Nasib Patung Manat

Dilihat 796 kali | Kirim Ke Teman

Penulis : Al-Ustadz Abu Imron Sanusi

Amr bin Jamuh adalah seorang pembesar dari Bani Salamah yang dihormati dan disegani. Dia adalah seorang bangsawan yang dikenal sangat bergantung kepada penyembahan terhadap patung. Amr bin Jamuh memiliki patung yang terbuat dari bahan kayu yang paling mahal dan berharga, yang dia berikan nama’’Manat’’. Sungguh Amr bin Jamuh sangat berlebih-lebihan dalam merawat si Manat, dia melumurinya dengan minyak wangi yang paling termahal dimasa itu. Manat adalah patung yang merupakan tumpuan dalam diri Amr ketika menghadapi berbagai permasalahan hidupnya.

Ketika cahaya Islam telah menyinari keluarga Amr, yaitu istri dan ketiga anaknya Muawidz, Muadz dan Khallad, Amr masih tetap berada diatas agama nenek moyangnya di usia yang sudah tua 60 tahun. Ketika 3 anaknya mengajak sang bapak untuk mengikuti agama Muhammad, serentak Si Amr berkata: “Aku tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa melibatkan patung kesayanganku Al-Manat. Anak-anaknya pun berkata: “Bukankah Si Manat hanya sebuah patung yang berasal dari kayu yang dungu, tidak berakal dan tidak dapat berbicara?”

Kemudian Amr pergi ke patung kesayangannya ia pun berdiri tegak berpijak pada kakinya yang kokoh, meskipun salah satu kakinya pincang dengan kepincangan yang sangat, mulailah ia memuji dan menyanjungnya dengan sanjungan yang berlebih-lebihan dan mulailah dia mengadu kepada Manat. Tentang keadaan 3 anaknya yang telah meninggalkan agama nenek moyangnya, dia berkata: “Akankah engkau murka dan marah ya Manat…..?”

Pada suatu hari anak-anaknya bersepakat untuk menghilangkan ketergantungan sang bapak kepada patung Manat. Di malam harinya anak-anaknya pergi ke tempat penyimpanan patung Manat, merekapun memindahkan Manat dari tempatnya, lalu membawanya ke sumur milik Abu Salamah dengan melemparkan kotoran pada Manat, lalu membuangnya di sumur tersebut, kemudian setelah itu mereka kembali ke rumah mereka. Di pagi hari yang cerah Amr berjalan dengan penuh kekhusyuan menuju patungnya untuk memberikan penghormatan. Alangkah kaget si Amr patung kesayangannya tidak ada di tempatnya. Dia berkata dengan nada marah: ”Celakalah kalian, siapa diantara kalian yang telah melakukan permusuhan terhadap tuhanku tadi malam?”. Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Maka Amr bin Jamuh segera mencari Manat di dalam dan di luar rumah dengan penuh emosional dan penuh kemarahan, bahkan dia pun mengancam memberikan hukuman yang pedih bagi pelakunya hingga akhirnya dia mendapatkan Manat patung kesayangannya terjerembab di dalam parit dengan posisi kepala dibawah, lalu iapun memandikannya, membersihkannya kemudian melumurinya dengan minyak wangi dan mengembalikannya pada tempat semula seraya berkata : “Jika aku mengetahui siapa saja yang melakukan hal ini niscaya akan aku hinakan dia!”

Keesokan malamnya anak-anaknya melakukan hal yang sama kepada patung Manat dan pada keesokan paginya Amr melakukan hal yang sama pada patung kesayangannya mencucinya, membersihkannya, dan meminta maaf kepada patung tersebut, hal ini terus terjadi setiap harinya.

Sehingga Si Amr pun bosan dengan perlakuan yang dilakukan kepada patung kesayangannya, maka pada suatu hari dia berpesan kepada Manat: “Aku tidak mengetahui siapa yang berbuat senonoh kepadamu! Aku sekarang tidak mampu untuk menghalanginya!, maka hadanglah keburukan yang menimpa dirimu, ini kusiapkan pedang kuletakkan disisimu!.” Kemudian beliau menuju ke tempat pembaringannya.

Tatkala anak-anaknya mengetahui bahwa sang bapak telah larut dalam tidurnya, mereka pun segera berangkat menuju Manat lalu mengambil pedang yang berada disisinya dan menggantungkan dilehernya, mereka pun membawa keluar Si Manat lalu mengikatkan pada bangkai anjing dengan tali yang kuat dan mengikatnya menjadi satu, kemudian mereka melemparkannya kedalam sumur milik Bani Salamah.

Keesokan harinya Si Tua ini pun bangun dari tidurnya, namun ia tidak mendapati patung ada ditempatnya, lalu ia keluar dari rumahnya untuk mencari keberadaan patung tersebut. Alangkah kagetnya Si Amr dia mendapatkan wajah patung Manat tersungkur ke dalam sumur dengan terikat bangkai anjing sedang pedang tetap mengalung dilehernya, pada kesempatan ini dia hanya terdiam membiarkan Manat tetap dalam kubangan lumpur, Dia pun terdiam, termenung………. dan dia pun berkata: “Demi Allah jika kamu (Manat) benar-benar tuhan, niscaya engkau dan anjing tidak akan mungkin terikat bersamaan di kubangan lumpur.” Setelah kejadian ini, Amr bin Jamuh memasuki babak baru dalam hidupnya dengan masuk Islam, merasakan manisnya iman, dan membawanya untuk menyesali disetiap detik yang ia jalani dalam kubangan kesyirikan. Amr bin Jamuh pun mati sebagai syuhada dalam peperangan Uhud semoga Alloh merahmatinya.

( Sumber Siroh sahabiyah /DR Abdrahman Ra’fat al Basya)

 

Mutiara  Kisah:

1)     Mengenal sosok sahabat yang mulia yang mendapat hidayah dari Alloh bernama Amr bin Jamuh

2)     Mengenal sifat dari sifat-sifat orang jahiliyah yaitu sangat tergantung dengan patung

3)     Menetapkan bahwa patung tidak bisa memberikan manfaat dan menolak mudhorat

4)     Menetapkan apa – apa yang disembah selain Alloh tidak bisa menolong dirinya apa lagi menolong orang yang menyembahnya

5)     Alloh memberikan hidayah kepada hamba-hambanya yang dia kehendaki dan membukakan pintu-pintu hidayah kepadanya

6)     Islam akan mengangkat dan memuliakan seseorang yang sebelumnya dia berada dalam kerendahan dan kehinaan.

Sumber : Kisah-kisah Keteladanan,Kepahlawanan,Kejujuran, Kesabaran, Menggugah ,Serta Penuh dengan Hikmah dan Pelajaran Sepanjang Masa. Penerbit : Maktabah At-Thufail, Panciro-Gowa (Makassar-Sulsel).

Tags:,

Artikel di Kategori ini :

  1. Pedagang yang Pintar
  2. Pemilik Satu Dirham yang Tertawa
  3. Wasiat menjelang Kematian
  4. Buah Delima yang Kecut
  5. Ayah dan Anak yang Berebut Syurga
  6. Ulama yang Menyamar sebagai Pengemis
  7. Pemuda Yatim dan Miskin yang Mendapatkan Anak Ulama yang Cantik
  8. Munculnya Suara di Balik Awan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *