Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 2)

Dilihat 2,651 kali | Kirim Ke Teman

"Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 2

"Meniadakan Prinsip Tabdi’ yang Syar’i dan Meremehkan Bid’ah "

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

  • Meniadakan Prinsip Tabdi’ yang Syar’i

Ahlus Sunnah dari dulu telah menetapkan prinsip tabdi’ yang syar’iy bagi orang yang berhak di-tabdi’. Oleh karena itu, para ulama kita telah men-tashnif (mengelompokkan) manusia ke dalam beberapa aliran dan kelompok sesat, seperti: Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah, Shufiyyah, Jahmiyyah, Asy’ariyyah, Karromiyyah, Maturidiyyah, dan lainnya.

Prinsip tabdi’ ini berusaha dihapuskan oleh Al-Ustadz Jahada Mangka saat ia berkata,"Islam itu adalah, iya manhaj Ahlus Sunnah . Manhaj Ahlus Sunnah, itu adalah Islam. Maka tidak boleh kita pisahkan. Iye, karena mengeluarkan orang dari manhaj ahlus sunnah berarti mengeluarkan dari? dari Islam!. Mengeluarkan orang dari manhaj salaf berarti mengeluarkan orang dari Islam. Cuma memang, perlu kita pahami bahwa orang ber- Islam, orang mengikuti manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah itu- mutafawit, bertingkat-tingkat. Bisa dipahami? Bertingkat-tingkat!"

Ucapan ini jelas dalam menghapuskan prinsip tabdi’, sebab men-tabdi’ orang berarti menyatakannya keluar dari lingkup Ahlus Sunnah. Sedang JM tentunya tak ingin mengeluarkan orang dari Ahlus Sunnah, sebab jika ia dikeluarkan darinya, maka otomatis ia dikeluarkan dari Islam. Tak ada jalan lain bagi JM, kecuali ia harus menghapus prinsip tabdi’. Nah, ini telah menyelisihi perkara yang aksioma (badihi) di sisi para thullabul ilmi.

Diantara perkara yang menguatkan bahwa JM menghapuskan prinsip tabdi’, dia berkata setelah itu, "Cuma memang, perlu kita pahami bahwa orang ber- Islam, orang mengikuti manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah itu- mutafawit ‘bertingkat-tingkat’. Bisa dipahami? Bertingkat-tingkat!"

Padahal jika JM berpikir sedikit, maka ia akan paham bahwa Ahlus Sunnah adalah Ath-Thoifah Al-Manshuroh (kelompok yang ditolong) alias Al-Firqoh An-Najiyah (kelompok yang selamat) alias Al-Jama’ah yang disebutkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam beberapa sabdanya yang akan kami sebutkan.

Adapun selain Ath-Thoifah Al-Manshuroh (kelompok yang ditolong) alias Al-Firqoh An-Najiyah (kelompok yang selamat) alias Al-Jama’ah, maka mereka adalah kelompok-kelompok sesat yang masih muslim. Al-Firqoh An-Najiyah dikatakan selamat dari neraka, karena ittiba’ (keteladanan) mereka kepada Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, baik dalam perkara aqidah, ibadah, akhlaq dan lainnya.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda menyifati Al-Firqoh An-Najiyah alias Ahlus Sunnah,

وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً قَالُوْا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَ أَصْحَابِيْ

"Ummat ini akan berpecah menjadi 73 golongan; semuanya di neraka, kecuali satu".Mereka (para sahabat) bertanya,"Siapakah kelompok itu, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini".[1]

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa kelompok yang selamat dari neraka adalah orang yang mengikuti sesuatu yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya berupa aqidah shohihah, ibadah, dan akhlaq. Adapun kelompok-kelompok sesat lainnya, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya, maka semua menyalahi yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Jadi, Khawarij atau Mu’tazilah -misalnya- tak mungkin kita menganggapnya sebagai Ahlus Sunnah!!

  • Meremehkan Bid’ah

Pembaca yang budiman, bid’ah adalah perkara yang amat besar di sisi Allah, sebab ia merupakan upaya dalam meralat syari’at Allah -Azza wa Jalla-. Para salaf dahulu amat takut dengan bid’ah, walaupun bid’ah itu termasuk golongan shoghiroh (dosanya kecil).

Sebagai contoh, kisah Abdullah bin Mas’ ud –radhiyallahu ‘anhu– yang masyhur dalam mengingkari para pelaku dzikir jam a’ah di salah satu masjid Kufah.

‘Amer bin Salamah ibnul H arits –rahimahullah– menceritakan,

كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

“Kami pernah duduk-duduk di depan pintu rumah ‘Abdullah bin Mas’ ud sebelum sholat Shubuh . Jika beliau keluar kami akan berjalan bersamanya ke mesjid. Lalu Abu M usa Al-Asy’ary mendatangi kami seraya berkata : “Apakah Abu ‘Abdirrahman[2]sudah keluar kepada kalian?”Jawab kami : “Belum”. Kemudian diapun duduk bersama kami sampai beliau keluar. Tatkala beliau keluar, kami semuanya berdiri menuju kepadanya. Lalu Abu M usa berkata kepadanya : “Wahai Abu ‘Abdirrahman sesungguhnya baru saja saya melihat di mesjid suatu perkara yang saya ingkari dan saya tidak berprasangka –alhamdulillah- kecuali kebaikan”. Beliau berkata : “Apa perkara itu?” Dia menjawab : “Kalau engkau masih hidup maka engkau akan melihatnya. Saya melihat di mesjid ada sekelompok orang duduk-duduk dalam beberapa halaqoh (majelis) sambil menunggu sholat. Di setiap halaqoh ada seorang lelaki (yang memimpin) -Sementara di tangan mereka ada batu-batu kecil-. Lalu orang (pimpinan) itu berkata : “Bertakbirlah kalian sebanyak 100 kali”. Merekapun bertakbir 100 kali. Orang itu berkata lagi : “Bertahlillah kalian sebanyak 100 kali”, maka merekapun bertahlil 100 kali, orang itu berkata lagi : “Bertasbihlah kalian sebanyak 100 kali”, maka merekapun bertasbih 100 kali. Beliau berkata : “Apa yang engkau katakan kepada mereka?”.Dia (Abu M usa) menjawab : “Saya tidak mengatakan sesuatu apapun kepada mereka karena menunggu pendapat dan perintahmu”. Maka beliau berkata : “Tidakkah engkau perintahkan kepada mereka agar mereka menghitung kejelekan-kejelekan mereka dan kamu beri jaminan kepada mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan ada yang sia-sia?!”. Kemudian beliau pergi dan kami pun pergi bersamanya sampai beliau mendatangi satu halaqoh diantara halaqoh-halaqoh tadi seraya berdiri di depan mereka dan berkata : “Perbuatan apa ini yang saya melihat kalian melakukannya?!”. Mereka menjawab : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, ini adalah kerikil-kerikil yang kami (pakai) menghitung takbir, tahlil dan tasbih dengannya”. Maka beliau berkata : “Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian dan saya jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan sia-sia. Betapa kasihannya kalian wahai ummat Muhammad, begitu cepatnya kehancuran kalian. Ini, mereka para sahabat Nabi kalian -Shollallahu ‘alaihi wasallam- masih banyak bertebaran. Ini pakaian beliau (Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-) belum usang. Bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian betul-betul berada di atas suatu agama yang lebih berpetunjuk daripada agama Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?!”. Mereka berkata : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, demi Allah kami tidak menginginkan kecuali kebaikan”. Beliaupun berkata : “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi dia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah menceritakan kepada kami tentang suatu kaum, mereka membaca Al-Qur`an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melampaui tenggorokan mereka. Demi Allah, saya tidak tahu barangkali kebanyakan mereka adalah dari kalian”. Kemudian beliau meninggalkan mereka. Amr bin Salamah berkata : “Kami telah melihat kebanyakan orang-orang di halaqoh itu adalah orang-orang yang menyerang kami bersama Khaw arij pada perang Nahraw an” [HR. Ad-D arimy dalam Sunan-nya (210). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Alb any dalam Ash-Shoh ihah (no. 2005)]

Perhatikanlah kisah ini baik-baik –semoga Allah merahmatimu-, niscaya engkau akan mendapatkan suatu harta yang lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Lihat bagaimana sahabat Abdullah bin Mas’ ud –radhiyallahu ‘anhu– menghukumi perbuatan mereka sebagai suatu bid’ah dan kesesatan, tanpa memandang bid’ahnya tergolong kabiroh (dosa besar) atau shoghiroh (dosa kecil). Inilah sikap para salaf dalam mengingkari bid’ah; mereka amat tegas, sebab mereka takut jika bid’ah itu berkembang dan berketurunan atau memanggil bid’ah lain. Jadi, para salaf tidaklah meremehkan dan menganggap enteng suatu bid’ah; bukan seperti Al-Ustadz Jahada Mangka, Lc yang meremehkan bid’ah.

Pembaca yang budiman, mungkin anda bertanya dalam hati apa buktinya bahwa JM meremehkan bid’ah? Jawabnya, amat mudah!! Lihat saja saat ia mengomentari kasus tanzhim yang dituduhkan kepada Wahdah, "Kita sepakati dulu bahwa, ya, oke, dia adalah dosa!. Dia adalah bid’ah!Sekarang kita lihat!, iye, kembalikan kepada tadi! (nampak anwaudz dzunub di layar) Antum lihat!

– Apakah tanzhim masuk syirik? ("Tidak!", kata mad’u ).

– Tanzhim masuk kufur?. ("Tidak!", kata mad’u)

– Tanzim masuk kabiirah? ("Tidak!", kata mad’u).

– Ada ancaman orang yang bertanzhim? ("Tidak!", kata mad’u).

– Ada hukumannya di dunia?

– Dila’nat dan dikutuk? ("Tidak!", kata mad’u).

– Dinafikan imannya?

Berarti tidak ada satupun dawabith (kriteria, pen.-) yang kita sebutkan di sini, dari dawaabithul kabirah. Berarti, paling tidak dia masuk dalam ketegori? ‘a?. Shaghiirah! Seandainya pun kita sepakat bahwa tanzhim itu adalah bid’ah atau dosa, berarti dia masuk dalam kategori? ‘a? Dosa kecil!." Demikian kata Al-Ustadz Jahada Mangka, Lc.

Jahada juga berkata , "Okelah, kita sepakati dulu sesuai dengan, ya, tuduhan mereka. Marhalah bid’ah! Marhalah, iye, dosa, maksiat!. Tapi sekarang kita lihat, iye. Coba kita lihat!

Apakah marhalah itu masuk dalam kategori kesyirikan? ‘a?

Masuk dalam kategori kekufuran? ("Tidak!", jawab mad’u).

Masuk dalam kategori dosa besar? ("Tidak!", jawab mad’u).

Tidak ada satupun dari dawabithnya!. Tidak ada dawabith (kriteria), iye. Kemudian kalau begitu paling tinggi dia adalah: dosa kecil. Dosa? Kecil! "

Dengan metode seperti di atas, Jahada berkata saat mengomentari tentang tarbiyah mereka, "Berarti paling tidak, paling tinggi kalau seandainya dia adalah pelanggaran, maka dia adalah shagiirah (dosa kecil)! "

JM berkata dalam meremehkan bid’ahnya demo (muzhoharoh), "Apakah muzhaharah (demonstrasi) masuk kategori syirik? Hatta (sampai) seandainyapun syirik. Kalau dia adalah syirik kecil maka tidak keluar orang dari? Islam!, dari manhaj ahlussunnah!apalagi jelas bukan syirik. Kufur? Bukan kufur!. Hatta seandainya kufur, tapi dia kufrun duna kufrin, maka juga tidak bisa kita keluarkan orang itu secara otomatis dari Islam. Masuk dalam kabiirah? Ya, mungkin bisa masuk dalam kabiirah, ya tapi ini perlu pembahasan khusus".

Inilah beberapa bukti akurat tentang peremehan JM terhadap bid’ah. Perlu dipahami bahwa bid’ah bisa membuat seseorang keluar dari Ahlus Sunnah, walaupun bid’ah itu kecil menurut sebagian orang. Ketahuilah bahwa bid’ah shoghiroh (kecil) akan berubah menjadi bid’ah kabiroh sebagaimana halnya dosa shoghiroh (kecil) bisa berubah kadarnya menjadi dosa kabiroh (besar).

Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy-Syathibiyrahimahullah– berkata, "Jika kita telah menerima bahwa diantara bid’ah ada yang shoghiroh (kecil), maka yang demikian itu berdasarkan beberapa syarat.

  1. Syarat pertama: tidak kontinyu di atasnya, sebab maksiat yang kecil bagi orang yang kontinyu melakukannya akan menjadi besar hubungannya dengan dirinya. Karena hal itu timbul dari dari kontinyunya seseorang di atas maksiat. Sedangkan kontinyu di atas maksiat mengubahnya menjadi besar. Oleh karena itu, mereka (para ulama) berkata, "Tak ada dosa kecil jika kontinyu dilakukan, dan tak ada dosa besar jika disertai permohonan ampuanan". Demikian pula bid’ah, tanpa ada bedanya…
  2. Syarat Kedua: Tidak mengajak (tidak berdakwah) kepada bid’ah tersebut. Karena suatu bid’ah terkadang ia shoghiroh (kecil) menurut sebuah tinjauan. Kemudian orang mengadakannya mengajak untuk menyatakannya dan mengamalkan konsekuensinya. Jadi, dosa semua perkara itu ada pada pundaknya, sebab dialah yang membangkitkannya, dan dengan sebab dirinya bid’ah itu banyak terjadi dan diamalkan. Karena hadits shohih telah mengabarkan bahwa barangsiapa yang membuat suatu contoh yang jelek, maka dosa kejelekan itu dan dosa orang yang mengamalkannya ada pada pundaknya, dan hal itu tidaklah mengurangi dosa mereka sedikitpun. Dosa kecil dengan dosa besar hanyalah perbedaan keduanya berdasarkan banyak-sedikitnya dosa. Terkadang dosa kecil –dari sisi ini- menyamai dosa besar atau melebihinya. Maka kewajiban seorang ahli bid’ah jika ia tertimpa bid’ah agar mencukupkan bid’ah itu pada dirinya, dan tidak mengumpulkan dosanya dengan dosa orang lain…
  3. Syarat Ketiga: Bid’ah shoghiroh itu tidak dilakukan di tempat-tempat yang merupakan tempat perkumpulan manusia atau tempat-tempat yang ditegakkan padanya sunnah-sunnah , dan nampak padanya tanda-tanda (syi’ar) syari’at. Adapun menampakkan bid’ah tersebut di tempat-tempat umum oleh orang-orang yang disangka baik, maka itu termasuk perkara yang amat membahayakan sunnah Islam, karena hal itu tak keluar dari dua perkara. Entah pelaku bid’ah itu diteladani dalam dalam bid’ah tersebut. Karena orang-orang awam adalah pengekor sembarang orang. Terlebih lagi bid’ah yang dihias-hiasi oleh setan untuk manusia, yang disenangi oleh hawa nafsu. Jika seorang pelaku bid’ah shoghiroh diiikuti , maka bid’ah itu menjadi besar hubungannya dengan dirinya. Karena barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dosanya ada dipundaknya, dan juga dosa orang yang mengamalkan bid’ah itu. Jadi, dosa akan besar baginya tergantung banyaknya pengikut. Ini sama persis yang terdapat pada maksiat (dosa-dosa) kecil. Karena seorang alim -misalnya- jika ia menampakkan maksiat -walaupun kecil-, maka akan gampang dilakukan oleh manusia. Sebab seorang yang jahil akan bergumam, "Andai perbuatan ini sebagaimana yang ia katakan bahwa itu adalah dosa, maka ia tak mungkin akan melakukannya. Dia (sang alim) hanyalah melakukannya karena suatu perkara (dasar) yang ia ketahui, yang kita tidak ketahui".Demikian pula bid’ah, jika ditampakkan oleh seorang alim yang diteladani di dalamnya, maka pasti (demikian juga masalahnya). Karena bid’ah itu merupakan sarana pendekatan diri menurut sangkaan orang jahil, karena seorang jahil melakukannya berdasarkan segi tersebut. Bahkan bid’ah lebih parah lagi menurut makna (tinjauan) seperti ini. Sebab dosa terkadang tidak diikuti (oleh orang); berbeda dengan bid’ah, orang tak akan canggung mengikutinya, kecuali bagi orang yang tahu bahwa itu adalah bid’ah yang tercela. Ketika itulah bid’ah seperti kedudukan dosa . Jika demikian halnya, maka bid’ah shoghiroh (kecil) itu berubah menjadi bid’ah kabiroh (besar), tanpa syak. Jika ia mengaja kepada bid’ah itu, maka kondisinya lebih parah. Jika penampakkan bid’ah itu mendorong untuk mengikutinya, maka ajakan itu jelas lebih mengajak kepada ittiba’ (mengikuti bid’ah itu)…Adapun melakukan bid’ah shoghiroh di tempat-tempat yang dilakukan padanya sunnah-sunnah, maka ia seperti mengajak kepadanya secara terang-terangan. Karena tempat dinampakkannya syi’ar-syi’ar Islam akan memberikan opini bahwa segala sesuatu yang dinampakkan di dalamnya, maka ia termasuk syi’ar-syi’ar Islam. Seakan-akan orang yang menampakkan bid’ah itu berkata, "Ini adalah sunnah, maka ikutilah !!"…Pembicaraan kita menunjukkan atas penekanan dalam perkara-perkara baru (bid’ah), jangan sampai dilakukan di tempat-tempat umum atau di tempat-tempat yang ditegakkan padanya sunnah-sunnah, amat dipelihara di dalamnya perkara-perkara yang disyari’atkan. Karena jika bid’ah ditegakkan di dalamnya, maka manusia akan mengambilnya dan mengamalkannya. Lalu dosa hal itu akan kembali kepada orang yang melakukannya pertama kali, dan dosanya pun membanyak, dan bahaya bid’ahnya semakin besar.
  4. Syarat Keempat: Bid’ah Shoghiroh (kecil) itu tidak dipandang kecil dan remeh, jika kita menganggapnya kecil. Karena hal itu adalah peremehan terhadap bid’ah. Sedang peremehan terhadap dosa adalah lebih besar dibandingkan dosa itu sendiri. Hal itu (yakni, peremehan) menjadi sebab besarnya sesuatu yang kecil, karena dosa memiliki dua tinjauan. (1) Tinjauan dari sisi tingkatannya menurut syari’at. (2) Tinjauan dari sisi penyelisihannya terhadap Robb (Allah) Yang Maha Agung dengan dosa itu. Adapun tinjauan pertama, maka dari sisi itu dosa kecil itu dianggap kecil, jika kita memahami dari syari’at bahwa ia kecil, sebab kita meletakkannya menurut syari’at. Adapun tinjauan yang lain (kedua), maka ia kembali kepada keyakinan kita dalam mengamalkannya, dimana kita meremehkan untuk menghadapi Robb –Subhanahu- dengan penyelisihan. Kewajiban pada diri kita, menganggap dosa itu amat besar, sebab tak ada bedanya pada hakikatnya antara dua penghadapan; menghadapi Allah dengan dosa besar, dan menghadapi Allah dengan dosa kecil…". Demikian nukilan dari Al-Imam Asy-Syathibiy -rahimahullah-.[3]

Jika kita kembali kepada sikap Al-Ustadz H. Jahada Mangka dalam meremehkan beberapa pelanggaran yang terdapat dalam Wahdah Islamiyah (seperti, tarbiyah bid’ah, bai’at bid’ah, muwazanah, demo, dan lainnya), maka sang Ustadz tak lepas dari empat syarat yang disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syathibiy di atas, sehingga bid’ah-bid’ah WI ini –kalaupun kita anggap kecil-, maka ia berubah menjadi BID’AH KABIROH (besar).

Anggaplah bid’ah itu kecil menurut pandangan JM, tapi apakah bid’ah kecil jika dilazimi, tidak akan membuat orang keluar dari Ahlus Sunnah, apalagi jumlahnya banyak dan dikenal atau dinyatakan oleh para ulama sebagai bid’ah??!. Bagaimana menurut JM jika ada orang yang ber-maulid, ulang tahun, ber-milad, ber-Valentine, dzikir jama’ah, yang mana semua ini menurut JM adalah shoghiroh ketika dihadapkan dengan dhowabith yang dijelaskan oleh JM dalam ceramahnya tersebut. Kami tanya JM dan orang semisalnya, "Apakah orang-orang yang melakukan bid’ah-bid’ah itu tetap dianggap sebagai Ahlus Sunnah atau bukan??!"Tanda tanya besar !!

Selain itu, anggaplah bid’ah-bid’ah yang ada pada WI tersebut adalah shoghiroh, apakah menghalangi kita untuk mengingkari WI saat melakukannya, apalagi membela dan mempertahankannya dengan "dalil", dan "hujjah". Tidak, sama sekali tidak demikian!! Bahkan boleh kita mengingkarinya sebagai tashfiyah dan tarbiyah bagi ummat ini. Fa’tabiruu ya ulil abshor.

Jika kita mau jujur, sebenarnya pelanggaran-pelanggaran WI adalah bernilai kabiroh (besar) , karena akan bermuara kepada al-khuruj alal hukkam (pemberontakan dan pembangkangan kepada penguasa muslim yang sah). Sedangkan Ahlus Sunnah telah sepakat haramnya memberontak dan membangkang, baik dengan lisan, tulisan, perbuatan, dan senjata. Bukti mereka khuruj alal hukkam, WI telah melakukan demo, tidak mengakui pemerintah yang berkuasa sekarang sebagai pemerintah yang sah dan boleh dibai’at[4].

Anggaplah bahwa semua pelanggaran WI adalah shoghiroh (dosa kecil), tapi perlu diingat bahwa para ulama telah menyatakan:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ

"Tak ada dosa yang kecil jika kontinyu" .[5]

Jika seseorang meremehkan dosa kecil, maka noda dari dosa kecil itu jika menumpuk akan menjadi dosa besar yang akan membinasakan. Sebab seorang yang meremehkan dosa kecil akan terseret untuk meremehkan dosa kecil atau dosa besar lainnya, bahkan akan meremehkan kekafiran dan kesyirikan sebagai balasan kurangnya khosyah (rasa takut)nya kepada Allah. Wa’iyadzu billah. Inilah kondisi hati yang diliputi oleh roon (noda dan bercak hitam). Allah -Ta’ala- berfirman,

"Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka". (QS. Al-Muthoffifin:14 ).

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

"Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari perbuatannya) maka mengkilaplah hatinya. Jika dosa itu bertambah, maka titik hitam itupun bertambah hingga memenuhi hatinya." [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Janganlah seseorang memandang remeh dosa-dosa yang ia lakukan, namun hendaklah ia melihat kepada siapa ia bermaksiat. Janganlah seseorang memandang remeh dosa-dosa, karena ia akan menyesalinya kelak, dan janganlah seseorang memandang remeh dosa-dosa, karena sesungguhnya tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar, sebab gunung itu berasal dari kerikil-kerikil kecil.

Cobalah renungi peringatan Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa Sallam– tentang bahaya meremehkan dosa-dosa kecil,

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوْا بَطْنَ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ حَتَّى جَمَعُوْا مَا أَنْضَجُوْا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ مَتَى يُؤْخَذُ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

"Waspadailah dosa-dosa kecil, karena perumpamaan dosa-dosa kecil itu laksana suatu kaum yang singgah disuatu lembah kemudian masing-masing membawa sebatang ranting, hingga mreka dapat mngumpulkan kayu yang cukup untuk memasakkan roti mereka. Sesungguhnya pelaku dosa-dosa kecil tatkala disiksa dengan sebab dosa-dosa yang dianggap remeh, (niscaya) hal itu akan membinasakannya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (22860), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (10500), dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (7267). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (389)]

Al-Hafizh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, "Diantara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah". [Lihat Ad-Daa’u wad Dawaa’ (hal. 93-94), cet. Dar Ibnul Jauziy, dengan tahqiq Ali bin Hasan Al-Atsariy]

Oleh karena itu, hendaknya seseorang kembali kepada Tuhan-nya! Janganlah ia menunda-nunda taubatnya hingga ia tidak mampu lagi untuk melakukannya. Ibarat seorang pemuda yang ingin mencabut sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu tidaklah sulit baginya. Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke dalam bumi, dan ia pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia tidak mampu lagi untuk mencabutnya.

Abdur Rahman Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata dalam Shoidul Khothir (hal.210-211), "Maha Suci Sang Raja Maha Agung (Allah) yang barangsiapa yang mengenalnya, maka ia akan takut kepada-Nya; barang siapa yang merasa aman terhadap makar-Nya, maka ia tak akan mengenal-Nya. Sungguh aku telah merenungi suatu perkara yang amat agung, yaitu Allah –Azza wa Jalla- selalu memberi penangguhan sampai seakan Dia lalai. Maka anda akan melihat tangan orang-orang yang suka bermaksiat dalam keadaan bebas, seakan-akan tak ada yang menghalanginya. Jika ia semakin bebas, dan akal lepas, maka Allah akan memberikan hukuman kepada orang itu seperti hukuman raja yang sombong. Penangguhan (hukuman dosa) itu hanyalah untuk menguji kesabaran orang yang bersabar, dan mengulurkan penangguhan bagi orang yang zholim. Maka tegarlah orang yang sabar ini di atas kesabarannya, dan si zholim ini diberi balasan atas kejelekan perbuatannya".

Inilahsedikit diantara nasihat bagi orang-orang yang meremehkan dosa-dosanya, tanpa melihat kepada kebesaran Robb-nya. Semoga hal ini dipikirkan dan ditadabburi oleh orang-orang yang mau berakal.

[1] HR. At-Tirmidziy (2641), Al-Hakim (444), Ibnu Wadhdhoh dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu anha (hal.15-16), Al-Ajurriy (16), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (2/262/no.815), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah (hal.18), Al-Lalika’iy (147), dan Al-Ashbahaniy dalam Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah (1/107). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy Al-Atsariy dalam Basho’ir Dzawisy Syarof (hal.75), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA

[2] Abu Abdir Rahman: Sapaan bagi Abdullah bin Mas’ud. Abu Abdirrahman, artinya: Bapaknya Abdur Rahman. Hal ini juga berlaku di negeri kita sebagai sapaan penghormatan. [ed]

[3] Lihat Al-I’tishom (2/389-398) karya Asy-Syathibiy, tahqiq Masyhur Hasan Salman, cet. Maktabah At-Tauhid, 1421 H.

[4] Sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Ustadz H. Muh. Ikhwan Abdul Jalil dalam sebuah ceramahnya dihadapan mahasiswa Al-Birr, dan juga pernyataan Sekjen WI, Al-Ustadz H. Qosim Saguni. Mudah-mudahan nanti pernyataan kedua orang ini kami akan nukilkan dalam sebuah risalah yang sedang kami garap. Semoga Allah menolong kami dalam menyelesaikannya.

[5] Lihat Al-Madklhol (1/489) karya Ibnul Hajj

Artikel di Kategori ini :

  1. Partai Islam, Partai Dakwah?
  2. Susahnya Rujuk kepada Kebenaran
  3. Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin-Bag IV)
  4. Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi
  5. Sikap dan Adab Ahlus Sunnah kepada Para Sahabat
  6. Bisanya Cuman Nyontek
  7. Jangan Buang Bom Sembarang Tempat!!!
  8. Membunuh Orang Kafir di Negeri Mereka (Menanggapi Pengeboman dan Penembakan di Paris, Perancis)
  9. Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya
  10. Demikiankah Jihad ?

5 Responses to Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 2)

  1. abu ikhwan al magetany

    alhamdulillah, semakin terang bagi ana penyimpangan wahdah islamiyah dulu ana pernah bergabung selama kurang lebih 3 tahun di wonomulyo polman, ana ingatkan kepada ikhwah di wonomulyo agar segera rujuk kepada manhaj salaf

  2. Bismillah.

    Subhanallah, ini penjelasan yang cukup mudah difahami insya Allah. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada orang-orang yang masih bernaung di Wahdah Islamiyah agar keluar dan bertaubat darinya.

    Para Hizbiyyin tidak henti-hentinya memecah belah barisan kaum muslimin, dengan berbagai macam cara, hingga dengan cara membuat tanzhim seperti Wahdah Islamiyah. Padahal WI dan IM seperti saudara kembar saja. Sungguh tidaklah tertipu orang yang berjalan di atas bashiroh.

    Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada penulis, yang sudah bagus sekali dalam tulisannya.

  3. alhamdulillah setelah sy membaca artikel ini,wawasan sy lebih luas dalam mengenal islam .terimakasih untuk almakassary.com ,salam kenal dari saya Hilman ,depok jawa barat

  4. abu 'aisyah al-bantuly

    pertama kali mginjak bumi sulawesi setahun lalu, ada yg mmpringatkn hati2 thd WI (Wahdah Islamiyah). Belum prnah dngr mereka sbelumny,saat msh d jawa. Jazakumullah penjelasannya.
    @pasangkayu, mamuju utara

  5. Abu Ishaq Iswar Al Bugisy

    Setelah membaca artikel ini maka ana yakin tidak ada lagi hujjah bagi pengikut ormas WI untuk tetap di atas manhaj mereka yang bathil.
    Tidakkah kalian mengambil ‘ibroh dar banyaknya ikhwan2 yang dulunya bersama kalian kini telah kembali ke manhaj yang lurus ini?? Bahkan orang2 yang dulunya kalian anggap sebagai ustadz.
    Kembalilah ke manhaj ini karena kami mencintaimu karena.
    Kami husnuzhon kepada kalian bahwa tentunya kalian mencari al Haq, maka renungkanlah wahai saudaraku…

    Baarakallahu fiikum..

    Abu Ishaq Iswar Al Bugisy
    Cileungsi, Bogor (kangen sama ikhwan makassar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *