Jaring-jaring Materialisme Kehidupan

Dilihat 457 kali | Kirim Ke Teman

Kita melihat sebagian besar manusia memandang bahwa materi sebagai suatu ukuran mulia atau tidaknya seseorang. Tidak diragukan bahwa dunia ini pasti akan berakhir dan setiap orang akan mempertanggungjawabkan apa yang telah  ia lakukan di dunia. Ketika manusia dikembalikan kepada kehidupan akhirat, maka manusia akan menempati satu diantara dua tempat yaitu surga atau neraka.

Apabila seseorang dimasukkan ke surga, maka itulah keberuntungan yang sangat besar. Apabila ia dimasukkan ke dalam neraka, maka itulah keburukan yang sangat buruk. Karena ia akan merasakan berbagai macam siksaan yang tak pernah ia rasakan di dunia. Walaupun waktu di dunia, ia memiliki harta yang banyak dan jabatan yang tinggi, namun ia tetap durhaka dan bermaksiat kepada Allah, maka harta dan jabatan itu tak akan bermanfaat sedikitpun baginya.

Jabatan dan harta hanyalah bunga-bunga kehidupan dunia yang sering melalaikan manusia, lalu memperbudaknya. Apa yang dituntut oleh dunianya, maka ia siap mengorbankan segalanya, tanpa memperhatikan halal-haram dan keridhoan Allah. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning. Kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada siksa yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al-Hadid : 20).

Banyak manusia yang tertipu dan tergiur dengan indahnya kehidupan duniawi yang membuat mereka lupa untuk mengingat Allah. Sehingga mereka menjadikan orang-orang yang memiliki jabatan dan harta sebagai standar kesuksesan seseorang, serta bangga jika anak mereka memiliki jabatan, walaupun jahil (tidak mengetahui) agama mereka. Akibatnya, mereka merendahkan orang-orang yang mempelajari agama Allah, dengan dalih bahwa orang yang belajar agama tidak memiliki peluang untuk meraih harta dan jabatan setinggi-tingginya. Padahal tidak mesti demikian!!

Ketahuilah, harta dan jabatan bukanlah ukuran mulianya seseorang. Barometer dan ukuran mulia tidaknya seseorang di sisi Allah Robbul alamin adalah ketaqwaan seseorang kepada-Nya. Sedang ketaqwaan tak mungkin akan diraih, kecuali dengan ilmu syar’i. Allah  berfirman,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujuraat : 13)

Al-Hafizh Ibnu Katsirrahimahullah– berkata, “Maksudnya, kalian hanyalah utama di sisi Allah dengan ketaqwaan, bukan karena kedudukan”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (7/386)]

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifariy –radhiyallahu anhu-,

عَنْ أَبِي ذَرّ ٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى

“Perhatikanlah, sesungguhnya engkau tidaklah lebih baik dibandingkan orang yang berkulit merah, dan tidak pula berkulit hitam, kecuali engkau mengunggulinya dengan ketaqwaan”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/158/no. 20898). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Marom (no. 308)]

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– juga bersabda,

لَيْسَ لأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلاَّ بِدِيْنٍ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ

“Tak ada suatu keutamaan bagi seseorang atas yang lainnya, kecuali dengan agama atau amal sholih”. [HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami’ (hal. 6). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1038)]

Barometer berhasil tidaknya seseorang, beruntung tidaknya seseorang, semuanya bermuara kepada ketaqwaan seseorang kepada Allah, bukan ukurannya kembali kepada banyaknya harta, dan tingginya jabatan. Justru harta dan jabatan itulah sering menjadi beban bagi seseorang di hari kiamat kelak.  Allah –Subhana Wa Ta’ala– berfirman,

“Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At-Takatsur : 8)

Oleh karena itu, Allah tidak memandang kepada harta dan jabatanmu. Allah hanya memandang hati kita yang tunduk dan takut kepada Allah, lalu melahirkan amalan-amalan sholih.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk wajah dan harta kalian ,tapi Allah memandang hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab (no. 6489)]

Ketika manuasia berlomba-lomba mencari dunia, demi mendapatkan harta dan jabatan walaupun dengan cara yang haram. Selain itu, banyaknya wanita karier yang keluar dari peraduannya yang mulia menuju ke kantor-kantor dan mall-mall demi memperoleh dunianya, walaupun mereka harus ber-ikhtilath (campur baur) dengan kaum Adam, bahkan terkadang siap mengikis rasa malunya dengan berpakaian mini lagi ketat. Padahal Allah memerintahkan para wanita untuk tetap tinggal di rumah-rumah mereka demi memelihara harga diri dan kesuciannya sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…”. (QS. Al-Ahdzab : 33)

Celakanya lagi, banyak diantara para penghamba dunia, rela mengorbankan agamanya demi meraih secuil dari perhiasan kehidupan dunia yang fana ini. Lihat saja ketika waktu-waktu sholat fardhu, tetap saja sibuk dengan harta dan jabatan yang akan menghinakannya di depan Allah

Pembaca yang jenius, Allah memang telah menjadikan dunia ini berupa perhiasan yang disegerakan (seperti, harta, kedudukan, kekuasaan, dan lainnya) untuk menguji dan membedakan orang yang bersyukur dan orang yang sombong. Inilah yang disinyalir Rasulullah  -Shallallahu alaihi wa sallam– dalam sabdanya,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat mempunyai fitnah (ujian), sedang fitnah (ujian)nya umatku adalah harta” [HR. At-Tirmidziy dalam Kitab Az-Zuhd (no 2336)]

Al-Allamah Al-Mubarokfuriyrahimahullah– berkata menjelaskan makna hadits ini, “Maksudnya, lalai karena harta, sebab harta menyibukkan pikiran dari melakukan ketaatan, dan membuat kita lupa tentang akhirat”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/121)]

Di sisi lain, Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim :6).

Burhanuddin Al-Biqo’iyrahimahullah– berkata dalam Nazhm Ad-Duror (9/78), “Tatkala seorang manusia adalah pemimpin bagi rumah tangganya, penanggung jawab bagi bawahannya, maka Allah berfirman, “…dan keluargamu…” berupa istri-istri, dan anak-anak, serta semua yang masuk dalam kategori keluarga. Lindungilah mereka dari neraka dengan memberikan nasihat, dan pendidikan agar mereka berhias dengan akhlaq keluarga Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-“.

Allah memerintahkan kita untuk menyelamatkan diri dan keluarga kita dari api neraka, bukan semata untuk mengejar dunia agar mendapatkan harta dan jabatan yang tinggi. Karena harta dan jabatan tidak akan dibawa mati, namun dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah -Azza Wa Jalla-, dan jalan untuk memperbanyak amal sholih.

Pembaca yang budiman, bagaimana mungkin seseorang menjadi orang yang shalih, yang dapat menyelamatkan diri dan keluarganya dari api neraka, sementara dia tidak menunaikan shalat dan tidak mengetahui atau mengilmui mana yang halal dan mana yang haram??!

Di sisi lain, mereka penuhi hidupnya dengan kesenangan  dan angan-angan kosong, maka Allah membiarkan mereka terus berpaling. Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr : 3)

Banyak orang yang ingin menggapai bulan dan ingin memeluk gunung, namun apa daya tangan tak sampai. Kemuliaan bukan dilihat  dari banyaknya harta dan tingginya jabatan. Namun kemulian diperoleh dengan ketaqwaan. Sedang ketaqwaan tak mungkin akan diperoleh, kecuali dengan ilmu agama. Hanya diperoleh dengan baik jika dilandasi dengan ilmu.

Oleh karenanya, wajib bagi setiap muslim mempelajari agama Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah (hadits). Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– memuji orang-orang yang mempelajari agama Allah dan mengamalkannya, walaupun mereka tidak memiliki harta dan jabatan dalam sabdanya,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fadho’il Al-Qur’an (no. 5027)]

Mengapa demikian? Sebab seseorang dengan ilmu agamanya akan dapat membedakan antara yang haram dan halal; antara yang wajib, sunnah, mubah, dan haram; antara yang baik dan buruk. Jika baik, maka ia kerjakan berdasarkan ilmunya. Bila buruk, maka ia tinggalkan berdasarkan ilmunya.

Jika seseorang memiliki ilmu agama, maka kehidupannya akan teratur sesuai ridho Allah. Adapun jika seseorang tak memiliki ilmu atau menjauh dari ilmu agama, bahkan terkadang benci kepada kaum agamawan, maka kehidupannya akan diwarnai dengan kekacauan, tabrak sana tabrak sini. Dia ibaratnya hewan yang tak dapat membedakan yang baik dengan yang buruk, yang penting puas dan kenyang!! Kehidupan manusia seperti ini yang tak lagi mengenal halal-haram, hakikatnya lebih buruk dibandingkan hewan, sebab manusia diberi akal, namun tak difungsikan sebagaimana mestinya.

Inilah rahasianya Allah membangga-banggakan orang yang meluangkan waktu untuk mempelajari dan mengkaji Al-Qur’an yang berisi ilmu agama kepada para ulama dan orang-orang berilmu. Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

وَمَا اْجتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتِ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَ يَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ اْلسَكِيْنَةُ وَ غَشِيَتْهُمْ اْلرَّحْمَةُ وَ حَفَّتْهُمُ اْلمَلاَئِكَةُ وَ ذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْ مَنْ عِنْدَهُ ،

Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an, dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali sakinah (ketenangan) akan turun atas mereka, diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2699)]

Oleh karenanya, seorang muslim amat tidak layak ketika ia merendahkan saudaranya yang meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu, bahkan membenci, dan memusuhinya. Orang yang dimuliakan oleh Allah, harus kita muliakan, tak boleh kita hinakan!! Bahkan kita harus membantunya dengan tenaga, harta, dan pikiran. Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujadilah : 11)

Keutamaan-keutamaan yang disebutkan pada ayat dan dua hadits di atas, tidak didapatkan oleh para hamba dunia  yang haus harta dan jabatan. Orang yang meraih keutamaan ini, hanyalah mereka yang mempelajari agama Allah. Walaupun terkadang kehidupan mereka penuh kesederhanaan dan kemiskinan, tidak punya jabatan dan rendahnya mereka di mata masyarakat yang cinta dunia, tapi mereka telah meraih kemuliaan ilmu, dan kelak –insya Allah– mendapatkan janji surga.

Harta dan jabatan dunia bukanlah tujuan. Dia hanyalah jalan dan sarana dalam mencapai tujuan, yakni ridho Allah. Oleh karenanya, semua itu digunakan sesuai dengan  jalur yang Allah ridhoi dan cintai. Harta dan jabatan digunakan untuk sesuatu yang baik. Sedang seorang tak mungkin akan menggunakannya dalam sesuatu yang baik, kecuali dengan bimbingan ilmu agama. Nah, disinilah pentingnya mempelajari ilmu agama sebelum jauh mencari dunia agar kita tidak salah dalam melangkah. Sebab ilmu itu bagaikan pelita yang menerangi gelapnya jalan.

Tags:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Artikel di Kategori ini :

  1. Ribut di Masjid
  2. Permata yang Hilang
  3. Dari HP Turun ke Hati
  4. Bingkisan untuk Panitia Ospek
  5. Sakit Hati
  6. Do’a Keluar WC
  7. Perhiasan Mukmin di Bulan Suci
  8. Membasahi Lisan, Menyejukkan Hati
  9. Berlebih-lebihan dalam Makan dan Tidur di Bulan Ramadhan
  10. Dosa Penyebab Dosa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *