Benteng Menghadapi Gelombang Syubhat Nabi Palsu

Dilihat 1,092 kali | Kirim Ke Teman

Syubhat, dan pengaruh senantiasa berhembus ke arah kaum muslimin, baik mereka rasakan atau tidak. Syubhat, dan pengaruh yang berusaha memporakporandakan agama dan aqidah kaum muslimin bagaikan angin yang bertiup, terkadang keras, dan juga terkadang lemah. Disinilah seorang muslim membutuhkan benteng pertahanan menghadapi syubhat, dan pengaruh yang menyerang aqidahnya.

Allah -Ta’ala-, dan Rasul-Nya telah membimbing kita membuat benteng pertahanan menghadapi segala gelombang syubhat. Kini kaum muslimin diserang syubhat para pendusta yang mengaku nabi, dan konco-konconya. Namun kaum muslimin tak perlu bersedih, cukup ia membangun benteng-benteng pertahanan dengan melakukan, dan mengetahui perkara berikut,

  • Tertutupnya Pintu Kenabian

Benteng pertama yang harus dimiliki oleh kaum muslimin adalah meyakini bahwa pintu kenabian setelah diutusnya Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- terlah tertutup; tak ada lagi nabi setelah beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Ini berdasarkan banyak dalil dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Diantara dalil-dalil itu, firman Allah -Ta’ala-,

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS.Al-Ahzab : 40)

Al-Allamah Ibnu Nujaim Al-Hanafiy-rahimahullah- berkata, "Jika seseorang tak mengetahui bahwa Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah nabi yang paling akhir, maka ia bukan muslim, karena perkara seperti ini adalah termasuk perkara pasti (jelas)".[Lihat Al-Asybah wa An-Nazho’ir (192), cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِيْ الَّذِيْ يُمْحَى بِيْ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِيْ وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِيْ لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

"Aku adalah Muhammad; aku adalah Ahmad; aku adalah Penghapus yang denganku kekafiran dihapuskan; Aku adalah Pengumpul yang manusia dikumpulkan di belakangku; Aku adalah Pengggant; Pengganti yang tak ada lagi nabi setelahnya". [ HR. Al-Bukhoriy (3339 & 4614), Muslim (2354), At-Tirmidziy (2840), dan Ahmad (16780) ]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وَلَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِيْ بِالْمُشْرِكِيْنَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِيْ الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِيْ كَذَّابُوْنَ ثَلَاثُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لَا نَبِيَّ بَعْدِيْ

"Tak akan tegak hari kiamat sampai ada beberapa kabilah diantara ummatku akan bergabung dengan orang-orang musyrikin; sampai ada beberapa kabilah diantara ummatku akan menyembah berhala. Sesungguhnya akan ada di antara ummatku 30 tukang dusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah nabi. Akulah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahku". [HR. Abu Dawud (4253), At-Tirmidziy (2219), Ahmad (22448), Ibnu Hibban (7238), Al-Hakim (8390), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8397), dan Musnad Asy-Syamiyyin (2690),Abu Nu’aim (2/289), dan Asy-Syaibaniy dalam Al-Ahad wa Al-Matsaniy (456). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (5406)]

Kekafiran orang-orang yang mengaku nabi, dan juga orang-orang yang membenarkannya, sudah disepakati oleh para ulama kita.

Al-Allamah Ali Al-Qoriy-rahimahullah- berkata, "Pengakuan kenabian setelah Nabi kita -Shollallahu ‘alaihi wasallam- merupakan kekafiran menurut ijma’ ".[Lihat Syarh Al-Fiqh Al-Akbar (hal.244), cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]

  • Sempurnanya Syari’at Islam

Agama Islam ini tak butuh kepada nabi baru yang akan menyempurnakannnya dengan memberinya tambahan, pengurangan, dan ralat, sebab agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah sempurna, tidak butuh kepada penyempunaan, baik itu penambahan, maupun pengurangan.

"P ada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu". (QS. Al-Maa’idah: 3 )

Seorang Ulama’ Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Abul Fida` Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Ini adalah karunia Allah -Ta’ala- yang paling besar terhadap umat ini, di saat Allah telah menyempurnakan agama bagi mereka, maka mereka pun tidak butuh lagi kepada agama yang lain dan tidak kepada nabi yang lain, selain Nabi mereka -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Dia telah mengutus beliau kepada bangsa manusia dan jin. Jadi, tidak ada perkara yang halal, selain yang beliau halalkan dan tidak ada perkara yang haram selain yang dia haramkan, serta tidak ada ajaran agama selain yang dia syariatkan. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/14) cet. Darul Ma’rifah]

Banyak sekali dalil yang menjelaskan bahwa agama kita telah sempurna, tidak lagi butuh kepada seorang nabi, dan tidak pula kepada kitab dan ajaran yang dibawanya. Karenanya kita hanya diperintah untuk beriman kepada Al-Qur’an yang telah mencakup, dan menyempunakan kitab-kitab yang terdahulu sebelumnya.

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya". (QS. An-Nisaa’: 136 ).

As’ad bin Muhammad Ath-Thoyyib-hafizhahullah- berkata, "Jadi, Allah dalam ayat ini hanyalah menuntut para hamba-Nya yang beriman agar beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, dan tidak menuntut mereka agar beriman kepada kitab-kitab lain yang akan datang". [Lihat Al-Mutanabbi’un (hal. 10), cet. Dar Ibnu Hazm & Al-Maktabah Al-Makkiyyah]

Jadi, kita tak butuh lagi kepada kitab-kitab palsu yang dibuat oleh para dajjal-dajjal pendusta yang telah lancang atas nama Allah, dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Namun ketahuilah bahwa sesuatu yang dibangun di atas kedustaan, semuanya akan hancur sebagaimana yang telah terbukti dalam perjalanan sejarah.

  • Membekali diri dengan Ilmu dari Al-Qur’an, dan Sunnah

Jika seorang ingin selamat dunia dan akhirat, maka hendaknya ia membekali diri dengan ilmu yang bermamfaat, yaitu ilmu Al-Qur’an, dan Sunnah, lalu berusaha untuk diamalkan, baik dalam hati kita maupun pada anggota badan kita.

Tak heran jika Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلىَ الْجَنَّةِ

"Barang siapa yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu di dalamnya, niscaya Allah akan mudahkan baginya karena hal itu jalan menuju surga". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2699)]

Ilmu ini akan menjelaskan kepada kita tentang perkara-perkara yang berbahaya, sesat, haram, kafir, dan menjerumuskan ke dalam neraka. Ilmu juga akan menerangkan jalan-jalan, amal sholeh, keyakinan, keimanan benar yang bisa mendekatkan, bahkan ,memasukkan kita ke surga.

Ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah akan menjadi benteng kokoh dalam menghadapi segala bentuk gelombang, dan serangan aqidah sesat lagi kafir. Inilah rahasianya seorang pemuda di akhir zaman nanti akan kokoh di atas agamanya, karena ia membentengi dirinya dengan ilmu wahyu. Dia tak ragu tentang kebatilan Dajjal Pendusta, bahkan ia dengan berani menyatakan kepada Dajjal dan pengikutnya,

فَإِذَا رَآهُ الْمُؤْمِنُ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَذَا الدَّجَّالُ الَّذِيْ ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Jika Dajjal telah dilihat (dijumpai) oleh Pemuda mukmin ini, maka ia berkata, "Wahai manusia, inilah Dajjal yang pernah disebutkan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2938)]

Syaikh Salim Ied Al-Hilaliyhafizhahullah– berkata ketika men-syarah hadits ini, "Seorang muslim hendaknya mengambil cahaya (petunjuk) ketika terjadinya masalah-masalah dari hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka ia akan sanggup mengenali Dajjal dengan sifat-sifatnya yang tersebut dalam Sunnah yang shohih".[Lihat Bahjah An-Nazhirin (3/288)]

Seorang tak mungkin akan mengetahui bahwa si fulan di atas kebatilan, kecuali ia menuntut ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Jika tidak bisa, maka bertanyalah kepada ulama’, dan ustadz yang pernah mempelajari keduanya dengan benar.

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui". (QS. An-Nahl : 43 ).

  • Memberikan Peringatan Keras Bahayanya Golongan Sesat itu

Diantara bentuk usaha dan jasa para ulama’ Ahlus Sunnah dalam menjaga dan membentengi ummat dari segala macam kesesatan, dan kekafiran, mereka berdiri dengan gagah dan kokoh di atas bimbingan Allah, dan Rasul-nya dalam memberikan peringatan keras bagi ummat dari sesatnya atau kafirnya suatu person atau kelompok. Usaha mereka ini bisa kita lihat torehan sejarahnya dalam kitab-kitab hadits, khususnya masalah aqidah. Maka muncullah disana kitab-kitab bantahan atas pelaku kesesatan, seperti kitab Ar-Rodd ala Az-Zanadiqoh wa Al-Jahmiyyah karya Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Ar-Rodd ala Man Yaqul Al-Qur’an Makhluq karya Ahmad bin Sulaiman An-Najjad, Ar-Rodd ala Bisyr Al-Marisy karya Imam Ad-Darimi, Al-Haidah karya Abdul Aziz Al-Kinany, Al-Bida’ wa An-Nahyu Anha karya Ibnu Wadhdhoh, Al-Hawadits wa Al-Bida’ karya Abu Bakr Ath-Thurthusyi, Al-Ba’its ala Inkar Al-Bida’ wa Al-Hawadits karya Abu Syamah Al-Maqdisy, Al-Madkhol karya Ibnul Hajj, Talbis Iblis karya Ibnul Jauzy,Al-I’tishom karya Asy-Syathibi,Minhaj As-sunnah, Ar-Rodd ala Al-Akhna’i& Ar-Rodd ala Al-Bakry karya Syaikul Islam, Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah ala Ghozwi Al-Mu’aththilah wa Al-Jahmiyyahkarya Ibnul Qoyyim, Al-‘Awashim mimmah fi Kutub Sayyid Qutb min Al-Qowashim karya Syaikh Robi’ –hafizhohumullah-, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Memberikan peringatan sesatnya suatu kelompok , baik dalam bentuk ceramah, maupun tulisan, itu bukanlah ghibah yang diharamkan. Boleh menyebutkan kesesatan seseorang, dan penyimpangannya di depan orang banyak.

Ibrahim An-Nakho’iy-rahimahullah- berkata, "Tak ada ghibah bagi pelaku bid’ah (ajaran baru)". [Lihat Sunan Ad-Darimiy (394)]

Muhammad bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjaniy-rahimahullah- berkata, "Aku berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, "Sungguh amat berat aku bilang, "si Fulan orangnya lemah, si fulan pendusta".Imam Ahmad berkata, "Jika kau diam, dan aku juga diam, maka siapakah yang akan memberitahukan seorang yang jahil bahwa ini yang benar, dan ini yang sakit (salah)". [Lihat Thobaqot Al-Hanabilah (1/287)]

Inilah beberapa benteng yang harus dibangun oleh setiap muslim dalam menghadapi segala gelombang dan serangan para da’I kesesatan, dan kekafiran, Sebenarnya masih ada beberapa benteng yang kami belum sempat sebutkan disini, karena sempitnya tempat. Semoga yang sedikit ini banyak mamfaat.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 45 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Artikel di Kategori ini :

  1. Jum’at Hajinya Orang Fakir
  2. Nasehat buat Para Camat
  3. Pendusta Ulung
  4. Bahaya Riya’ dan Sum’ah
  5. Jangan Buang Bom Sembarang Tempat!!!
  6. Mendulang Pahala di Pagi Buta
  7. Membongkar Kesesatan Doraemon Cs
  8. Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid
  9. Hiburan bagi yang Dilanda Kemiskinan
  10. Laksana Bulan dan Bintang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *