Manisnya Keutamaan Tauhid

Dilihat 222 kali | Kirim Ke Teman

Sudah menjadi fitrah manusia, ia menginginkan dirinya berbahagia di dunia dan akhirat. Walapun setiap orang diantara mereka menempuh cara yang berbeda-beda untuk meraih kebahagian tersebut; ada yang benar jalannya, dan ada yang salah. Sampai seorang pencuri pun, sebenarnya ia juga mau berbahagia. Tapi cara dan jalannya salah !! Seorang yang musyrik pun mau bahagia, tapi caranya salah !!

Seorang yang mau berbahagia di dunia dan akhirat, ia harus menempuh jalan yang telah digariskan Allah dan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Al-Qur’an dan Sunnah Shohihah. Diantara jalan tersebut, seorang beriman kepada Allah dengan cara men-tauhid-kan (mengesakan Allah) dalam beribadah kepadanya. [Lihat Al-Wasa’il Al-Mufidah li Al-Hayah As-Sa’idah (hal. 10), cet. Wizaroh Asy-Syu’uun Al-Islamiyyah]

Seorang yang mengesakan Allah, ia tak akan berdo’a dan memohon sesuatu kepada siapapun –walaupun makhluk itu adalah seorang nabi atau orang sholeh-. Dia hanya  memohon dan berdo’a kepada Allah -Azza wa Jalla-, sebab ia tahu bahwa do’a termasuk ibadah yang tak boleh dipersembahkan, kecuali kepada Sang Maha Pencipta, Allah -Azza wa Jalla-. Bukan seperti sebagian orang yang suka meminta hajat dan berdoa atau memohon kepada Nyi Roro Kidul, Kiyai Slamet (Solo), Wali Songo, Kanjeng Sepuh (Sedayu), Syaikh Yusuf (Gowa, Sulsel), dan lainnya,  sebab semua ini adalah bentuk ke-syirik-an (menyekutukan) Allah bersama makhluk dalam ibadah. Inilah SYIRIK !!

Seorang yang bertauhid tak mau menodai tauhidnya dengan kesyirikan. Karenanya, seorang yang bertauhid akan mendapatkan jaminan keamanan dari siksa neraka, serta di dunia dan akhirat ia akan mendapatkan petunjuk dari Allah. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 25), karya Syaikh Sholih Alusy Syaikh, cet. Dar At-Tauhid]

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik). Mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-An’aam : 82).

Syaikh Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata, “Diantara fadhilah tauhid, tauhid adalah sebab terbesar dalam menghilangkan kesusahan dunia dan akhirat, dan mencegah siksaannya…Diantara fadhilahnya, akan tercapai petunjuk yang sempurna dan keamanan yang sempurna di dunia dan akhirat”. [Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal. 18-19), cet. Wizaroh Asy-Syu’uun Al-Islamiyyah, 1421 H]

Keamanan dan petunjuk ini tergapai karena kesucian tauhid seorang muslim. Lantaran itu, ia berhak mendapatkan janji surga. Seorang yang bertauhid telah menempatkan ibadahnya pada Yang berhak, yakni Allah -Azza wa Jalla-. Tak heran jika Allah sendiri yang memasukkan orang-orang yang bertauhid ke dalam surga melalui lisan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌ, أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada ilah (sembahan) yang haq, melainkan Allah, tanpa ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah, rasul-Nya, kalimat-Nya yang Allah sampaikan (kepada Jibril, lalu Jibril meniupkan ruh) kepada Maryam, dan ruh diantara (ruh-ruh ciptaa)-Nya, dan bahwa surga adalah benar, dan neraka adalah benar (ada), maka ia (orang yang bersaksi seperti ini) akan dimasukkan oleh Allah dalam surga sesuai amalannya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/313/no. 22727), Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Anbiyaa’ (3435), Muslim dalam Kitab Al-Iman (28)]

Al-Allamah Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alusy Syaikh -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan kondisi orang yang mempersaksikan semua perkara yang terdapat dalam hadits ini, “Barangsiapa yang demikian kondisinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, walapun ia adalah seorang yang teledor, dan memiliki dosa. Jadi, kebaikan yang besar ini (yakni, tauhid) telah mengalahkan seluruh kejelekan. Tadabburilah  hadits ini, karena ia agung. Wallahu a’lam”. [Lihat Qurroh Uyun Al-Muwahhidin fi Tahqiq Da’wah Al-Anbiya’ wa Al-Mursalin (hal. 18)]

Inilah keutamaan dan fadhilah tauhid. Sungguh amat besar dan istimewa balasannya di sisi Allah -Ta’ala- . Bahkan orang yang merelisasikan tauhid secara sempurna sehingga tauhid memberikan pengaruh pada seluruh anggota badannya; ia tidak mau bermaksiat kepada Allah, sebab ia tahu bahwa maksiat akan merusak kesempurnaan tauhidnya.  Inilah yang diberikan janji oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dalam hadits ini,

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلىَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ, يَبْتَغِيْ بِذلِكَ وَجْهَ اللهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang-orang yang menyatakan Laa ilaaha illallah (tiada sembahan yang haq, melainkan Allah), sedang ia mencari wajah Allah dengan-Nya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/43/no.16527), Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah (425), dan Muslim Kitab Al-Masajid (33)]

Jika seorang yang men-tauhid-kan (mengesakan) Allah dalam beribadah kepadanya, lalu ia melakukan dosa selain syirik, dan kekafiran, maka ia tak akan dikekalkan dalam neraka. Bahkan ia akan dikeluarkan darinya sebagaimana yang dihendaki Allah, lalu ia dimasukkan ke dalam surga untuk merasakan nikmat surga sebagai rahmat dan balasan atas kebaikannya.

Karenanya, Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata saat memetik faedah dari hadits di atas, “Di dalam hadits ini terdapat faedah, bahwa tak akan dikekalkan di dalam neraka orang yang meninggal di atas tauhid”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim (5/161)]

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ اللهَ سَيُخْلِصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى رُءُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ سِجِلاَّ, كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُوْلُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا, أَظَلَمَكَ كَتَبَتِيْ الْحَافِظُوْنَ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ يا رب, فَيَقُوْلُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ يَا رَبِّ, فَيَقُوْلُ: بَلَى, إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً, فَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ, فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيْهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, فَيَقُوْلُ: اْحْضُرْ وَزْنَكَ, فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ؟ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ, قَالَ: فَتُوْضَعُ السِّجِلاَّتُ فِيْ كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِيْ كِفَّةٍ, فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ, فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ

“Sesunggunya Allah akan menyelamatkan seorang  lelaki dari umatku di hadapan para makhluk pada hari kiamat. Maka dihamparkan di depannya 99 gulungan (dosa), setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman (kepadanya), “Apakah kamu mengingkari sesuatu dari ini (yaitu catatan dosa yang terhampar di depannya), apakah para penulis-Ku yang mengawasi kamu menzholimimu?” Maka ia menjawab, “tidak wahai Rabbku”, maka Allah berfirman, “Bahkan engkau mempunyai satu kebaikan di sisi Kami, sesungguhnya tidak ada kezholiman pada hari ini atasmu”, maka dikeluarkan satu bithoqoh (kartu) tertulis di dalamnya:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“Maka Allah berfirman, “Saksikanlah timbanganmu”, maka ia berkata, “wahai Rabbku apakah (nilainya) bithoqoh ini dibanding dengan gulungan-gulungan tersebut”. Maka Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizholimi”. Maka diletakkan gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan bithoqoh (diletakkan) pada anak timbangan (lainnya). Maka terangkatlah gulungan-gulungan itu dan bithoqoh tersebut  lebih berat. Maka tak sesuatu apapun yang lebih berat dibandingkan nama Allah”.[HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnad (6994), At-Tirmidziy dalam Al-Jami’ (2639), Ibnu Majah Al-Qozwiniy dalam As-Sunan (4300), dan lainnya. Di-shahih-kan Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shahihah (no. 135)]

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ ! إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلاَ أُبَالِيْ, يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءَ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ, يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقَيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Allah -Ta’ala- berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kapanpun engkau berdoa dan mengharap kepada-Ku,  maka Aku akan mengampuni segala yang ada pada kalian, dan Aku tak peduli. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu mencapai langit yang tertinggi, lalu engkau meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, andaikan engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh langit, lalu engkau menjumpai-Ku, sedang engkau tidak mempersekutukan sesuatu apapun bersama-Ku, niscaya Aku akan datangkan kepadamu ampunan sepenuh itu juga”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3540). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (126)].

Fadhilah Asy-Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alusy Syaikh -hafizhohullah- berkata dalam At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 28), “Keutamaan besar ini bagi kalimat tauhid, hanyalah ada bagi orang yang kalimat itu kuat di hatinya. Demikianlah bahwa kalimat itu kuat dalam hati sebagian hamba, karena ikhlash, dan membenarkannya. Dia tak ragu terhadap sesuatu yang ditunjukkan oleh kalimat tersebut, ia meyakini sesuatu yang terdapat padanya, dan mencintai sesuatu yang ditunjukkannya. Akhirnya, bekas, dan cahayanya semakin kuat dalam hati. Jika demikian, maka kalimat itu akan membakar sesuatu yang dihadapinya berupa dosa-dosa. Adapun orang yang tidak sempurna keikhlasannya dalan kalimat itu, maka gulungan dosa tersebut tidak akan terangkat (melayang)”.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa seorang yang bertauhid andaikan ia melakukan suatu dosa –namun itu tak sewajarnya-, lalu ia ditaqdirkan masuk ke dalam neraka dengan membawa dosa sepenuh langit, maka ia tak akan dikekalkan di dalamnya. Tapi ia akan disiksa oleh Allah dengan siksaan yang pedih sampai masa yang telah ditentukan oleh Allah -Azza wa Jalla-, lalu berikutnya ia akan dihapuskan dosa-dosanya oleh Allah sehingga ia masuk surga yang penuh nikmat dan keindahan yang tiada taranya.

Al-Qodhi Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alusy Syaikh Al-Atsariy -rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits-hadits ini terdapat (keterangan) banyaknya pahala tauhid, luasnya kemuliaan Allah, kemurahan-Nya, dan Rahmat-Nya; tatkala Allah menjanjikan para hamba-Nya bahwa seorang hamba andaikan ia membawa dosa sepenuh bumi, sedang ia sungguh telah mati di atas tauhid, maka Allah akan membalasnya  dengan ampunan yang luas bisa menutupi dosa-dosanya”. [Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamid (hal. 76), cet. Dar Alam Al-Kutub]

Tak heran jika Nabi Nuh -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah mewasiatkan kepada anaknya agar berpegang teguh dengan kalimat tauhid, sebab kalimat ini akan membimbing dirinya agar selalu taat kepada Allah -Ta’ala- , dan menjauhi maksiat. Sebab kalimat tauhid memiliki konsekuensi dan syarat-syarat yang harus dilaksanakan pada anggota badan kita. Jadi, kalimat tauhid (LAA ILAAHA ILLALLAAH), bukan hanya hanya di mulut, tapi konsekuensinya harus berpengaruh pada anggota badan dan gerak-gerik seorang manusia!!

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam–  bersabda menceritakan wasiat Nabi Nuh -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada anaknya,

إِنَّ نَبِيَّ اللهِ نُوْحًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لاِبْنِهِ: إِنِّيْ قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ, آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ وَأَنْهَاكَ عَنِ اثْنَتَيْنِ آمُرُكَ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, فَإِنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَاْلأَرَضِيْنَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِيْ كِفَّةٍ وَوُضِعَتْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فِيْ كِفَّةٍ رَجَحَتْ بِهِنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَاْلأَرَضِيْنَ السَّبْعَ كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً قَصَمَتْهُنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

“Sesungguhnya Nabiyyullah Nuh -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ; tatkala beliau dijemput ajal, beliau berpesan kepada anaknya, “Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu sebuah wasiat: aku memerintahkanmu dengan dua perkara, dan aku melarangmu dari dua perkara. Aku memerintahkanmu dengan LAA ILAAHA ILLALAAH. Karena tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, andaikan diletakkan pada sebuah daun timbangan, dan kalimat LAA ILAAHA ILLALAAH pada daun timbangan yang lain, maka kalimat LAA ILAAHA ILLALAAH akan mengalahkannya. Andaikan  tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi berupa lingkaran yang tertutup, maka kalimat LAA ILAAHA ILLALAAH WA SUBHANALLAAH WA BIHAMDIH akan memecahkannya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6583 &  7101). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (134)]

 

Terakhir, kita memohon kepada Allah agar kita dimatikan di atas Islam yang berasaskan tauhidullah (mengesakan Allah) sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dalam hadits shohih riwayat At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2140),

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”. [Lihat Shohih Al-Jami’ (7987)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, ,

Artikel di Kategori ini :

  1. [Update Download] Daurah Asatidzah Se-Indonesia Timur bersama Ulama Saudi dan Yaman
  2. Bahaya Kebebasan Berpikir
  3. Jadwal Ta’lim Lengkap Kota Makassar dan Sekitarnya
  4. Pendusta Ulung
  5. Hati-hati dengan Dunia
  6. Mendulang Permata dari Lautan Taqwa
  7. Menggugat Emansipasi
  8. Sebuah Impian Konyol
  9. Aneka Berhala & Kesyirikan
  10. Menyingkap Rahasia Kalimat Tauhid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *