Sholat di atas Sejadah Bergambar

Dilihat 386 kali | Kirim Ke Teman

Mungkin anda sering melihat kebiasaan di negeri kita; adanya sebagian besar kaum muslimin saat melakukan sholat, maka ia sholat di atas sejadah yang bergambar pohoh, masjid, Ka’bah, Masjid Nabawi, dan lainnya. Sehingga apabila mereka sholat, maka terpampang di depan mata mereka gambar yang menyibukkan pikirannya.

Lebih dari itu, ada sebagian orang di antara mereka yang sholat di hari raya dengan menggunakan alas koran yang berisi berbagai macam gambar. Nah, bagaimana hukumnya sholat dengan sejadah, dan alas seperti itu? Jawabnya, ikuti pembahasan berikut:

A’isyah –radhiyallahu ‘anha– berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri melakukan shalat dengan pakaian khamisah yang memiliki tanda, lalu beliau melihat kepada tanda itu. Tatkala beliau telah menyelesaikan shalatnya, beliau bersabda,

اِذْهَبُوْا بِهَذِهِ الْخَمِيْصَةِ إِلَى أَبِيْ جَهْمِ بْنِ حُذَيْفَةَ وَائْتُوْنِيْ بِأَنْبِجَانِيَّةٍ, فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِيْ آنِفًا فِيْ صَلاَتِيْ

”Pergilah kalian dengan membawa pakaian khamisah ini ke Abu Jahm bin Hudzaifah dan ambillah pakaian ambijaniyyah untukku. Sesungguhnya pakaian khamisah tadi telah melalaikan aku dalam shalatku.” [HR.Bukhariy dalam Shohih-nya (373), dan Muslim dalam Shohih-nya (556)]

Ash-Shon’aniy -rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits tersebut terdapat dalil  tentang dibencinya segala sesuatu yang dapat merusak konsentrasi dalam shalat berupa ukiran, dan sejenisnya diantara perkara yang menyibukkan hati”. [Lihat Subulus Salam (1/151)]

Seorang Ulama’ Syafi’iyyah, Al-Izz Ibnu Abdis Salam -rahimahullah- berkata, “Dibenci shalat di atas sejadah yang dihias dengan indah. Demikian pula halnya dengan sejadah yang mahal lagi mewah. Karena shalat merupakan kondisi rendah hati dan tenang. Orang-orang yang ada di Masjid Makkah dan Madinah senantiasa shalat di atas tanah, pasir dan kerikil karena rasa tawadhu’ (merendahkan diri) kepada Allah”.

Al-Izz Ibnu Abdis Salam menambahkan, “Yang paling utama adalah mengikuti semua perbuatan dan perkataan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam. Barang siapa yang taat kepada beliau, maka ia akan mendapatkan petunjuk dan di cintai oleh Allah -Azza wa Jalla-. Barangsiapa tidak mentaati dan tidak mengikuti ajaran beliau, maka dia akan jauh dari kebenaran menurut ukuran kejauhannya dari petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. [Lihat Fataawaa Al-Izz ibn Abdis Salam (68)]

Anas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمِيْطِيْ عَنَّيْ قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيْرُهُ تَعْرِضُ فِيْ صَلاَتِيْ

“Dahulu ‘Aisyah memiliki kain gorden, yang dia gunakan untuk menutupi sisi rumahnya. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya, “Jauhkanlah kain itu dariku, sesungguhnya gambar-gambarnya telah mengganggu shalatku.” [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (374), dan (5959)]

Pakaian anbijaniyyah yang diminta Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah pakaian kasar yang tidak memiliki tanda (semacam, cap, logo, simbol, dan lainnya). Berbeda dengan pakaian al-khamishah yang dikembalikan oleh beliau, pakaian ini bertanda. Nampaknya kata “tanda” lebih dalam maknanya daripada kata “gambar”. Sebab bila tanda dan cap saja dilarang untuk dipakai, dan dinampakkan di depan orang yang sholat, maka tentunya gambar makhluk bernyawa lebih layak dilarang, karena menjadi sebab terhalanginya malaikat untuk masuk ke tempat atau masjid yang di dalamnya terdapat gambar makhluk bernyawa tersebut!!

Ath-Thibiy -rahimahullah- telah berkata, “Dalam hadits ambijaniyyah terdapat penjelasan bahwa gambar dan sesuatu yang nampak (mencolok) memiliki pengaruh terhadap hati yang bersih dan jiwa yang suci, terlebih lagi hati yang tak suci”. [Lihat Umdatul Qori (4/94), dan Fathul Bari (1/483)]

Jadi, gambar dan simbol amatlah memberikan pengaruh bagi orang yang memiliki hati yang bersih. Adapun hati yang kotor lagi keras, maka ia tak akan merasakan pengaruh apapun, baik ada gambar atau tidak !!

Hadits ini menunjukkan dibencinya melakukan shalat di ruangan yang ada gambar atau lukisannya. Selain itu juga memberikan petunjuk bahwa wajib menghilangkan segala sesuatu yang  bisa mengganggu konsentrasi orang yang sedang shalat, baik itu berupa gambar atau yang lain. Hadits ini juga menunjukkan tentang shalat yang dikerjakan tidak rusak (tidak batal) hanya karena ada gambar. Karena Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak memutus shalatnya, tidak mencacatnya dan juga tidak mengulanginya. (Lihat Nailul Author (2/153) dan Subulus Salam (I/151).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata, “Madzhab yang dianut kebanyakan para sahabat kami (dari kalangan Hanabilah), dibencinya masuk gereja yang bergambar dan sholat di dalamnya. Demikian pula, lebih dibenci melakukan sholat pada setiap tempat yang terdapat gambar di dalamnya. Inilah pendapat yang benar dan tidak perlu di ragukan maupun disangsikan lagi.” [Lihat Al-Ikhtiyarot Al-Ilmiyyah (hal. 254)]

Al-Marghinaniy Al-Hanafiy -rahimahullah- menyebutkan beberapa tingkatan dibencinya shalat di tempat yang ada gambarnya, jika dilihat dari tempat gambar itu berada. Dia berkata, “Yang paling dibenci, apabila gambar itu ada di hadapan orang yang sedang shalat, kemudian gambar yang ada di atas kepalanya, di sebelah kanannya, di samping kirinya dan yang terakhir di belakangnya”. ( Lihat Al-Hidaayah (I/295-beserta Syarh Fathul Qodir ).

Inti permasalahannya terletak pada pengagungan kepada Allah dan sibuknya pikiran. Oleh sebab itulah, dibenci shalat menghadap kepada gambar-gambar, karena gambar-gambar itu akan menyibukkan pikiran orang yang sholat, karena melihat kepadanya; akan merusak konsentrasi shalatnya. Bahkan dibenci menghadap segala sesuatu yang bisa merusak konsentrasi shalat.

Berdasarkan pada inti permasalahan itulah, para ulama ahli fiqhi menetapkan dibencinya menghadap gambar yang tergantung, baik itu berada di dinding, atau di tempat yang lain. Karena hal itu dianggap ada kesamaan dengan penyembah berhala dan patung. [lihat Kasysyaf Al-Qinaa’ (1/432), Al-Mughni (2/342), Tafsir Al-Qurtubiy (10/48), dan Al-Fiqh ala’ Al-Madzahib Al-Arba’ah (1/283)].

Begitu juga dengan shalat di atas sejadah yang ada gambarnya. Hal itu juga ada kemiripan dengan penyembah patung ataupun berhala. Bersujud kepadanya berarti sama dengan memuliakannya. [Lihat Kasysyaf Al-Qinaa’ (1325), Bada’i Ash-Shona’i (1/337), dan Al-Fatawa Al-Hindiyyah (1/107).

Bahkan sebagian ulama menegaskan bahwa dibenci memakai sejadah yang ada gambarnya, sekalipun diinjak, sebab gambar itu akan melalaikan saat orang ruku’, dan sujud. [Lihat Al-Inshaf (1/474) dan Kasysyaf Al-Qinaa’ (1/325)].

Di antara dalil untuk pendapat yang telah diutarakan tadi:

Pertama, sabda Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-,

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةٌ

“Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambarnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3054), dan Muslim dalam Shohih-nya (2106)].

An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, “Para ulama telah berkata, “Sebab keengganan para malaikat untuk masuk ke dalam sebuah rumah yang ada gambarnya, karena gambar itu dianggap sebagai maksiat yang keji. Pada gambar itu terdapat usaha menandingi ciptaan Allah -Ta’ala-. Sebagian gambar itu dalam rupa sesuatu yang disembah selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala-”. [Lihat Syarh Shahih Muslim (14/84)].

Kedua, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– enggan memasuki Ka’bah sampai semua gambar atau patung yang ada di dalamnya dimusnahkan.

Jabir -radhiyallahu anhu– berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ زَمَنَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِالْبَطْحَاءِ أَنْ يَأْتِيَ الْكَعْبَةَ فَيَمْحُوْ كُلَّ صُوْرَةٍ فِيْهَا, فَلَمْ يَدْخُلْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى مُحِيَتْ كُلُّ صُوْرَةٍ فِيْهَا

“Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan Umar bin Khattab, sedang beliau berada di Bathha’ agar mendatangi Ka’bah ketika penaklukan kota Mekah. Lalu Umar menghapus semua gambar yang ada di dalamnya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  tidak memasuki Ka’bah sampai semua gambar yang ada di dalamnya telah dihapus”.[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4156), Ahmad dalam Al-Musnad (3/383/no.15149), dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro (7/268/no. 14339). Hadits ini hasan-shohih sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Marom (143)]

Ketiga, menurut perbuatan para sahabat -radhiyallahu anhum-. Dulu mereka melakukan shalat di dalam gereja, ketika tidak ada gambarnya.

Umar bin Al-Khoththob berkata,

إِنَّا لاَ نَدْخُلُ كَنَائِسَكُمْ مِنْ أَجْلِ التَّمَاثِيْلِ الَّتِيْ فِيْهَا الصُّوَرُ

“Sesungguhnya kami tidak akan masuk ke dalam gereja kalian karena di sana banyak patung-patung (yakni, gambar-gambar)”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (1/167), Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (1611), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14341)]

Dulu Ibnu Abbas mengerjakan shalat di dalam bii’ah (gereja), kecuali bii’ah yang ada patung-patungnya. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (1/167), dan Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (1611)]

Yang dimaksud dengan gambar di sini adalah gambar-gambar makhluk bernyawa (seperti gambar manusia, binatang, dan lainnya), baik yang berdimensi berupa patung, maupun tak berdimensi berupa lukisan. Adapun gambar benda mati yang tak memiliki nyawa, seperti, batu, gambar gunung dan lain sebagainya, maka hukumnya boleh, kecuali dijadikan sejadah.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata, “Adapun yang dimaksud dengan gambar adalah semua gambar (lukisan) binatang, baik gambar itu berdiri tegak lagi berdimensi, atau  yang tak berdimensi berupa pahatan di tembok atau yang ada di sarung bantal dan permadani.” [Lihat At-Tahdzib Ala Sunan Abi Dawud (6/78)].

Sebagian orang ada yang memandang tak mengapa sholat di atas gambar pohon, dan lainnya diantara benda-benda mati yang tak memiliki nyawa. Namun Syaikh Masyhur bin Hasan Salman -hafizhahullah- menyatakan bahwa shalat di atas gambar pepohonan atau sejenisnya adalah dibenci, karena yang pasti gambar itu juga akan membuyarkan konsentrasi orang yang shalat berdasarkan hadits tentang baju anbijaniyah yang telah lalu. [Al-Qaulul Mubin (hal.69)]

Jadi, sholat di atas sejadah atau sesuatu yang bergambar makhluk tak bernyawa (seperti, pemandangan, masjid, buah-buahan, mobil, merek, simbol dan lainnya) adalah dibenci dalam Islam, sebab gambar itu akan melalaikan orang yang sholat menghadap kepadanya. Jika itu adalah gambar makhluk bernyawa, maka perkaranya lebih berat lagi, sebab di dalamnya terdapat dua pelanggaran: gambar itu melalaikan pikiran dan konsentrasi orang yang sholat sehingga ia tak bisa khusyu’ dalam sholatnya, dan juga ia terkena larangan dan ancaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bagi orang yang membuat gambar dan memasukkan gambar ke dalam rumahnya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةٌ

“Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambarnya”. [HR. Al-Bukhoriy (3054), dan Muslim (2106)].

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam–  bersabda,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya diantara manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah para pembuat gambar (bagi makhluk bernyawa)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5606), Muslim dalam Shohih-nya (2109), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (5364)]

Al-Imam An-Nawawiy dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah berkata, “Para sahabat kami (yakni, yang bermadzhab Syafi’iyyah), dan selain mereka dari kalangan ulama’ berkata, “Menggambar makhluk bernyawa sangat haram, dan ia termasuk dosa besar, karena ia diancam dengan ancaman keras seperti ini !!!”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibn Al-Hajjaj (14/81)]

Para Pembaca yang budiman, jika menggambar adalah dosa, maka seorang muslim tentunya diharamkan membantu mereka dalam dosa tersebut, seperti membeli pakaian atau sejadah atau barang apa saja yang memiliki gambar makhluk bernyawa (yakni, gambar manusia, hewan dan lainnya). Selayaknya seorang muslim memilih pakaian yang tak memancing perhatian berisi gambar baik makhluk bernyawa, maupun tak bernyawa agar ia dan orang lain bisa khusu’ dalam sholatnya.

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Siapa Bilang Rokok Haram?
  2. Beginilah Cara Wudhu dalam Sunnah
  3. Barang-Barang Najis
  4. Angkat Tangan, Mengapa Tidak?!
  5. Dimanakah Kiblatnya Doa ?
  6. Salah Kaprah tentang Niat
  7. Dapat Ruku’.., Dapat Raka’at
  8. Ramadhan yang Kurindukan
  9. Kencing di Lubang
  10. Ternyata Bukan Pembatal Wudhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *