Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 1)

Dilihat 3,457 kali | Kirim Ke Teman

"Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 1
"Salah Paham tentang Makna Manhaj Ahlus Sunnah & Islam"

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Dari sini, sang Ustadz mulai melakukan triknya satu persatu dalam menyanggah "syubhat-syubhat" yang diarahkan kepada ORMAS-nya yang bernama WAHDAH ISLAMIYAH (WI).

Para Pembaca yang budiman, satu kesalahan besar lagi fatal yang dilakukan oleh JM, saat ia ia mengeluarkan PERNYATAAN bahwa "Ahlussunnah itulah Islam, manhaj Ahlussunnah, itulah Islam. Manhaj Salafus Shaleh, itulah Islam. Sehingga tidak boleh kita bedakan Islam dan Ahlussunnah". Ini nas ucapan JM.

Dalam tempat lain dari ceramah itu, ia berkata, "Islam itu adalah manhaj Ahlus Sunnah. Manhaj Ahlus Sunnah, itu adalah Islam. Maka tidak boleh kita pisahkan, karena mengeluarkan orang dari manhaj ahlus sunnah berarti mengeluarkan dari? dari Islam!. Mengeluarkan orang dari manhaj salaf berarti mengeluarkan orang dari Islam. Cuma memang, perlu kita pahami bahwa orang ber- Islam, orang mengikuti manhaj ahlussunnah waljama’ah itu- mutafawit, bertingkat-tingkat. Bisa dipahami? Bertingkat-tingkat!".

Ketiga kalinya, JM mempertegas: "Karena kapan kita mengeluarkan seseorang, atau sebuah lembaga dari manhaj salaf berarti sama dengan kita mengeluarkan orang dari? dari Islam!"

PERNYATAAN JM ini adalah batil. Memang Islam itu adalah manhaj Ahlus Sunnah atau sebaliknya, jika kita pahami bahwa Islam yang dimaksud disini adalah Islam murni yang belum dicampuri dan dikotori oleh noda bid’ah. Adapun jika yang dimaksud adalah umum mencakup Islam yang murni dan ternodai dengan bid’ah, maka tentunya seorang tidak boleh menyatakannya sebagai manhaj Ahlus Sunnah.

Ucapan ini persis dengan keyakinan Khawarij dan Mu’tazilah. Dari prinsip kaum Khawarij dan Mu’tazilah bahwa keislaman dan keimanan adalah satu bagian tidak terpisah. Kapan hilang sebagiannya –dengan melakukan dosa besar- maka hilanglah seluruhnya. Sehingga dalam hukum dunia kaum Khawarij mengklaim pelaku dosa besar kafir keluar dari keislaman dan kaum Mu’tazilah menganggapnya fi manzilatin baina manzilatain (bukan kafir dan bukan mukmin), dan mereka bersepakat bahwa di akhirat pelaku dosa besar kekal dalam neraka.

Adapun Ahlus Sunnah mereka berkeyakinan bahwa keimanan dan keislaman itu bertambah dan berkurang. Dosa dan bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada yang mengeluarkan dari keislaman dan keimanan dan ada yang tidak mengeluarkannya tapi hanya sekedar mengurangi keimanan dan keislaman itu. Hal ini sangat dimaklumi dalam buku-buku Salaf dari dahulu hingga sekarang.

Maka ucapan JM di atas menunjukkan dua hal:

  • Siapa sebenarnya yang Khawarij dan siapa sebenarnya yang Mu’tazilah?
  • Kelemahan dan kedangkalan JM dan teman-temannya dari Da’i Wahdah dari membaca dan mempelajari ilmu ulama Salaf. Sehingga sangat aneh ada yang mengeritik pengikut dakwah salaf sedang dia tidak memahami apa manhaj salaf itu?

Ini sekedar nasehat, agar jangan ada “maling yang teriak maling”.

Selain itu, Islam di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat sebelum munculnya bid’ah-bid’ah dan pelakunya adalah Islam yang murni dari Allah -Ta’ala-. Adapun setelah munculnya bid’ah-bid’ah dan pelakunya, maka makna Islam sedikit mengalami pergeseran sehingga kata "Islam" mencakup orang-orang yang mengikuti Islam yang murni dan mencakup orang-orang yang menodai Islam dengan bid’ah-bid’ahnya. Kondisi seperti ini memaksa pengikut Islam yang murni untuk menggunakan istilah yang menjelaskan bahwa merekalah penganut Islam murni, sehingga muncullah istilah AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH sebagai pengikut Islam murni yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Jadi, AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH lebih sempit maknanya dan Islam lebih luas maknanya. Dalam artian, AHLUS SUNNAH sudah tentu Islam. Namun orang yang ber-Islam belum tentu AHLUS SUNNAH. Dengan kata lain, mengeluarkan orang dari AHLUS SUNNAH belum tentu mengeluarkannya dari Islam, sebab boleh jadi keislamannya masih ada, walaupun sudah ternodai dengan bid’ah. Perkara seperti ini adalah perkara yang badihi (aksiomatik) bagi para salafiyyin.

Jika JM memegang teguh PERNYATAAN itu, maka pernyataan itu bisa kita jadikan sebagai senjata makan tuan. Sebab ia sendiri membagi firqoh-firqoh sesat dan menyebutkan sebagiannya, seperti KHAWARIJ, MU’TAZILAH, dan MURJI’AH. Sekarang kita bertanya kepada sang Ustadz, "Ketiga kelompok ini apakah ia AHLUS SUNNAH atau bukan?" Jika JM menjawab, "Mereka adalah AHLUS SUNNAH ", maka ia telah menyelisihi pernyataan para ulama bahwa mereka itu bukan AHLUS SUNNAH. Jika JM menyatakan bahwa mereka bukan AHLUS SUNNAH, maka berarti ia telah mengeluarkan mereka dari Islam. Padahal para ulama menganggap bahwa kelompok-kelompok sesat itu masih muslim, bukan kafir. [Lihat Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ (1/137-153), cet. Maktabah Al-Ghuroba’ Al-Atsariyyah, 1415 H]

Syaikhul Islam –rahimahullah– berkata,

وَمَنْ قَالَ : إنَّ الثِّنْتَيْنِ وَالسَّبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَكْفُرُ كُفْرًا يَنْقُلُ عَنْ الْمِلَّةِ فَقَدْ خَالَفَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَإِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ بَلْ وَإِجْمَاعَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَغَيْرِ الْأَرْبَعَةِ فَلَيْسَ فِيهِمْ مَنْ كَفَّرَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ الثِّنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً

"Barangsiapa yang berkata, "Sesungguhnya 72 kelompok sempalan; setiap salah satu dari mereka adalah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama", maka sungguh ia telah menyelisihi Al-Kitab, Sunnah, dan ijma’ para sahabat –ridhwanullahi alaihim ajma’in-, bahkan ijma’ (kesepakatan) para imam yang empat dan selain yang empat. Tak ada diantara mereka yang mengkafirkan masing-masing diantara 72 kelompok ini". [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (7/218) karya Syaikhul Islam]

Lebih tragis lagi, JM menganggap kita yang mengaku salafi sebagai kelompok yang lebih parah, lebih berbahaya dan lebih ghuluw (ekstrim) daripada KHAWARIJ dan MU’TAZILAH, sebab menurutnya kita -salafiyyun- mengeluarkan orang dari AHLUS SUNNAH alias ISLAM dengan sebab melakukan dosa kecil.

Dengarkan JM berkata tentang kita yang menyatakan diri sebagai salafi , "Padahal mereka punya manhaj, dalam kaitannya dengan sikap dan pandangan terhadap murtakibil kabiirah itu jauh lebih dahsyat dari, jauh lebih berbahaya dari pada khawarij dan mu’tazilah. “Khawarij gaya baru”!"

Dia juga berkata, "Berarti mereka asyaddu wa akhtar minal khawarij wal mu’tazilah"[1]

JM juga berkata, "Berarti, haaula’i asyaddu minal khawarij wa asyaddu wa akhtar minal mu’tazilah. Lalu mengklaim diri sebagai salafiyyin. Maka ini harus hati-hati, harus waspada jangan cepat tertipu dengan pengakuan, nahnu salafiyyin, nahnu salafiyyin. Lihat maa hiyatuh!, lihat hakikatnya!. Kalau ada yang sudah sangat terlalu mudah, dan sangat terlalu rentan mengeluarkan orang dari manhaj Ahlus Sunnah, hanya dengan hal-hal seperti ini. Maka ini kita harus WASPADA".

Kami mau bertanya kepada JM secara terhormat , "Jika orang-orang yang mengaku salafi ini adalah lebih parah daripada Khawarij dan Mu’tazilah, nah apakah mereka yang mengaku salafi ini adalah AHLUS SUNNAH alias ISLAM atau bukan??!!!" Saya kira JM akan kesusahan dan bersimbah peluh untuk menjawab pertanyaan ini, kecuali ia akan terjatuh dalam penyimpangan berikutnya. Nas’alullaha salamah minadh dholal wal jahl ba’dal huda wan nur (Kita memohon kepada Allah dari kesesatan dan kebodohan setelah datangnya petunjuk dan jalan yang terang).

Jika orang-orang yang mengaku salafi ini adalah lebih parah daripada Khawarij dan Mu’tazilah, maka konsekuensinya pengaku salafi ini bukan Ahlus Sunnah, bukan Islam menurut Jahada. Jadi, siapa sebenarnya "Khawarij Gaya Baru???" Jahada atau orang-orang yang mengaku salafi. Jawabannya, kami serahkan kepada pembaca yang berakal.

PERNYATAAN JM bahwa mengeluarkan orang dari Ahlus Sunnah sama dengan mengeluarkan orang dari Islam. PERNYATAAN ini mengharuskan tidak adanya ahli bid’ah dan tabdi’, sebab tabdi’ akan menyebabkan kita harus mengeluarkan para ahli bid’ah dari AHLUS SUNNAH alias Islam. Inilah konsekuensi pernyataan JM yang batil; tak ada jalan keluar baginya, kecuali harus bertobat dari pernyataan itu.

Kesalahpahaman tentang makna Islam yang dialami oleh Jahada, juga pernah menimpa seorang Penulis buku yang benama Ustadz Abdul Halim Abu Syuqqoh, Penulis kitab "Tahrir Al-Mar’ah fii Ashr Ar-Risalah". Kesalahpahaman ini telah diluruskan oleh Syaikh Al-Albaniy ketika beliau dialog dengan Abu Syuqqoh. Sekarang dengarkan kisahnya, kami ambilkan dari kitab Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy As-Salafiy (salah seorang murid Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy -rahimahullah-), berikut nashnya:

  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Jika ditanyakan kepada Anda, apa madzhabmu? Apa jawaban Anda?"
  • Abu Syuqqoh menjawab, "muslim".
  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Ini tak cukup !"
  • Abu Syuqqoh menjawab, "Sunnguh Allah telah menamai kita muslim". Abu Syuqqoh membaca firman-Nya -Ta’ala-,

"Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu". (QS.Al-Hajj :78 ).

  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Ini adalah jawaban yang benar andaikan kita berada di kurun pertama sebelum tersebarnya kelompok-kelompok sesat. Andaikan kita sekarang bertanya kepada muslim manapun dari kelompok-kelompok sesat ini yang kita telah berbeda dengannya dalam pokok aqidah, maka tak akan melenceng jawabannya dari kata ini (yaitu "kata muslim"). Semuanya akan menjawab, baik itu orang Syi’ah-Rofidhoh,Khawarij, Duruz, maupun Nushoiriy-Alawiy, "Aku adalah muslim". Jadi, ini tak cukup di hari-hari ini".
  • Abu Syuqqoh berkata, "Kalau begitu aku katakan, Aku adalah seorang muslim yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah".
  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Ini juga tak cukup !"
  • Abu Syuqqoh berkata, "Kok bisa?".
  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Apakah Anda mendapati seorang diantara mereka yang telah kita contohkan -misalnya- ia berkata, "Saya adalah seorang muslim yang tak berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah"…Siapa yang akan menyatakan, "Aku tak berada di atas Al-Kitab dan Sunnah?"

Kemudian Syaikh –hafizhahullah– mulai menjelaskan pentingnya landasan yang kami bangun, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Sholih.

  • Abu Syuqqoh berkata, "Kalau begitu aku katakan, Aku adalah seorang muslim yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Sholih".
  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Jika ada yang bertanya kepadamu tentang madzhabmu, apakah engkau mengatakan hal itu kepadanya" .
  • Abu Syuqqoh berkata, "Ya".
  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Bagaimana pendapatmu jika kita meringkas kalimat itu menurut bahasa? Karena sebaik-baik ucapan adalah yang ringkas, lagi menunjukkan (maksud). Maka kita katakan, "Salafiy"[2].
  • Abu Syuqqoh berkata, "Mungkin aku bisa bertoleran denganmu, maka aku katakan kepadamu,"Ya ". Tapi keyakinanku sebagaimana yang telah lalu. Karena awal kali –ketika orang mendengar bahwa engkau adalah salafiy-,makapikiran manusia akan lari kepada banyak perkara nerupa tindakan-tindakan bermuatan kekerasan yang sampai pada tingkatan kekasaran yang terkadang terjadi dari salafiyyun".
  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Anggaplah ucapanmu benar. Jika kau katakan, "muslim", tidakkah pikiran orang akan lari kepada orang Syi’ah-Rofidhoh, atau Duruziy, atau Isma’iliy…dan seterusnya?[3]
  • Abu Syuqqoh berkata, "Mungkin saja. Tapi aku telah mengikuti ayat yang mulia ini:

"Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim". (QS.Al-Hajj :78 ).

  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Tidak, wahai saudaraku!Sungguh engkau tak mengikuti ayat ini, karena ayat ini memaksudkan Islam yang benar (baca: murni). Seyogyanya Anda berbicara dengan manusia sesuai tingkatan berpikirnya…apakah seorang diantara kalian akan memahami bahwa engkau adalah muslim sesuai dengan makna yang dimaksudkan dalam ayat itu? Perkara-perkara yang terlarang (tercela) yang Anda telah sebutkan, yah terkadang benar atau tidak, karena ucapanmu "keras", ini terkadang pada sebagian person, bukan menjadi manhaj dalam aqidah ilmiyyah. Tinggalkan person-person itu, karena kita sekarang berbicara tentang manhaj; karena bila kita bilang, "Syi’ah, Duruziy, Khawarij, shufiy, atau Mu’tazilah, maka akan muncul perkara-perkara tercela tersebut (berupa sikap keras dan brutal).[4] Jadi, itu bukanlah inti pembicaraan kita. Kita sedang membahas tentang nama yang menunjukkan madzhab seorang manusia yang ia beragama kepada Allah dengannya".
  • Kemudian Syaikh berkata, "Bukankah semua sahabat muslim?"
  • Abu Syuqqoh berkata, "Tentunya muslim".
  • Syaikh Al-Albaniy berkata, "Tapi diantara mereka ada orang yang mencuri, dan berzina. Ini tentunya tak membolehkan bagi seorang diantara mereka untuk bilang, "Aku bukan muslim". Bahkan ia adalah muslim, dan beriman kepada Allah dan Rasul-nya sebagai suatu manhaj. Akan tetapi terkadang ia menyelisihi manhajnya, karena ia bukanlah ma’shum. Karenanya, kita –Semoga Allah memberkahimu- sekarang berbicara tentang sebuah kata yang menunjukkan aqidah kita, pemikiran kita, dan acuan kita dalam kehidupan kita yang berkaitan dengan urusan agama kita yang kita menyembah Allah dengannya. Adapun fulan orangnya mutasyaddid (keras) atau mutasahil (bergampangan), maka ini adalah perkara lain"
  • Kemudian Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata lagi, "Aku ingin engkau pikirkan kata yang ringkas ini (kata salafiy) sehingga engkau tak tetap bersikeras di atas kata muslim, sedang Anda tahu bahwa tak ada seorang pun di antara kalian yang memahami apa yang Anda inginkan selama-lamanya. Jadi, bicarailah manusia sesuai tingkatan berpikir mereka. Semoga Allah memberkahimu dalam sambutanmu".

Inilah diskusi Syaikh yang kami nukilkan dari kitab Limadzaa Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafiy (hal. 36-38) karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy As-Salafiy Al-Atsariy -hafizhahullah-, cet. Dar Ibnil Qoyyim & Dar Ibnu Affan, 1422 H.

Footnote :

[1] Maknanya: Mereka lebih parah dan berbahaya dibanding Khawarij dan Mu’tazilah.

[2] Maksudnya Syaikh, daripada kita susah mengucapkan, "Aku adalah seorang muslim yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Sholih", ya lebih baik kita cari istilah ringkasnya. Nah ternyata kalimat itu diwakili oleh kalimat "Aku Salafiy" !!

[3] Kelompok-kelompok sesat ini amat masyhur kebrutalan mereka, sehingga terkadang membuat orang berburuk sangka kepada Islam dan menyangka sebagai agama sadis, padahal Islam berlepas diri dari sikap brutal. Bukan Cuma itu, disana masih ada kelompok sesat lainnya di zaman ini dari kalangan Khawarij (kita sebut hari ini dengan teroris). Mereka ini juga tak kalah brutalnya dengan kelompok-kelompok sebelumnya. Masih segar dalam ingatan kita tentang peristiwa 11 September ketika sekelompok teroris menabrakkan pesawat ke gedung WTC sehingga dunia tersentak kaget, dan dunia barat yang sudah mulai simpati dengan Islam, akhirnya benci dan alergi dengan Islam dan kaum muslimin. Kaum Khawarij ini juga (yang mengatasnamakan diri mereka sebagai mujahidin secara dusta) telah melakukan aksi brutal dan teror di pulau Bali, tanpa izin dari pemerintah. Mereka melakukan peledakan yang menelan jumlah besar dari kalangan kafir maupun muslim. Tak usah jauh, juga terjadi peledakan secara brutal dan keras di Mall ratu Indah, Makassar. Semua ini mencoreng wajah Islam sehingga ada sebagian orang –utamanya orang kafir, munafiq, dan lainnya- , jika ia mendengar kata Islam, atau melihat orang yang multazim, maka akan muncul dalam pikirannya segala bentuk kebrutalan, dan kesadisan yang disandarkan kepada Islam, akibat ulah kaum Khawarij !! Ini juga menunjukkan kita bahwa mereka (kaum Khawarij-Teroris) adalah kaum yang tak yang berakhlaq. Tak ada lagi sifat rahmatun lil alamin. Tergesa-gesa…tak sabar…ceroboh…itulah yang menguasai mereka !!! Nas’alullahas salamah wal afiyah minal fitan wa ahliha.

[4] Maksud beliau, jika kita sebutkan kelompok-kelompok sesat itu, maka akan muncul juga ke dalam benak orang sesuatu berupa kekerasan dan kebrutalan sebagaimana telah kami contohkan dalam footnote (no.110).

Tags:, , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Bukan dari Rakyat
  2. Haus Kekuasaan
  3. Agama Syi’ah-Rofidhoh (Bahaya Laten yang Mengancam Kaum Muslimin) – Bag. 1
  4. Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi
  5. Terlarangkah Memakai Nisbah As-Salafiy atau Al-Atsariy ???
  6. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 4)
  7. RUJUK KEPADA KEBENARAN ADALAH CIRI AHLUS-SUNNAH
  8. Bahaya Kebebasan Berpikir
  9. Yang Muslimah Lakukan ketika Hendak Keluar Rumah
  10. Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Muqaddimah)

6 Responses to Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (Bag 1)

  1. بسم الله الرحمن الرحيم

    Jazakallohukhoiron katsiir kepada semua yang bertaawun dalam termuatnya tulisan ini, mualai dari Ustadz penulis, sampai admin situs,
    sangat memberi penjelasan
    alhamdulillah

  2. بسم الله الرحمن الرحيم
    Alhamdulillah, semoga artikel ini semakin memberi pemahaman pada simpatisan mereka di Wahdah Islamiyah tentang penyimpangan yang dilakukan oleh ketua-ketua mereka. Barakallahufik

  3. بسم الله الرحمن الرحيم

    tolong akhi artikel ini dan bagian lainnya jangan di delete dulu, afwan mungkin kedepan masih banyak ikhwa2 lain yang ingin melihat artikel ini
    semoga Allah memudahkan jalan yg kt tempuh

  4. Alhamdulillah, diantara rahmat Allah bahwa tidaklah akan datang suatu kebatilan kecuali akan datang penjelasan yang lebih baik tentang kebatilan tersebut,. maka akan mendapat petunjuk orang-orang yang baik bersih hatinya, dan akan sesatlah orang-orang yang tersesat samapai ia tunduk kepada kebenaran yang datang..

    Bagaimana kabar balikpapan? Semoga Ustadz Asykari disana juga bisa selesaikan buku tentang Wahdah Islamiyah. Barokallahu fiikum

  5. semoga dengan dialog ini ada pencerahan buat ikhwan dimana saja tentang hizbiyyah dan manhaj yang lurus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *