Jawaban Shorih (Jelas) buat Bang Ulil Abshar Abdalla, si Pembela LGBT dalam Sebuah Kicauan Twitter-nya

Dilihat 271 kali | Kirim Ke Teman

Jawaban Shorih buat Bang Ulil Abshar Abdalla, si Pembela LGBT dalam Sebuah Kicauan Twitter-nya
(Penulis : Al-Ustadz Abdul Qodir -hafidzhahullah-)

Jawaban Shorih buat Bang Ulil Abshar Abdalla, si Pembela LGBT dalam Sebuah Kicauan Twitter-nyaRibutnya manusia soal LGBT (Lesbian, Gay, Besexual, dan Transgender), muncul kicauan seorang liberalis yang berusaha menyebarkan keraguan di masyarakat dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyiratkan suatu pernyataan berbahaya bagi seorang yang masih mengira dirinya sebagai “muslim”.

Dalam sebuah kicauan Twitter Ulil Abshar Abdalla, ia berceloteh sebagaimana kebiasaannya,

“Apakah Quran dengan “sharih” (eksplisit) menjelaskan bahwa kaum sodom disiksa karena orientasi seksual mereka? Apa ada?”

Demikian kicau Ulil di akun Twitter-nya @ulil, di tahun 2016, sebagaimana yang dilansir oleh media setempat. [ http://suaranasional.com/2016/02/02/ulil-jil-tegaskan-di-al-quran-tak-ada-azab-kaum-sodom/ ]

Intinya, ia meragukan status kaum Sodom yang disiksa karena perbuatan mesum dan jorok mereka yang kita kenal dengan “HOMOSEKSUAL” berupa hubungan kelamin antara pria dengan pria. Menurutnya, kaum Sodom belum tentu disiksa karena perbuatan mesum tersebut, tapi boleh jadi karena faktor lain, karena menurut akal pendeknya bahwa tak ada ayat yang shorih ‘gamblang’ tentang hal itu.

Pernyataan ngawur Ulil tersebut melambangkan kebodohan terhadap wahyu dan hanya didorong oleh hawa nafsunya dalam menyuarakan pembelaannya terhadap kaum LGBT yang dimurkai oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

Untuk mengetahui kebodohan pernyataan Ulil ini, cobalah anda menggerakkan jari anda membuka lembaran-lembaran wahyu Al-Qur’an, yakinlah mata anda akan menyorot beberapa butir ayat suci yang melegakan hati kaum beriman, dan menyakitkan hati kaum munafiq dan para pembela LGBT.

Cobalah anda membuka Suroh Hud dari ayat ke-77-83, maka anda dapati ayat-ayat berikut tercantum dengan jelas, namun mata Ulil buta darinya :

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ (77) وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ (78) قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ (79) قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ (80) قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ (81) فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (82) مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ [هود : 77 – 83]

77. Dan tatkala datang utusan-utusan kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia (Luth) merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit (1).”

78. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (homoseksual). Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu (2). Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak Adakah di antara kalian seorang yang berakal?”

79. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu Telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu (3); dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”

80. Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolak kalian) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”

81. Para utusan (malaikat) berkata : “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab (siksaan) yang menimpa mereka. Karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”.

82. Maka tatkala datang azab kami, kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,

83. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim (4). (QS. : Huud : 77-83)

Usai membaca ayat suci yang shorih (gamblang) ini, masih adakah diantara kita yang ragu bahwa adzab (siksaan) yang turun kepada kaum Nabi Luth, disebabkan oleh homoseksual yang menjadi kegemaran dan hobi mereka?!!

Seorang sahabat yang mulia, Hudzaifah Ibnu Yaman Al-Absiy -radhiyallahu anhu- berkata saat menerangkan ayat-ayat itu,

فأتوا لوطا عليه السلام ، وهو في أرض يعمل فيها فحسبهم ضيفا ، فأقبل بهم حين أمسى إلى أهله فأمسوا معه ، فالتفت إليهم فقال : ما ترون ما يصنع هؤلاء ؟ قالوا : ما يصنعون ؟ قال : ما من الناس أحد أشر منهم ، قال : فانتهى بهم إلى أهله ،

فانطلقت العجوز السوء امرأته فأتت قومه ، فقالت : لقد تضيف لوطا قوم ما رأيت قط أحسن وجوها ، ولا أطيب ريحا منهم ،

فأقبلوا يهرعون إليه حتى دفعوا الباب ، حتى كادوا أن يغلبوه عليهم ، فمال ملك بجناحه فصفقه دونهم ، ثم أغلق الباب ،

ثم علوا الجدار فعلوا معه ، ثم جعل يخاطبهم : هؤلاء بناتي هن أطهر لكم حتى بلغ أو آوي إلى ركن شديد، قالوا يا لوط إنا رسل ربك لن يصلوا إليك

فقال حين علم أنهم رسل الله قال : فما بقي أحد منهم تلك الليلة إلا عمي قال : فباتوا بشر ليلة عميا ينتظرون العذاب ،

قال : وسار بأهله واستأذن جبريل عليه السلام في هلكتهم فأذن له ، فارتفعت الأرض التي كانوا عليها فعلا بها حتى سمع أهل السماء الدنيا نباح كلابهم ، وأوقد تحتها نارا ، ثم قلبها بهم ، قال : فسمعت امرأته الوجبة وهي معه فالتفتت فأصابها العذاب

“Mereka (para malaikat) mendatangi Nabi Luth –alaihis salam-, sedang beliau berada di tanah (kebun) tempat beliau bekerja padanya.

Luth menyangka mereka adalah tamu (5). Beliau pun membawa mereka ketika di waktu sore menuju keluarga beliau. Para malaikat itu terus bersama Nabi Luth sore itu. Kemudian beliau menoleh kepada mereka seraya beliau bertanya, “Apa pandangan kalian? Mereka mau diapakan?”

Para malaikat berkata, “Mereka ini mau diapakan?”

Luth menimpali, “Tidak ada seorang pun yang lebih buruk dibandingkan mereka.”

Dia (Hudzaifah) berkata, ‘Beliau membawa mereka sampai pada keluarganya.

Si wanita tua yang buruk ‘istri Luth‘ berangkat dan mendatangi kaumnya, seraya berkata (kepada kaumnya), “Sungguh ada suatu kaum yang bertamu pada Luth. Sama sekali aku tak pernah melihat ada yang lebih tampan wajahnya dan lebih mantap harumnya dibandingkan mereka.”

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas kepada Luth sampai mereka mendobrak pintu, sampai hampir saja mereka mengalahkan Luth (dalam memberikan perlindungan) bagi tamu-tamu beliau.

Kemudian seorang malaikat (dari kalangan tamu-tamu itu) memiringkan dirinya seraya mendorong pintu di balik mereka, lalu menutupnya.

Kemudian mereka (kaum Luth) memanjati dinding, lalu mulailah Luth mengajak mereka berbicara,

Inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu (6). Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak Adakah di antara kalian seorang yang berakal?”

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu Telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu (7); dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”

Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolak kalian) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”(8)

Para utusan (malaikat) berkata : “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.”

Dia (Hudzaifah) berkata,

“Ketika Luth mengetahui bahwa mereka adalah utusan-utusan Allah, maka beliau berkata, “Tidak ada yang tinggal seorang pun diantara mereka pada malam itu, kecuali ia buta.”

Mereka bermalam bersama malam yang terburuk dalam kondisi mereka buta sambil menunggu siksaan.

Dia (Hudzaifah) berkata,

“Luth berangkat malam bersama pengikutnya. Jibril –alaihis salam- meminta izin untuk membinasakannya, lalu Allah izinkan.

Negeri yang mereka tinggal padanya terangkat. Jibril mengangkatnya sampai penduduk langit yang paling rendah mendengar suara lolongan anjing mereka dan Jibril menyalakan api di bawahnya, lalu negeri mereka bersama kaumnya Luth.

Istri Luth mendengar suara negeri yang jatuh, sedang ia bersama Luth. Istri Luth menoleh, lalu ia pun tertimpa adzab (siksaan).”

Demikian kisah ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ajurriy dalam Dzammu Al-Liwath (no. 7), dan ulama hadits lainnya dengan sanad yang hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh muhaqqiq-nya. Kisah ini tampaknya Hudzaifah -radhiyallahu anhu- menerimanya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- selaku guru beliau.

Dari kisah ini kita melihat kelakuan kaumnya Luth yang arogan memaksa manusia berbuat fasik dan jorok. Syahwat kepada kaum lelaki telah bergejolak dan merasuk ke dalam jiwa dan raga mereka, sebuah penyakit yang susah sembuh, kecuali adzab (siksaan) dari langit yang dapat “menyembuhkannya”.

Di dalam sebagian ayat-ayat yang berbicara tentang Nabi Luth bersama kaumnya, disebutkan oleh Nabi Luth bahwa kaumnya senang melakukan beberapa kebiasaan buruk, diantaranya adalah HOMOSEKSUAL.

Allah menyebutkan hal itu dalam firman-Nya saat mengabadikan ucapan pengingkaran Nabi Luth –alaihish sholatu was salam-,

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (29) قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ (30) [العنكبوت : 29_30]

Apakah sungguh kalian patut mendatangi (menyetubuhi) laki-laki, menyamun (9) dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain Hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah Aku (dengan menimpakan azab/siksaan) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. (QS. Al-Ankabut : 29-30)

Homoseksual di kalangan kaumnya Nabi Luth sudah akut dan parah, sampai mereka menghadang manusia untuk hal itu dan melakukan homoseksual di majelis-majelis pertemuan mereka, sebagaimana yang dinyatakan oleh para ahli tafsir, diantaranya : Mujahid, Qotadah, dan Ibnu Zaid. [Lihat Jami’ Al-Bayan (20/30) oleh Al-Imam Ath-Thobariy].

Demikianlah keadaan para pelaku HOMOSEKSUAL apabila mereka diberi kebebasan berbuat fahisyah (perbuatan jorok), semacam homoseksual. Terlebih lagi, jika mereka diberi tempat dan jabatan, maka saat itulah pasti mereka akan menggalakkan dan melegalkan perbuatan maksiat ini, sebagaimana yang terjadi pada zaman Nabi Luth –alaihis salam-.

Di zaman Nabi Luth, pejuang LGBT yang melegalkan HOMOSEKSUAL melalui jalan pemaksaan dan sudah menjadi “peraturan umum” (kebiasaan) bahwa homoseksual adalah boleh dan kebutuhan biologis mereka. Bahkan mereka mengintai setiap ibnu sabil dan pejalan kaki (musafirin) yang berasal dari luar kota Sodom. Setiap pria asing yang melintasi wilayah mereka, mereka hadang untuk memuaskan nafsu birahi dan hewani mereka. Urat malu mereka sudah putus, sampai mereka melakukan hal itu di majelis dan pertemuan mereka.

Di Indonesia ini, tidak tertutup jalan suatu saat nanti akan terjadi pemandangan-pemandangan menjijikkan tersebut, bila homoseksual dilegalkan dan diberi tempat atau perlindungan. Belum diberi izin saja, mereka sudah merajalela dan menampakkan, penantangan mereka kepada serta kebengisan mereka.

Suatu hal aneh jika makhluk nyeleneh dan keluar dari fitrahnya tersebut, berdalih dengan HAM (Hak Asasi Manusia). Anggaplah kaum homo memiliki hak berbuat, tapi bukankah manusia lain memiliki untuk hidup tenang dari segala kejorokan dan perbuatan keji kalian; bukankah agama punya hak untuk dihormati, dimana agama melarang manusia dari perbuatan mesum ini?!

Kalau kaum homo merasa terganggu dan resah dengan tidak adanya tempat bagi mereka di hati masyarakat, dan tidak dilegalkannnya mereka secara hukum, maka ketahuilah bahwa masyarakat lebih resah dengan perbuatan jorok dan mesum kalian!!

Para pembaca yang budiman, dari ayat-ayat dan penjelasan di atas, nyatalah bagi kita bahwa wahyu Al-Qur’an melalui ayat-ayatnya menerangkan secara gamblang terlarang dan haramnya HOMOSEKSUAL ‘hubungan kelamin antara pria dengan pria’.

Adapun orang yang mata hatinya telah dibutakan oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala-, maka ayat-ayat suci tidak akan bermanfaat baginya, walaupun mata kepalanya melek dan terbuka terang. Akibat ia berpaling dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berisi peringatan dan petunjuk.

Inilah yang pernah Allah isyaratkan dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127) أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَى (128) [طه : 124 _ 128]

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan”.

Dan Demikianlah kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. dan Sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

Maka Tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Thooha : 124-128)

Footnote :

1 Nabi Luth a.s. merasa susah akan kedatangan utusan-utuaan Allah itu. Karena, mereka (para tamu) berupa pemuda yang rupawan. Sedangkan kaum Luth amat menyukai pemuda-pemuda yang rupawan untuk melakukan homoseksual. Sedang Luth merasa tidak sanggup melindungi mereka bilamana ada gangguan dari kaumnya.

2 Lebih suci dan baik untuk dinikahi menurut syariat.

3 Maksudnya: mereka tidak punya syahwat terhadap wanita.

4 orang-orang zalim itu, karena kezalimannya, mereka pasti mendapat siksa yang demikian.

5 Maksudnya, tamu pada umumnya dari kalangan manusia.

6 Lebih suci dan baik untuk dinikahi menurut syariat.

7 Maksudnya: mereka tidak punya syahwat terhadap wanita.

8 potongan Suroh Huud yang telah kita nukilkan di atas.

9 Sebahagian ahli tafsir mengartikan memutus jalan (“menyamun”) dengan melakukan perbuatan keji terhadap orang-orang yang dalam perjalanan. Karena mereka sebagian besar melakukan homoseksual itu dengan tamu-tamu yang datang ke kampung mereka. Ada lagi yang mengartikan memutus jalan (menyamun), dengan memutus jalan keturunan. Karena, dengan melakukan homoseksual itu, kaum laki-laki akan berpaling dari perempuan menuju kaum laki-laki, sehingga putuslah jalan keturunan. [Lihat Zaadul Masir (5/75) oleh Ibnul Jauziy]

Artikel di Kategori ini :

  1. Masjid vs Kuburan
  2. Jangan Buang BOM Sembarang Tempat !!!
  3. Dua Makhluk yang Terbesar
  4. Pusaka Dakwah Para Nabi
  5. AWAS GERAKAN PENYATUAN AGAMA !
  6. Makna Kalimat Tauhid Laa Ilaha illallah
  7. Pintu-pintu Kebahagiaan
  8. Kiamat 2012 ?
  9. “Indonesia Hari Ini”
  10. Beramal Karena Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *