Merenungi Bahasa Musibah

Dilihat 429 kali | Kirim Ke Teman

Penulis : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah

Musibah demi musibah telah menghantam bumi Nusantara, mulai dari gempa, tsunami, angin puting beliung, longsor, puso (gagal panen), dan berbagai macam jenis musibah yang terus melanda negeri yang tercinta ini.

Terakhir, di awal tahun 2013 ini, kita diterpa oleh musibah lain berupa banjir yang menyibukkan, memayahkan, dan memusingkan. Di beberapa daerah di Nusantara (seperti, Makassar dan beberapa daerah sekitarnya) tertimpa banjir yang berkepanjang disertai longsor. Ibu kota negara, Jakarta juga turut merasakan penderitaan akibat banjir yang menggenang. Di saat kami menulis risalah penggugah ini, Jakarta masih terendam air. Banjir yang banyak mendatangkan banyak kerugian, baik material, maupun non-material.

Musibah dan bala ini betul-betul membawa banyak cerita dan kenangan yang dapat menjadi bahan renungan. Namun sayangnya, banyak diantara kita yang tidak memahami dan merenungi bahasa musibah yang bertubi-tubi menghantam negeri ini!! Banyak orang yang tidak mau bertanya apa gerangan yang membuat musibah datang melanda?!

Mayoritas orang menyangka bahwa musibah dan bala datang begitu saja, tanpa diiringi sebab dan ibrah dari balik musibah itu. Sehingga mereka pun dan sibuk mengatasi musibah dengan berbagai upaya, tanpa memikirkan upaya pencegahan sebelum turunnya musibah. Ibarat seseorang yang ingin membunuh pohon, maka iapun memangkas dahan-dahan kecilnya, tanpa menebang dan mencabut akarnya.

Itulah sebabnya negeri kita tiada henti-hentinya didera oleh berbagai warna musibah dan bala.

  • Sebab Turunnya Musibah

Lantas sebab apakah yang mendatangkan musibah-musibah yang beruntun ini? Apakah semua terjadi karena sekedar perubahan gejala alam sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang?!

Demi mendapatkan jawabannya, coba bukalah lembaran Kitab suci Al-Qur’an. Kitab yang tidak meninggalkan sesuatu pun yang dibutuhkan oleh manusia berupa jawaban bagi berbagai macam problema kehidupan manusia.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar-Rum: 41)

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Abul ‘Aliyah berkata, “Barangsiapa yang berbuat maksiat di muka bumi, maka ia telah melakukan kerusakan di muka bumi”. Karena kebaikan bumi, dan langit lantaran ketaatan. Karena ini, telah datang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Benar-benar hukuman hadd ditegakkan di muka bumi lebih dicintai oleh penduduk bumi dibandingkan mereka diberi hujan selama 40 hari”. Sebabnya, karena hukuman hadd (hukuman yang ditetapkan batasannya dalam nash, seperti hukum hadd zina adalah rajam bagi yang telah nikah, dan cambuk bagi yang belum nikah, pen) jika ditegakkan, maka manusia,  mayoritas, atau kebanyakan mereka akan berhenti melakukan perkara-perkara yang haram. Jika maksiat tidak lagi dikerjakan, maka itu merupakan sebab datangnya berkah dari langit, dan bumi. Oleh karena ini, ketika Isa –’alaihis salam- turun di akhir zaman, maka ia akan berhukum dengan syari’at Islam yang suci ini pada saat itu, berupa pembunuhan babi-babi, pematahan salib-salib, dan pembatalan jizyah. Maka dia tidak akan menerima, kecuali Islam, dan pedang (perang). Bila Allah membinasakan Dajjal, pengikutnya, Ya’juj, dan Ma’juj di zamannya, maka diperintahkan kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu”, lalu sekelompok manusiapun memakan delima, dan berteduh dengan batangnya, serta susu seeekor onta mencukupi sekelompok manusia. Hal itu tak terjadi, kecuali karena berkah diterapkannya syariat Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Semakin ditegakkan keadilan, maka berkah, dan kebaikan semakin banyak”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/572) karya Ibnu Katsir]

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan musibah apapun yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri”. (QS. Asy-Syura: 30)

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

 ومن عقوبات الذنوب إنها تزيل النعم وتحل النقم فما زالت عن العبد نعمة الا لسبب ذنب ولا حلت به نقمة إلا بذنب

“Diantara hukuman dosa, ia akan menghilangkan berbagai nikmat dan mendatangkan siksaan. Karenanya, suatu nikmat tidak akan hilang dari seorang hamba, kecuali karena sebab suatu dosa; dan siksaan tak akan turun, kecuali karena sebab dosa”. [Lihat Al-Jawab Al-Kafi (hal. 49) karya Ibnul Qoyyim, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah]

Jadi, musibah menimpa manusia karena ulah tangan mereka sendiri. Di antara manusia ada yang menampakkan kekejian (yakni zina dan pacaran), mengurangi timbangan, dan takaran, membatalkan perjanjian, dan tidak mau memberlakukan Kitabullah (Al-Qur’an) sebagai Pemutus perkara yang paling adil; malah mereka membuang Kitabullah di belakang punggung mereka!! Kalaupun mereka ambil, maka mereka ambil sebagian dari Kitabullah yang sesuai dengan hawa nafsu mereka!!!

Dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu-, ia berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menghadap kepada kami seraya bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Wahai orang-orang Muhajirin, ada lima perkara, bila kalian tertimpa olehnya –sedang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mendapatinya-: [1] Kekejian (zina) tidaklah bertebaran pada suatu kaum sampai-sampai mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah tha’un (penyakit pes) dan berbagai macam wabah penyakit lainnya yang tidak pernah menyerang para pendahulu mereka yang telah berlalu ; [2] tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan dihukum dengan kemarau yang panjang, kesusahan hidup, dan kezhaliman penguasa; [3] Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka, kecuali pasti mereka tidak diberi hujan dari langit. Andaikan tidak dikarenakan adanya hewan ternak, maka pasti mereka sama sekali tidak diberi hujan. [4] Tidaklah mereka membatalkan perjanjian Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah jadikan musuh-musuh menguasai mereka, lalu musuh-musuh itu mengambil sebagian yang ada di tangan mereka. [5] Tidaklah pemimpin-pemimpin mereka menegakkan hukum berdasarkan kitabullah (Al-Qur ‘an) atau tidak pula mereka mencari kebaikan dari sesuatu yang Allah turunkan, melainkan Allah akan menjadikan permusuhan berkobar di antara sesama mereka”. [Ibnu Majah dalam As-Sunan (no. 4019), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/333-334). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- dalam As-Silsilah Ash-shahihah (106) dan Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghier (no. 7978)]

  • Memetik Ibrah dari Musibah

Semua rentetan peristiwa dan musibah ini memancing kita mengernyitkan dahi untuk sedikit berpikir, apa gerangan yang menyebabkan Allah menurunkan cobaan dan musibah yang bertubi-tubi??! Jawabannya singkat, karena dosa-dosa yang dilakukan oleh anak-anak Adam, baik dosa itu berupa kekafiran, ke-syirik-an, bid’ah (ajaran baru yang tak ada contohnya dalam agama), dosa-dosa besar, dan kecil.

AlImam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata, “Seyogyanya bagi setiap orang yang memiliki hati, dan pikiran agar khawatir terhadap akibat maksiat, karena tidak ada hubungan kerabat, dan silaturrahni antara seorang anak Adam dengan Allah. Allah hanyalah Penegak dan Pemutus keadilan. Jika kelembutan Allah mampu meliputi (menutupi) dosa-dosa. Cuman jika Allah ingin mengampuni dosa itu, maka Dia akan mengampuni segala dosa yang besar. Jika hendak menyiksa seseorang, maka Allah akan menyiksanya, dengan siksaan yang masih dianggap ringan. Maka takut dan khawatirlah kalian. Sungguh aku telah menyaksikan beberapa kaum dari kalangan orang-orang yang hidup mewah bergelimang dalam kezhaliman dan maksiat, yang tersembunyi maupun yang nampak. Mereka telah lelah dari arah yang mereka tak sangka; merekapun meninggalkan prinsipnya, dan membatalkan sesuatu yang mereka bangun berupa aturan-aturan yang mereka telah buat untuk keturunan mereka. Perkara itu tidaklah terjadi, kecuali karena mereka telah melalaikan hak-hak Allah -‘Azza wa Jalla-. Mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan berupa kebaikan mampu menghadapi segala sesautu yang sedang terjadi berupa kejelekan (maksiat). Akhirnya, bahtera imaginasi mereka melenceng, lalu masuk kedalam air berbahaya yang menenggalamkannya… Takutlah kepada Allah, senantiasalah kalian merasa diawasi oleh Allah”. [Lihat Shoid Al-Khothir (hal. 195-196)]

Manusia-manusia Indonesia terlalu banyak melakukan dosa dan maksiat!! Dosa-dosa yang mereka lakukan beragam bentuknya, bisa berupa: ke-syirik-an (seperti, menyembelih untuk makhluk, berdo’a/meminta kepada makluk), kezholiman,  munculnya pemikiran-pemikiran sesat, khurafat,  demonstrasi, tawuran, terorisme, pembunuhan, perampokan,  perjudian, penipuan, perzinaan, aborsi, penebangan hutan secara liar, penyelundupan, kekerasan, menghalalkan musik, riba, dan masih banyak lagi tindakan kejahatan lainnya, yang sudah sering terdengar di telinga kita.

  • Maksiat-maksiat di Malam Tahun Baru

Belum lagi maksiat yang mereka lakukan di akhir tahun dalam menyambut datangnya tahun. Mereka berpesta porah dengan menghambur-hamburkan harta di jalan yang tiada berguna bagi agam dan akhiratnya. Mereka menghabis uang miliaran, bahkan triliunan demi membeli mercon, terompet ala Yahudi dan berbagai macam persiapan atau asesoris dalam menyambut tahun baru.

Di malam itu mereka menenggak minuman keras, bercampur baur laki-laki dan perempuan, tanpa rasa malu, bagaikan suami-istri yang bergandengan dan berduaan sampai larut malam.

  • Musik Pembawa Musibah

Di malam tahun baru itu mereka ramaikan dengan berbagai macam warna-warni musik, baik musik lokal, mapun musik mancanegara. Padahal Allah dan Rasul-Nya, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- telah jauh-jauh hari mengharamkan musik!!!

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا فَيُبَيِّتُهُمْ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sungguh akan ada diantara umatku orang-orang yang akan menghalalkan zina, sutra, khomer dan musik. Sungguh akan ada orang-orang yang tinggal di puncak gunung, sedang mereka akan didatangi pengembala di waktu sore dengan membawa hewan-hewan ternak mereka. Merekapun didatangi oleh orang fakir demi kebutuhannya. Orang-orang itu pun berkata, “Kembalilah kepada kami esok hari”. Akhirnya,  Allah membinasakan mereka di waktu malam, menimpakan gunung itu atas mereka serta mengubah yang lainnya menjadi kera dan babi sampai hari kiamat”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya ()]

Al-Imam Ibnu Nujaim Al-Hanafiy –rahimahullah– berkata, “Perkara ini menunjukkan bahwa semua jenis musik adalah haram sampai pun bernyanyi dengan memukulkan tulang-belulang”. [Lihat Al-Bahr Ar-Ro’iq Syarh Kanz Ad-Daqo’iq (22/117)]

Di dalam hadits ini terdapat isyarat dan peringatan keras tentang bahaya menghalalkan sesuatu yang haram. Sedang balasannya, Allah akan mengubah watak, bahkan rupa si pelakunya menjadi kera dan babi. Karena itu, setiap orang yang senang dengan musik dan menghalalkannya dengan perbuatannya, akan mengalami perubahan nyata pada wataknya. Tak heran bila para artis kehidupannya seperti kera dan babi yang senang memakan apa saja, tanpa pikir halal-haramnya. Kehidupan mereka bagikan hewan yang bebas berbuat apa saja yang mereka inginkan, tanpa menoleh kepada aturan syariat. Lantaran itu, mereka tampil di depan publik dengan pakaian, ucapan dan perbuatan yang serba bebas dari petunjuk agama!! Inilah sebabnya setan di hari ini telah berhasil menyerukan seks bebas, penistaan agama dan orang-orang beriman, pencemaran nama baik, pengajaran kata-kata kotor dan jorok melalui musik!!

Apalagi di zaman kita telah muncul sebuah aliran musik underground (seperti, Punk Metal, Heavy Metal, Trush Metal dan Black Metal) yang menyuarakan kebebasan mutlak dari segala macam aturan dan petunjuk, walaupun itu baik. Bermunculanlah aliran musik ekstrim ini di kalangan remaja-remaja Islam sampai setan menjerumuskannya ke dalam kubang kekafiran. Sebab memang para pencetusnya juga adalah manusia anti agama dan pemuja setan yang biasa disebut dengan “satanic”!!

Demikianlah Allah menghukum orang-orang yang menghalalkan musik atau khomer dan lainnya, Allah ubah watak dan rupanya menjadi kera dan babi. Entah wajahnya berubah, atau watak dan perangainya berubah menjadi seperti kedua binatang itu!! Kapankah hal itu terjadi?!

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

في هذه الأمة خسف ومسخ وقذف فقال رجل من المسلمين يا رسول الله ومتى ذاك قال إذا ظهرت القينات والمعازف وشربت الخمور

“Di tengah umatku akan terjadi longsor, pengubahan rupa dan pelemparan batu (dari langit)”. Salah seorang dari kalangan kaum muslimin berkata, “Wahai Rasulullah, kapankah hal itu (terjadi)?” Beliau bersabda, “(Hal itu terjadi) ketika para biduanita dan musik bermunculan, serta khomer mulai diminum”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2212). Hadits ini dikuatkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ar-Rodd bil Wahyain (hal. 64)]

Al-Imam Ibnu Baththolrahimahullah– berkata tentang makna pengubahan, “Maksudnya adalah pengubahan hati sehingga hati tidak lagi mengenal yang ma’ruf dan tidak pula mengingkari yang mugkar. Sungguh telah datang dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa al-Qur’an akan diangkat dari dada manusia; khusyu’ dan amanah akan dicabut dari mereka. Sedang tak ada pengubahan yang lebih besar dibandingkan pengubahan ini. Boleh juga hadits ini (dipahami) berdasarkan lahiriahnya. Jadi, Allah akan mengubah rupa orang yang Dia kehendaki agar hukumannya disegerakan sebagaimana halnya suatu kaum dilongsorkan ke dalam tanah dan Dia pun membinasakan mereka dengan longsor dan gempa. Sungguh kami telah menyaksikan hal ini dengan mata kepala. Nah, demikian pula perkara pengubahan bentuk ini, wallahu a’lam”. [Lihat Syarh Shohih Al-Imam Al-Bukhoriy (11/50)]

Sekalipun Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah menyatakan haramnya musik, maka tetap saja musik menjamur. Setiap sudut kota dan desa dikotori oleh seruling setan itu (yakni, musik). Bahkan para pemuda berlomba membentuk club-club dan grup-grup musik; maka muncullah kompilasi band-band, semisal Padi, Raja, Ungu, Keris Patih, Dewa 19, Kangen dan lainnya. Parahnya lagi, sebagian grup band ini membuat lagu-lagu yang bernafas “islam” yang dihiasi oleh musik. Akibatnya, kaum awam tertipu dan menyangka bahwa disana ada musik islami. Padahal semua musik adalah haram!!!! sebab semuanya akan memalingkan manusia dari mempelajari Al-Kitab dan Sunnah, melalaikan dan menghabiskan waktu.

Allah -Ta’ala- berfirman menceritakan kondisi sebagian manusia yang menciptakan nyanyian untuk menjauhkan manusia dari Al-Qur’an,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (6) وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (7) [لقمان : 6 ، 7]

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (QS. Luqman: 6)

Nyanyian dan musik adalah perkara yang akan memalingkan hati dari kebaikan. Layak bila dianggap oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagai suara yang terlaknat. Karena, musik akan menjauhkan seseorang dari agama dan kebaikan.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

صَوْتَانِ مَلْعُوْنَانِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ : مزمار عند نعمة و رنة عند مصيبة

“Dua suara yang terlaknat di dunia dan akhirat: seruling di kala senang dan suara sedih (ratapan) di kala ada musibah”. [HR Al-Bazzar dalam Al-Musnad sebagaimana dalam Kasyful Astaar (1/377/795). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 3801)]

Al-Imam Ibnul Hajj Al-Faasiyrahimahullah– berkata seusai membawakan hadits ini dan lainnya, “Berdasarkan atsar-atsar ini dan lainnya, para ulama kita menyatakan pengharaman nyanyian (yang bermusik)”. [Lihat Al-Madkhol (3/210)]

Kenapa musik diharamkan di dalam agama kita? Karena, di dalamnya terdapat banyak mudhorot (bahaya) dan keburukan sebagaimana halnya khomer dan judi merupakan dua penghancur generasi muslim.

  • Khomer & Judi pun Mereka “Halalkan”

Khomer dengan berbagai macam jenisnya (termasuk, semua bentuk narkoba) adalah penghancur dunia dan akhirat bangsa dan agama generasi kita. Demikian pula judi, ia hanya melahirkan kemalasan dan penyesalan serta kerugian di dunia dan akhirat.

Sebagian orang ada yang berusaha menghalalkan khomer dan musik dengan menamainya dengan nama lain. Khomer mereka sebut –misalnya- dengan “minuman pria jantan”, “Minuman Penyegar”, “Minuman Para Bintang”. Musik mereka namai dengan “Qasidah”, “Lagu Padang Pasir”, “Nada dan Dakwah”, “Lagu Islami”, “Nasyid”, “Lomba Menabuh Beduk” dan lainnya. Tak heran bila takbiran pun dikotori dengan irama disco remix!! Na’udzu billah minasy syaithoni wa ahlih!!!

Inilah yang pernah disinyalir oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sebuah sabdanya,

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمْ الْأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمْ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

“Sungguh akan ada beberapa orang dari kalangan kaumku akan meminum khomer; mereka menamainya dengan nama lain. Dimainkan di atas kepala-kepala mereka alat-alat musik. Kelak mereka akan dilongsorkan ke dalam tanah dan diubah beberapa orang diantara mereka menjadi kera dan babi”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 3688) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 4020). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4292)]

Hadits ini menjelaskan bahwa kebiasaan minum khomer adalah kebiasaan buruk yang dilakukan oleh para pemain musik dan para penggemarnya. Allah mengancam mereka akan diubah bentuknya sebagai balasan atas tipu muslihat mereka, karena mereka telah melakukan tipu muslihat dalam menghalalkan sesuatu yang haram.

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa hadits yang menjelaskan tentang haramnya musik. Semua ini menyadarkan kita bahwa ternyata keharaman musik tidak hanya didasari oleh sebuah hadits saja!! Bahkan keharamannya dilandasi oleh banyak hadits dan atsar.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata, “Ketahuilah –wahai saudaraku yang muslim- bahwa hadits-hadits yang lalu, jelas penunjukkannya tentang pengharaman alat-alat musik dengan segala macam dan jenisnya”. [Lihat Ar-Rodd bil Wahyain (hal. 92)]

Para pembaca yang budiman, inilah sejumlah dalil yang menjelaskan haramnya musik. Sengaja kami bawakan agar anda juga tahu bahwa ternyata nyanyian musik adalah diharamkan oleh Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam syariat Islam!!!!

Musik inilah yang menjadi salah satu sebab turunnya musibah di negeri kita. Para pemain musik amat dimuliakan dan dihargai di negeri ini. Padahal semestinya mereka dihinakan. Merekalah yang menyebarkan banyak kerusakan di tengah masyarakat Indonesia. Dengan berbagai macam penampilan dan model hidup mereka yang dijadikan contoh oleh generasi muda, tersebarlah gaya hidup yang serba bebas di kalangan anak muda layaknya artis yang mereka panuti dan ikuti. Mereka pun bebas berpakaian ala buka-bukaan, berselingkuh, meminum khomer, bertato, suka kawin-cerai tanpa alasan yang dibenarkan agama, dan masih banyak lagi kemungkaran yang dilakukan oleh remaja dan masyarakat kita.

Sebuah pertanyaan, “Dari mana mereka mengambil dan mengadopsi kebiasaan buruk dan maksiat-maksiat itu?!!”

Jawabannya, dari para selebriti dan artis yang mereka jadikan sebagai panutan. Lebih parah lagi, jika bintang dan artis yang mereka idolakan adalah kaum kafir!!

Belakangan ini ada sebuah gejala tak beres di kalangan remaja kita yang amat mengidolakan para artis dan aktor atau penyanyi dari Korea. Mereka lagi demam bintang Korea!!! Padahal mereka (para selebriti) itu nyata-nyata kafir!!!!

  • Gerakan Pamer Aurat

Dosa pamer aurat juga merupakan dosa yang banyak dilakoni dan dilariskan oleh kaum hawa (wanita). Mereka melepaskan jilbab kemuliaan dari jasad mereka, lalu bersolek ala jahiliah. Pakaian yang semestinya menutupi semua tubuh mereka, kini mereka ganti dan tinggalkan dengan beralih kepada pakaian-pakaian senonoh yang tidak layak dipakai, kecuali wanita kafir!!

Semestinya pakaian wanita muslimah menutup semua tubuhnya, tidak ketat, tidak tipis, tidak membentuk lekuk tubuh, tidak memancing perhatian kaum lelaki, dan tidak menyerupai pakaian wanita kafir. [Lihat Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah (hal. 39-103) karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy, cet. Maktabah Al-Islamiyyah, Yordania, 1413 H][1]

Allah -Ta’ala- berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab: 59)

Ketika para wanita kita diajak berjilbab yang syar’iy, maka mereka enggan dan menolak dengan dalih “kurang bebas”, “tidak modern, kuno!!”, “panas dan pengab”, “tidak sesuai gaya anak muda”, dan sederet alasan lemah. Lebih ironis lagi, wanita-wanita ini muak dan sinis saat melihat saudari-saudari mereka bercadar dan mengenakan jilbab lebar dan tebal.

Sebenarnya yang mempelopori gerakan pamer aurat di Bumi Nusantara ini adalah para artis bejat, baik dari kalangan wanita muslimah, maupun wanita kafir!!

Inilah yang merusak anak bangsa sehingga jauh dari agama dan ketaatan kepada Allah. Televisi juga ikut memberikan contoh buruk dengan menampilkan para artis yang serba bukaan dan telanjang. Mereka berpakaian seksi sehingga hakikatnya ia tidaklah berpakaian menurut agama. Wallahul musta’an!!

  • Curang Menimbang dan Menakar

Para pembaca yang budiman, dosa lain yang banyak digandrungi oleh kaum manusia, khususnya para pedagang, yaitu dosa curang dalam menimbang dan menakar. Mereka tidak amanah dalam dua hal itu saat berdagang. Terkadang mereka mengurangi volume (isi) liter, mengubah timbangan dari kenormalannya, memalsukan barang, mencampur barang jualan yang akan mereka takar atau mereka timbang. Saking semaraknya system niaga dan perdagangan ala curang ini sampai kita susah menjumpai seorang penjual, kecuali ia curang dan zhalim dalam menimbang dan menakar. Jika ia menakar untuk dirinya, maka ia berusaha meminta dilebihkan. Namun jika ia menakar atau menimbang untuk orang lain, maka ia mengurangi isi takaran atau timbangannya. Mereka inilah yang dikecam dalam firman Allah -Ta’ala-,

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) [المطففين/1-3]

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. (QS. Al-Muthoffifiin : 1-3)

Mereka menyangka bahwa Allah akan membiarkan perdagangan curang itu terus berlangsung. Tidak!! Sama sekali tidak!!! Pasti Allah akan menurunkan siksaan kepada para pedagang curang lagi pengkhianat!!!! Cepat atau lambat, sadar atau tidak, mereka pasti akan mendapatkan musibah di dunia dan di akhirat.

Jika manusia melakukan kecurangan ini, maka manusia akan tertimpa paceklik, kesusahan hidup dan ekonomi serta dikuasai oleh penguasa yang zhalim kepada mereka. Bahkan boleh jadi mereka akan dihukum seperti kaumnya Syu’aib –Alaihis salam-sebagaimana dalam firman-Nya,

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِيْنَ [الأعراف : 91]

 “Kemudian mereka (kaum Nabi Syu’aib) ditimpa gempa. Lantaran itu, jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka”. (QS. Al-A’raaf : 91)

Dosa kemusyrikan dan kecurangan telah membinasakan mereka. Peristiwa ini mengingatkan kita tentang peristiwa gempa dan ledakan gunung api di negeri kita ini disebabkan oleh banyaknya dosa kemusyrikan dan kecurangan dalam menimbang atau menakar!!

  • Enggan Bayar Zakat Harta

Dosa lain yang sering menjadi sebab turunnya adzab (siksaan), orang-orang kaya bergelimang maksiat dan sibuk dengan dunianya sampai melupakan kewajiban agamanya, seperti menunaikan zakat harta. Sebagian diantara mereka digegoroti oleh penyakit kikir sehingga ia enggan mengeluarkan zakat yang akan membersihkan harta bendanya!!

Banyak diantara kita yang diberi kehidupan yang lapang, namun ia lupa daratan. Dia lupa bahwa pada hartanya ada hak fakir-miskin dan lainnya yang harus ia bersihkan melalui zakat yang ia serahkan kepada pemerintah, lalu disalurkan oleh mereka kepada yang berhak (mustahiq).

Allah berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا  [التوبة : 103]

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka”. (QS. At-Taubah : 103)

Jika hak mereka kita tahan, maka Allah akan mengurangi curah hujan sehingga terjadilah kekeringan dan gagal panen (puso) sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam hadits terdahulu!!!

  • Membatalkan Perjanjian dengan Musuh

Islam telah mengajarkan sifat amanah, walaupun di hadapan musuh-musuh Allah. Karenanya, tak boleh seorang muslim mengingkari dan membatalkan perjanjian dengan orang-orang kafir, tanpa haq. Sahabat Buraidah bin Khushoib Al-Aslamiy -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْصَاهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ بِتَقْوَى اللَّهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا فَقَالَ اغْزُوا بِسْمِ اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تُمَثِّلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bila mengutus seorang pemimpin pasukan, maka beliau mewasiatinya pada dirinya secara khusus tentang ketaqwaan kepada Allah, dan demikian pula orang-orang yang bersamanya (yakni, pasukannya) dari kalangan kaum muslimin, beliau mewasiati mereka dengan kebaikan seraya bersabda, “Berperanglah dengan meminta pertolongan kepada Allah. Di jalan Allah, perangilah orang kafir. Berperanglah, tapi jangan berkhianat dalam harta ghanimah, jangan mengkhianati (perjanjian dengan musuh), jangan mencincang dan jangan membunuh anak kecil”. [HR. At-Tirmidziy () dan Ibnu Majah (). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah(no. 3929)]

Diantara bentuk pengkhianatan perjanjian dengan orang kafir, menculik atau membunuh para para turis dan lainnya dari kalangan orang-orang kafir yang masuk negeri kita dengan jaminan keamanan dari pemerintah.

Ketahuilah bahwa perbuatan seperti ini akan menjadi sebab turunnya siksaan dari sisi Allah -Azza wa Jalla-. Lantaran itu, jangan kita meremehkannya.

  • Meninggalkan Kitabullah

Dosa yang satu ini tak kalah berbahayanya dibandingkan dosa-dosa sebelumnya. Dosa meninggalkan Al-Qur’an sebagai hukum dan petunjuk hidup merupakan salah satu sebab terbesar turunnya musibah bagi kaum muslimin!!!

Meninggalkan Kitabullah merupakan dosa besar, bahkan dapat mengeluarkan dari Islam jika ia meninggalkannya karena benci kepadanya atau menganggap selainnya lebih baik dan utama.

Kebiasaan seperti ini banyak terjadi di negeri-negeri kaum muslimin; mereka tak berhukum dengan Al-Qur’an dan tidak menjadikannya sebagai pegangan hidup. Mereka lebih senang memilih teori-teori kaum kafir dan manusia fasik!!

Sebagian mereka berhukum dengannya dalam sebagian perkara yang mencocoki akal dan perasaannnya. Inilah yang dikecam oleh Allah dalam firman-Nya saat menghikayatkan pengaduan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا  [الفرقان : 30]

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al-Furqaan : 30)

Banyak diantara kaum muslimin yang meninggalkan Al-Qur’an, lalu beralih kepada hukum dan perundang-undangan buatan manusia, bahkan buatan kaum orang kafir, seperti hukum Belanda, Perancis dan lainnya. Padahal Al-Qur’an telah mencukupi mereka dalam segala perkara sehingga tak butuh kepada selainnya.

Adapun selain Al-Qur’an, maka ia hanyalah hukum atau undang-undang yang diracik dari pikiran dan hawa nafsu kaum kafir yang jauh dari petunjuk Islam sehingga hukum-hukum racikan itu sering menzhalimi dan tidak adil serta senantiasa butuh kepada penyempurnaan, karena banyak kekurangannya sebagaimana kondisi pembuatnya. Perundangan buatan manusia hanyalah menimbulkan perselisihan diantara manusia dan ketidakpuasan tanpa ada solusi yang jelas!!

Menerapkan hukum dan syariat Islam merupakan pintu datangnya berkah dan kebaikan. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الْأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

“Hukuman hadd yang diterapkan di bumi adalah lebih baik bagi penduduk bumi dibandingkan mereka diberi hujan selama 40 hari”. [HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (2538). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 213)]

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiyrahimahullah– berkata saat menjelaskan sebab kebaikan penerapan hukum hadd, Sebabnya, karena hukuman hadd (hukuman yang ditetapkan batasannya dalam nash, seperti hukum hadd zina adalah rajam bagi yang telah nikah, dan cambuk bagi yang belum nikah, pen) jika ditegakkan, maka manusia,  mayoritas, atau kebanyakan mereka akan berhenti melakukan perkara-perkara yang haram. Jika maksiat tidak lagi dikerjakan, maka itu merupakan sebab datangnya berkah dari langit, dan bumi. Oleh karena ini, ketika Isa –’alaihis salam- turun di akhir zaman, maka ia akan berhukum dengan syari’at Islam yang suci ini pada saat itu, berupa pembunuhan babi-babi, pematahan salib-salib, dan pembatalan jizyah. Maka dia tidak akan menerima, kecuali Islam, dan pedang (perang). Bila Allah membinasakan Dajjal, pengikutnya, Ya’juj, dan Ma’juj di zamannya, maka diperintahkan kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu”, lalu sekelompok manusiapun memakan delima, dan berteduh dengan batangnya, serta susu seeekor onta mencukupi sekelompok manusia. Hal itu tak terjadi, kecuali karena berkah diterapkannya syari’at Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Semakin ditegakkan keadilan, maka berkah, dan kebaikan semakin banyak”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/572)]

Para pembaca yang budiman, Semua ini menjelaskan bahwa musibah yang timbul disebabkan oleh dosa dan maksiat manusia. Musibah tidaklah muncul begitu saja secara spontan, tanpa ada sebab yang melatarinya.

Musibah yang turun bagi kaum beriman hakikatnya adalah teguran dan peringatan bagi adanya kekurangan pada diri mereka berupa dosa-dosa dan maksiat. Di balik musibah itu, terdapat secercah rahmat (kasih sayang) dari Allah. Sebab, bila Allah tak lagi sayang, maka Allah membiarkan kita dalam dosa-dosa dan maksiat sampai akhirnya hukuman dan siksaan ditangguhkan di Padang Mahsyar, pada hari kiamat. Di hari itulah Allah marah dengan sejadi-jadinya; Dia marah dengan kemarahan yang seperti itu sebelumnya!!!

Siksaan yang akan diterima orang-orang berdosa pada hari itu adalah siksaan yang maha hebat, tak ada yang mampu lepas darinya bila keputusan telah jatuh!!!

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harroniy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

“Dia (Allah) –Subhanahu- tidak menyiksa seseorang, kecuali karena dosanya, berdasarkan sifat hikmah dan keadilan-Nya. Di dalam siksaan-Nya terdapat berbagai macam hikmah dan rahmat (kasih sayang). Hal ini tampak jelas pada musibah-musibah yang Allah timpakan di dunia kepada kaum beriman. Musibah-musibah yang merupakan balasan bagi perbuatan-perbuatan buruk mereka. Sesungguhnya di dalam semua itu terdapat hikmah, rahmat dan keadilan-Nya yang amat jelas bagi orang yang mau merenunginya. Allah tidak menghukum seseorang, kecuali karena dosanya”. [Lihat Jami’ Ar-Rosa’il (1/134) karya Ibnu Taimiyyah, dengan tahqiq Muhammad Rosyad Salim, cet. Dar Al-Atho’, Riyadh, 1422 H]

Inilah bahasa musibah yang harus direnungi dan dipahami oleh setiap mukmin bahwa tak ada musibah dan siksaan yang menimpa diri kita, kecuali karena gara-gara dosa kita dan agar kita segera berbenah diri dengan meninggalkan segala dosa-dosa dan maksiat yang selama ini kita lakukan.

Janganlah musibah demi musibah menerpa kita, lalu hanya berlalu begitu saja, tanpa ada perbaikan dan renungan untuk menuju ke arah yang lebih baik berupa ketaatan kepada Allah. Ambillah semua itu sebagai pelajaran dan bahan koreksi!!

Terakhir, kami ingatkan bahwa terkadang seseorang bergelimang dosa, namun ia tak mendapatkan hukuman dan musibah. Ketahuilah bahwa itu adalah tanda buruk yang akan menimpa seseorang, sebab Allah akan menangguhkan hukuman pedih bagi di akhirat yang jauh lebih pedih dibandingkan segala hukuman dunia!!!

Dia sengaja dibiarkan dan dilulu oleh Allah agar ia merasakan siksaan yang berat.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاج

“Bila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba sesuatu yang ia cintai berupa dunia atas kemaksiatan-kemaksiatannya, maka semua itu hanyalah istidroj (tipuan dan pembiaran)”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/145) dan Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (7/115). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 561)]

Al-Imam Al-Husain bin Abdillah Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata,

“Makna istidroj (pembiaran) Allah adalah membiarkan mereka sedikit demi sedikit menuju kepada sesuatu yang akan membinasakan mereka dan melipatgandakan hukuman mereka dari sisi yang mereka tidak menyadari tentang sesuatu yang diinginkan (direncanakan) baginya. Demikian itu dengan cara Allah terus memberikan nikmat kepada mereka, sementara itu mereka asyik dalam kesesatannya. Semakin Allah berikan nikmat yang baru, maka semakin bertambah pula kesombongannya, dan memperbaharui maksiatnya!! Akhirnya, mereka terus bergelimang dalam berbagai macam maksiat karena sebab berlimpahnya nikmat-nikmat (datang kepada mereka), sedang mereka menyangka bahwa berlimpahnya nikmat-nikmat merupakan keistimewaan dan kedekatan dari Allah. Padahal semua itu hanyalah kehinaan (baginya) dari Allah dan penjauhan”. [Lihat Mirqoh Al-Mafaatih Syarh Misykah Al-Mashobih (15/101) karya Ali bin Sulthon Al-Qoriy]

Jadi, seorang hamba janganlah tertipu dengan kemewahan dunia yang Allah anugerahkan kepada kita, lalu kita pun lali dan menggunakannya dalam kemaksiatan dan dosa. Kita menggunakannya dalam zina dan pacaran, musik, menghalangi Islam dan kebenaran, minum khomer, berjudi, berbuat zhalim, korupsi, membunuh, bersolek ala jahiliah (bagi wanita) dan berbagai macam maksiat.

Ketahuilah bahwa kemewahan dunia seperti ini akan menjadi musibah bagi pemiliknya, baik di dunia, dan kelak di akhirat, insya Allah!!!

Semoga tulisan yang kami torehkan disini dapat menggugah perasaan kita yang selama ini beku akibat maksiat dan dosa. Karena, terus terang kami melihat banyak orang diantara kita selalu lalai mengambil ibrah di balik musibah tersebut sehingga ia pun terus bergelimang dalam maksiatnya dengan berbagai nikmat dan kemewahan dunia yang ia dapatkan. Dia lupa bahwa boleh jadi suatu saat ia akan mendapatkan giliran musibah yang akan mendera!! Kalau tidak di dunia, maka tunggulah siksa yang pedih di akhirat!!! Wal’iyadzullahi min dzalik wa nas’alullahal afiyah was salamah…



[1] Adapun jilbab gaul atau jilbab moderen yang dililitkan pada kepala, lalu buah dada kelihatan terbalut dengan baju ketat, bahkan kadang tipis, sambil dipasangkan celana ketat dan baju ketat, maka ketahuilah bahwa ini bukan jilbab syar’iy yang diperintahkan dalam ayat di atas. Bahkan ia tergolong bersolek ala jahiliah. Jilbab yang syar’iy adalah jilbab yang menjulur dari atas kepala sampai menyentuh tanah, lalu di bawahnya terdapat baju kurung yang panjang sampai ke tanah. Inilah jilbab yang benar!!!

Tags:, , , , , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Ikhlas 40 Hari
  2. Tertutupnya Pintu Kenabian
  3. Makna Kalimat Tauhid Laa Ilaha illallah
  4. Produk Haram
  5. SURAT TERBUKA UNTUK YAHUDI DAN JUGA KAUM MUSLIMIN
  6. Barang-barang Penolak Bala
  7. Fatwa Syaikh Fauzan Tentang Pemilu
  8. Dosa Pengundang Laknat
  9. Penyakit Menular dan Tathoyyur Apa Betul Ada ?
  10. Kiamat 2012 ?

One Response to Merenungi Bahasa Musibah

  1. Assalamu ‘alaikum
    Ana Mohon ijin copy artikelnya, syukron.

    Wa’alaykumussalam warahmatullah. Silahkan dicopy dan disebarluaskan dengan mencantumkan sumbernya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *