Laksana Bulan dan Bintang

Dilihat 2,099 kali | Kirim Ke Teman

Diantara hikmah ilahi, Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan kegelapan sebagai waktu untuk beristirahat bagi makhluk hidup dan untuk mendinginkan suhu udara bagi tubuh makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan. Allah tidak membiarkan malam gelap dan kelam tanpa ada cahaya sedikitpun, sehingga makhluk hidup tidak dapat bergerak dan beraktifitas. Itu merupakan konsekuensi hikmah Allah-Azza Wa Jalla-; Dia menerangi malam dengan sedikit cahaya. Berhubung makhluk hidup kadangkala butuh bergerak, berjalan dan melakukan pekerjaan pada malam hari yang tidak dapat dilakukan pada siang hari, karena sempitnya waktu siang, ataukah karena panasnya yang sangat, ataukah karena takut keluar pada siang hari sebagaimana halnya kebanyakan hewan-hewan. Lantaran itu, Allah -Subhanahu wa Ta’la- mengerahkan tentara-tentara cahaya untuk membantu makhluk hidup di kegelapan malam. Allah menyediakan bulan dan bintang pada malam hari, sehingga makhluk hidup dapat melakukan banyak pekerjaan, misalnya bersafar, bercocok tanam atau pekerjaan lainnya yang biasa dilakukan oleh para petani.

Cobalah perhatikan cahaya rembulan di kegelapan malam dan cobalah renungi hikmah yang tersembunyi di balik itu. Allah menciptakan cahaya bulan tidak seterang cahaya matahari agar tampak perbedaan antara siang dan malam. Sebab jika sama terangnya, maka akan luputlah hikmah pergantian siang dan malam yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Cobalah perhatikan hikmah yang Allah ciptakan pada bintang-bintang yang bertaburan di langit dan keajaiban penciptaannya. Bintang-bintang itu menghiasi gelapnya malam sehingga menambah kecantikan langit di malam hari dan laksana kompas bagi manusia dalam menentukan arah jalan yang tidak ia ketahui di darat dan di lautan. Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia berisitiwa’ di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-A’raf:54 )

Pembaca yang mulia, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah menjadikan kedua makhluk ini sebagai perandaian dan perumpamaan yang indah, tatkala Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وَ فَضْلُ اْلعَالِمِ عَلَى اْلعَابِدِ كَفَضْلِ اْلقَمَرِ عَلَى سَائِرُ اْلكَوَاكِبِ, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ, إِنَّ اْْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا, إِنَّمَا وَرَّثُوْا اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهَ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak.” [HR.Abu Dawud (3641), At-Tirmidzi(2682)].

Mungkin akan timbul pertanyaan di benak kita, mengapa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– mempermisalkan orang yang berilmu dengan bulan purnama, sedangkan ahli ibadah dengan bintang-bintang? Oleh karenanya, marilah kita menyimak penjelasan dari para ulama kita.

Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali-hafizhohullah- berkata dalam menjelaskan hadits ini:”Dipermisalkan keutamaan orang alim dengan ahli ibadah seperti keutamaaan bulan purnama atas seluruh bintang merupakan permisalan yang sesuai dengan kondisi bulan purnama dengan bintang-bintang. Sebab bulan purnama menerangi ufuk dan memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru alam. Demikianlah keadaannya orang yang alim. Adapun bintang-bintang, maka cahayanya tidak melampaui dirinya sendiri atau sesuatu yang dekat dengannya. Ini adalah kondisinya ahli ibadah. Cahaya ibadahnya hanya mampu menerangi dirinya, tanpa selain dirinya. Kalaupun cahaya ibadahnya mampu menerangi selainnya, maka jangkauan cahayanya tidaklah jauh sebagaimana terangnya bintang yang hanya sedikit”. [Lihat Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhus Shoolihin (2 /472)]

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyahrahimahullah– berkata, “Di dalam perumpamaan tersebut terdapat mutiara yang lain, yaitu bahwa kejahilan laksana malam dalam kegelapannya. Para ulama dan ahli ibadah seperti kedudukan bulan dan bintang-bintang yang terbit dalam kegelapan itu. Keutamaan cahaya seorang yang berilmu dalam kegelapan itu dibandingkan cahaya seorang yang ahli ibadah seperti keutamaan cahaya bulan dibandingkan bintang-bintang”.[Lihat Miftah Dar As-Sa’adah (1/259), tahqiq Ali bin Hasan Al-Atsariy].

Jika kita memperhatikan keadaan bulan purnama, maka kita menyaksikannya, walaupun dia hanya sendiri, namun sudah cukup untuk menerangi gelapnya malam. Tetapi, walaupun jumlah bintang bermilyar-milyaran, namun jumlah yang banyak itu tidak mampu menerangi malam. Hal ini disebabkan karena cahaya bintang sangatlah sedikit, sehingga ia hanya mampu menerangi dirinya sendiri, tanpa yang lainnya.

Al-Qodhi Iyadhrahimahullah– berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan orang yang berilmu dengan bulan, ahli ibadah dengan bintang-bintang, karena kesempurnaan ibadah, dan cahayanya tak akan melampaui diri ahli ibadah tersebut. Sedang cahaya orang berilmu akan terpancar kepada yang lainnya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/481)]

Orang yang berilmu akan menjadi berkah dimanapun ia berada. Ia bisa mengajari manusia dengan ilmu yang bermanfaat. Sehingga manusiapun bisa berjalan di muka bumi dengan cahaya ilmu yang akan menuntun mereka dalam gelapnya alam kejahilan. Seluruh manusia akan mengambil manfaat darinya, baik yang jauh maupun yang dekat, yang besar maupun yang kecil sebagaimana para makhluk dapat mengambil manfaat dari cahaya bulan purnama baik yang jauh maupun yang dekat. Bahkan hewan-hewan yang melata di muka bumi serta ikan- ikan yang berada di dasar lautan merasakan manfaatnya sehingga merekapun memintakan ampunan bagi orang-orang yang berilmu. Hal ini sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

وَ إِنَّ اْلعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِيْ السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِيْ الأَرْضِ حَتَّى اْلحِيْتَانِ فِيْ المَاءِ

Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh para makhluk yang berada di langit dan di bumi bahkan sampai ikan-ikan besar yang berada di dasar lautan ” [HR. Abu Dawud (3641) dan At-Tirmidzi (3682)].

Abu Sulaiman Al-Khoththobiyrahimahullah– berkata, “Sesungguhnya Allah –Subhanahu- telah menetapkan ilmu tentang ikan-ikan dan selainnya diantara jenis-jenis hewan melalui lisan para ulama, yaitu ilmu tentang jenis-jenis manfaat dan kemaslahatan serta rezqi-rezqi. Merekalah (yaitu para ulama) yang menjelaskan hukum tentang sesuatu yang halal dan haram dari hewan-hewan itu; mereka memberikan bimbingan kepada kemaslahatan dalam permasalahan ikan-ikan dan hewan-hewan. Mereka mewasiatkan untuk berbuat baik kepada hewan-hewan tersebut, dan menghilangkan madhorot (kerusakan) darinya. Lantaran itu, Allah mengilhamkan kepada hewan-hewan itu untuk memintakan ampunan bagi para ulama (orang-orang berilmu) sebagai balasan atas kebaikan perbuatan dan kasih sayang mereka terhadap hewan-hewan”. [Lihat Aunul Ma’bud (8/137) karya Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy]

Para pembaca yang budiman, Iniliah keutamaan ilmu. Namun perlu diketahui, ketika kita mendapatkan kata “ilmu” ( الْعِلْمُ ) di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka yang dimaksud adalah ilmu agama . Yaitu ilmu tentang syari’at Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya -Shollallahu alaihi wa sallam- berupa wahyu yang menjadi keterangan dan petunjuk. Telah dimaklumi bahwa para Nabi -alaihi salaam– tidaklah mewariskan kepada umatnya ilmu perekonomian dan perindustrian atau yang berhubungan dengannya. Namun, yang mereka wariskan hanyalah ilmu syari’at alias ilmu wahyu, bukan yang lainnya!! [Lihat Kitab Al-Ilm (hal. 9) karya Syaikh Al-Utsaimin, cet. Dar Al-Itqon, Mesir]

Namun bukan berarti mempelajari ilmu selain agama tidaklah penting. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu-ilmu tersebut memiliki manfaat yang bisa kita rasakan. Akan tetapi, ilmu-ilmu tersebut pemanfaatannya memiliki dua sisi. Jika ilmu-ilmu tersebut digunakan untuk bermaksiat dan membuat kerusakan di muka bumi, maka ia akan menjadi suatu hal yang tercela. Namun Jika digunakan untuk menopang ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agama-Nya serta manusia pun dapat mengambil manfaat dari ilmu-ilmu tersebut, maka ilmu-ilmu tersebut merupakan suatu kebaikan dan kemaslahatan. Bahkan bisa menjadi wajib mempelajarinya dalam keadaan tertentu, apabila perkara itu masuk dalam firman Allah -Azza wa Jalla-

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang”. (QS. Al-Anfal: 60).

Akan tetapi, kondisi kaum muslimin pada hari ini sangat memprihatinkan. Mereka berlomba-lomba mengejar ilmu dunia dan lari meninggalkan ilmu agamanya. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, ketika mereka menganggap bahwa mempelajari ilmu agama adalah sebuah kemunduran. Setan menghias-hiasi di mata mereka bahwa ilmu-ilmu dunia merupakan jalan menuju kesejahteraan hidup dan kebahagiaan. Sedangkan mempelajari ilmu agama Allah akan membuat hidup sengsara, miskin dan tidak memiliki masa depan. Hal ini bisa kita lihat di sekitar kita. Para orang tua sekarang merasa malu jika ia memasukkan anak-anaknya untuk belajar di pondok-pondok pesantren. Sebaliknya,amat bangga jika menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah terkenal yang tidak punya perhatian dengan agama, walaupun harus membayar mahal. Mereka berusaha dengan keras agar anaknya bisa masuk ke sekolah tersebut, walaupun harus gali lobang, tutup lobang dan makan apa adanya. Tetapi ketika anak-anaknya menjadi brandalan dan sampah masyarakat, serta bodohnya minta ampun, maka merekapun mulai mencari pondok-pondok pesantren terdekat untuk anak brandal mereka. Ibaratnya pesantren adalah bengkel bagi barang rongsokan yang tidak lagi bisa dimanfaatkan.

Wahai kaum muslimin, apakah ini sumbangsih kalian kepada islam!!! Pada hari ini, Islam juga butuh dengan otak-otak yang jenius. Pesantren-pesantren juga butuh dengan anak-anak yang cerdas sehingga dapat melahirkan ulama-ulama seperti Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’iy, dan Ahmad -rahimahullah– .

Maka jadilah kaum muslimin pada hari ini sangat berambisi mengejar dunia, tanpa mengenal lagi aturan-aturan Allah Yang Maha Bijaksana. Mereka tidak peduli lagi dengan halal dan haram, yang penting kebutuhan terpenuhi. Sehingga Allah menimpakan kehinaan kepada kaum muslimin pada hari ini. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor-ekor sapi (sibuk ternak), ridho dengan bercocok tanam (sibuk tani), dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas diri kalian; tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian”. [HR. Abu Dawud dalam Kitabul Ijaroh (3462). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)]

Allah –Azza wa Jalla-juga berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS. At-Tahriim: 6)

Lalu bagaimanakah cara kita untuk melindungi diri dan keluarga kita dari api neraka jika kita tidak memiliki ilmu agama!?! Kita tidak mengetahui mana yang halal dan yang haram. Oleh karenanya, kita harus segera menyadari sebelum semuanya terlambat bahwa tidak ada jalan menuju kebahagiaan yang hakiki kecuali harus kembali mempelajari agama yang mulia ini. Bukan berarti semua orang harus menjadi ulama atau ustadz, sebab kaum muslimin juga butuh kepada polisi, montir, dokter, dan yang lainnya. Akan tetapi yang kami maksudkan adalah setiap muslim memahami dengan benar prinsip-prinsip agamanya yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- . Sebab, seseorang yang memiliki ilmu agama akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan, bukan hanya di dunia saja, juga tetapi di alam barzakh dan di akhirat kelak. Rasulullah –Sholllallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ بِهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى اْلجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga”. [HR. muslim(2699)].

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 116 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Pada edisi kali ini, kami angkat sebuah topik permasalah yang klasik dan kontemporer, yaitu <strong>mengenal Dimana Allah?</strong> Karena di sana banyak kita dapati di antara masyarakat yang menyimpang dalam aqidah (keyakinan) yang agung, prinsip Nabi <em>-Shallallahu ‘alaihi wasallam-, </em>dan para shahabat -<em>Ridhwanullah ‘alaihim ‘ajmain</em>-, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.<strong></strong>

Kita mendapati di antara kaum muslimin di zaman ini, bermacam-macam keyakinannya atas pertanyaan “Dimana Allah?”. Di antaranya ada yang berkeyakinan bahwa <strong>Allah -<em>Subhanahu wa Ta’ala</em>- berada di hati</strong>, bahwa <strong>Allah itu berada dimana-mana</strong>, bahwa <strong>Allah itu lebih dekat dari urat leher</strong>, bahwa <strong>Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala-</em> bersatu dengan hamba-Nya.</strong> Lebih parah lagi, ada juga yang berkeyakinan bahwa <strong>Allah itu tidak di kanan, tidak di kiri, tidak diatas, tidak di bawah, tidak di depan, dan tidak pula di belakang</strong>. Sungguh ini adalah pernyataan yang sangat lucu. Lantas dimana Allah?!. Padahal kalau kita mau mengikuti fitrah kita yang suci, sebagaimana fitrahnya anak yang masih kecil, pemikiran mereka yang masih polos, seperti putihnya kertas yang belum ternodai dengan tinta. Kita akan dapati jawaban dari lisan-lisan kecil mereka, jikalau mereka ditanya, <em>“Dimana Allah?”</em> Mereka akan menjawab, <em>“Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit</em>”.

Aqidah (keyakinan) tentang keberadaan Allah di langit (artinya, di atas Arsy), ini telah dijelaskan dalam Kitabullah, As-Sunnah, ijma’, dan komentar para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab-kitab mereka. Mereka sudah patenkan (tetapkan) bahwa barangsiapa yang menyelisihinya, maka ia adalah ahli bid’ah, dan menyimpang.

Dalil-dalil masalah ini sangatlah banyak dari Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Berikut ini kami akan sebutkan -<em>insya’ Allah-</em> beberapa di antaranya saja, dan sebenarnya tidak terbatas.

<strong> Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin</strong><em>-rahimahullah- </em>berkata dalam <strong><em>Syarh Lum’ah Al-I’tiqod </em></strong>(hal. 61), <em>“Istiwa’ (beristiwa’)nya Allah di atas Arsy termasuk diantara sifat-sifat yang tetap bagi-Nya berdasarkan Al-Kitab, As-Sunnah, dan kesepakatan Salaf”.</em>

Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala-</em> berfirman,

<strong> الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</strong><strong></strong>

<em> “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang beristiwa’ di atas `Arsy”. </em> (<strong>QS. Thoha: 5</strong>)

Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala-</em> berfirman,

<strong> إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ</strong><strong></strong>

<em> “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas `Arsy”. </em> (<strong>QS. Al A’raf: 54</strong>)

Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala-</em> berfirman,

<strong> إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ</strong><strong></strong>

<em> “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan”. </em> (<strong>QS. Yunus: 3</strong>)

Allah -<em>Subhanahu wa Ta’ala-</em> berfirman,

<strong> اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ</strong><strong></strong>

<em> “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas `Arsy”. </em> (<strong>QS. Ar Ra’d: 2</strong>)

Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em>- berfirman,

<strong> الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ</strong><strong></strong>

<em> “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy”. </em> (<strong>QS. Al-Furqon: 59</strong>)

Allah -<em>Subhanahu wa Ta’ala</em>- berfirman,

<strong> اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ</strong><strong></strong>

<em> “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas `arsy”. </em> (<strong>QS. As-Sajadah: 4</strong>)

Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala-</em> berfirman,

<strong> مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ</strong><strong></strong>

<em> “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya”. </em> (<strong>QS. Fathir: 10</strong>)

<strong> Al-Hafizh Al-Baihaqy</strong><em>-rahimahullah-</em> berkata dalam <strong><em>Al-I’tiqod</em></strong> (1/114), <em>“Ayat-ayat itu merupakan dalil yang membatalkan pendapat orang Jahmiyyah yang menyatakan bahwa <strong>Dzat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada dimana-mana</strong>”. </em>

Dalil-dalil dalam permasalahan ini banyak sekali, jika kita ingin memeriksa Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf. Oleh karena itu, Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy <em>-rahimahullah- </em>berkata dalam <strong><em>Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah</em></strong> (288), <em>“Dalil-dalil yang semisal dengannya,kalau seandainnya dihitung satu-persatu, maka akan mencapai ribuan dalil” </em>

Adapun dalil-dalil dari hadits, sabda Nabi <em>-Shallallahu ‘alaihi wasallam-</em>:

<strong> لمَاَّ خَلَقَ اَللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِيْ كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ </strong>

<em> “Ketika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menciptakan makhluk-Nya, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menuliskan di dalam kitab-NYa (Lauh Mahfudz) yang ada <strong>di sisi-Nya diatas Arsy (singgasana)</strong> ‘Sesungguhnya rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.” </em> [HR. Al-Bukhary dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (3022, 6969, dan 6986), dan Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (2751)]

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Nabi <em>-Shallallahu ‘alaihi wasallam-</em> bersabda:

<strong> أَلاَ تَأْمَنُوْنَنِيْ وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ يَأْتِيْنِيْ خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً</strong><strong></strong>

<em> “Tidakkah kalian percaya kepadaku? Sementara aku dalam keadaan beriman kepada Yang dilangit. </em><em> Datang kepadaku berita dari langit di waktu pagi hari dan petang…”.</em> [HR. Al-Bukhary dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (4094), Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (1064)]

<strong> Al-Qurthuby </strong><em> -rahimahullah- </em> dalam <strong><em>Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an</em></strong> (7/219) berkata, <strong></strong><em>“Tidak ada seorang salaf pun yang mengingkari bahwa Allah beristiwa’ di atas Arsy-Nya secara hakiki. Arsy dikhususkan karena ia merupakan makhluk Allah yang terbesar. Para salaf tidak (berusaha) mengetahui cara (kaifiyyah) Allah beristiwa’, karena sifat beristiwa’ itu tidak bisa diketahui hakekatnya. Imam Malik -rahimahullah- berkata : [‘Sifat beristiwa’ itu diketahui maknanya secara bahasa, tidak boleh ditanyakan cara Allah beristiwa’, dan pertanyaan tentang cara Allah beristiwa’ merupakan bid’ah dan ajaran baru”. </em>

Jadi, madzhab Ahlis Sunnah menyatakan bahwa Allah beristiwa’ di atas Arsy, namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Adapun aqidah yang menyatakan bahwa <strong>Allah berada dimana-mana</strong>, bukanlah merupakan aqidah Ahlis Sunnah, akan tetapi merupakan aqidah ahli bid’ah yang batil berdasarkan ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah di atas Arsy beserta keterangan Ulama Ahlis Sunnah yang telah kami sebutkan, dan berikut tambahan keterangan dalam masalah ini:

<strong> Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr </strong><em> -rahimahullah-</em> berkata dalam <strong><em>At-Tamhid </em></strong>(7/129), <em>“Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas Arsy, di atas langit ketujuh sebagaimana yang ditegaskan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu juga merupakan hujjah mereka terhadap orang-orang Mu’tazilah yang berkata: “<strong>[Allah berada di mana-mana, bukan di atas Arsy]</strong>”.<strong></strong>Dalil yang mendukung kebenaran madzhab Ahlul Haq/Ahlis Sunnah dalam hal ini adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Ar-Rahman beristiwa’ di atas Arsy” dan firman-Nya Azza wa Jalla: “ Kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy…”.</em>

<strong> Imam Al-Qurthuby</strong><em>-rahimahullah-</em> berkata dalam <strong><em>Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an</em></strong> (4/162): <em>“Jahmiyyah terbagi menjadi 12 kelompok … </em><em> (di antaranya) Al-Multaziqoh, mereka menganggap bahwa <strong>Allah berada di mana-mana </strong>…”.</em>

<strong> Shodaqoh</strong><em>-rahimahullah-</em> berkata, <em>“Saya mendengar <strong>At-Taimy</strong> berkata,</em><em>“Andaikan aku ditanya : Dimana Allah Tabaraka wa Ta’ala?, niscaya aku akan jawab: Dia di langit”. </em>[ Lihat <strong><em>Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah</em></strong> (3/401/671)]

<strong> Imam Malik bin Anas</strong><em>-rahimahullah-</em> berkata, <em>“Allah berada di langit, sedang ilmu-Nya berada di mana-mana, tidak ada satu tempatpun yang kosong dari ilmu-Nya”.</em>[ Lihat <strong><em>Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah</em></strong> (3/401/673)]

<strong> Imam Ahmad bin Hambal</strong><em>-rahimahullah-</em> pernah ditanya, <em>“Allah -Azza wa Jalla- berada di atas langit yang ketujuh, di atas Arsy terpisah dari makhluk-Nya. kemampuan dan ilmu-Nya berada di mana-mana?”</em> Beliau Jawab : <em>“Ya, Dia berada di atas Arsy. Sedang tidak ada satu tempat pun yang kosong dari ilmu-Nya”</em>. [ Lihat <strong><em>Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah</em></strong> (3/401-402/674)]

<strong> Imam Ahmad </strong><em> -rahimahullah- </em> juga berkata, <em>“Jika anda ingin mengetahui bahwa seorang Jahmiyyah itu berdusta atas nama Allah, yaitu saat ia menyangka bahwa<strong> Allah berada dimana-mana</strong>”.</em>[Lihat <strong><em>Ar-Rodd ala Az-Zanadiqoh wa Al-Jahmiyyah</em></strong> (1/40)]

Dari semua dalil-dalil, dan pernyataan ulama salaf tersebut menunjukkan bahwa <strong>Allah beristiwa’ di atas Arsy (singgasana), sedang Arsy Allah berada diatas langit, bukan dimana-mana.</strong> Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mengimani dengan keimanan yang kokoh, tanpa ragu terhadap semua dalil-dalil yang menerangkan hal tersebut, dan menghadapinya sebagaimana ia datang, tanpa takwil, dan tanpa menanyakan cara Allah beristiwa’, atau menyerupakannya dengan makhluk-Nya.

<strong> Al-Hafizh Ibnu Katsir </strong><em> -rahimahullah- </em> berkata,<em> “Adapun firman Allah Ta’ala : </em>

<strong> ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ</strong><strong></strong>

<em> “Lalu Dia beristiwa’ di atas Arsy”. </em>

<em> Orang-orang memiliki pendapat yang sangat banyak dalam masalah ini, tapi sekarang bukan saatnya kita paparkan. Dalam masalah ini kita harus mengikuti madzhab Salafush Sholeh, seperti Imam Malik, Al-Auza’iy, Ats-Tsaury, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rohuyah, dan lainnya dari kalangan ulama-ulama kaum muslimin baik dulu maupun sekarang. Madzhab mereka adalah <strong>menjalankan dan memahami sifat-sifat tersebut sebagaimana ia datang, tanpa perlu dibicarakan cara/bentuknya, atau diserupakan dengan sifat makhluk dan dihilangkan maknanya. Sedang yang terbayang dalam benak orang-orang Musyabbih</strong> (orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya)<strong></strong>tersucikan dari Allah, karena tidak ada seorang makhlukpun yang menyerupai-Nya [<strong>‘Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Sedang Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat’</strong>]. Bahkan inti permasalahannya sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, seperti Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’iy. Beliau berkata : [ ‘Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Barangsiapa yang menolak sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir. Tidak ada penyerupaan pada sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya. Barangsiapa yang <strong>menetapkan </strong>(sifat) bagi Allah sebagaimana yang terdapat dalam ayat-ayat yang gamblang, dan hadits-hadits shohih dengan bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah dan <strong>menyucikan </strong>segala kekurangan dari Allah, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang lurus”. </em> [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/221)]

Ini adalah aqidahnya para nabi, para sahabat, para tabi’in, dan para pengikut tabi’in sebagai generasi terbaik dari umat ini dalam memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, dan sebab sabda Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam- </em>diucapkan oleh beliau<em>.</em>

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufiq dan pemahaman yang lurus serta agar kita termasuk dari golongan mereka dan dijauhkan dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang. <em>Washolallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Ahlihi wa Ashhaabihi Ajmain.</em>

<strong>Sumber : </strong><em>Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 03 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.  Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp) </em>

Tags:, , , , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Bingkisan untuk Panitia Ospek
  2. Sakit Hati
  3. Dari HP Turun ke Hati
  4. Cara Bersin yang Jitu
  5. Membasahi Lisan, Menyejukkan Hati
  6. Noda-noda Maksiat
  7. Permata yang Hilang
  8. Berlebih-lebihan dalam Makan dan Tidur di Bulan Ramadhan
  9. Agama Penebar Kasih
  10. Amalan Manis Berbuah Pahit

3 Responses to Laksana Bulan dan Bintang

  1. Assalamu’ alaikum izin kopaz ya.
    Jazakumullahu khairan.

    Wa’alaykumussalam warohmatullah. Silahkan dicopy dengan menyertakan sumbernya http://www.almakassari.com

  2. ana pun pun izin copy, insyaalllah bermanfaat.

  3. ana copy paste yaa.. syukrn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *