Kiamat 2012 ?

Dilihat 126 kali | Kirim Ke Teman

Baru-baru ini, telah tersebar isu bahwa akan terjadi hari kiamat, yaitu pada tanggal 21 Desember 2012. Berita sampah ini banyak memberi pengaruh kepada masyarakat terlebih lagi dengan munculnya film 2012 yang di garap oleh orang-orang kafir untuk menggoyahkan akidah kaum muslimin. Sungguh disayangkan, sebagian kaum muslimin ada yang percaya dengan berita dusta itu, sehingga mereka merasa cemas, dan khawatir bahwa umur dunia ini sisa dua tahun lagi. Fenomena ini muncul karena kaum muslimin pada hari ini berusaha lari dari ilmu agama mereka. Sehingga mereka dipermainkan oleh setan dan bala tentaranya dengan sesuka hatinya.

Berita sampah ini muncul dari para dukun yang hobi menyebarkan berita-berita dusta. Para dukun dan setan bekerjasama untuk menjauhkan manusia dari Allah. Para dukun mengucapkan kata-kata yang mereka terima dari bisikan setan untuk menipu manusia. Sebab jika tidak dengan cara menipu, maka mereka tidak akan mendapatkan makan dan uang. Semuanya kembali ke persoalan perut. Alangkah hinanya pekerjaan mereka! Setan-setanpun bergembira ria dengan banyaknya orang yang mendatangi para dukun dan percaya dengan omongannya. Sebab akan bertambah banyak pula orang-orang yang akan menemaninya di NERAKA.

Sesungguhnya mendatangi dukun atau para normal merupakan suatu pelanggaran di dalam islam. Seorang muslim dilarang keras untuk datang dan bertanya kepada dukun apalagi sampai mempercayainya. Sebab Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

 مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Barang siapa yang mendatangi peramal, kemudian menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selama emapat puluh malam”. [HR. Muslim (2230)

Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, “Adapun arrof (peramal), sungguh telah lewat penjelasannya, dan bahwa ia adalah termasuk golongan para dukun”. [Lihat Al- Minhaj Syarh Shohih Muslim (14/227)]

Bahkan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

 مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقْوُلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ    

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau arraf (peramal) lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. [HR. Ahmad dalam Musnad-nya (2/429/no.9532), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/8/no.15), Al Baihaqi (7/198/no.16274), dan di-shahih-kan oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shohih At-Targhib  (3047)

Maksudnya, ia telah mengingkari ayat yang diturunkan kepada Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berikut ini,

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”.(QS. An-Naml: 65) [Lihar Al-Qaul Al-Mufid (hal.33), cet. Darul Aqidah].

Hadits ini menunjukkan kafirnya orang yang membenarkan para dukun dan peramal, jika ia meyakini bahwa dukun atau peramal mengetahui perkara ghaib. Adapun hadits yang sebelumnya, menunjukkan tidak kafirnya orang yang membenarkan dukun atau peramal, jika ia tidak meyakini demikian, tapi ia meyakini bahwa itu adalah berita dari jin yang dicuri dengar dari malaikat. Perlu diketahui bahwa sekalipun ia tak kafir, namun mendatangi dukun adalah dosa besar yang menyebabkan pahala sholat tertolak !!

Pembaca yang budiman, HARI KIAMAT merupakan salah satu perkara ghaib yang wajib diimani oleh setiap muslim. Tidak seorang pun, baik yang ada di langit maupun di bumi yang mengetahui kapankah datangnya hari kiamat, kecuali hanya Allah -Subhana Wa Ta’ala- . Hal ini telah dijelaskan secara gamblang oleh Allah -Azza wa Jalla- di dalam firman-Nya,

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”.(QS. An-Naml: 65)

Ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa para makhluk tidaklah mengetahui kapankah datangnya hari kiamat; hari mereka akan dibangkitkan. Bahkan makhluk yang paling dekat dengan Allah sekalipun dari kalangan malaikat, yaitu malaikat Jibril dan Rasul yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, tidaklah mengetahui kapankah datangnya hari kiamat. Jibril pernah bertanya kepada Nabi  -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- tentang waktu terjadinya kiamat, namun beliau juga tak tahu sebagaimana halnya Jibril. Silakan dengar kisahnya:

قَالَ : فَأَخْبِرَنِي عَنِ اْلسَّاعَةِ ! قَالَ: ” مَا اْلمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ اْلسَّائِلِ

Jibril berkata: kemudian beritahukan kepadaku tentang hari kiamat ! .Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.”[HR. Muslim dalam Shohih-nya (8)]

Oleh karenanya, begitu lancangnya jika ada diantara makhluk Allah yang mengaku mengetahui waktu datangnya hari kiamat, sedangkan makhluk yang termulia dan terdekat dengan Allah saja tidak mengetahuinya.

Dari sini, nampaklah kedustaan orang-orang yang menyatakan kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Bahkan telah berlalu pengalaman yang sama, ketika ada orang yang menyatakan bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 9, bulan 9, tahun 1999, jam 9 dan detik yang ke 9. semua itu hanyalah kedustaan yang kita semua telah menyaksikannya. Tidakkah kita mengambil pelajaran darinya ?!!

Pembaca yang mulia, sesungguhnya Allah -Subhana Wa Ta’ala- telah menutup dengan rapat tentang ilmu tentang waktu datangnya hari kiamat. Sebab Allah memiliki hikmah yang sangat agung dalam hal tersebut. Diantara hikmah-hikmahnya adalah,

1.      Untuk mendorong para makhluk memperbanyak melakukan ketaatan dan bersemangat untuk beramal sebagai bekal untuk menyongsong hari kiamat serta mengharapkan pahala dan ridho-Nya ketika  berjumpa dengan hari itu.

2.      Agar seseorang merasa khawatir untuk melakukan perbuatan maksiat dan dosa, sebab takut akan siksaan pada hari kiamat yang tiba-tiba datang, sedang ia bermaksiat.

Masih banyak hikmah disembunyikannya WAKTU ditegakkan hari kiamat, namun hanya Allah-lah yang mengetahui segalanya. Sebab hal ini pernah ditanyakan oleh orang-orang musyrik kepada Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- yang diabadikan oleh Allah-Ta’ala-di dalam Al-Qur’an,

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?.Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” (QS. An-Nazi’at: 42-44 )

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiyrahimahullah– berkata saat menjelaskan makna ayat ini, “Maksudnya, ilmu tentang hari kiamat bukanlah kembali kepadamu (wahai Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-), dan tidak pula kepada seorangpun diantara makhluk. Bahkan kembalinya kepada Allah -Azza wa Jalla-. Jadi, Dia (Allah) saja yang mengetahui WAKTUNYA secara pasti”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (8/318)]

Ketahuilah, hari kiamat pasti akan datang menjelang, sebab itu adalah janji Allah -Subhana Wa Ta’ala- kepada hamba-Nya, sedang Allah sekali-kali tidak akan menyelisihi janjinya. Oleh karena itu, bukanlah hal yang penting bagi kita untuk berusaha mencari-cari tahu kapan datangnya hari kiamat, sebab hal itu adalah rahasia ilahi. Tapi yang jauh lebih penting dari itu,  apa persiapan kita untuk menghadapi hari tersebut.

Dari Anas –radhiyallahu anhu– berkata,

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنََّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَتَى اْلسَّاعَةُ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :( مَا اَعْدَدْتَ لَهَا ؟) قاَلَ : حُبُّ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ. قَالَ (أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ)

“Bahawasanya ada seorang Arab badui – berkata kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Bilakah datangnya hari kiamat?” Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepadanya, “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menemuinya?” Arab badui itu menjawab, “Kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Engkau akan menyertai orang yang engkau cintai.”  [HR. Al-Bukhoriy (10/557-Fath), dan Muslim (no. 2639)]

Syaikh Salim Al-Hilaliyhafizhohullah– berkata saat memetik faedah penting dari hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang sikap hikmah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan kedalaman (ilmu) beliau ketika menjawab pertanyaan orang Arab badui itu. Tatkala itu beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menunjukkan kepadanya tentang hal yang lebih penting dan yang akan menyelamatkannya dari hari kiamat, yaitu persiapan untuk menghadapi hari kiamat dengan berbekal hal yang bermanfaat, dan amalan shalih”. [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/)]

Wahai saudaraku, sudahkah kita mempersiapkan amalan shalih kita untuk menghadapi HARI KIAMAT? Jika kita mau jujur, betapa banyak dosa yang kita lakukan setiap harinya, dan betapa sedikitnya ibadah yang kita kerjakan. Dalam setiap helaian nafas, kita senantiasa berbuat kekurangan terhadap hak Allah. Seiring dengan itu, betapa besar tuntutan kita  kepada Allah untuk mendapatkan surga-Nya. Dosa kita bagaikan buih di lautan, sedang istighfar kita hanyalah hitungan jari. Namun kita telah merasa cukup dan pantas untuk mendapatkan ampunan-Nya. Lihatlah Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-,  Rasul yang paling mulia, dan paling dekat di sisi Allah -Subhana Wa Ta’ala- , yang telah diampuni dosanya, baik yang telah lalu, maupun yang akan datang, ternyata beliau senantiasa memohon ampun kepada Allah -Subhana Wa Ta’ala- sebagaimana di dalam hadits ini,

يَا أَيُّهاَالنَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاْستَغْفِرُوهُ فإَِنِّيْ أَتُوْبُ فِيْ اْليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Hai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah pengampunan dari-Nya, karena sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no.2702)]

Sesungguhnya para salaf (para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik) adalah orang yang paling banyak melakukan ibadah, ketaatan dan amal shalih. Namun, ternyata mereka tidak begitu saja mengandalkan amal perbuatan mereka. Bahkan mereka senantiasa merasa khawatir, jika apa yang mereka lakukan itu masih belum diterima oleh Allah. Sehingga terus menerus merasa kurang dalam beramal dan tak henti-hentinya memohon ampunan kepada Allah -Subhana Wa Ta’ala- .

Ibnu Syaudzab berkata, ” Tatkala Abu Hurairah berada di ambang kematian, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang bertanya, “apa yang membuatmu menangis? Beliau menjawab, “Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya rintangan yang menghalangi. Sementara saya tidak tahu akan dimasukkan ke neraka ataukah ke surga”. [Lihat Shifatush Shofwah (1/694) oleh Ibnul Jauziy]

Alangkah sedihnya kita tatkala dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Langit akan pecah pada hari itu dan hancur binasa. Gunung-gunung pun berubah menjadi debu-debu tak berguna. Saat dimana kita akan berdiri bingung dan dahaga. Tak beralas kaki, tak berkhitan dan tak berbusana. Alangkah malunya dengan keburukan amal yang kita sebagai pelakunya. Ketika itu catatan amalan pun untuk mengungkit aib, juga angkat bicara. Jiwa pun tertunduk lesu, ketakutan dan menyesali perbuatannya selama di dunia, serta menyeru kecelakaan atas dirinya. Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (Qs. Al-Kahfi: 49)

Wahai saudaraku, apakah engkau merasa aman ketika menuju pembaringanmu? Padahal boleh jadi ia adalah tidur terakhirmu di dunia yang engkau tidak akan bangun lagi setelahnya. Kemudian tatkala engkau bangun tiba-tiba engkau telah berada di dalam kubur. Maka selayaknyalah kita mempersiapkan bekal  selagi kita masih berada di dunia dan tidak terlena dengan kehidupan dunia yang menipu. Oleh karena itu, takutlah kalian dengan HARI KIAMAT yang tak menentu kedatangannya. Hanya Allah -Azza wa Jalla- yang mengetahuinya!!

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , , , , , , , , , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Jadwal Ta’lim Lengkap Kota Makassar dan Sekitarnya
  2. Menuju Kemenangan dan Kejayaan Kaum Muslimin (Bingkisan Untuk Kaum Muslimin Palestina)
  3. Ilmu Batin
  4. Adam Turun di India
  5. Sebab-sebab Turunnya Adzab Allah yang Pedih atas Kaum Penggemar Homoseksual
  6. Awas Bahaya Syirik
  7. Shadaqah Penyejuk Iman di Tengah Panasnya Problema
  8. Tujuh Keajaiban Dunia
  9. Apakah Sekedar Mengucapkan Syahadah itu Sudah Termasuk Muslim ???
  10. Siaran Langsung Daurah Politik Syar’i UNM Gunung Sari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *