Agama Syi’ah-Rofidhoh (Bahaya Laten yang Mengancam Kaum Muslimin) – Bag. 2

Dilihat 202 kali | Kirim Ke Teman

Penulis : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah

  • Aqidah Reinkarnasi ( Roj’ah )

Reinkarnasi merupakan aqidah yang diyakini oleh orang-orang Yahudi. Mereka meyakini bahwa ada sebagian orang bisa bangkit dan kembali ke alam dunia ini.[1]

Aqidah reinkarnasi ini ternyata juga diyakini oleh orang-orang Syi’ah-Rofidhoh.[2] Ini bisa kita lihat dari referensi yang ditulis oleh mereka yang menetapkan aqidah ini. Sebagai contoh -bukan pembatasan-,

Al-Hurr Al-Amily, seorang ulama mereka berkata, “Ketahuilah bahwa roj’ah (reinkarnasi) itu adalah kehidupan setelah mati sebelum hari kiamat. Itulah yang dipahami dari maknanya. Disini para ulama menegaskan hal ini sebagaimana akan datang…”.[3]

Al-Ahsa’iy, seorang ulama Syi’ah berkata, ” Ketahuilah bahwa reinkarnasi merupakan salah satu diantara rahasia Allah. Menyatakan aqidah tersebut merupakan buah iman terhadap perkara gaib. Yang dimaksud dengannya adalah kembalinya para imam –alaihissalam-  [4]dan pengikutnya  serta musuh-musuh mereka  dari kedua belah pihak yang memurnikan keimanan atau kekufuran. Bukan termasuk orang yang dibinasakan oleh Allah di dunia dengan siksaan. Karena  barangsiapa yang yang dibinasakan oleh Allah di dunia dengan siksaan, maka ia tak akan kembali ke dunia “. [5]

Apa yang dinyatakan oleh ulama’ mereka yang terdahulu, juga telah dikuatkan dan dinyatakan ulama mereka di zaman sekarang:

Ibrahim Al-Musawy, seorang ulama Syi’ah berkata, ” Reinkarnasi adalah ungkapan tentang dikumpulkannya suatu kaum ketika munculnya Al-Qo’im Al-Hujjah (imam Mahdi palsu mereka,pen) -alaihissalam- dari kalangang orang-orang yang sudah berlalu kematiannya berupa pengikutnya agar mereka bisa berhasil mendapatkan pertolongannya, dan bergembira dengan munculnya daulah mereka; dan juga suatu kaum dari kalangan musuh-musuh mereka. Dia (Al-Qo’im) membalas mereka sehingga mereka bisa mendapatkan siksaan yang sepantasnya, dan pembunuhan lewat tangan pengikutnya, dan agar mereka ditimpakan kehinaan karena menyaksikan ketinggian kalimatnya. Reinkarnasi menurut kami –Imamiyyah, Itsna Asyariyah- [6] khusus bagi orang memurnikan keimanan, dan memurnikan kekufuran. Yang lainnya didiamkan”. [7]

Muhammad Ridho Al-Muzhoffar, seorang Rofidhoh berkata, ” Aqidah kami tentang reinkarnasi: Allah akan mengembalikan suatu kaum dari kalangan orang-orang meninggal dunia dalam bentuk mereka dulu…”[8]

Aqidah Roj’ah (reinkarnasi) ini diyakini oleh mereka dari dulu sampai sekarang. Ini bisa dilihat nanti dari hasil kesepakatan mereka.

Syaikh Abdullah Al-Jumailyhafizhahullah-, seorang ulama Ahlus Sunnah berkata, ” Semua orang Rofidhoh berpendapat adanya aqidah roj’ah ini. Sungguh telah dinukil oleh lebih dari satu orang ulama mereka yang masyhur ijma’ mereka dalam menyatakan aqidah roj’ah ini”.[9]

Sebagai bukti adanya ijma’ mereka dalam masalah Roj’ah ini, Al-Mufid berkata dalam sebuah kitabnya dibawah judul Pendapat tentang Roj’ah : ” Al-Qur’an datang membawa kebenaran hal itu (yakni: roj’ah) dan banyak berita-berita tentangnya. Orang-orang (Syi’ah) Imamiyyah semuanya di atas pendapat ini, kecuali orang yang ganjil diantara mereka”.[10]

Gembong Syi’ah, Al-Hur Al-Amily berkata ketika menukil dalil tentang roj’ah, “Dalil keempat: Kesepakatan (ijma’) nya seluruh orang-orang Syi’ah Imamiyyah, dan Itsna Asyariyyah tentang meyakini kebenaran roj’ah (reinkarnasi). Tak nampak adanya orang yang menyelisihi ini diantara mereka, yang bisa diperhitungkan ucapannya dari kalangan ulama (Rofidhoh,pen)dulu maupun belakangan”.[11]

Lalu ia berkata lagi ketika menyebutkan ulama mereka yang menukil ijma’ tentang adanya aqidah roj’ah dalam agama Rofidhoh, “Syaikh Al-Jalil Aminuddin Abu Ali Al-Fadhl Ibnul Hasan Ath-Thibrisy menukilnya dalam kitab Majma’ Al-Bayan li Ulum Al-Qur’an. Diantara yang menukil ijma’ ini, Syaikh Al-Hasan bin Sulaiman bin Kholid Al-Qummy dalam sebuah risalahnya tentang reinkarnasi. Dia berkata di dalamnya dengan lafazh seperti ini: “Reinkarnasi termasuk perkara yang disepakati ulama kami, bahkan semua orang-orang Imamiyyah”. Sungguh telah dinukil ijma’ tentang masalah ini oleh Syaikh Syaikh Al-Mufid, Sayyid Al-Murtadho, dan lainnya dari mereka. Pemilik kitab As-Siroth Al-Mustaqim melontarkan ucapan yang panjang tentang reinkarnasi, lahiriahnya ia menukil ijma’ juga”.[12]

Diantara yang menukil ijma’ dari kalangan mutakhirin Syi’ah-Rofidhoh, Muhammad Ridho Al-Muzhoffar. Dia berkata, “Ya, telah datang Al-Qur’an Al-Karim membawa (berita) terjadinya reikarnasi ke dunia, berita-beritapun tentangnya banyak dari ahlul bait. Orang-orang Syi’ah Imamiyyah semua di atas (pendapat ini), kecuali sedikit diantara mereka yang mentakwil dalil yang datang tentang roj’ah bahwa maknanya adalah kembalinya daulah, perintah dan larangan”.[13]

Jadi, sekte sesat Syi’ah-Rofidhoh menyatakan bahwa ulama mereka sepakat tentang adanya reinkarnasi (kebangkitan) di dunia sebelum datangnya hari kiamat.

Adapun aqidah yang benar di sisi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat dan ulama kaum muslimin bahwa hal itu tak ada, kecuali setelah tegaknya kiamat, manusia akan dibangkitkan dari kuburnya!!

Batilnya Aqidah Reinkarnasi

Aqidah reinkarnasi merupakan aqidah yang menyelisihi Al-Qur’an dan aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama kita.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany berkata, “Tasyayyu’ (jadi orang Syi’ah)adalah mencintai[14] dan mendahulukan Ali dari pada sahabat (lain). Barangsiapa yang mendahulukan Ali daripada Abu Bakar dan Umar, maka ia telah keterlaluan dalam tasyayyu’-nya dan dinamai orang Rofidhoh. Kalau tidak, maka dia orang Syi’ah. Kalau ditambah lagi dengan pencelaan (terhadap sahabat), dan menegaskan kebencian (kepada mereka), maka dia itu ekstrim. Jika ia meyakini reinkarnasi ke dunia, maka ia lebih ekstrim lagi.[15]

Abdul Aziz bin Waliyullah Ad-Dahlawy -rahimahullah- berkata dalam mengingkari aqidah reinkarnasi, ” Aqidah ini merupakan penyelisihan yang amat gamblang terhadap Al-Kitab, karena roj’ah (reinkarnasi) sungguh telah dibatalkan dalam banyak ayat, diantaranya firman-Nya Ta’ala,

قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)  [المؤمنون : 99 – 101]

“[…dia berkata,” Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak ! Sesungguhnya itu adalah perkara yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”].[16] Jadi, firman-Nya, “…dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”, gamblang sekali dalam meniadakan aqidah reinkarnasi secara mutlak”.[17]

“Diantara aqidah Ahlis Sunnah bahwa tak ada seorang mayatpun sebelum hari kebangkitan dapat kembali (ke dunia). Maka Muhammad r tidak dapat kembali (ke dunia). Demikian pula seorang dari para sahabatnya selain pada hari kiamat ketika Allah mengembalikan orang-orang mukmin dan kafir untuk dihisab dan diberi ganjaran. Ini merupakan ijma’ (kesepakatan) semua orang Islam sebelum munculnya orang-orang Rofidhoh”.[18][ Lihat Mas’alah At-Taqrib” (hal.115)]

@ Faedah : Ada satu perkara aneh dalam aqidah reinkarnasi yang diyakini oleh Rofidhoh, yaitu pernyataan mereka bahwa yang mengalami reinkarnasi nanti, khusus para sahabat yang dikafirkan oleh Rofidhoh, dan ahlul bait (???).

Lantas kemana orang-orang kafir, Yahudi, Nashoro, dan Majusi??! Padahal mereka juga kafir!! Ini menunjukkan bahwa aqidah reinkarnasi ini dibangun di atas rasa benci dan hasad kepada para sahabat Nabi r , yang telah menyampaikan agama Islam ini kepada manusia dengan bersih, penuh amanah dan kejujuran. Sebab mereka ini (yakni para sahabat) adalah orang-orang yang benar-benar paham dan takut kepada Allah jika mereka berdusta atas agama-Nya sehingga membuat orang-orang zindik (munafiq) benci kepada para sahabat. Apalagi ketika mereka (orang-orang zindik) ini menyaksikan agama Islam mampu mengalahkan agama-agama lain.

Para sahabat dan kaum muslilmin memiliki kekuasaan yang luas sehingga bisa menundukkan negara-negara lain yang menghalangi dakwah Islam. Karenanya, sebagian orang-orang zindik yang enggan meninggalkan agama mereka berusaha sekuat mungkin mempertahankan dan masih mengamalkan agamanya, sekalipun mereka sudah ngaku masuk Islam.[19]

Inilah yang dialami oleh orang-orang Rofidhoh. Nenek-moyang mereka enggan meninggalkan agama Majusi mereka, sehingga berusaha mempertahankan agama mereka di kalangan anak keturunan mereka, bahkan diadopsi ke tengah kaum muslimin yang belakang hari menyebarkan penyakit zindik dan munafik, berani mencela sahabat dan mengutak-atik Al-Qur’an.

Aqidah Al-Bada’ (Munculnya Ide Baru bagi Allah)

Orang-orang Syi’ah-Rofidhoh meyakini bahwa ide Allah boleh saja berubah setelah Allah tetapkan dan muncul ilmu baru bagi Allah, na’udzubillah!! [20]Ini merupakan kelancangan terhadap Allah Robbul alamin -Subhanahu wa Ta’ala-.

Seorang ulama mereka, Muhammad bin Mas’ud Iyasyi berkata ketika menetapkan aqidah Al-Bada’ ini, ” Dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far Alahissalam,

øŒÎ)ur $tRô‰tãºur #Óy›qãB z`ŠÏèt/ö‘r& \’s#ø‹s9

“Dan ingatlah ketika Kami berjanji kepada Musa (akan memberi Taurat setelah ) empat puluh malam…”[21]

Dia (Abu Ja’far) berkata, “Dulu menurut ilmu Allah dan taqdir-Nya adalah 30 malam, kemudian tampak ide baru bagi Allah, lalu Dia-pun menambahinya sepuluh hari. Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan oleh Robb-Nya, baik yang pertama maupun yang terakhir menjadi empat puluh malam”.[22]

Tokoh Syi’ah, An-Nubakhti menyebutkan, “Bahwa Ja’far bin Muhammad Al-Baqir menetapkan kepemimpinan anaknya, Isam’il dan hal itu telah diisyaratkan ketika ia masih hidup. Kemudian Isam’il meninggal sedang ia (Ja’far) masih hidup. Dia pun berkata, ‘”Tidak tampak (ide baru) bagi Allah sedikitpun sebagaimana tampaknya  hal itu pada Isma’il, anakku’ “.[23]

Syaikh Ihsan Ilahi Zhohirrahimahullah–  berkata dalam membantah dan mengomentari ucapan dan riwayat orang-orang Syi’ah ini, “Riwayat-riwayat ini menetapkan makna Al-Bada’  bahwa Allah mengetahui sesuatu yang Allah belum ketahui sebelumnya. Inilah yang diyakini oleh orang-orang Syi’ah tentang Allah. Padahal Allah telah menerangkan tentang ilmu-Nya dengan firman-Nya melalui lisan Musa –alaihis salam-[24],

žw ‘@ÅÒtƒ ’În1u‘ Ÿwur Ó|¤Ytƒ ÇÎËÈ

Tuhan Kami tidak akan salah dan tidak (pula) salah[25].”.[26]

Riwayat tentang aqidah Al-Bada’  ini sebenarnya banyak sekali dalam kitab-kitab mereka. Andaikan bukan karena umur itu pendek, niscaya akan kami bawakan lebih banyak dari ini.

Diantara ulama mereka ada yang membuatkan bab khusus menetapkan aqidah ini sampai orang-orang mutakhirin mereka tak mampu menyembunyikan aqidah Al-Bada’ ini dan menolaknya, disebabkan banyaknya riwayat-riwayat yang menetapkan hal tersebut dalam kitab-kitab induk mereka.

Sekalipun ada diantara mereka berusaha menolaknya dan membersihkan orang Rofidhoh dari kenyataan ini, tapi atas dasar taqiyyah (baca: pura-pura) setelah telinga mereka panas mendengarkan sanggahan ulama’ Ahlus Sunnah –rahimahumullah-.[27]

Namun sayangnya usaha ini tak ada artinya, karena dia telah didahului adanya ijma’ dan kesepakatan dari kalangan pendahulu mereka[28]. Berikut ini bukti ijma’ mereka,

Al-Mufid, seorang ulama Rofidhoh berkata, “Pendapat orang-orang Imamiyyah (maksudnya: Rofidhoh) tentang aqidah Al-Bada’ , metode (penetapannya) menurut dalil sam’i, bukan dengan akal. Telah datang berita (riwayat-riwayat) tentang hal itu dari para imam –alaihis salam-“.[29]

Bahkan Al-Mufid menukil ijma’ orang-orang Rofidhoh secara gamblang adanya aqidah Al-Bada’ dalam ajaran mereka melalui kitabnya “Awa’il Al-Maqolat”, sekaligus menetapkan bahwa mereka dalam aqidah ini menyelisihi semua sekte Islam.[30]

Para pembaca yang budiman, aqidah Al-Bada’ ini amat berbahaya sebab menetapkan sifat bodoh atau lupa bagi Allah Robbul Alamin sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Ini merupakan kekafiran yang nyata.

Mencela Para Sahabat

Seusai membawakan aqidah-aqidah mereka yang sangat parah karena sudah sampai pada tingkat kekufuran, maka kami merasa terpanggil untuk membawakan aqidah mereka tentang wajibnya mencela, bahkan melaknat para sahabat Nabi r , yang telah membawa syari’at ini dengan penuh kejujuran, tanpa ditambah dan dan tanpa dikurangi.

Saya terdorong untuk membahasnya karena dengan mencela sahabat, mereka bisa meruntuhkan kepercayaan seseorang sehingga ia tak mau lagi menerima dan mendengarkan hadits-hadits yang berisi syari’at Islam, yang telah didengarkan dan diriwayatkan oleh para sahabat dari Nabi r. Berikutnya, mereka masukkan pemikiran Syi’ah-Rofidhoh dengan kedok cinta dan pembelaan terhadap Ahlul Bait dengan cara membuat riwayat-riwayat palsu yang menggambarkan adanya sengketa antara ahlul bait dengan sahabat yang bukan ahlul bait, sebagai jalan bagi orang-orang Syi’ah  dalam mencela para sahabat yang bukan Ahlul bait.[31]

Padahal ahlul bait cinta kepada semua sahabat. Adapun orang-orang Syi’ah, yang ada penyakit di hatinya, sebaliknya membenci para sahabat Nabi r yang telah membela Islam dan menyebarkannya.

Para Pembaca yang budiman, mencinta para sahabat Nabi r, baik itu ahlul bait maupun bukan, merupakan tanda keimanan seseorang.

Al-Imam Al-Bukhori -rahimahullah- dalam kitab Shohih-nya (1/14/17),Bab Tanda Keimanan Adalah Cinta Kepada Orang-Orang Anshor , membawakan sebuah hadits dari Anas –radhiyallahu anhu- dari Nabi r , beliau bersabda,

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

“Tanda keimanan itu adalah mencintai orang-orang Anshor,dan tanda munafiq itu adalah membenci orang-orang Anshor”.[32]

Imam As-Suyuthirahimahullah– berkata ketika menafsirkan hadits di atas, “Tanda-tanda orang beriman adalah mencintai orang-orang Anshor. Karena, siapa saja yang mengerti martabat mereka dan apa yang mereka persembahkan berupa pertolongan terhadap agama Islam, jerih-payah mereka memenangkannya, menampung para sahabat (muhajirin,pen), cinta mereka kepada Nabi r , pengorbanan jiwa dan harta mereka di depan Nabi r , permusuhan mereka terhadap semua orang (kafir) karena mengutamakan Islam dan mencintainya, maka semua itu merupakan tanda kebenaran imannya, dan jujurnya dia dalam ber-Islam. Barangsiapa yang membenci mereka di balik semua pengorbanan itu, maka itu merupakan tanda rusak dan busuknya niat orang ini”.[33]

Dalam sebuah hadits Nabi r bersabda dalam menerangkan martabat para sahabat, baik ahlul bait, maupun non ahlul bait,

لا تسبوا أصحابي فلوا أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Andaikan seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaq itu tak mampu mencapai satu mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya”.[34]

Dari dua hadits ini dan hadits lainnya yang semakna, Ahlus Sunnah menetapkan suatu aqidah : Wajibnya mencintai para sahabat Nabi r dan tidak mencela mereka, bahkan memuliakan mereka serta membersihkan hati dan lisan dari membicarakan permasalahan diantara para sahabat, mencela, merendahkan dan menghina para sahabat. Sebab merekalah yang memperjuangkan Islam dan menyebarkannya dengan mengorbankan harta dan jiwa mereka sampai kita juga bisa merasakan nikmat Islam.

Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata dalam menetapkan aqidah ini, ” Diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah: selamatnya hati dan lisan mereka terhadap sahabat Rasulullah r sebagaimana yang disifatkan Allah tentang mereka dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاَّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [الحشر : 10]

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hasyr : 10).

Juga (diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah) : menaati Nabi r dalam sabdanya,

لا تسبوا أصحابي و الله لوا أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه

 [“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, andaikan seorang diantara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaqnya tak mampu mencapai satu mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya”]. Mereka menerima yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah berupa keutamaan dan martabat para sahabat”.[35] Selesai Ucapan Syaikhul Islam.

Prinsip aqidah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam ini telah lama diyakini dan diterapkan oleh ulama ahlis sunnah.

Imam Ahmad bin Hambal dan Ali ibnul Madinyrahimahumallah– , keduanya berkata, “Barangsiapa yang melecehkan salah seorang diantara sahabat Rasulullah r atau ia membencinya karena sesuatu darinya atau menyebutkan kejelekannya, maka orang ini adalah mubtadi’ (ahli bid’ah) sampai ia mau mendo’akan rahmat bagi mereka semuanya, dan hatinya selamat terhadap mereka”.[36]

Imam Al-Bukhory rahimahullah– berkata, “Saya menjumpai lebih dari seribu orang ahli ilmu dari Hijaz, Makkah, Madinah, Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir. Aku menemui mereka berkali-kali dari masa ke masa. Aku menemui mereka sedang jumlahnya masih banyak sejak lebih dari 46 tahun silam. Saya tak menemui seorang pun diantara mereka berselisih dalam perkara-perkara ini (lalu ia sebut diantaranya): Saya tak melihat seorang diantara mereka mencela sahabat Muhammad r, dan mereka melarang dari bid’ah serta mencintai sesuatu yang dulu di jalani oleh Nabi r dan para sahabatnya”.[37]

Adapun keyakinan Ahlus Sunnah tentang Ahlul Bait, maka mereka mencintai dan memuliakan mereka sebagaimana umumnya sahabat, tanpa mengkultuskan mereka.

Imam Abdul Qohir Al-Baghdadyrahimahullah– berkata, “Ahlus Sunnah menyatakan loyal terhadap Al-Hasan , Al-Husain, dan para cucu Rasulullah r yang masyhur seperti Al-Hasan Ibnul Hasan, Abdullah Ibnul Hasan, Ali Ibnul Husain Zainul Abidin, Muhammad bin Ali Ibnul Husain yang dikenal dengan Al-Baqir, …Ja’far bin Muhammad yang ma’ruf dengan Ash-Shodiq, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa Ar-Ridho, demikian pula yang mereka nyatakan sama pada semua anak kandung Ali seperti Al-Abbas, Umar dan Muhammad Ibnul Hanafiyyah; semua yang menempuh sunnah bapak-bapaknya yang suci. Bukan yang condong diantara mereka kepada madzhab Mu’tazilah atau Rofidhoh, dan bukan menisbahkan diri kepada mereka, berlebihan dengan sikap permusuhan dan kezholimannya”.[38]

Jadi, berdasarkan nukilan di atas dapat dipahami bahwa Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bait dan semua sahabat. Bukan seperti orang-orang Syi’ah-Rofidhoh, mereka membenci sahabat Nabi r dengan dalih cinta Ahlul Bait.[39]

Pembaca yang budiman, mungkin anda dari tadi bertanya-tanya dalam hati, Apa sih buktinya orang Syi’ah-Rofidhoh membenci sahabat Nabi r ?

Jawabnya: Banyak sekali riwayat-riwayat yang dinisbahkan secara dusta kepada Ahlul bait dalam kitab mereka yang menetapkan bahwa mereka mencela , dan membenci sahabat, bahkan mengkafirkan mereka.

Berikut ini akan kami nukilkan dari kitab mereka yang merupakan pegangan dan pedoman orang-orang Syi’ah-Rofidhoh agar para pembaca yakin terhadap ucapan ulama kita di atas :

Al-Kulainy menyebutkan dalam Al-Kafi dengan sanadnya dari Abu Ja’far, ia berkata, ” Dulu manusia semuanya murtad sepeninggal Nabi selain tiga orang. Saya katakan, Siapa tiga orang itu? Ia jawab, “Al-Miqdad ibnul Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary, dan Salman Al-Farisy rahmatullah wabarakatuhu alaihim-“.[40]

Terus Al-Kulainy membawakan riwayat lain dari Humron bin A’yun, ia berkata, Saya berkata kepada Abu Ja’far –alaihissalam-, “Aku jadikan engkau tebusanku, alangkah sedikitnya kita. Andai kita berkumpul (makan,pen) seekor kambing, niscaya kita tak akan mampu menghabiskannya”. Maka ia berkata, ” Maukah kamu kuceritakan sesuatu yang lebih mengherankan lagi daripada itu? Muhajirin dan Anshor telah hilang kecuali tiga-sambil berisyarat dengan tangannya-“.[41]

Inilah sikap mereka kepada sahabat Nabi r . Adapun sikap mereka kepada Khulafa’ur Rasyidin, maka silakan baca nukilan berikut ini,

Muhammad Baqir Al-Majlisy, seorang pemuka mereka berkata, ” Aqidah kami (Syi’ah) dalam hal berlepas-diri adalah kami berlepas-diri dari empat berhala : Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah; dan juga dari empat wanita: A’isyah, Hafshoh, Hindun, dan Ummul Hakam, serta berlepas diri dari semua pendukung dan pengikut mereka. Mereka itu sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi. Tidak sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya, dan para imam kecuali setelah berlepas diri dari musuh-musuh mereka”.[42]

Inilah sikap mereka kepada para Kholifah kaum muslimin, sahabat terbaik Nabi r , nah bagaimana lagi sikap mereka terhadap sahabat yang di bawah tingkatan mereka dan kaum muslimin secara umum. [43]

Sungguhnya riwayat-riwayat ini yang memutuskan murtadnya generasi terbaik tersebut, tidak dikecualikan di dalamnya selain tiga atau empat atau tujuh -paling maksimal-.

Riwayat-riwayat ini di dalamnya tidak disebutkan Ahlul Bait. Jadi, hukum murtad dalam nas-nas ini mencakup semua sahabat, baik itu kerabat Rasulullah r, istri-istrinya (Ummahatul Mu’minin) dan lainnya. Nas-nas itu mencakup para sahabat dan Ahlul Bait.

Padahal pemalsu riwayat ini mengaku mendukung Ahlul Baitnya (keluarga)Rasulullah r . Ini tiada lain, kecuali merupakan bukti bahwa “tasyayyu”  (ngaku mendukung Ahlul Bait), cuma sekedar kedok dalam merealisasikan misi-misi busuk mereka melawan Islam dan pemeluknya.

Alangkah benarnya apa yang dikatakan oleh Abu Hatim Ar-Rozi –-rahimahullah-, “Jika engkau melihat seseorang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah r , maka ketahuilah dia itu orangnya zindik. Karena Rasul r di sisi kami adalah haq, dan Al-Qur’an adalah benar. Sedang Para sahabat Rasulullah r itulah yang menyampaikan kepada kita Al-Qur’an ini , dan sunnah. Mereka (orang zindiq) itu sebenarnya ingin menjatuhkan saksi-saksi kami untuk membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi celaan itu lebih berhak ditujukan kepada mereka, sedang mereka adalah orang-orang zindik”.[44]

  • Taqiyyah (Berbulu Domba)

Ada suatu perkara yang perlu kami jelaskan agar pembahasan terdahulu semakin kokoh. Perkara itu adalah perkara Taqiyyah (pura-pura). Dengan senjata dan tameng Taqiyyah ini mereka mampu mengelabui kaum muslimin.

Bayangkan ketika pembaca misalnya sudah capek-capek membahas dan menjelaskan aqidah sesat mereka di hadapan mereka sesuai penjelasan kami di atas. Lantas mereka dengan mudah mengelabui anda dan kaum muslimin lainnya seraya mereka berkata dan mengingkari, “Wah, apa yang anda bilang bahwa kami orang-orang Syi’ah-Rofidhoh menuduh sahabat Nabi r menyelewengkan Al-Qur’an, meyakini aqidah Al-Bada’, dan reinkarnasi, dan mencela sahabat Nabi . Semua itu tidak benar adanya”

Tameng Taqiyyah (pura-pura) ini sering mereka gunakan ketika berdialog dengan Ahlus Sunnah yang memiliki ilmu dan mengerti aqidah dan akhlak mereka sebagai jalan untuk berkelit dan menghindar dari hujjah yang kita tujukan kepada mereka. Adapun orang awam, maka mereka masuk dari segi pencelaan terhadap sahabat agar orang awam jatuh kepercayaannya kepada sahabat Nabi r , dan balik percaya kepada orang-orang Syi’ah-Rofidhoh yang pendusta. Maka hati-hatilah wahai pembaca yang budiman dari racun Taqiyyah mereka. Dan jika kalian sudah menegakkan hujjah atas mereka, dan mereka balik menggunakan Taqiyyah (pura-pura) dan mengingkari hujjah kalian, maka tinggalkanlah tempat itu karena tak ada gunanya dan habiskan waktu. Bahkan malah membahayakan diri anda karena yang namanya syubhat itu sangat berbahaya, terkadang bercokol di hati dan tak bisa menjawabnya dan mengobatinya. Akhirnya bisa menjadi penyakit yang akut membahayakan aqidah kalian, Na’udzu billah !!

Aqidah Taqiyyah ini telah ditegaskan dan disebutkan dalam kitab-kitab referensi mereka. Mungkin ada baiknya kita nukil beberapa ucapan mereka yang menetapkan tentang Taqiyyah ini sebagai berikut :

  • Orang kepercayaan mereka, Muhammad bin Ali Ibnul Husain bin Babawaih berkata, ” Taqiyyah wajib. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia seperti halnya orang yang meninggalkan sholat”.[45]
  • Al-Askari menukil dalam tafsirnya dari Rasulullah r , katanya Nabi r bersabda, “Ibarat seorang mukmin yang tidak ada taqiyahnya seperti suatu jasad yang tak ada kepalanya”.[46]
  • Al-Kulaini meriwayatkan dari Muhammad bin Ali Ibnul Husain yang dikenal dengan Al-Baqir, ia berkata, ” Sesuatu apalagi yang lebih menyejukkan mataku daripada dibandingkan dengan taqiyyah. Sesungguhnya Taqiyyah itu merupakan tameng bagi seorang mukmin .[47]
  • Al-Kulaini yang dianggap imam Bukhori-nya orang Syi’ah-Rofidhoh meriwayatkan dari Ja’far Ash-Shodiq, ia berkata, ” Tidak, demi Allah ! Tak ada sesuatu yang yang lebih aku cintai di muka bumi ini dibandingkan Taqiyyah, hai Habib.Sebab Barangsiapa yang memiliki Taqiyyah , niscaya ia akan diangkat oleh Allah, wahai Habib. Barangsiapa yang tak memiliki Taqiyyah, niscaya ia akan direndahkan oleh Allah”.[48]
  • Al-Ardabily meriwayatkan dari Ali bin Musa, “Tak ada agama bagi orang yang memiliki wara’, dan tak ada iman bagi orang yang tak memiliki Taqiyyah”[49]
  • Al-Kulainy sekali lagi menukil dari Abu Ja’far (lahir tahun 57 H), dia berkata, ” Taqiyyah merupakan agamaku, dan agama nenek-moyangku. Dan tak ada iman bagi orang tak memiliki Taqiyyah”. [50]
  • Setelah kita membawakan riwayat-riwayat yang menetapkan aqidah Taqiyyah ini, mungkin ada sebagian diantara pembaca masih bertanya-tanya, “Apa sih makna Taqiyyah menurut orang-orang Syi’ah-Rofidhoh”. Nah, ada baiknya kami bawakan defenisinya menurut pemimpin mereka sendiri :
  • Seorang pemimpin mereka, Al-Mufid mendefinisikan Taqiyyah menurut agama Syi’ah seraya berkata, ” Taqiyyah adalah menyembunyikan kebenaran, menutupi keyakinan (aqidah )tentangnya, menutup diri dari orang yang menyelisihi, dan tidak menampakkan (jati diri) di depan mereka karena sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya bagi agama dan dunia”.[51]
  • Yusuf Al-Bahrani, seorang gembong mereka berkata, ” Yang dimaksud dengan Taqiyyah adalah menampakkan sikap setuju terhadap orang yang menyelisihi dalam hal yang mereka anut karena takut”.[52]
  • Al-Khumainy, dedengkot orang-orang Syi’ah- Rofidhoh berkata, Taqiyah maknanya adalah Seseorang mengucapkan perkataan yang menyelisihi kenyataan atau dia mengerjakan suatu amalan yang menyelisihi timbangan syari’at demi menjaga darah, kehormatan dan hartanya”.[53]

Inilah definisi Taqiyyah. Intinya, mereka jadikan taqiyyah itu tameng dari Ahlus Sunnah karena ada dua tujuan : Pertama, untuk mengelabui orang awam. Kedua, untuk menghindar dari hujjah Ahlus Sunnah atas mereka. Semuanya satu muara, yaitu agar agama mereka yang sesat tidak tersingkap belangnya !!!

Terakhir, kami akan nukilkan ucapan seorang ulama kita yang telah menghabiskan waktunya membantah dan membongkar kesesatan Syi’ah-Rofidhoh, Yaitu Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir rahimahullah-. Beliau berkata, “Sebagian orang Syi’ah pura-pura beralasan bahwa mereka (Syi’ah-Rofidhoh) tidak menginginkan dengan Taqiyyah untuk berdusta, bahkan mereka memaksudkan dengannya untuk menutupi urusan mereka demi menjaga jiwa, dan menjaga diri dari kejelekan.”

Kemudian beliau berkata lagi dalam membantah tipu muslihat tersebut, “Hakekatnya, bukan begitu, bahkan mereka juga dusta dalam hal ini karena mereka menginginkan dengan Taqiyyah ini untuk berdusta dan mengelabui orang, serta menampakkan diri dengan sesuatu yang berlainan dengan yang mereka rahasiakan. Buktinya berikut ini:…Dan disana ada riwayat lain yang menegaskan bahwa Taqiyyah itu adalah kemunafikan murni. Al-Kulaini meriwayatkan dalam kitab Ar-Roudhoh dari “Al-Kafi” dari Muhammad bin Muslim berkata, “Saya masuk menemui Abu Abdillah alaihissalam, dan di sampingnya ada Abu Hanifah. Lalu aku berkata kepadanya,” Aku jadi tebusanmu, aku melihat mimpi yang aneh”. Dia –Abu Abdillah- berkata, “Ceritakan, Orang pandai sedang duduk-seraya ia arahkan tangannya ke Abu Hanifah”. Lalu aku bercerita, “Aku masuk rumahku, tiba-tiba keluargaku membangkang. Maka akupun memecahkan banyak biji kelapa dan menaburkannya ke kepalaku. Aku heran terhadap mimpi ini” Abu Hanifahpun berkata, “Kamu orangnya suka tengkar dan suka mencela dalam hal warisan keluargamu. Setelah usaha keras kamu akan mendapatkan hajatmu darinya, InsyaAllah”. Abu Abdillah berkata, “Demi Allah, Kamu benar wahai Abu Hanifah”. Dia (Muhammad bin Muslim) berkata, “Lalu Abu Hanifahpun pergi darinya seraya aku berkata,” Aku jadi tebusanmu, sesungguhnya aku benci ta’bir mimpinya orang Nawashib ini[54] . Maka ia menjawab, “Wahai bin Muslim, semoga Allah tidak menghinakanmu. Ta’bir mimpinya orang-orang Nawashib tidak mungkin akan cocok dengan ta’bir mimpi kita. Ta’bir kita bukan ta’bir mereka. Ta’bir yang sebenarnya bukanlah sebagaimana yang dita’birkan oleh abu Hanifah”. Lalu akupun berkata kepadanya, “Aku jadi tebusanmu, Ucapanmu: [Kamu benar] dan andapun bersumpah atasnya. Padahal dia salah ? Dia jawab, “Ya, dia saya bersumpah bahwa dia itu benar keliru”.[55]

Sudah dikenal bahwa Abu Hanifah bukanlah seorang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan sehingga disegani dan ditakuti, bahkan beliau malah menolak untuk menjadi hakim ketika beliau diminta menjadi hakim dan justru memilih menjadi seorang penjual kain sebagaimana layaknya rakyat jelata.

Mungkin kalau Abu Hanifah punya kekuasaan dan kekuatan yang bisa merongrong dan mengancam keberadaan agama Syi’ah, maka mungkin ada benarnya. Tapi Abu Hanifah tidak punya kekuasaan dan kekuatan!! Lantas kenapa mereka sembunyikan perkara mereka di hadapan Abu Hanifah dengan cara berdusta ?? Jawabannya, pembaca bisa tebak sendiri. Ya, karena agama mereka memang dibangun di atas dusta, dibangun di atas Taqiyyah (pura-pura). Mereka ibaratnya musang berbulu-domba.

Inilah yang bisa kami kumpulkan tentang inti ajaran agama Syi’ah-Rofidhoh,  yang Islam berlepas-diri darinya. Kalau kami kumpulkan semua penyimpangan mereka, niscaya pembaca akan kaget membacanya. Ambillah sebagai contoh, Syirik besar yang mereka lakukan di hari kematian Husain. Mereka bersujud dari luar bangunan sampai masuk pekuburan Husain;  juga pengkultusan mereka kepada imam-imam mereka sampai mereka menyatakan bahwa para Nabi dan Malaikat Allah tak mampu mencapai kedudukan para imam mereka; Penghinaan mereka kepada Jibril; Mereka telah menuduh Jibril telah salah dalam menyampaikan wahyu yang sebenarnya disampaikan kepada Ali bin Abi Tholib; Mereka menghalalkan zina yang mereka istilahkan dengan nikah muth’ah[56]. Padahal telah disepakati oleh para ulama bahwa barangsiapa yang menghalalkan suatu ma’shiyat-termasuk muth’ah– setelah nyata baginya dalil dan hujjah pengharamannya, maka ia dihukumi kafir; Mereka mengusap kaki mereka yang tidak memakai khuf atau kaos kaki saat berwudhu’, tanpa dicuci. Model wudhu seperti ini tak sah !! sebab ada yang tak tercuci. Padahal sebesar logam aja tak tercuci menyebabkan wudhu seseorang itu batal sebagaimana dalam hadits Wailun lil A’qob minannar ; Mereka menghalalkan darah kaum muslimin; dan masih banyak lagi kesesatan mereka.

Cukuplah yang kami sebutkan sebagai contoh dan bukti kesesatan mereka. Semoga risalah ringkas ini bisa menjadi benteng bagi para pembaca dari serangan syubhat yang dilancarkan oleh orang-orang Syi’ah-Rofidhoh, sekaligus peneguh hati untuk senantiasa menempuh jalannya Nabi r dan para sahabat yang mulia dan mencintai mereka, bukan jalannya orang-orang Syi’ah yang merugi di dunia dan akhirat disebabkan mereka memilih jalan lain yang tak pernah ditempuh oleh Nabi r , para sahabatnya, dan Ahlul Bait sendiri. Waakhiru da’waana ‘anil hamdulillahi Robbil alamin wa shollallahu alaihi wa ala alihi wa shohbihi wasallam.

 

Madinah, 28 Dzulqo’dah 1425 H/8 Jan 2005

Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Atsariy

Disempurnakan 12 Robi’ Al-Awwal 1434 / 23 Januari 2012



[1] Lihat Badzlul Majhud (1/275-277) Karya Al-Jumaily Hafizhohullah

[2]Sebagian penulis memandang bahwa aqidah ini menyelusup ke dalam aqidah Rofidhoh karena adanya pengaruh dan usaha yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sebagai bukti, Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi (perintis pertama agama Rofidhoh-Syi’ah) pura-pura masuk Islam. Aqidah disusupkan untuk melemahkan aqidah/keyakinan tentang Hari Akhir. Perlu diketahui bahwa Abdullah bin Saba’ ini pernah menyatakan akan kembalinya Nabi r -setelah beliau meninggal dunia- ke alam dunia, demikian pula Ali. (Lihat: Tarikh Ath-Thobary (4/340) sebagaimana dalam Mas’alah At-Taqrib baina Ahlis Sunnah wa Asy-Syi’ah (1/342) karya Dr.Nashir bin Abdullah Ali Al-Qofary Hafizhohullah , cet.Dar Thoyyibah.)

[3] Lihat Al-Iqozh min Al-Haj’ah fi Itsbat Roj’ah (hal.29) oleh Al-Hur Al-Amily. Dari judul kitab ini saja ia sudah menetapkan aqidah reinkarnasi tsb.

[4] Jika mereka menyebutkan imam, maksudnya adalah imam-imam yang berasal dari keturunan Nabi r . Tapi perlu diketahui bahwa para imam ahlul bait tersebut berlepas-diri dari mereka. Hanya merekalah yang membuat berita-berita dusta atas nama mereka.

[5] Lihat Kitab Ar-Roj’ah (hal.11) oleh Al-Ahsa’iy.

[6] Imamiyyah Itsna Asyariyyah: nama lain bagi Syi’ah alias Rofidhoh.

[7] Lihat Aqo’id Al-Imamiyyah Al-Itsna Asyariyyah (2/228) oleh Ibrahim Al-Musawy

[8] Lihat Aqo’id Al-Imamiyyah (hal. 118) oleh Muhammad Ridho Al-Muzhoffar.

[9] Lihat Badzlul Majhud (1/284) oleh Syaikh Al-Jumaily

[10] Lihat Awa’il Maqolat (hal.89) oleh Al-Mufid

[11] Lihat Al-Iqozh min Al-Haj’ah (hal.33-34) oleh Al-Hur Al-Amily.

[12] Lihat Al-Iqozh min Al-Haj’ah (hal.34)

[13] Lihat Aqo’id Imamiyyah (hal.119) oleh Muhammad Ridho Al-Muzhoffar Ar-Rofidhi

[14] Tapi secara ekstrim dan keterlaluan sampai mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi r .

[15] Lihat Hadyu Ats-Tsari Muqoddimah Fath Al-Bari (hal.459) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah

[16] QS.Al-Mu’minun : 99-100

[17] Lihat Mukhtashor At-Tuhfah Al-Itsna Al-Asyariyyah (hal.201) karya Al-Alusy Rahimahullah.

[18] Lihat Al-Muhalla (hal.24) karya Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh-Zhohiry -rahimahullah-.

[19] Bukti lain, ini bisa kita saksikan pada sebagian masyarakat kita masih mempertahankan ajaran kejawen, yang dulu dilakukan oleh nenek-moyang mereka yang beragama Budha dan Hindu. Mereka berat hati meninggalkannya, padahal bukan ajaran Islam karena kurang pahamnya mereka tentang makna Islam. Terkadang ajaran-ajaran itu sudah tergolong kufur dan ditegakkan dalil, toh mereka masih mangajarkannya. Inilah tabi’at buruk sebagian manusia.

[20] Menisbahkan istilah ro’yu alias ide bagi Allah merupakan perkara yang muhdats (baru dan bid’ah). Allah tidak memiliki sifat tersebut. Itu hanyalah sifat makhluk yang sesuai dengan kelemahannya.

[21] QS.Al-Baqoroh: 51

[22] Lihat Tafsir Al-‘Iyasyi (1/44)

[23] Lihat Firoq Asy-Syi’ah (hal.84), cet. An-Najf

[24]Kalimat: Alaihissalam-menurut Ahlus Sunnah-merupakan do’a yang diungkapkan secara khusus untuk para nabi, bukan untuk yang lainnya!!! Namun orang-orang Syi’ah Rofidhoh menggunakannya untuk para imam mereka. Contohnya, mereka berkata, “Abu Ja’far –alaihis salam-“. Kenapa demikian?! Jawabnya, karena mereka menganggap para imamnya ma’shum sederajat dengan para nabi!! Bahkan menurut Khumainy dalam”Al-Hukumah Al-Islamiyyah ” bahwa para imam mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dari para nabi dan malaikat. Maka para pembaca hendaknya waspada dan jangan menggunakan kalimat itu, kecuali untuk para Nabi.

[25] QS.Thoha : 52

[26] Lihat Asy-Syi’ah wa As-Sunnah (hal.54) karya Ihsan Ilahi Zhohir Rahimahullah.

[27] Baca bantahannya secara terperinci dalam Badzl Al-Majhud (1/324) karya Syaikh Al-Jumaily Hafizhohullah

[28] Ijma’ mereka tidak bisa dijadikan dalil di sisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena orang-orang Syi’ah –utamanya ulama mereka- adalah orang-orang fasiq. Kenapa ?? Sebab mereka adalah kaum yang pandai dan suka dusta dalam rangka mempertahankan aqidah mereka yang batil !! Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa “Kelompok sesat yang paling suka berdusta adalah orang-orang Rofidhoh”. Adapun kami disini membawakan ijma’ ulama’ mereka, hanya sekedar menjadikannya senjata makan tuan; dengan memukulbalikkan ijma’ mereka, demi membungkam mulut para pendusta diantara mereka, yang sering berkilah dengan taqiyyah (pura-pura alias dusta)!!!

[29] Lihat Tashhih Al-I’tiqod (hal.50) oleh Al-Mufid

[30] Lihat Badzl Al-Majhud (1/324)

[31] Ini sempat kami alami ketika masih kuliah di IKIP, Ujung Pandang tahun 1995 M. Para aktifis mahasiswa Syi’ah-Rofidhoh yang tergabung dalam HMI mengadakan Daurah “Syar’iyyah”. Di dalamnya mereka membahas materi yang mencela sahabat dan menuduh mereka telah merampas hak khilafah Ahlul Bait. Ini merupakan kedustaan yang nyata, semoga Allah menghentikan aktifitas mereka.

[32] HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 17) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 74).

[33] Lihat Ad-Dibaj (1/92) karya Imam As-Suyuthi, cet.Dar Ibnu Affan dengan tahqiq Abu Ishaq Al-Huwainy.

[34] HR.Al-Bukhory (3470), Muslim (2541) dan lainnya.

[35] Lihat Majmu’ Al-Fatawa (3/153) karya Syaikhul Islam.

[36] Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (1/162&169) karya Al-Lalika’iy rahimahullah, cet Dar Thoibah

[37] Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/173-175)

[38] Lihat Al-Farq bainal Firoq (hal.36)

[39] Tapi sebenarnya cinta mereka kepada Ahlul Bait adalah cinta palsu. Bayangkan mereka berkata bahwa Nabi r akan disiksa dalam neraka disebabkan beliau pernah menyetubuhi A’isyah, zainab, dan lainnya. Mana cinta mereka kepada Nabi r yang ma’shum? Malah mereka menjunjung anak keturunan Nabi r sampai dianggap ma’shum & dijadikan tuhan sementara Nabi r direndahkan, dianggap tak ma’sum, dan akan disiksa di neraka, na’udzu billah !!

[40] Lihat Al-Kafi: Kitab Ar-Roudhoh  (8/245) oleh Al-Kulainy

[41] Lihat Al-Kafi: Kitab Al-Iman wa Al-Kufr, Bab: fi Qillah Adad Al-Mu’minin (2/244) sebagaimana dalam Mas’alah At-Taqrib (1/363)

[42] Lihat Haqqul Yaqin (519) oleh Muhammad Baqir Al-Majlisy , sebagaimana dalam Badzlul Majhud (2/471-472)

[43] Andaikan bukan karena niat kami menulis risalah ini secara ringkas, niscaya kami akan menukil banyak riwayat yang menjelaskan kebencian dan dengki mereka terhadap para sahabat.

[44] Lihat Al-Kifayah fi Ilmi Ar-Riwayah (hal.49) karya Al-Khotib Al-Baghdady Rahimahullah.

[45] Lihat Al-I’tiqodat: (Pasal tentang Taqiyyah ) oleh bin Babawaih , Cet. Iran tahun 1274 H sebagaimana dalam Asy-Syi’ah wa As-Sunnah (130) karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir –rahimahullah-

[46] Lihat Tafsir Al-Askari (hal.162), cet. Ja’fari Al-Hindi. Riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi r ini jelas merupakan riwayat dusta menurut ilmu hadits atau yah minimal dhoif jiddan (lemah sekali).

[47] Lihat Al-Kafi fi Al-Ushul : Bab Taqiyyah (2/220) oleh Al-Kulaini, cet.Iran. Maksudnya: Orang mukmin adalah orang Syi’ah-Rofidhoh.

[48] Lihat Al-Kafi (2/217) oleh Al-Kulaini

[49] Lihat Kasyful Gummah (hal.341) oleh Al-Ardibily

[50] Lihat Al-Kafi (2/219) oleh Al-Kulaini sebagaimana dalam Mas’alah At-Taqrib (1/331)

[51] Lihat Syarah Aqidah Ash-Shoduq (hal 261) oleh Al-Mufid. Kitab ini dirangkai dengan kitabnya yang lain “Awa’il Al-Maqolat”.

[52] Lihat Al-Kasykul (1/202) oleh Yusuf Al-Bahrani, cet. Maktabah Nainawi Al-Haditsah, Teheran.

[53] Lihat Kasyful Asrar (147) oleh Al-Khumaini.

[54] Nawashib artinya orang yang menunjukkan permusuhan kepada Ali dan Ahlul Bait. Adapun Ahlus Sunnah-diantaranya AbuHanifah- bukanlah Nawashib, bahkan merekalah orang-orang yang paling mencintai Ali dan keluarganya. Bukan seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Syi’ah-Rofidhoh. Semoga Allah mematahkan segala tipu-muslihat mereka !!

[55] Lihat Al-Kafi: Kitab Ar-Roudhoh (8/292) oleh Al-Kulaini, cet.Teheran.

[56] Sebagian orang menyebut Nikah Mut’ah dengan istilah “Nikah Kontrak”. Tapi bagusnya diistilahkan “Zina Kontrak” !!!

Tags:, , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Memberangus Paham Nabi Palsu
  2. Andaikan Mereka Bersabar
  3. Yang Muslimah Lakukan ketika Hendak Keluar Rumah
  4. Fulan Mati Syahid
  5. Tabligh Bingung, Salafi Menjawab (2)
  6. Katanya Salafy Melarang Demonstrasi, lalu Kenapa Wahdah-Salafy Melakukannya?
  7. Anjing-anjing Neraka
  8. Surat Syaikh Al Albani kepada Pemuda FIS (Tentang Pemilu dan Parlemen)
  9. Tegar Menyampaikan Kebenaran
  10. Demi Sebuah Kursi Kedudukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *