Memejamkan Mata

Dilihat 423 kali | Kirim Ke Teman

Serangkaian kesalahan sering kita temukan dalam sholat yang dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin. Ada yang merupakan pelanggaran kecil, dan ada yang merupakan pelanggaran besar yang mengharuskan pelakunya untuk mengulangi sholat. Kesalahan-kesalahan itu dilatari oleh kejahilan atau kelalaian dan keteledoran sebagian orang diantara mereka.

Diantara kesalahan-kesalahan itu, sebagian orang ada yang suka memejamkan mata di saat ia menunaikan sholat di depan Robb-nya, tanpa ada sebab yang mendorong dirinya untuk memejamkan mata. Ada diantara mereka yang menyangka bahwa dirinya tak bisa khusyu’, kecuali ia memejamkan mata dari awal hingga akhir ia mengerjakan sholat.

Memejamkan mata di dalam sholat bukanlah termasuk sunnah Nabi Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam-. Hadits-hadits yang ada dari Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– menunjukkan bahwa beliau tidaklah memejamkan matanya di dalam sholat.

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyahrahimahullah– berkata di dalam sebuah kitabnya, “Bukanlah termasuk petunjuk beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-, memejamkan kedua matanya di dalam sholat. Sungguh telah berlalu keterangan bahwa beliau dahulu di dalam tasyahhud-nya mengarahkan pandangannya ke telunjuknya saat berdoa, dan pandangannya tidaklah melampaui isyaratnya”. [Lihat Zaadul Ma’aad (1/283), dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth, dan Abdul Qodir Al-Arna’uth, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1421 H]

Para pembaca yang budiman, mungkin ada baiknya kita menengok dan memperhatikan beberapa buah hadits yang menunjukkan bahwa Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– tidaklah memejamkan mata saat beliau menegakkan sholat, di dalam beberapa point berikut ini:

  • Melihat Tanda pada Baju Khomishoh

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– pernah diberi baju khomishoh oleh seorang sahabat yang bernama Abu Jahm. Kemudian beliau mengembalikan dan meminta digantikan dengan baju lain yang tak memiliki tanda yang melalaikan.

A’isyah –radhiyallahu ‘anha– berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri melakukan shalat dengan pakaian khamisah yang memiliki tanda, lalu beliau melihat kepada tanda itu. Tatkala beliau telah menyelesaikan shalatnya, beliau bersabda,

اِذْهَبُوْا بِهَذِهِ الْخَمِيْصَةِ إِلَى أَبِيْ جَهْمِ بْنِ حُذَيْفَةَ وَائْتُوْنِيْ بِأَنْبِجَانِيَّةٍ, فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِيْ آنِفًا فِيْ صَلاَتِيْ

”Pergilah kalian dengan membawa pakaian khamisah ini ke Abu Jahm bin Hudzaifah dan ambillah pakaian ambijaniyyah untukku. Sesungguhnya pakaian khamisah tadi telah melalaikan aku dalam shalatku.” [HR.Bukhariy dalam Shohih-nya (373), dan Muslim dalam Shohih-nya (556)]

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– melihat kepada tanda yang terdapat pada baju yang beliau kenakan dalam sholatnya.

  • Melihat Surga dalam Sholat Kusuf (Gerhana Matahari)

Hadits gerhana juga menunjukkan bahwa Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– melihat (dengan mata kepalanya) surga dan sesuatu yang terdapat di dalamnya, serta melihat neraka dan sesuatu yang terdapat di dalamnya.

Sahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu– berkata,

انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا قَدْرَ نَحْوِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ هَذَا ثُمَّ رَأَيْنَاكَ كَفَفْتَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ بِكُفْرِ الْعَشِيرِ وَبِكُفْرِ الْإِحْسَانِ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Gerhana matahari pernah terjadi di zaman Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Karenanya, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersama manusia melakukan sholat (yakni, sholat gerhana). Beliau berdiri dengan lama seukuran surat Al-Baqoroh. Kemudian beliau rukuk dengan lama, lalu bangkit. Kemudian beliau berdiri lama, yakni kurang dari berdiri yang pertama. Lalu beliau rukuk dengan panjang, yaitu rukuk yang kurang dari rukuk yang pertama. Setelah itu beliau bersujud, lalu berdiri dengan lama, tapi kurang (lebih pendek) dari yang pertama. Kemudian beliau rukuk dengan lama, tapi kurang dari yang rukuk pertama. Kemudian beliau berdiri lagi dengan lama, tapi kurang dari yang pertama, lalu rukuk dengan lama, tapi kurang dari yang pertama. Setelah itu, beliau usai sholat, sedang matahari sungguh telah muncul. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Keduanya tidaklah mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat hal itu (gerhana), maka berdzikirlah kepada Allah (yakni, sholat gerhana)”. Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat anda ingin meraih sesuatu pada posisi anda ini, lalu kami melihat anda berhenti (menahan diri)”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku telah melihat surga, lalu aku ingin meraih sebuah tandan dari surga. Andaikan aku mengambilnya, maka kalian akan memakanannya selama dunia masih ada. Aku melihat neraka; tak pernah aku melihatnya sama sekali seperti hari ini. Aku melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita”. Mereka bertanya, “Kenapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena pengingkaran mereka”. Ada yang bertanya, “Apakah mereka mengingkari Allah?” Beliau menjawab, “Karena mengingkari suami dan kebaikannya. Andaikan engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka (istri) sepanjang waktu, lalu ia (istri) melihat padamu ada sesuatu (yang tidak menyenangkannya), maka ia akan berkata, “Aku tak pernah sama sekali melihat kebaikan darimu”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 1052, 5197, dan lainnya), Muslim dalam Kitab Al-Kusuf (no. 2106). Lihat Tuhfah Al-Asyroof (no. 5977)]

  • Menahan Kambing

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– pernah melihat kambing yang mau lewat di depan beliau, lalu beliau menahannya. Tentunya beliau tak mungkin dapat menahannya, jika beliau memejamkan matanya. Semua ini menunjukkan kita bahwa beliau dalam sholatnya membuka mata, bukan memejamkan mata.

Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu– berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيْ ، فَمَرَّتْ شَاةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فَسَاعَاهَا إِلَى الْقِبْلَةِ حَتَّى أَلْصَقَ بَطْنَهُ بِالْقِبْلَةِ

“Bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah sholat, lalu ada seekor kambing yang hendak lewat di depan beliau. Lantaran itu, beliau mendahului kambing itu ke kiblat sampai beliau menempelkan perutnya pada (dinding) kiblat”. [HR. Ibnu Khuzaimah, Ath-Thobroniy, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albaniy menyatakan hadits ini shohih dalam Shifah Ash-Sholah (hal. 84), cet. Maktabah Al-Ma’aarif, 1417 H]

Faedah : Hadits ini menunjukkan bahwa apabila hewan dan anak kecil hendak lewat di depan kita saat sholat, maka mereka harus dihalangi agar tak lewat dan tidak merusak ke-khusyu’-an sholat kita, walaupun mereka tak berakal!!! Wallahu A’lam bish showaab.

  • Melihat Iblis

Iblis –la’natullah alaihi– pernah berusaha keras mengganggu Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– di dalam sholatnya. Namun Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– berhasil mengusirnya, karena berlindung kepada Allah Robbul alamin.

Abud Dardaa’radhiyallahu anhu– berkata,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْنَاهُ يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ثُمَّ قَالَ أَلْعَنُكَ بِلَعْنَة اللَّهِ ثَلَاثًا وَبَسَطَ يَدَهُ كَأَنَّهُ يَتَنَاوَلُ شَيْئًا فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ الصَّلَاةِ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ سَمِعْنَاكَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا لَمْ نَسْمَعْكَ تَقُولُهُ قَبْلَ ذَلِكَ وَرَأَيْنَاكَ بَسَطْتَ يَدَكَ قَالَ إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي فَقُلْتُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قُلْتُ أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ التَّامَّةِ فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَرَدْتُ أَخْذَهُ وَاللَّهِ لَوْلَا دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لَأَصْبَحَ مُوثَقًا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- berdiri (menegakkan sholat). Kami mendengar beliau berdoa, “Aku berlindung kepada Allah darimu”, lalu berdoa lagi, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna (tiga kali)”. Beliau membentangkan tangannya seakan-akan mengambil sesuatu. Tatkala usai sholat, kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami sungguh telah mendengarkan anda mengucapkan sesuatu dalam sholat yang tak pernah kami dengarkan anda mengucapkannya sebelumnya. Kami melihat anda membentangkan tangan”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya musuh Allah, Iblis telah datang membawa bara api agar ia dapat meletakkannya pada wajahku. Karenanya aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu (sebanyak tiga kali)”. Lalu aku berkata lagi, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna (sebanyak tiga kali)”, namun ia tak mau mundur. Kemudian aku hendak menangkapnya. Demi Allah, andaikan bukan karena doa saudaraku, Sulaiman, maka ia akan terikat sambil dipermainkan oleh bocah-bocah cilik penduduk kota Madinah”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Masaajid (no. 1211), dan An-Nasaa’iy dalam Kitab As-Sahwi (no. 1214)]

Syaikh Masyhur Hasan Salmanhafizhohullah– berkata setelah mengisyaratkan hadits-hadits di atas, “Hadits-hadits ini dan selainnya diambil suatu faedah dari keseluruhannya bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidaklah memejamkan matanya di dalam sholat”. [Lihat Al-Qoul Al-Mubin fi Akhtho’ Al-Mushollin (hal. 113), cet. Dar Ibn Al-Qoyyim & Dar Ibn Affan, 1416 H]

Membuka mata saat sholat adalah perkara yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Jangan terpengaruh dengan sebagian orang-orang jahil yang kerjanya hanya beribadah, namun malas mempelajari sunnah-sunnah Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Sebagian-orang-orang jahil ini suka memejamkan matanya tanpa ada hajat dengan alasan bahwa memejamkan mata adalah jalan satu-satunya untuk khusyu’!!

Al-Imam Al-Fairuz Abaadirahimahullah– berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu membuka kedua matanya yang diberkahi dalam sholat. Beliau tidaklah memejamkannya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian ahli ibadah”. [Lihat Safar As-Sa’aadah (hal. 20)]

Terakhir, kami akan nukilkan ucapan Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyahrahimahullah– setelah membawakan khilaf dalam perkara ini, sebagai kesimpulan pembahasan kita, “Pendapat yang benar, dinyatakan, “Jika membuka mata tidaklah merusak ke-khusyu’-an, maka itulah yang utama. Jika membuka mata menghalangi seseorang dari khusyu’ dalam sholatnya,  karena pada arah kiblatnya terdapat sesuatu berupa hiasan, dan selainnya diantara perkara yang mengganggu hatinya, maka disini tentunya tak dimakruhkan memejamkan mata, dan pendapat tentang dianjurkannya hal itu dalam kondisi seperti ini adalah lebih mendekati dasar-dasar syari’at, dan maksudnya dibandingkan pendapat makruhnya hal itu, wallahu a’lam”. [Lihat Zaadul Ma’aad (hal. 285)]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Agar Safar Bernilai Ibadah
  2. Status Anak dari Hubungan Perzinahan
  3. Dimanakah Kiblatnya Doa ?
  4. Riset Ilmiah seputar Hari yang Paling Utama
  5. Apakah Mimisan Membatalkan Wudhu ???
  6. Solusi Terakhir ….
  7. Serba-Serbi Air Alam
  8. Judi Gelap
  9. Nggak Usah Tutup Mulut
  10. Polemik Qunut Subuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *