Tujuan Penciptaan Makhluk

Dilihat 227 kali | Kirim Ke Teman

Jika kita adakan sensus akbar di masyarakat Indonesia Raya dari Sabang sampai Merauke tentang alasan dan ghoyah (tujuan) Allah dalam menciptakan makhluk –khususnya, jin dan manusia-, maka banyak orang yang akan pusing mencari jawabannya. Ada yang terbata-bata, dan gagap serta diselimuti keraguan dalam memberikan jawaban tentang hal itu. Bahkan ada orang merasa aneh mendengar pertanyaan tersebut !!! Padahal Allah telah lama menjelaskan dalam Kitabullah Al-Aziz.

Lantaran itu, pembaca akan melihat keajaiban yang luar biasa saat melihat ada manusia yang melupakan asal, dan ghoyah penciptaan dirinya. Tak heran jika di sana terlihat ada sekelompok manusia –karena lalainya tentang hal itu- menyibukkan diri menumpuk harta, dan sibuk dengan pekerjaannya, tanpa memperhatikan hak-hak Allah -Ta’ala- atas dirinya. Dia menyangka bahwa dirinya akan hidup seribu tahun di dunia yang fana ini. Dia bekerja, dan menumpuk harta, tanpa memperhatikan apakah harta yang ia peroleh halal atau haram! Kehidupannya dilumuri dengan maksiat, dan pelanggaran. Dia lalai sampai ia tak lagi memperhatikan ridho dan cinta Allah di balik kesibukan dan pekerjaannya. Orang yang seperti ini amat bakhil dengan hartanya, sebab ia tak lagi merasa diawasi oleh Allah; ia amat berani melakukan dosa dan pelanggaran.

Padahal penciptaan dirinya sebagai makhluk ialah hanya untuk beribadah kepada Allah -Ta’ala- sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56).

Lantas apa itu IBADAH ? Apakah ibadah itu hanya berupa sholat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, haji, dan puasa?! Tidak, sama sekali tak demikian. Bahkan ia adalah kata yang mencakup segala bentuk ketaaan kepada Allah Robbul alamin.

Al-Imam Al-Marwaziy -rahimahullah- berkata, “Perkara yang telah dimaklumi dalam bahasa, dan di sisi para ulama bahwa ibadah kepada Allah adalah pendekatan diri kepada-Nya, dengan mentaati-Nya, dan bersungguh dalam hal itu”. [Lihat Ta’zhim Qodr Ash-Sholah (1/345)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Imam An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ibadah. Tapi mayoritas ulama berkata,”Ibadah adalah ketaatan kepada Allah -Ta’ala-. Sedang ketaatan itu adalah mencocoki perintah Allah”. [Lihat Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (1/313)]

Ulama’ Syafi’iyyah lainnya, Al-Imam As-Suwaidiy -rahimahullah- berkata berkata, “IBADAH adalah nama yang mencakup bagi segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah berupa ucapan, dan perbuatan yang nampak, maupun yang tersembunyi”. [Lihat Al-Aqd Ats-Tsamin (hal.69)]

Jadi, seorang dianggap beribadah kepada Allah, jika ia mau  melakukan amalan-amalan ketaatan, sebab amalan-amalan ketaatan itu dicintai oleh Allah. Diantara amalan ketaatan tersebut, seorang menjauhi perkara yang dibenci oleh Allah berupa maksiat, kekafiran, kesyirikan, bid’ah, dan segala hal yang haram. Maka setiap orang yang taat adalah orang yang beribadah, dan setiap amalan ketaatan adalah ibadah.

Olehnya, Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata, “Yang dimaksud dengan IBADAH adalah mengamalkan ketaatan, dan menjauhi maksiat”. [Lihat Al-Fath (24/134)]

Diantara amalan ketaatan yang paling tinggi, dan agung adalah TAUHID (mengesakan Allah dalam beribadah), dan tidak berbuat SYIRIK (mengangkat tandingan bagi Allah dalam beribadah kepada-Nya).

Inilah hikmahnya Allah -Ta’ala- mengutus para rasul kepada ummat manusia, agar mereka mengajak manusia hanya beribadah kepada Allah, tanpa selainnya. Bahkan selainnya harus dijauhi. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS. An-Nahl: 36).

Al-Hafzih Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata saat mengomentari ayat ini, “Allah -Ta’ala- senantiasa mengutus rasul-rasul kepada ummat manusia dengan membawa misi tersebut sejak munculnya syirik di kalangan anak cucu Adam, yaitu di kalangan kaumnya Nabi Nuh yang telah diutus kepada mereka Nuh. Beliau adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi sampai Allah menutup mereka dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang dakwahnya meliputi jin dan manusia, baik di timur, maupun barat”. [Lihat *Tafsir Ibnu Katsir *(2/750)]

Jadi, para nabi dan rasul, semuanya mengajak agar kita men-tauhid-kan (mengesakan) Allah saat beribadah kepada-Nya. Artinya, seorang hanya beribadah kepada-Nya dengan mengamalkan amalan-amalan ketaatan, dan menjauhi maksiat, karena mencari pahala di sisi-Nya, dan karena takut siksaan-Nya.

Diantara amalan ketaatan dan ibadah yang tak boleh dipersembahkan kepada selain Allah, bahkan hanya untuk Allah adalah sholat, baca Al-Qur’an, puasa, berdo’a, meminta berkah (tabarruk), kesembuhan, meminta hajat, meminta perlindungan (isti’adzah), memohon pertolongan di kala susah (istighotsah), menyembelih hewan, bernadzar, dan lainnya. Semua amalan ini dikerjakan untuk Allah, karena mencari pahala dan ridho-Nya, bukan untuk selainnya !!!

Dengarkan, Allah -Ta’ala- berfirman memerintahkan TAUHID,

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al-Israa’: 23).

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata dalam Al-Qoul As-Sadid Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 14), “Al-Qur’an Al-Karim (yang ada di depan kita) ini,  sesungguhnya telah memerintahkan tauhid, menetapkannya dengan sebenarnya, dan menjelaskannya dengan sungguh-sungguh, serta mengabarkan bahwa tak akan ada keselamatan, keberuntungan, dan kebahagian, kecuali dengan tauhid ini; seluruh dalil aksiomatik, naqliy, dan kejiwaaan merupakan dalil dan keterangan tentang perintah dalam perkara tauhid, dan wajibnya”.

Jadi, jelas bahwa para nabi, dan juga kitab-kitab samawi, semuanya mewasiatkan, dan memerintahkan kita agar mengikhlaskan (memurnikan) ibadah hanya untuk Allah. Maka seorang yang bertauhid, hanya berdo’a kepada Allah, bukan kepada Wali Songo atau orang-orang sholeh, siapapun dia !! Sebab do’a adalah ibadah yang tak boleh dipersembahkan kepada selain Allah -Azza wa Jalla-. Jika seorang sakit atau tertimpa bencana, maka mintalah jalan keluarnya kepada Allah. Jika mau jodoh dan rezqinya dilancarkan, maka mintalah dan berdo’a kepada-Nya; jangan datang ke tempat-tempat “bertuah” atau tempat yang dikeramatkan. Tapi mintalah semata-mata kepada Allah Sang Maha Pencipta segala sesuatu. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An-Nisaa’: 36).

Ahli Tafsir Negeri Yaman, Al-Imam Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata memaknai ayat ini, “Maksudnya, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tanpa ada bedanya antara yang hidup dan mati; antara benda mati, dan hewan”. [Lihat Fathul Qodir (1/699)]

Mempersekutukan Allah dengan siapapun dalam beribadah kepada-Nya merupakan perbuatan haram !! Ingatkah kalian, mengapa Allah mencela kaum Nasrani??! Karena mereka mempersekutukan Allah dengan Isa bin Maryam, dan ibunya sehingga Allah mengkafirkan orang-orang Nasrani tersebut,

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih Putera Maryam”. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah salah seorang dari yang tiga”. Padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang haq), selain dari Tuhan yang Esa (Allah). Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih Putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami). Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu). (QS. Al-Maa’idah : 72-75).

Para Pembaca yang budiman, perhatikan celaan Allah atas orang-orang Nasrani saat mereka mempersekutukan Allah dengan manusia terbaik di zamannya, yaitu Isa. Jika hal itu terlarang pada Isa, maka lebih utama jika kesyirikan terlarang pada selainnya diantara manusia yang disangka sholeh atau wali! Karena ibadah adalah hak khusus bagi Allah.

Mu’adz bin Jabal -radhiyallahu ‘anhu– berkata,

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ, فَقَالَ: يا معاذ, هَلْ تَدْرِيْ حَقَّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ, وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ؟, قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ, قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا, وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لاَّ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا, فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ ؟, قَالَ: لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا

“Dahulu aku pernah dibonceng Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- di atas seekor keledai yang bernama Ufair. Beliau bersabda,”Wahai Mu’adz, apakah engkau mengetahui hak Allah atas para hamba-Nya, dan hak para hamba atas Allah?” Aku katakan, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka hanya mengibadahi Allah, dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun (saat beribadah kepada-Nya), sedang hak hamba atas Allah adalah Allah tak akan menyiksa orang yang tak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. Aku katakan, “Tidakkah perlu aku kabarkan tentang hal itu kepada manusia?” Beliau bersabda, “Jangan kau kabari mereka. Lantaran itu, mereka akan berpangku tangan”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2856), Muslim (30), At-Tirmidziy (2645), dan Ibnu Majah (4296)]

Syaikh Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata, “Jadi, tauhid adalah hak Allah yang wajib atas para hamba-Nya. Tauhid adalah perintah agama yang paling agung, prinsip yang paling fundamental, dan asas segala amalan”. [Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal.14)]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Peringatan Maulid Nabi dalam Sorotan
  2. Menyingkap Kebatilan Teori Darwin
  3. Batilnya Aqidah Reinkarnasi
  4. Hukum Mempelajari Injil
  5. Adakah Jimat dalam Islam ???
  6. Artikel Tentang Maulid
  7. AWAS GERAKAN PENYATUAN AGAMA !
  8. Musuh Berwajah Ramah
  9. Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi
  10. Siaran Langsung Daurah Politik Syar’i UNM Gunung Sari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *