Memberangus Paham Nabi Palsu

Dilihat 515 kali | Kirim Ke Teman

Dekade terakhir ini, sebagian orang dikagetkan oleh munculnya seorang yang mengaku nabi. Namun sebenarnya tak perlu kaget dengan fenomena seperti ini, karena telah muncul nabi palsu lainnya sebelum ini, seperti Musailamah bin Tsumamah Al-Kadzdzab, Al-Aswad Al-Ansiy, Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadiy, Sujah bintul Harits At-Taghlabiyyah, Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqofiy, Al-Harits bin Sa’id, Bayan bin Sam’an, Al-Mughiroh bin Sa’id Al-Ijliy, Abu Manshur Al-Ijliy, Abul Khoththob Al-Asadiy, Ali Ibnul Fadhl Al-Himyariy. Belangan ini muncul nabi palsu, semisal, Muhammad Ali Mirza (pimpinan sekte sesat & kafir Al-Babiyyah), Husain Ali Al-Mazindaroniy (pimpinan aliran sesat & kafir Al-Baha’iyyah), Ghulam Ahmad bin Mirza Ghulam (Mirza Ghulam Ahmad, pimpinan aliran sesat & kafir Ahmadiyyah), Muhammad Musadek (Pimpinan Al-Qiyadah), dan lainnya.

Jadi, tak perlu terlalu kaget dengan munculnya Pimpinan Al-Qiyadah mengaku sebagai nabi, tapi yang perlu dipikirkan oleh seseorang dan dipusingkan adalah ilmu, dan aqidah yang akan membentengi dirinya dari paham sesat seperti ini. Seorang harus tahu dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan tertutupnya pintu kenabian; dalil-dalil yang memberangus paham nabi baru.

  • Dalil dari Al-Kitab Al-Aziz

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS.Al-Ahzab : 40)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/650), "Ayat ini adalah nash bahwa tak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jika tak ada nabi setelah beliau, maka tentunya tak ada rasul setelahnya, karena jenjang kerasulan lebih khusus dibandingkan dengan jenjang kenabian, karena setiap rasul adalah nabi, dan bukan sebaliknya. Inilah yang tertera dalam hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang berasal dari sekelompok sahabat -radhiyallahu ‘anhum-".

  • Dalil-dalil dari As-Sunnah An-Nabawiyyah

Sa’d bin Abi Waqqosh -radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah keluar menuju Tabuk, dan mengangkat Ali sebagai penggantinya. Ali pun berkata, "Apakah engkau meninggalkanku di tengah para anak kecil, dan wanita?". Beliau bersabda,

"Tidakkah engkau ridho berada di sisiku seperti kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa". [HR. Al-Bukhoriy (4154), Muslim (2404), At-Tirmidziy (3730), Ibnu Majah (121), Ahmad (1532), dan Ibnu Hibban (6643)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

"Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, maka ia digantikan oleh nabi yang ada setelahnya. Sesungguhnya tak ada lagi nabi setelahku. Akan ada kholifah-kholifah, dan banyak jumlahnya". [ HR. Al-Bukhoriy (3268), Muslim (1842), Ahmad (7947), dan Al-Baihaqiy (16325)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

"Aku adalah Muhammad; aku adalah Ahmad; aku adalah Penghapus yang denganku kekafiran dihapuskan; Aku adalah Pengumpul yang manusia dikumpulkan di belakangku; Aku adalah Penggganti; Pengganti yang tak ada lagi nabi setelahnya". [ HR. Al-Bukhoriy (3339 & 4614), Muslim (2354), At-Tirmidziy (2840), dan Ahmad (16780) ]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

"Tak akan tegak hari kiamat sampai ada beberapa kabilah diantara ummatku akan bergabung dengan orang-orang musyrikin; sampai ada beberapa kabilah diantara ummatku akan menyembah berhala. Sesungguhnya akan ada di antara ummatku 30 tukang dusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah nabi. Akulah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahku". [HR. Abu Dawud (4253), At-Tirmidziy (2219), Ahmad (22448), Ibnu Hibban (7238), Al-Hakim (8390), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8397), dan Musnad Asy-Syamiyyin (2690),Abu Nu’aim (2/289), dan Asy-Syaibaniy dalam Al-Ahad wa Al-Matsaniy (456). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (5406)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

"Di tengah ummatku ada tukang dusta, dan dajjal (jumlahnya) 27 orang, diantara mereka ada empat wanita. Sesungguhnya aku adalah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahku". [HR. Ath-Thohawiy dalam Musykil Al-Atsar (4/104), Ahmad (5/396/no. 23406), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (3026), dan Al-Ausath (5582). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1999)]

Muhaddits Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata, "Dalam hadits ini terdapat bantahan yang gamblang atas orang-orang Ahmadiyyah Al-Qodiyaniyyah, dan Ibnu Arobi sebelumnya yang berpendapat tentang adanya kenabian setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan bahwa nabi gadungan mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodiyaniy adalah tukang dusta, dan dajjal di antara dajjal tersebut".[Lihat Ash-Shohihah (4/655)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

"Sesungguhnya akan keluar (muncul) dari ummatku beberapa pendusta dajjal yang menghampiri 30 orang. Sesungguhnya aku adalah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahku. Senantiasa akan ada suatu kelompok dari ummatku tertolong di atas kebenaran sampai datang urusan Allah". [HR. Ibnu Hibban (6714), Al-Baihaqiy (18398), Ath-Thobroniy dalam Musnad Asy-Syamiyyin (2690). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Ihsan (15/109)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

" Aku peringatkan kalian tentang (bahaya) Dajjal, karena tak ada seorang nabi pun sebelumku, kecuali ia telah memperingatkan ummatnya tentang (bahaya) Dajjal, sedang ia akan ada diantara kalian, wahai ummatku. Sesungguhnya tak ada lagi nabi setelahku, dan tak ada lagi ummat setelah kalian". [HR. Ibnu Hibban (6788), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (959). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Ihsan (15/195)]

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

"Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus. Maka tak ada lagi rasul, dan nabi setelahku". [HR. At-Tirmidziy (2272), Ahmad (13851), Al-Hakim (8178), Abu Ya’laa (3947), dan Ibnu Abi Syaibah (30457). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (1627), dan Al-Irwa’ (8/128)]

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

"Kenabian telah hilang, dan tinggallah berita-berita gembira (mimpi baik)". [HR. Ibnu Majah (3896), Ahmad (6/381/27185), Ad-Darimiy (2138), Ibnu Hibban (6047), dan Al-Humaidiy dalam Musnad-nya (348). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir (3433)]

Hudzaifah bin Asid -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

"Kenabian telah hilang, maka tak ada lagi nabi setelahku, kecuali berita-berita gembira". Beliau ditanya, "Apa berita-berita gembira itu?" Nabi menjawab, "Mimpi-mimpi baik yang ia lihat atau diperlihatkan kepadanya". [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (3051). Hadits ini memiliki syahid dari sahabat Abu Hurairah dalam Shohih Al-Bukhoriy (6589), karenanya Syaikh Al-Albaniy men-shohih-kan hadits ini dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir (3432)]

Inilah beberapa petikan hadits saja diantara yang banyak, karena hadits ini mutawatir dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Katsir sebelumnya.

Ahli Hadits Negeri Syam, Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- membawakan 13 sahabat yang meriwayatkan hadits ini "bahwa tak ada lagi nabi setelah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-", beserta riwayat mereka masing-masing; sebelumnya Syaikh Al-Albaniy berkata, "Hadits "tak ada lagi nabi setelahku" adalah hadits shohih mutawatir; datang dari hadits sekelompok sahabat, diantaranya… (lalu beliau sebutkan)".[Lihat Al-Irwa’ (8/127-130)]

Jadi, kemasyhuran perkara tertutupnya pintu kenabian adalah amat jelas, karena banyak diantara sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits mengenai masalah ini sebagaimana anda telah lihat di atas. Semua ini menggambarkan kepada kita bahwa tertutupnya kenabian setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah aqidah yang bercokol kuat dalam sanubari para sahabat mereka, tanpa ada keraguan sedikitpun!!

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 43 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Artikel di Kategori ini :

  1. Shadaqah Penyejuk Iman di Tengah Panasnya Problema
  2. Amrozi cs, Mati Syahidkah?
  3. Cinta Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam
  4. Pintu-pintu Kebahagiaan
  5. Nabi Khidir antara Hidup dan Mati
  6. Ilmu Batin
  7. Menyingkap Kebatilan Teori Darwin
  8. Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi
  9. Penjelasan Hadits tentang Niat
  10. Mitos Tanah Karbala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *