Bahaya Riya’ dan Sum’ah

Dilihat 611 kali | Kirim Ke Teman

Para pembaca yang budiman, di edisi kali ini buletin mungil At-Tauhid mencoba mengangkat rubrik baru yang tak kalah pentingnya dengan rubrik-rubrik lainnya, yaitu rubrik “Syarah Hadits”. Syarah Hadits akan menjelaskan kepada anda tentang makna dari hadits-hadits Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– beserta mutiara hikmah dan faedah yang terkandung di dalamnya. Syarah Hadits merupakan tafsiran bagi hadits-hadits nabawiyyah. Jika disana ada tafsir Al-Qur’an, nah disana juga ada tafsir hadits. Itulah Syarah Hadits.

  • Nash Hadits

Hadits perdana yang kami akan angkat adalah hadits masyhur berikut:

 

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama akan dibereskan urusannya di Hari Kiamat adalah : (1)Orang yang mati (dianggap) syahid. Kemudian ia dihadapkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab, “Aku telah berperang karena-Mu sehingga aku mati syahid”. Dia berfirman, “Engkau dusta! Akan tetapi engkau (sebenarnya) berperang agar dikatakan ’Pemberani’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di ats wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka.

(2)Orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan membaca (baca: mempelajari) Al-Qur’an. Lalu iapun didatangkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab, “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an karena Engkau”. Dia berfirman, “Engkau dusta! Akan tetapi engkau menuntut ilmu, dan mengajarkannya agar digelari ‘Ulama’. Engkau membaca Al-Qur’an pun agar disebut ‘ Qori’’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di atas wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka.

(3)Orang yang Allah luaskan jalan rezeki baginya dan diberikan seluruh jenis harta. Lalu iapun di datangkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab, “Aku tidaklah meninggalkan suatu jalanpun yang Engkau suka untuk disumbang, kecuali aku berinfaq (menyumbang) di dalamnya karena Engkau. Dia berfirman, “Engkau dusta! Akan tetapi engkau lakukan semua itu agar disebut ‘Dermawan’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di ats wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka”.

  • Takhrij Hadits

Ini adalah hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Kitab Al-Jihad (4900), An-Nasa’iy dalam Kitab Al-Jihad (3137), Ahmad dalam Al-Musnad (2/322), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (Kitab Al-Jihad, no. 2478 dan Kitab Al-Ilmi, no. 335), dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (9/168). Semuanya dari jalur Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah. Semua rowi-rowinya dari Sulaiman bin Yasar adalah tsiqoh. Hanya saja Ibnu Juraij mudallis. Tapi illah tadlis-nya sudah aman, karena ia meriwayatkannya dengan shighoh tahdits seperti dalam riwayat Muslim, dan lainnya. [Lihat Tuhfah Al-Asyrof (no. 13482)]

  • Riya, Dosa yang Paling Menakutkan

Riya’ (الرِّيَاءُ) adalah termasuk dosa yang paling menakutkan di sisi Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dan para sahabatnya. Mereka sangat menjaga amal ibadah mereka dari penyakit riya’, dan mereka berusaha meng-ikhlash-kan (memurnikan) ibadah mereka dari penyakit-penyakit hati, seperti riya’, dan sum’ah (السُّمْعَةُ).

Riya’ adalah seseorang melakukan suatu ibadah dan ketaatan, karena ingin dilihat orang lain. Sedangkan sum’ah adalah seseorang melakukan suatu ibadah atau ketaatan, karena ingin didengarkan oleh orang lain. Keduanya (yakni, riya’ dan sum’ah) dilakukan oleh seseorang agar ia mendapatkan pujian, dan kedudukan di mata manusia.

Dosa riya’ ini amat menakutkan di sisi Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dan para sahabatnya, karena ia termasuka kesyirikan dalam beribadah kepada Allah –Azza wa Jalla-.

Mahmud bin Labid –radhiyallahu anhu– berkata, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ: الرِّيَاءُ, إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا, فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil”. Mereka berkata,”Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Beliau bersabda, “Dia adalah riya’. Sesungguhnya Allah -Tabaroka wa Ta’ala- akan berfirman pada hari para hamba diberi balasan berdasarkan amal-amal mereka, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian dahulu berbuat riya’ dengan amalan-amalan kalian di hadapan mereka ketika di dunia. Perhatikanlah, apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/428, dan 5/429). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 1555) dan Ash-Shohihah (no. 915)]

Syaikh Abdur Rahman Ibn Hasan At-Tamimiyrahimahullah– berkata, “Apabila Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menakutkan riya’ atas para sahabatnya yang telah mentauhidkan Allah dalam beribadah, mengharap kepada Allah dan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka berupa ketaatan kepadanya, lalu mereka berhijrah dan berjihad melawan orang-orang yang kafir kepada Allah; mereka (sahabat) telah mengenal apa yang didakwahkan oleh Nabi mereka, dan sesuatu yang diturunkan oleh Allah dalam Kitab-Nya berupa keikhlasan, dan berlepas diri dari syirik. Maka bagaimankah seorang yang tidak ada bandingannya dengan para sahabat dalam perkara ilmu dan amal; kok tidak merasa takut kepada dosa syirik yang lebih besar daripada riya’?!!” [Lihat Qurroh Uyun Al-Muwahhidin (hal. 33), cet. Dar Ash-Shumai’iy, 1420 H]

Jadi, riya’ adalah dosa yang amat menakutkan di sisi Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dan para sahabatnya. Kenapa mereka takut kepada riya’ ? Jawabannya nanti kalian akan dapatkan dalam tulisan ini.

  • Sum’ah dan Riya’ akan Menghancurkan Amal Ibadah

Diantara bahaya seorang yang tidak ikhlash dalam beribadah alias berbuat riya’ atau sum’ah, amalannya akan hancur dan tak ada nilainya di sisi Allah –Azza wa Jalla-. Amalannya akan menjadi sesuatu seperti fatamorgana atau debu yang beterbangan.

Allah –Ta’ala– berfirman,

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (QS. Al-Furqon : 23)

Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa jika amalan tidak ikhlash, maka amalan itu akan hancur, tak ada nilainnya di sisi Allah. Cukuplah hal ini menjadi kerugian besar bagi orang-orang yang riya’ dalam beramal. Tak ada yang didapatkan, selain capek!!

Al-Hafizh Ibnu Katsirrahimahullah– berkata saat menafsirkan ayat ini, “Setiap amalan yang tidak ikhlash, dan tidak pula di atas syari’at yang diridhoi, maka amalan itu batil (hancur)”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/103)]

Kerugian dan penyesalan terasa semakin berat bagi orang-orang yang tidak ikhlash alias riya’ dalam amalan dan ibadahnya, ketika ia menghadap kepada Allah Robbul alamin, lalu Allah hancurkan amal ibadahnya. Dia menyangka bahwa dirinya telah berbuat baik di dunia, ternyata ia telah berbuat buruk (yakni, riya’ yang telah meluluhlantahkan amal-amal sholehnya). Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

“Katakanlah, “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS. Al-Kahfi : 103-104)

Orang-orang riya’ telah menyangka dirinya telah berbuat baik dan beramal sholeh. Tapi ternyata itu hanyalah sekedar sangkaan batil belaka.

  • Bentuk-bentuk Riya’

Para pembaca yang budiman, riya’ jika menyerang amal ibadah, maka ia akan merusaknya. Riya’ bagaikan virus penyakit yang menyerang jasad manusia. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bahwa riya’ dapat berkaitan dengan jihad, ilmu, dan infaq atau segala amalan sholeh yang dikerjakan oleh seorang hamba.

Ketika Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– berjihad bersama para sahabatnya, maka ada seseorang yang amat hebat berjihad, tiada taranya sampai ada sebagian sahabat memujinya dan menyangkanya sebagai “asy-syahid” (mati syahid). Namun sangkaan itu ditepis oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– dan menyatakan sebaliknya bahwa ia termasuk penduduk neraka. Lalu ada seorang sahabat yang memeriksa kondisi orang itu. Ternyata orang yang disangka mati syahid itu bunuh diri. Setelah itu Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sesungguhnya seseorang terkadang melakukan amalan penduduk surga sebagaimana yang nampak bagi manusia, sedang ia sebenarnya termasuk penduduk neraka. Sesungguhnya seseorang terkadang melakukan amalan penduduk neraka sebagaimana yang nampak bagi manusia, sedang ia sebenarnya termasuk penduduk surga”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Jihad wa As-Siyar (no. 2898)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah– berkata saat menjelaskan hadits ini, “Sungguh telah nampak dari orang itu (yang disangka mati syahid) bahwa ia tidaklah berperang karena Allah. Dia hanya berperang karena marah demi membela kaumnya. Lantaran itu, tak boleh dinyatakan bagi setiap orang yang terbunuh di medan jihad bahwa ia adalah asy-syahid, karena kemungkinan adanya kesamaan dengan orang ini”. [Lihat Fath Al-Bari (6/111), cet. Dar As-Salam]

Jadi, terkadang seseorang melakukan amalan penduduk surga pada lahiriahnya. Tapi ternyata ia tidak ikhlash. Sebaliknya, terkadang seseorang melakukan amalan penduduk neraka. Tapi ternyata ia setelah itu bertobat sehingga ia termasuk penduduk surga.

Seorang penuntut ilmu agama pun tak boleh merasa aman dari penyakit riya’. Riya’ sering kali menyerang seorang yang memiliki ilmu.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu karena mau menandingi para ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan memalingkan pandangan manusia kepada dirinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”. [HR. At-Tirmidziy dalam Kitab Al-Ilm (no. 2654). Di-shohih-kan oleh Al-Imam Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (1/153/no. 106)]

Al-Imam Abul Hasan As-Sindiyrahimahullah– berkata dalam Al-Hasyiyah ala Ibni Majah (1/236), “Maksudnya, dengan ilmunya dia meniatkan untuk meraih harta, kedudukan, dan memalingkan wajah manusia (orang-orang awam) serta menjadikan mereka seperti budaknya atau menjadikan mereka orang-orang yang memandang (tertegun), bila ia berbicara. Maka orang takjub, bila ia berkata-kata. Orang-orang akan berkumpul di sekitarnya, bila ia duduk”.

Riya’ juga dapat menyerang kaum muhsinin (para dermawan). Inilah yang diingatkan oleh Allah –Azza wa Jalla– dalam firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Baqoroh : 264)

Al-Imam Abul Faroj Ibnul Jauziyrahimahullah– berkata menafsirkan ayat ini, “Maksudnya, janganlah kalian menggugurkan pahala sedekah kalian sebagaimana telah hancurnya pahala sedekahnya orang yang riya’, yaitu orang yang tak beriman kepada Allah (yakni, orang munafiq)”. [Lihat Zaadul Masir (1/273)]

Demikianlah seyogyanya seorang muslim; ia menjaga amalannya dari penyakit riya’ yang akan menggerogoti amal ibadahnya, bahkan boleh jadi imannya sebagaimana yang terjadi pada diri orang-orang munafiq; tak ada amalan mereka, melainkan riya telah menghancurkannya!!!

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Tags:, ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Apakah Sekedar Mengucapkan Syahadah itu Sudah Termasuk Muslim ???
  2. Bahaya SMS
  3. Al-Qur’an Kalamullah, bukan Makhluk !!
  4. Manisnya Keutamaan Tauhid
  5. Ketika Islam Dikambinghitamkan
  6. Potret Ummat di Akhir Zaman
  7. Beberapa Penafsiran Batil Dari Kalimat Tauhid “Laa Ilaaha Illallah“
  8. Perselisihan Umatku adalah Rahmat
  9. Hiburan bagi yang Dilanda Kemiskinan
  10. Pintu Taubat Masih Terbuka

One Response to Bahaya Riya’ dan Sum’ah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *