Shalat di sisi Kubur

Dilihat 1,211 kali | Kirim Ke Teman

Jika kita berkeliling nusantara dari Sabang sampai Merauke, maka kedua bola mata hitam kita akan terbelalak melihat banyaknya masjid-masjid yang dibangun satu lokasi dengan kubur, sebab sebagian imam masjid atau pemilik masjid berwasiat ketika hendak wafat agar dikuburkan di lokasi masjid. Walapun wasiat itu sebenarnya tak wajib dipenuhi, karena menyelisihi petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang akan kami sebutkan.

Selain itu, mata kita akan meneropong sekelompok manusia yang sengaja beribadah di sisi kubur. Ada yang baca Al-Qur’an di sisi kubur, berdzikir, tidur, bahkan sholat disitu!! Pemandangan ini terlihat di sekitar kubur “Wali Songo” di Jawa, kubur Syaikh Yusuf di Sulsel, kuburan Imam Lapeo di Sulbar, dan lainnya.

Pembaca yang budiman, Buletin Mungil Al-Atsariyyah kali ini akan menyoroti fenomena tersebut agar kaum muslimin bisa mengetahui petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bahwa sholat di sisi kubur adalah terlarang, baik sholatnya dilakukan di masjid, atau sholatnya ditunaikan di kubur !!!

Jika meneliti hadits-hadits dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– , maka kita akan menemukan bahwa perkara ini telah dilarang oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

إِنِّيْ أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُوْنَ لِيْ مِنْكُمْ خَلِيْلٌ, فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِيْ خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً, وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِيْ خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً, أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيًائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ, أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوْا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ, إِنِّيْ أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya aku akan cuci tangan di hadapan Allah jika kalian menjadikan aku sebagai khalil (sahabat karib yang dijadikan sebagai tumpuan segala harapan). Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana Dia telah mengangkat Ibrahim menjadi khalil.  Seandainya aku mengambil khalil, pasti aku akan memilih Abu Bakr sebagai khalil. Ingatlah! Sesungguhnya umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (tempat shalat). Ingatlah! Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena sesungguhnya aku telah melarang kalian untuk melakukan hal itu.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (532)]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-  bersabda,

قَاتَلَ اللهُ الْيَهُوْدَ والنَّصَارَى, اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah memerangi orang-orang Yahudi dan Nashrani (karena) mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” [HR. Bukhari dalam Shohih-nya (437) dan Muslim dalam Shohih-nya (530)]

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– telah bersabda ketika sedang sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia,

(لَعَنَ اللهُ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى, اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ) قَالَتْ: فَلَوْلاَ ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خَشٍيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani (karena) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”

A’isyah berkata, “Andai bukan karena hal itu, niscaya akan dinampakkan kubur beliau. Hanya saja beliau khawatir kalau kubur beliau dijadikan masjid (tempat ibadah)”. [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (4441) dan Muslim dalam Shohih-nya (529)]

Ibnu Mas’ud -radhiyallahu anhu-,  “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ

“Sesungguhnya orang yang paling buruk adalah orang yang dijumpai oleh hari kiamat sedangkan mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.” [HR. Ahmad dalam Musnad-nya (1/435), Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf (3/345). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (4143)]

Para Pembaca yang budiman, jika kita memperhatikan dan mentadabburi hadits-hadits di atas, maka hadits-hadits itu memberikan beberapa faedah bagi kita bahwa:

§ Haram untuk menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah).

Pendapat ini tidak dipertentangkan oleh para ulama yang terkenal. Mayoritas ulama menyebutkan tentang larangan hal tersebut sebagai konsekuensi dalam mengikuti hadits-hadits yang melarang hal itu. Tidak perlu diragukan lagi bahwa hal itu haram.

Masjid yang dibangun di atas tanah kuburan, harus dibongkar. Masalah itu tidak diperdebatkan lagi di kalangan para ulama yang terkenal. Dibenci shalat di atasnya, tanpa ada khilaf di kalangan mereka lagi. Bahkan menurut Imam Ahmad shalat yang dilaksanakan dianggap tidak sah, karena adanya larangan serta laknat yang disebutkan dalam hadits !!

Begitu juga shalat di sekitar kubur, juga dibenci oleh para ulama’, sekalipun tidak dibangun masjid di sana. Karena setiap tempat yang digunakan untuk shalat namanya adalah “masjid” (tempat sujud), sekalipun tidak ada wujud bangunannya. [Lihat Iqtidho’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim (hal. 329-330)]

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang perbuatan itu dengan sabda beliau,

لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوْا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula kalian shalat menghadap kepadanya!” [HR. Muslim di dalam Shahih-nya (972)]

Menurut madzhab Imam Ahmad, tidak sah shalat yang dikerjakan di antara tanah kubur. Sedangkan ulama lainnya membenci hal itu.

Ketahuilah, sesungguhnya di kalangan ulama ahli fiqih, ada yang meyakini bahwa sebab dibencinya shalat di kuburan, karena dikhawatirkan tanahnya najis. Sebab tanah yang najis memang tidak boleh digunakan untuk shalat, baik itu tanah kubur ataupun bukan. Namun sebenarnya bukan karena dikhawatirkan tanahnya bernajis. Akan tetapi maksud utama dari larangan shalat di atas kuburan adalah karena dikhawatirkan kuburan itu akan dijadikan berhala dan dijadikan objek sesembahan sebagaimana yang  dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’iy -rahimahullah-, “Aku tidak senang ada makhluk yang dikultuskan sehingga kuburnya dijadikan sebagai masjid (tempat shalat). Hal ini sangat dikhawatirkan bisa menimbulkan fitnah (musibah) sepeniggal Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [Lihat Al-Umm (1/246)

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam– telah menetapkan nash untuk alasan perbuatan ini dengan sabda beliau sebagai berikut,

اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ, اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang dijadikan obyek sesembahan. Amat keras kemurkaan Allah atas kaum yang menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ (1/172/no.414), Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra (2/240-241)].

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– juga telah mengabarkan bahwa orang-orang kafir jika ditinggal mati oleh salah seorang shalih di antara mereka, maka mereka langsung membangun masjid di atas kuburannya. Selain itu, mereka juga menggambar berbagai lukisan di tempat itu. Mereka itulah makhluk yang paling buruk di sisi Allah kelak di hari kiamat. [Lihat Shahih Al-Bukhariy (1/523-524) dan Shahih Muslim (1/375-376)].

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam hal ini sepertinya menyamakan antara berhala dan kuburan. Jika anda telah memperhatikan pembahasan ini, maka anda akan dapat memahami beberapa hal sebagai berikut:

1.    Sebenarnya shalat di atas kuburan adalah dilarang, sekalipun di area itu hanya ada satu kubur.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- menyebutkan di dalam Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Musthaqim khilaf diantara para pengikut Al-Imam Ahmad mengenai masalah sebuah kubur yang berada di samping masjid. Apakah batasan yang digunakan untuk larangan shalat di sana menurut jumlah kuburannya, atau memang shalat di atas kuburan dilarang secara mutlak? Dalam hal ini, ada dua pendapat:

Pendapat kedua adalah yang dipilih dan diperkuat  di dalam Al-Ikhtiyaraat Al-Ilmiyyah sebagai berikut, “Tak ada pembedaan seperti ini dalam ucapan Imam Ahmad dan para pengikutnya. Umumnya komentar, penjelasan, pendalilan mereka menuntut pelarangan sholat di sisi sebuah kubur. Inilah pendapat yang benar. Sedangkan yang dimaksud dengan kuburan itu adalah segala sesuatu yang dibuat untuk mengubur… Para sahabat kami berkata, “Semua area yang masuk dalam kategori kuburan yang di sekitar kubur, maka tidak boleh digunakan untuk shalat. Ini menegaskan bahwa larangan itu mencakup pengharaman sebuah kubur, dan halamannya yang ditambahkan kepadanya” [Lihat Al-Ikhtiaraat Al-Ilmiyyah (hal. 25) dan Tamamul Minnah (hal. 298)].

2.       Shalat di dalam masjid yang lokasinya berada di antara kubur juga dilarang, sampai ada dinding antara dinding masjid, dan kubur.

Dinding masjid itu sendiri tidak cukup untuk menjadi pemisah antara masjid dan kuburan. [Lihat Tahdzir As-Sajid min Ittikhodz Al-Qubur Masajid (hal. 187-189)].

3.       Dibencinya shalat di masjid yang dibangun di atas tanah kubur, berlaku dalam segala kondisi, baik kuburannya berada di depan orang yang sholat atau di belakang, di sebelah kiri maupun di samping kanannya.

Intinya, Shalat di dalam masjid seperti ini adalah terlarang dalam segala hal. Tapi larangan itu semakin keras, jika sholat dilakukan menghadap kubur itu. Karena orang yang sholat dalam posisi demikian akan melakukan dua pelanggaran. Pertama, ia telah melakukan sholat di masjid yang dibangun di atas kubur. Kedua, ia telah melaksanakan sholat menghadap kubur. Sedang ini terlarang secara mutlak, baik di masjid, maupun di luar masjid berdasarkan nas yang shohih dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- [Lihat Tahdzir As-Sajid  (hal. 190-191)]

4.    Yang menjadi pedoman dalam larangan untuk shalat di atas kuburan atau menghadap ke kuburan terdapat pada kubur yang nampak (kelihatan).

Adapun yang terdapat dalam perut bumi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan hukum syariat tersebut (yakni, larangan itu). Bahkan syari’at lepas dari hukum ini, karena kita tahu secara pasti bahwa bumi ini adalah sebagai kuburan bagi semua orang yang pernah hidup di dunia sebagaimana Allah -Ta’ala- berfirman,

“Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati?”. (QS. Al-Mursalat: 25-26)

Asy-Sya’biy -rahimahullah- berkata, “Perut bumi adalah untuk kalian yang  telah mati, sedangkan permukaannya untuk kalian yang masih hidup.” [HR. Ad-Daulabiy (1/129)]

Jika seorang melakukan sholat di suatu tempat, tanpa tahu apakah di tempat itu ada kuburnya atau tidak, maka ia tak terkena larangan yang terdapat dalam hadits-hadits itu, walaupun sebenarnya di bawah tempat tersebut ada mayat yang dikuburkan. Orang seperti ini tak terkena larangan itu, karena ia tak tahu tentang sesuatu yang ada di bawahnya berupa kuburan yang tertelan bumi.

5.    Diantara perkara yang terlarang, jama’ah melakukan shalat fardhu, sementara ada jenazah di arah kiblat orang yang sedang shalat.

Asy-Syaikh Al-Qori berkata, “Menyalati jenazah yang diletakkan di arah kiblat orang yang menyalatinya adalah menjadi tradisi buruk yang menimpa penduduk Mekah. Mereka malah meletakkan jenazah di sisi Ka’bah (barisan paling depan) dan semua jama’ah menghadap kepada keranda mayat.” [Lihat Mirqaah Al-Mafaatih (2/372)]

Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- memberi komentar terhadap ucapan Al-Qori, “Aku katakan, “Maksud beliau, ketika shalat fardhu. Ini adalah musibah yang merata, yang telah banyak melanda kaum muslimin sampai ke negeri Syam, Anadhol dan negeri-negeri lainnya. Sebulan yang lalu kami menyaksikan ada foto yang sangat buruk. Foto itu menunjukkan barisan (shaf) orang-orang yang melaksanakan sholat dalam posisi bersujud di hadapan peti-peti mayat yang yang ada di depan mereka. Di dalamnya terdapat mayat orang-orang Turki yang tenggelam dalam sebuah kapal laut”. [Lihat Tahdzir As-Sajid (hal.35)].

Pada kesempatan ini, kami akan memalingkan perhatian kalian bahwa dominannya dari petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, sholat jenazah di lapangan, luar Masjid Nabawi. Mungkin hikmahnya agar kuam muslimin terhindar dari pelanggaran seperti ini sebagaimana yang dingatkan oleh Al-Allamah Al-Qoriy -rahimahullah- .

Jika anda benar-benar hamba Allah –wahai saudara semuslim-, maka ikutilah orang-orang shalih yang telah mendahuluimu dari kalangan sahabat dan orang yang mengikuti mereka. Realisasikan tauhid yang murni dalam kehidupanmu sehari-hari. Janganlah sekali-kali menyukutukan Tuhanmu dengan yang lain. Sebagaiman yang telah diperingatkan oleh Allah -Ta’ala-  melalui firman-Nya,

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu. Yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Sesembahan kalian itu adalah satu”. Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Surat Yasin Hatinya Al-Qur’an
  2. Menyorot Perayaan Valentine’s Day
  3. Aneka Berhala & Kesyirikan
  4. Benteng Menghadapi Gelombang Syubhat Nabi Palsu
  5. Artikel Tentang Maulid
  6. Peringatan Maulid Nabi dalam Sorotan
  7. Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid
  8. Bulan Penuh Telur
  9. Hukum Islam tentang Perayaan Tahun Baru Hijriyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *