Cinta Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dilihat 198 kali | Kirim Ke Teman

Ketika sebagian orang sibuk mempersiapkan maulid -hari yang dirayakan setiap tahun-, maka masjid-masjid dihiasi sedemikian rupa; telur-telur hias yang digantung di pohon-pohon pisang berbaris rapi di sudut-sudut masjid demi memeriahkan suasana maulid. Namun ketika ada yang bertanya, “Kenapa kalian merayakan maulid, hari lahir Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-? bukankah Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya tidak melakukannya?” Mereka jawab, “Ini adalah bukti cinta kami kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-” .

Benarkah mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dengan mengada-ada suatu ajaran dan perbuatan yang tak pernah dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dan para sahabatnya? Oleh karenanya, di kesempatan ini kami akan ulas tentang tinjauan syariat terhadap hakikat CINTA RASUL r , karena sebagian orang ada yang berdalih dengan cinta Rasul untuk membenarkan dan melegitimasi suatu ajaran baru yang tak ada contohnya dalam Islam, seperti perayaan Maulid, baca Barzanji, Perayaan Isra’ Mi’raj, Perayaan Tahun Baru Hijriyyah, dan sebagainya.

Mencintai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Namun dalam mencintai diperlukan bukti dan tanda nyata yang dapat dijadikan tolok ukur kebenaran pengakuan cinta kepada Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– . Sebab bila pengakuan tidak diwujudkan dengan bukti, maka apalah artinya sebuah pengakuan? Tidak semua orang yang mengaku cinta itu dianggap benar kecuali jika diwujudkan dengan bukti dalam kehidupan sehari-harinya.

Seorang Penyair pernah berkata,

Seandainya kecintaanmu itu benar, pastilah engkau akan mentaatinya.

Sesungguhnya orang yang mencintai itu, mentaati orang yang dicintai.

Seseorang tidaklah sempurna keimanannya sampai dia mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melebihi seluruh manusia. Allah –Ta’ala– berfirman,

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.(QS. At Taubah : 24)

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata, “Dalam ayat ini terdapat dalil tentang wajibnya mencintai Allah, dan Rasul-Nya; tak ada khilaf diantara umat dalam hal itu, dan bahwa hal itu (cinta Allah dan Rasul-Nya) lebih dikedepankan atas segala sesuatu yang dicintai”. [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (8/87)]

Lantas apa tandanya seorang dikatakan CINTA RASUL r ? Menjawab hal ini, Al-Imam Al-Qodhi Iyadh -rahimahullah- berkata, “Ketahuilah! orang yang mencintai seseorang, ia akan mengutamakannya dan mengutamakan kecocokan diri dengannya. Jika tidak, maka ia tidak benar di dalam kecintaannya dan  ia hanya sebagai orang yang mengaku-ngaku saja. Maka orang yang benar di dalam kencintaannya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang nampak darinya tanda-tanda tersebut. Yang pertama dari tanda-tanda itu adalah meneladani Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengamalkan sunnah-sunnahnya (ajaran-ajarannya), mengikuti perkataan dan perbuatannya, dan beradab dengan adab-adabnya, pada waktu susah dan mudah, pada waktu senang dan benci”.[Lihat Asy-syifa (2/22)]

Selain itu, diantara tanda cintanya seorang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dia harus mencintai sesuatu atau seseorang yang dicintai oleh beliau. Sebaliknya membenci sesuatu atau seseorang yang dibenci oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaliy -rahimahullah- berkata, “Barangsiapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan kejujuran dari hatinya, maka kecintaan itu menuntut dirinya untuk mencintai dengan hatinya sesuatu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya serta membenci sesuatu yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya; meridhoi sesuatu yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya, dan memurkai sesuatu yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka, serta beramal dengan anggota badannya berdasarkan konsekuensi cinta dan benci ini”. [Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam (hal.389)]

Seorang yang mencintai orang lain akan senantiasa mentaati kekasihnya, dan enggan mendurhakainya sebagaimana halnya mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Al-Imam Al-Ainiy Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata, “Ketahuilah bahwa mencintai Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah hendak melakukan ketaatan kepada beliau, dan tidak menyelisihinya. Cinta ini termasuk kewajiban dalam Islam”. [Lihat Umdah Al-Qori (1/144)]

Dengan demikian cinta kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengharuskan kita mencontoh dan bersikap sama dengan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam segala hal yang dicintai dan dibencinya. Kecintaan dan pengagungan dapat diwujudkan dengan hal berikut:

q Mencintai Beliau Melebihi  Kecintaan kepada Diri Sendiri, Keluarga, dan Seluruh Manusia.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)”. (QS. Al-Ahzab : 6)

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata dalam menafsiri ayat ini, “Sungguh Allah -Ta’ala- telah mengetahui perasaan sayang Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- atas umatnya, dan nasihat beliau kepada mereka. Lantaran itu, Allah menganggap beliau lebih utama bagi mereka dibanding diri mereka sendiri; hukum beliau lebih didahulukan atas pilihan mereka untuk diri mereka”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/617)]

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak akan beriman seorang hamba (dengan sempurna, pent.) sampai aku menjadi orang yang paling ia cintai dibandingkan keluarganya, hartanya, dan manusia seluruhnya”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (44)]

Membenarkan Semua yang Diberitakan oleh Nabi -Shollallahu ‘Alaihi Wasallam- dari Allah, Mentaati Beliau dalam Semua Perintahnya, dan Menjauhi Semua Larangannya, Serta Beramal Sesuai dengan Syariatnya.

Ini adalah sebagian diantara konsekuensi CINTA RASUL -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.  Seorang membenarkan beliau, mentaatinya, dan mengikuti sunnahnya.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’ : 64-65).

Al-Allamah Ahmad bin Abdil Halim Al-Harroniy -rahimahullah-  berkata, “Yang wajib bagi orang yang semisal mereka adalah mengetahui bahwa kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- hanya bisa terwujud dengan membenarkan seluruh berita beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dari Allah, mentaati perintah-perintah dan mencontoh beliau serta mencintai dan loyal kepadanya, tidak mendustakan ajaran beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan tidak berbuat syirik serta bersikap berlebihan terhadap beliau”.[Lihat Huququn Nabi (1/291)]

Ini juga merupakan konsekwensi dari persaksian syahadat “Asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu”. Syaikh Muhammad At-Tamimi dalam Kitabnya Al-Ushul Ats-Tsalatsah menjelaskan bahwa makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah mentaati beliau dalam semua perintahnya, membenarkan semua beritanya, dan menjauhi semua larangannya serta tidak beribadah kecuali dengan syari’atnya”. [Lihat Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal. 75) karya Al-Utsaimin]

Beriman dan Membenarkan Kenabian, dan Kerasulan serta Seluruh Ajaran Beliau -Shollallahu ‘Alaihi Wasallam-, lalu Melaksanakan Kewajiban dengan Segenap Kemampuannya berupa Ketaatan, Ketundukan kepada Perintahnya, dan Meneladani Sunnahnya.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa saja yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (QS. Al-Hasyr: 7)

Jadi, seorang mukmin harus membenarkan dan mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dalam segala urusan yang beliau bawa, baik sesuai dengan perasaan atau tidak; cocok dengan akal atau tidak !! Intinya, seorang taat kepada perintah beliau, dan tidak durhaka kepadanya.

Seusai kita mengetahui makna dan konsekuensi CINTA RASUL -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka jelas dan gamblang bagi kita bahwa mencintai beliau dengan mengikuti Sunnahnya, bukan dengan mengaada-adakan ajaran baru yang tak ada contohnya dari beliau. Oleh karenanya, seorang tak boleh berdalih CINTA RASUL -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam melegitimasi dan membenarkan acara ritual baca BARAZANJI (kitab sholawat & sejarah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), sebab di dalamnya terdapat perkara yang menyelisihi Sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berupa ghuluw (keterlaluan) dalam memuji Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahkan mengandung kesyirikan.

Oleh karena itu, kami sesalkan munculnya sebuah buku yang berjudul “Pembacaan Barazanji Menurut Syari’at Islam” dikarang oleh Aminuddin HM. Penulis buku ini berusaha membenarkan acara ritual pembacaan Barazanji dengan dalih CINTA RASUL -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Padahal mencintai beliau bukanlah dengan menambahi agamanya dan mengada-ada suatu tuntunan agama yang tak ada petunjuknya dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– .

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ)

“Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya, maka ia (perkara) itu tertolak”. [HR. Al-Bukhoriy (2697), dan Muslim (1718)]

Serupa dengan masalah Barazanji, ada sebagian orang juga berusaha membenarkan ajaran perayaan Maulid, Isra’ Mi’raj, Tahun Baru Hijriyyah, Nuzulul Qur’an, dan lainnya dengan dalih CINTA RASUL -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Jika demikian dalihnya, maka hancurlah agama ini. Semua orang akan menciptakan dan menyusupkan ajaran dan tuntunan yang dibuatnya ke dalam ajaran Islam dengan dalih dan alasan, “Ini kan CINTA RASUL -Shollallahu ‘alaihi wasallam-“.

Ketika kami mengingkari kitab Barazanji, karena menyelisihi Sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka seorang jangan menganggap bahwa kami melarang orang bersholawat, sebab isi kitab itu adalah sholawat kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-!! Silakan bersholawat sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya, tanpa harus berpedoman dengan kitab Barazanji, karena kitab itu mengandung kekeliruan yang prinsipil. Selain itu, kitab ini sudah disakralkan oleh sebagian kaum muslimin melebihi Al-Qur’an dan Hadits, seperti ada diantara mereka yang menghafalnya, mewajibkan orang membacanya dalam setiap acara penting, menganggap aib jika orang tak membacanya atau menghafalnya. Bahkan ada yang menganggap bahwa amalan tak sah dan tak berkah jika tak dibacakan Barazanji di dalamnya. Sungguh semua ini adalah mengada-ada atas Allah -Azza wa Jalla-.

Cara bersholawat telah lama diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, baik dalam sholat maupun di luar sholat. Jika anda mau melihat contoh sholawat-sholawat yang sunnah, maka merujuklah kepada kitab-kitab hadits, seperti Kutubus Sittah. [Lihat Shifah Sholah An-Nabiyyi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- (hal.161-177) karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy, cet. Maktabah Al-Ma’arif, 1417 H]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Berlindung kepada Makhluk Halus
  2. Menyingkap Kebatilan Teori Darwin
  3. Al-Qur’an Kalamullah, bukan Makhluk !!
  4. Kerinduan yang Tak Terbendung
  5. Surat Syaikh Al Albani kepada Pemuda FIS (Tentang Pemilu dan Parlemen)
  6. Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid
  7. Ikhlas 40 Hari
  8. Penyakit Menular dan Tathoyyur Apa Betul Ada ?
  9. Dimana Allah?
  10. Benteng Menghadapi Gelombang Syubhat Nabi Palsu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *