Perjarang Tinggal di Rumah
18 January 2008 | Dilihat 642 kali |
|
Seorang bersafar tentunya karena ia memiliki hajat yang ia ingin tunaikan dan mengharuskan dirinya keluar dari rumah. Adapun hadits yang menganjurkan seorang musafir keluar rumah selama dalam safarnya, maka haditsnya palsu sebagaimana perincian berikut:
إِذَا كُنْتُمْ فِيْ سَفَرٍ فَأَقِلُّوْا الْمُكْثَ فَيْ الْمَنَازِلِ
"Jika engkau berada dalam safar, maka perjaranglah tinggal di rumah". [HR. Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbihan (2/52), dan Ad-Dailamiy dalam Al-Musnad (1/1/145)]
Hadits ini palsu disebabkan oleh dua orang rowi pendusta dalam sanadnya, yaitu Al-Mu’alla bin Hilal Ath-Thohhan, dan Al-Hasan bin Ali Al-Ahwaziy. Kepalsuan hadits ini telah dijelaskan oleh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Adh-Dho’ifah (2618) secara terperinci.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 48 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)




