Perjarang Tinggal di Rumah

Dilihat 804 kali | Kirim Ke Teman

Seorang bersafar tentunya karena ia memiliki hajat yang ia ingin tunaikan dan mengharuskan dirinya keluar dari rumah. Adapun hadits yang menganjurkan seorang musafir keluar rumah selama dalam safarnya, maka haditsnya palsu sebagaimana perincian berikut:

إِذَا كُنْتُمْ فِيْ سَفَرٍ فَأَقِلُّوْا الْمُكْثَ فَيْ الْمَنَازِلِ

"Jika engkau berada dalam safar, maka perjaranglah tinggal di rumah". [HR. Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/52), dan Ad-Dailamiy dalam Al-Musnad (1/1/145)]

Hadits ini palsu disebabkan oleh dua orang rowi pendusta dalam sanadnya, yaitu Al-Mu’alla bin Hilal Ath-Thohhan, dan Al-Hasan bin Ali Al-Ahwaziy. Kepalsuan hadits ini telah dijelaskan oleh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Adh-Dho’ifah (2618) secara terperinci.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 48 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Artikel di Kategori ini :

  1. Berjabat Tangan setelah Sholat
  2. Tanda Tawadhu’
  3. Jangan Shalat, Jangan Bicara
  4. Berdzikir Setiap Saat
  5. Solusi Terakhir ….
  6. Manusia yang Terburuk Kedudukannya
  7. Bahaya Membunuh
  8. Merayu Istri
  9. Hampir-Hampir Kefakiran Mendekati Kekufuran
  10. Kisah Nabi Idris bersama Malaikat Maut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *