al-Ustadz Jahada, terdapat keterangan bagi kita bahwa dalam tubuh WI ustadz-ustadz mereka membolehkan demonstrasi dengan syarat damai. Ini membantah sangkaan sebagian orang yang menyangka bahwa tak ada diantara ustadz-ustadz WI yang membolehkan demonstrasi. Ini kami ketahui saat kami berdialog dengan sebagian mereka. Saat itu kami membantah mereka bahwa namanya demo baik itu damai atau tidak, maka ia tetap merupakan metode dakwah yang tak syar’iy. Ini berdasarkan pernyataan para ulama yang telah kami sebutkan di atas.[14]

[1] Simak kasetnya: Syarh Ath-Thohawiyyah (185). Ucapan Safar ini mengingatkan kami tentang pernyataan Jahada yang menganggap bahwa demo adalah solusi akhir!!

[2] Lihat Fikrah Al-Irhab wal ‘Unf fil Mamlakah, hal.217 oleh Syaikh Abdus Salam As-Suhaimy & Madaarik An-Nazhar, hal.416, cet. Dar Sabil Al-Mu’minin.

[3] Simak Kasetnya: Humum Fatat Multazimah. Ucapannya ini kami nukil dari Fikrah Al-Irhab, hal.214

[4] Beda dengan yang dinyatakan oleh Safar Al-Hawali, katanya demo adalah uslub da’wah. Maka perhatikan, dan jangan dikatakan: “Diakan ulama’ boleh saja ia berbuat dan berkata semaunya sebab itukan ijtihad dia. Kalau benar dapat dua pahala, kalau salah, dapat satu”. Ini merupakan tipuan Iblis, sebab demo merupakan salah satu bentuk khuruj alal hukkam.Sedang permasalahan khuruj termasuk masalah aqidah yang salaf sudah sepakat haramnya. Lagian Safar bukan ulama.

[5] Lihat Buletin Silsilah Ad-Difa’ (7),hal.1-2

[6] Tersebabkan oleh pemberontakan lisan.

[7] Lihat Fatawa Al-Ulama’ Al-Akabir fi ma Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir (hal. 95-96)

[8] Lihat Muroja’at fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasiy wal Fikriy ala Dhou’ Al-Kitab wa As-Sunnah (hal. 88-89) karya Abdullah bin Muhammad Ar-Rifa’iy, 1414 H.

[9] Perlu kami ingatkan bahwa dahulu sebagian ustadz salaf dalam Laskar Jihad telah melakukan demo dan beberapa bentuk penyimpangan lainnya selama jihad Ambon. Mereka semua –alhamdulillah– telah rujuk dan tobat dari kesalahan itu sebagaimana anda bisa baca dalam kitab terjemah yang berjudul "Meredam Amarah terhadap Pemerintah". Penerjemah kitab ini, Al-Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Umar As-Sewed membuat suatu pernyataan resmi rujuknya para ustadz-ustadz salaf dari hal itu. [Lihat Meredam Amarah terhadap Pemerintah (hal.ix-xiv)] Hal ini kami ingatkan, sebab sebagian orang (seperti, Abu Hamnah "As-Salafi") menyangka para ustadz salaf belum rujuk penyimpangan-penyimpangan itu. Semoga dipahami dan dimaklumi.

[10] Alhamdulillah , prinsip berilmu yang diiringi dengan amalan, tanpa ada ifrath (berlebihan) dan tafrith (teledor) merupakan perkara yang amat dijaga oleh salafiyyun dari zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai zaman sekarang, bukan seperti yang dituduhkan secara keji oleh Penulis BSDS. Nas’alullahal afiyah was salamah min su’izh zhonni bil mu’minin ma laisa fihim.

[11] Tentang surat Syaikh bin Baaz ini, lihat kopian naskah aslinya dalam Madarik An-Nazhor (hal. 431) karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubarok Romadhoniy Al-Jaza’iriy, cet. Dar Sabil Al-Mu’minin, 1418 H.

[12] Fitnah Kholqul Qur’an. Suatu musibah yang timbul saat Kholifah Ma’mun memaksa para ulama –diantaranya Imam Ahmad- untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ini adalah kekufuran yang jelas!! Dalam kondisi ini Imam Ahmad memerintahkan mereka bersabar, jangan memberontak. Karena pemberontakan akan melahirkan banyak kerusakan, baik yang diketahui, maupun yang tak diketahui. Kalian telah melihat kerusakan itu beberapa tahun yang silam saat Pak Harto dilengserkan.

[13] Lihat As-Sunnah (89) karya Al-Khollal.

[14] Dialog kami dengan sebagian mereka, baik perorangan atau perkelompok adalah bukti bahwa sebenarnya salafiyyun sudah ada yang menasihati WI. Bahkan ada diantara mereka yang berusaha dusta kepada kami saat ia menyatakan Syaikh bin Baaz pernah men-tazkiyah Sayyid Quthb. Tatkala kami minta bukti berupa kitab rujukan, maka ia berkata, "Afwan, ana dulu dusta dalam hal itu!!"

Tags:, , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Inikah Jihad ??
  2. Membunuh Orang Kafir di Negeri Mereka (Menanggapi Pengeboman dan Penembakan di Paris, Perancis)
  3. Fulan Mati Syahid
  4. Memberangus Paham Nabi Palsu
  5. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag II)
  6. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Muqaddimah)
  7. Menuju Kemenangan dan Kejayaan Kaum Muslimin (Bingkisan Untuk Kaum Muslimin Palestina)
  8. Bahaya Kebebasan Berpikir
  9. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag IV)
  10. Fatwa Kesesatan Jama’ah / Yayasan / Ormas Wahdah Islamiyah (Bag. 2)

One Response to Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 3)

  1. Abu Harun | Sunniy Salafy

    Bismillah,

    Ada koreksi akhi, pada firman Allah Ta’ala yang menjelaskan keadaan para nabi dan rasul, saat mereka berdakwah tak ada diantara mereka yang melakukan TEKANAN atas kaumnya.

    Allah -Ta’ala- berfirman,
    Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka”. (QS. Huud: 40)

    Yang benar adalah surah Ar Ra’d ayat 40. Barokallahu fiik.

    Na’am, Jazakumullah khoir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *