Angkat Tangan, Mengapa Tidak?!

Dilihat 333 kali | Kirim Ke Teman

Kesalahan dari orang yang sholat, banyak terjadi ketika mereka berdiri hendak mengerjakan sholat menghadap Robb mereka -Azza wa Jalla-. Terkadang mereka meninggalkan sunah-sunah sholat, berpaling dari kebenaran dan tata cara yang benar, serta berpaling dari sifat sholat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Terkadang pula mereka mengerjakan perkara yang makruh sementara mereka menyangka perbuatan itu merupakan bagian dari sunnah, atau beralasan dengan sesuatu yang mereka dapati dari perbuatan nenek moyang mereka.

Sebagian manusia tidak mengangkat kedua tangan mereka ketika takbirotul ihrom, ketika ruku’, dan ketika bangkit dari ruku’. Demikian pula ketika bangkit dari tasyahhud awal (bangkit ke rakaat ke 3). Terkadang  engkau mendapati hal yang sejenis ini terjadi pada orang-orang yang meninggalkan sunnah ini dalam sholat-sholat mereka akan tetapi mereka justru mengerjakannya (mengangkat tangan) pada tempat dan keadaan yang salah, contohnya: mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir dalam sholat fardhu.

Sebagian dari mereka berhujjah dengan hadits-hadits yang tidak ada asalnya, atau bukan pada tempatnya untuk mendukung perbuatannya yang tidak mengangkat kedua tangannya ketika ruku’, maupun ketika bangkit dari ruku’.

Diantara contoh hadits tersebut:

مَنْ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الصَّلاَ ةِ , فَلاَ صَلاَ ةَ لَهُ  

“Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam sholat, maka tidak ada sholat baginya.” [HR. Al-Jauroqoniy dalam Al-Abathil (2/12). Hadits ini palsu, karena di dalamnya terdapat Al-Ma’mun bin Ahmad (seorang pendusta yang suka memalsu hadits). Karenanya Syaikh Al-Albaniy menilai hadits palsu dalam Adh-Dho’ifah (no. 568)]

Contoh yang lain, ucapan Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma-,

أَرَأَيْتُمْ رَفْعَكُمْ أَيْدِيَكُمْ فِي الصَّلاَ ةِ هَكَذَا , وَاللهِ إِنَّهَا لَبِدْعَةٌ , وَمَا زَادَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا شَيْئًا قَطُّ , وَأَوْمَأَ حَمَّادٌ إِلى ثَدْيَيْهِ

“Tidakkah kalian melihat bahwa kalian mengangkat kedua tangan dalam sholat seperti ini. Demi Allah sesungguhnya itu adalah bid’ah. Rosulullah r tidaklah pernah mengangkat kedua tangannya lebih dari ini sekalipun. Sedang Hammad menunjuk ke dadanya.” [HR. Al-Jauroqoniy dalam Al-Abathil (2/20), dan Ibnul Jauziy dalam Al-Ilal (1/429). Hadits ini adalah dho’if (lemah) lagi munkar. Oleh karenanya, Syaikh Masyhur bin Hasan Salman men-dho’if-kan hadits ini dalam Al-Qoul Al-Mubin (hal. 101)]

Selain hadits ini lemah, ia tidak cocok untuk dijadikan sebagai hujjah dalam perkara ini. Ibnu Hibban -rahimahullah- berkata saat menjelaskan kebatilannya,

“Sungguh sekelompok orang yang bukan dari kalangan ahli hadits telah berpegang dengan hadits ini. Mereka menyangka bahwasanya mengangkat kedua tangan dalam sholat ketika ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’ adalah bid’ah. Hanyalah Ibnu Umar pernah berkata: “Tidakkah kalian melihat (mengetahui) perbuatan kalian mengangkat kedua tangan kalian sampai sejajar telinga adalah bid’ah. Tidaklah pernah Rosulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengangkat melebihi ini (yakni dada beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-).” Demikianlah yang ditafsirkan oleh Hammad bin Zaid, dan dia adalah orang yang menukil hadits ini.”

Kemudian Ibnu Hibban menyebutkan hadits dan menambahkan ucapannya: “Orang-orang Arab menamakan sholat dengan doa, oleh sebab itu Hammad menukilkan hal tersebut, dan beliau memaksudkan dengannya adalah doa. Dalil tentang kuatnya pendapat kami…(Kemudian Ibnu Hibban menyebutkan sebuah atsar) dari Al Hasan bin Sufyan dengan  sanadnya dari Ibnu Umar, bahwa beliau pernah berkata,

وَاللهِ مَا رَفَعَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فَوْقَ صَدْرِهِ فِى الدُّعَاءِ

“Demi Allah, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidaklah pernah mengangkat kedua tangannya melewati dadanya ketika berdoa.”

Al-Husain bin Waaqid (salah satu perowi hadits ini) menguasai hafalannya dengan baik dan meriwayatkan hadits ini sebagaimana mestinya, seperti  apa yang telah kami sebutkan”. [Lihat Al-Majruhin (1/186)]

Diantara perkara-perkara yang membuat ucapan Ibnu Hibban wajib untuk diperhatikan, bahwa telah sah suatu ucapan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma-,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا

“Bahwasanya Rosulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- apabila beliau hendak memulai sholatnya,  beliau mengangkat kedua tangannya sejajar pundak, dan apabila beliau hendak bangkit dari ruku’ beliaupun mengangkat kedua tangannya seperti itu.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (735), dan Muslim dalam Shohih-nya (390)]

Hal tersebut telah diriwayatkan pula dari 50 orang sahabat dan diantara mereka ada yang termasuk dalam 10 orang sahabat yang telah dijanjikan masuk ke dalam surga. [Lihat Fathul Bari (2/220), Al-Majmu’ (3/399), dan lainnya]

Al-Hasan dan Humaid bin Hilalrahimahumallah– berkata, “Adalah para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengangkat kedua tangan mereka, tidak dikecualikan seorangpun diantara mereka.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Juz Rof’il Yadain (hal. 26)]

Al-Imam Al-Bukhoriyrahimahullah– berkata, “Tidaklah sah menurut pendapat  para ahli ilmu yang telah kami jumpai di negeri Hijaz dan Irak,  (diantaranya adalah Al Humaidiy, Ibnul Madiiniy, Ibnu Main, Ahmad bin Hambal, dan Ishaq bin Rohuuyah). Mereka merupakan ahli ilmu yang terkemuka di zamannya. Tidaklah ada yang sah dari salah seorangpun  diantara mereka suatu ilmu tentang sunnahnya tak mengangkat kedua tangan dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, dan tidak pula dari seorang sahabat pun bahwasanya beliau tidak mengangkat kedua tangannya”. [Lihat Juz Rof’il Yadain (hal 109-110)]

Ibnul Qoyyimrahimahullah– berkata, “Lihatlah kepada amal perbutan yang terjadi pada zaman Rosulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, dan para sahabat di belakangnya. Mereka mengangkat kedua tangannya dalam sholat ketika hendak ruku’ dan bangkit dari ruku’. Kemudian lihatlah kepada amalannya para sahabat setelahnya, sampai-sampai dikabarkan bahwa Abdullah ibnu Umar apabila melihat orang yang tidak mengangkat kedua tangannya, beliau melemparnya dengan kerikil. Amalan mengangkat tangan ini adalah amalan yang sangat jelas (keterangannya)”. [Lihat I’laam Al-Muwaqqi’in (2/376)]

Al-Marwaziyrahimahullah– pernah berkata, “Para ulama dari berbagai negeri telah bersepakat tentang disyariatkannya mengangkat kedua tangan ini, kecuali penduduk negeri Kufah”. [Lihat Fathul Bari (2/219-220)]

Al-Imam Asy-Syafiiyrahimahullah– pernah berkata, Tidaklah halal bagi seorangpun yang mendengar hadits Rosulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam permasalahan mengangkat kedua tangan ketika memulai sholat (takbiratul ihrom), ketika ruku’, dan bangkit dari ruku’ untuk meninggalkan keteladanan terhadap perbuatan Rosulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [Lihat Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubro (2/100) oleh As-Subkiy]

Abdul Malik bin Sulaiman berkata,

سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِى الصَّلاَةِ, فَقَالَ : هُوَ شَيْءٌ تُزَيِّنُ بِهِ صَلاَتَكَ

“Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang mengangkat kedua tangan dalam sholat. Beliau berkata, “Dia adalah sesuatu yang engkau menghiasi sholatmu dengannya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Juz Rof’il Yadain (no. 39), dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2/75) dengan sanad shohih]

Anwar Syah Al-Kasymiriy berkata, “Ketahuilah bahwasanya keterangan mengangkat kedua tangan dalam sholat itu adalah mutawatir datangnya baik secara sanad maupun perbuatan, dan tidak ada satupun haditsnya yang dinasakh (dihapus) tidak pula satu hurufnya”. [Lihat Faidhul Bari (2/255), dan Nail Al-Farqodain (hal. 22)]

Bersemangatlah wahai saudaraku yang mengerjakan sholat! Bersemangatlah terhadap sunnah Nabimu –Shallallahu alaihi wa sallam– . Dia adalah sunnah yang mutawatir sebagaimana ungkapan Imam Adz-Dzahabiy. [Lihat Siyar Al-A’laam (5/293)]

Tinggalkanlah qiila wa qoola (kabar burung), dan banyak berdebat, karena sungguh perselisihan dalam masalah ini -pada kalangan rakyat jelata- telah sampai pada tingkat mereka hendak membunuh orang yang utama dari kalangan ulama dan membunuh orang alim dari kalangan orang-orang yang utama.

Ibnul Arobiy Al-Malikiy pernah berkata dalam menuturkan faktanya, “Sungguh guru kami Abu Bakr Al-Fihriy mengangkat kedua tangannya ketika hendak ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’. Maka pada suatu hari, hadir bersamaku Ibnu Asy Syawwa’ disebuah pos penjagaan perbatasan, tempat mengajarku pada waktu dzhuhur. Dia pun masuk ke dalam masjid yang ada pada pos tersebut dan maju ke shof yang pertama, sementara aku berada di belakangnya tengah bersandar pada tembok yang menghadap ke laut. Angin bertiup, karena cuaca yang sangat panas. Sedang duduk bersamanya dalam shof yang sama Abu Tsamnah, sang kapten kapal dan penglimanya beserta beberapa bawahannya, sedang menunggu sholat. Maka tatkala Syekh (Abu Bakr Al-Fihriy) mengangkat kedua tangannya ketika ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’,  Abu Tsamnah berkata kepada bawahannya, “Tidakkah kalian melihat pada orang timur ini, bagaimana dia bisa masuk ke dalam masjid kita?! Maka bangkitlah kalian menuju kepadanya dan bunuhlah, kemudian lemparkan ke laut. Karena tidak ada seorangpun yang melihat kalian”.. Maka terbanglah hatiku diantara sayap-sayapku (pikiranku melayang). Aku katakan, “Subhaanallahu, ini adalah orang Thurthus, orang fakihnya zaman ini!”. Kemudian  mereka berkata kepadaku, “Kenapa dia (Abu Bakr Al Fihriy) mengangkat kedua tangannya?” Aku katakan, “Demikianlah yang dilakukan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan ini adalah madzhab Malik dari riwayat penduduk Madinah yang diriwayatkan darinya. Aku pun mulai membuat mereka tenang dan diam sampai Syaikh selesai dari sholatnya. Kemudian aku berdiri bersamanya (Abu Bakr Al Fihriy) menuju asrama yang ada di pos dan dia melihat perubahan yang ada pada raut wajahku. Dia pun merasa heran dan bertanya kepadaku. Maka aku ceritakan kepadanya dan diapun tertawa lalu berkata, “Dengan alasan apa aku mau dibunuh di atas sunnah?” Aku berkata kepada beliau, “Tak boleh anda melakukan hal ini, karena anda tengah berada pada suatu kaum yang apabila engkau melaksanakan sunnah tersebut, maka mereka akan memerangi anda dan terkadang darah anda akan tertumpah”. Maka beliau berkata, “Tinggalkan pembicaraan ini, dan ambil pembicaraan yang lain”. [Lihat Ahkam Al-Qur’an (4/1900)]

Disunnahkan pula untuk mengangkat kedua tangan dan membentangkan jari-jarinya, tidak merenggangkannya, dan tidak pula merapatkannya. Dahulu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengangkat kedua tangannya sejajar pundak, terkadang pula sejajar daun telinga. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir, terkadang sebelum takbir, dan terkadang setelahnya. [Lihat Zaadul Ma’ad (1/202), Syarh Shohih Muslim (4/94), Tamam Al-Minnah (hal. 173), dan Sifah Sholah An-Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- (hal. 77-78) karya Syaikh Al-Albaniy]

Ada suatu hal yang perlu diingat bahwa sunnahnya seseorang ketika bertakbir, telapak tangan menghadap ke arah kiblat. Tak ada khilaf dalam perkara ini sebagaimana yang dinukil oleh Al-Halabiy dalam Syarh Maniyyah Al-Musholli (hal. 300).

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , , , , , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Hukum Seseorang Masuk Islam setelah Ramadhan Berlalu Beberapa Hari
  2. Hukum Mengambil Gambar Para Ulama di Majelis-majelis Mereka
  3. Fatwa Ulama Islam tentang Penentuan Awal Romadhon & Ied
  4. Puasa Arafah dan Lebaran, Ikut Indonesia atau Arab Saudi?
  5. Solusi Terakhir ….
  6. Lelaki yang Dikuburkan Di Dalam Mesjid
  7. Dimanakah Kiblatnya Doa ?
  8. Sujud Menyentuh Tanah
  9. Aduh Lewat !!!
  10. Keutamaan Memakai Sorban Ketika Sholat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *